Syarat Shalat Jenazah – FIQH Populer Terjemah FATHUL MU’IN

FIQH Populer
Terjemah Fath-ul-Mu‘in
Penulis: Syaikh Zainuddin bin ‘Abdul-‘Aziz al-Malibari
(Judul Asli: Fatḥ-ul-Mu’īni Bi Syarḥi Qurrat-il-‘Aini Bi Muhimmāt-id-Dīn)

Penerjemah: M. Fikril Hakim, S.H.I. dan Abu Sholahuddin.
Penerbit: Lirboyo Press.

(وَ شُرِطَ لَهَا) أَيْ لِلصَّلَاةِ عَلَى الْمَيِّتِ مَعَ شُرُوْطِ سَائِرِ الصَّلَوَاتِ (تَقَدُّمُ طُهْرِهِ) أَيِ الْمَيِّتِ بِمَاءٍ فَتُرَابٍ، فَإِنْ وَقَعَ بِحُفْرَةٍ أَوْ بَحْرٍ وَ تَعَذَّرَ إِخْرَاجُهُ وَ طُهْرُهُ لَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ (وَ أَنْ لَا يَتَقَدَّم) الْمُصَلِّيْ (عَلَيْهِ) أَيِ الْمَيِّتِ، إِنْ كَانَ حَاضِرًا، وَ لَوْ فِيْ قَبْرٍ، أَمَّا الْمَيِّتُ الْغَائِبُ فَلَا يَضُرُّ فِيْهِ كَوْنُهُ وَرَاءَ الْمُصَلِّيْ. وَ يُسَنُّ جَعْلُ صُفُوْفِهِمْ ثَلَاثَةٌ فَأَكْثَرَ، لِلْخَبَرِ الصَّحِيْحِ: “مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ ثَلَاثَةُ صُفُوْفٍ فَقَدْ أَوْجَبَ” أَيْ غُفِرَ لَهُ وَ لَا يُنْدَبُ تَأْخِيْرُهَا لِزِيَادَةِ الْمُصَلِّيْنَ، إِلَّا لِوَليّ. وَ اخْتَارَ بَعْضُ الْمُحَقِّقِيْنَ أَنَّهُ إِذَا لَمْ يَخْشَ تَغَيُّرُهُ، يَنْبَغِي انْتِظَارُهُ مِائَةً أَوْ أَرْبَعِيْنَ رُجِيَ حُضُوْرُهُمْ قَرِيْبًا، لِلْحَدِيْثِ. وَ فِيْ مُسْلِمٍ: “مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصَلِّيَ عَلَيْهِ أَمَةٌ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ يَبْلُغُوْنَ مِائَةً كُلُّهُمْ يَشْفَعُوْنَ لَهُ، إِلَّا شُفِّعُوْا فِيْهِ” وَ لَوْ صُلِّيَ عَلَيْهِ فَحَضَرَ مَنْ لَمْ يُصَلِّ، نُدِبَ لَهُ الصَّلَاةُ عَلَيْهِ، وَ تَقَعُ فَرْضًا، فَيَنْوِيْهِ، وَ يُثَابُ ثَوَابُهُ. وَ الْأَفْضَلُ لَهُ فِعْلُهَا بَعْدَ الدَّفْنِ، لِلْاِتِّبَاعِ. وَ لَا يُنْدَبُ لِمَنْ صَلَّاهَا وَ لَوْ مُنْفَرِدًا إِعَادَتُهَا مَعَ جَمَاعَةٍ. فَإِنْ أَعَادَهَا وَقَعَتْ نَفْلًا. وَ قَالَ بَعْضُهُمْ: الْإِعَادَةُ خِلَافُ الْأَوْلَى.

Syarat Shalat Jenazah

Disyaratkan untuk shalat kepada mayat di samping syarat-syarat lain yang ada dalam selain shalat Jenazah:

(1. Mayat harus disucikan terlebih dahulu, baik dengan air atau debu. Karena itu, jika ada seseorang jatuh ke dalam jurang atau tenggelam dalam lautan yang sulit diambil dan disucikan, maka menurut pendapat mu‘tamad (401) orang itu tidak wajib dishalati. (412).

(2. Orang yang menshalati tidak berada di depan mayatnya, (423) jika mayat hadir, sekalipun berada dalam kubur. Jika mayatnya ghā’ib, maka boleh saja keberadaan mayit di belakang orang yang menshalati. Sunnah barisan dalam shalat Jenazah dijadikan tiga baris atau lebih, berdasarkan hadits shaḥīḥ, yang artinya: “Jenazah yang dishalati oleh tiga baris, sungguh diampuni dosanya.” Tidak sunnah menunda shalat Jenazah lantaran menunggu orang yang menshalati agar banyak, kecuali menunggu walinya. Sebagian ‘ulamā’ muḥaqqiqīn memilih bahwa selagi tidak dikhawatirkan mayatnya berbau, maka seyogianya menunggu 100 atau 40 orang yang bisa diharapkan kehadirannya, berdasarkan sebuah hadits yang menerangkan seperti ini. Dalam kitab Ḥadīts Muslim disebutkan: “Mayat Muslim yang dishalati oleh golongan Muslim yang jumlahnya mencapai 100 orang dan mereka memintakan syafa‘at, maka syafa‘atnya diterima.” Apabila ada mayat yang sudah dishalati, lantas datang seseorang yang belum ikut shalat maka baginya sunnah mengerjakannya dan shalat tersebut sah menjadi fardhu kifāyah. Karena itu, hendaknya ia berniat fardhu pula, serta mendapatkan pahala shalat. Sedangkan yang lebih utama adalah mengerjakan shalat sesudah mayat dikubur karena mengikuti tindak Nabi s.a.w. Tidak sunnah bagi orang yang telah menshalatinya (434) – sekalipun munfarid – untuk mengulangi shalatnya dengan berjamā‘ah. Kalau mengulanginya maka shalatnya menjadi shalat sunnah. (Bahkan) sebagian ‘ulamā’ berkomentar: Mengulangi shalat jenazah adalah khilāf-ul-aulā (menyalahi keutamaan) hukumnya.

(وَ تَصِحُّ) الصَّلَاةُ (عَلَى) مَيِّتٍ (غَائِبٍ) عَنْ بَلَدٍ، بِأَنْ يَكُوْنَ الْمَيِّتُ بِمَحَلٍّ بَعِيْدٍ عَنِ الْبَلَدِ بِحَيْثُ لَا يُنْسَبُ إِلَيْهَا عُرْفًا، أَخْذًا مِنْ قَوْلِ الزَّرْكَشِيِّ: إِنَّ خَارِجَ السُّوَرِ الْقَرِيْبِ مِنْهُ كَدَاخِلِهِ. (لَا) عَلَى غَائِبٍ عَنْ مَجْلِسِهِ (فِيْهَا) وَ إِنْ كَبُرَتْ. نَعَمْ، لَوْ تَعَذَّرَ الْحُضُوْرُ لَهَا بِنَحْوِ حَبْسٍ أَوْ مَرَضٍ: جَازَتْ حِيْنَئِذٍ عَلَى الْأَوْجَهِ (وَ) تَصِحُّ عَلَى حَاضِرٍ (مَدْفُوْنٍ) وَ لَوْ بَعْدَ بَلَائِهِ (غَيْرَ نَبِيٍّ) فَلَا تَصِحُّ عَلَى قَبْرِ نَبِيٍّ، لِخَبَرِ الشَّيْخَيْنِ. (مِنْ أَهْلِ فَرْضِهَا وَقْتَ مَوْتِهِ) فَلَا تَصِحُّ مِنْ كَافِرٍ وَ حَائِضٍ يَوْمَئِذٍ، كَمَنْ بَلَغَ أَوْ أَفَاقَ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَ لَوْ قَبْلَ الْغُسْلِ، كَمَا اقْتَضَاهُ كَلَامُ الشَّيْخَيْنِ.

Sahnya Shalat Ghā’ib

Sah hukumnya menshalati mayat yang ghā’ib dari daerah yang bersangkutan, sebagaimana mayat berada jauh dari daerah seseorang yang menurut penilaian umum. (445) tidak bisa dikatakan masih daerahnya, berdasarkan perkataan Imam az-Zarkasyī: Tempat di luar batas sebuah daerah yang dekat dengannya (456) seperti yang berada di dalamnya. Tidak sah menshalati mayat yang tidak berada di tempat shalat dan masih dalam lingkungan balad itu, sekalipun luas. Benar tidak sah, namun jika dirasa sulit untuk hadir ke tempat di mana mayat berada, misalnya karena ditahan atau sakit, maka boleh shalat yang dalam keadaan seperti ini, menurut pendapat aujah. (467) Sah menshalati mayat yang hadir dan sudah dikubur – walaupun sudah lebuh selain Nabi. Karena itu, tidaklah sah shalat Jenazah atas Nabi yang sudah berada dalam maqāmnya, berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari-Muslim. Sah seperti ini, jika dilakukan oleh orang-orang yang memenuhi syarat untuk melakukan fardhu tersebut, di waktu kematian mayat. Karena itu, shalat tidaklah dilakukan oleh orang kafir dan orang yang haidh di saat kematian mayat tesebut, sebagaimana halnya dengan anak yang baru bāligh atau orang yang baru sembuh setelah kematian mayat, sekalipun belum dimandikan. (478) Demikianlah yang sesuai dengan perkataan (Syaikhain = dua Imām, yaitu: ) Imām Rāfi‘ī – Nawawī.

(وَ سَقَطَ الْفَرْضُ) فِيْهَا (بِذَكَرٍ) وَ لَوْ صَبِيًّا مُمَيِّزًا، وَ لَوْ مَعَ وُجُوْدِ بَالِغٍ، وَ إِنْ لَمْ يَحْفَظِ الْفَاتِحَةَ، وَ لَا غَيْرَهَا، بَلْ وَقْفٌ بِقَدْرِهَا، وَ لَوْ مَعَ وُجُوْدِ مَنْ يَحْفَظُهَا، لَا بِأُنْثَى مَعَ وُجُوْدِهِ. وَ تَجُوْزُ عَلَى جَنَائِزَ صَلَاةٌ وَاحِدَةٌ، فَيَنْوِي الصَّلَاةَ عَلَيْهِمْ إِجْمَالًا. وَ حَرُمَ تَأْخِيْرُهَا عَنِ الدَّفْنِ، بَلْ يَسْقُطُ الْفَرْضُ بِالصَّلَاةِ عَلَى الْقَبْرِ.

Hukum fardhu menshalati mayat menjadi gugur karena sudah dikerjakan oleh seorang laki-laki, kanak-kanak yang mumayyiz, sekalipun ada orang yang bāligh, walaupun tidak hafal fātiḥah dan lainnya, bahkan hanya denggan diam seukuran fātiḥah dan sekalipun di situ ada orang yang hafal. Belum gugur fardhu shalat Jenazah sebab dikerjakan oleh wanita, padahal di situ ada laki-laki. Hukumnya boleh menshalati mayat yang banyak dengan satu kali shalat, maka niatnya menshalati mereka semua secara global. (489) Haram menunda menshalati mayat sampai setelah penguburannya. Bahkan penundaan semacam itu akan menggugurkan kefardhuan shalat di atas kubur.

(وَ تَحْرُمُ صَلَاةٌ) عَلَى كَافِرٍ، لِحُرْمَةِ الدُّعَاءِ لَهُ بِالْمَغْفِرَةِ. قَالَ تَعَالَى: {وَ لَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا}. وَ مِنْهُمْ أَطْفَالُ الْكُفَّارِ، سَوَاءٌ أَنَطَقُوْا بِالشَّهَادَتَيْنِ أَمْ لَا فَتَحْرُمُ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمْ.

Haram menshalati jenazah orang kafir, sebab berdoa memintakan ampunan kepadanya adalah haram. (Berdasarkan) firman Allah s.w.t. yang artinnya: “Janganlah engkau menshalati seseorang dari mereka untuk selama-lamanya.” Termasuk mereka di sini adalah anak-anak kecil orang kafir, baik mereka telah mengucapkan dua kalimat syahadat atau belum. (4910) Karena itu menshalati mereka hukumnya haram.

وَ (عَلَى شَهِيْدٍ) وَ هُوَ بِوَزنِ فَعِيْلٍ، بِمَعْنَى مَفْعُوْلٍ، لِأَنَّهُ مَشْهُوْدٌ لَهُ بِالْجَنَّةِ، أَوْ فَاعِلٍ، لِأَنَّ رُوْحَهُ تَشْهَدُ الْجَنَّةَ قَبْلَ غَيْرِهِ. وَ يُطْلَقُ لَفْظُ الشَّهِيْدِ عَلَى مَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا، فَهُوَ شَهِيْدُ الدُّنْيَا وَ الْآخِرَةِ. وَ عَلَى مَنْ قَاتَلَ لِنحْوِ حَمِيَّةٍ، فَهُوَ شَهِيْدُ الدُّنْيَا. وَ عَلَى مَقْتُوْلٍ ظُلْمًا وَ غَرِيْقٍ، وَ حَرِيْقٍ، وَ مَبْطُوْنٍ أَيْ مَنْ قَتَلَهُ بَطْنُهُ كَاسْتِسْقَاءٍ أَوْ إِسْهَالٍ. فَهُمُ الشُّهَدَاءُ فِي الْآخِرَةِ فَقَطْ. (كَغَسْلِهِ) أَيِ الشَّهِيْدِ، وَ لَوْ جُنُبًا، لِأَنَّهُ لَمْ يَغْسِلْ قَتْلَى أُحُدٍ. وَ يَحْرُمُ إِزَالَةُ دَمِ شَهِيْدٍ.

Definisi Syahīd

Haram menshalati jenazah orang yang mati syahīd. Lafazh (شَهِيْدٍ) ikut wazan (فَعِيْلٍ) yang berma‘na maf‘ūl sebab ia akan disaksikan masuk surga. Atau ikut wazan: (فَاعِلٍ) karena nyawanya menyasikan surga sebelum nyawa orang lain. Lafazh (الشَّهِيْدِ) diucapkan pada orang yang berperang menjunjung tinggi agama Allah dan orang ini disebut syahīd dunia-akhirat, juga dapat diterapkan pada orang yang berperang bukan untuk membela agam Allah (tapi untuk tujuan lain) dan orang ini disebut “syahīd dunia”. Juga bisa diterapkan untuk orang yang terbunuh akibat suatu kezhāliman yang menimpanya, orang yang mati sebab tenggelam, terbakar dan akibat penyakit perut, misalnya muntah atau diare, dan orang-orang seperti ini dinamakan “syahīd akhirat” (5011) Begitu juga hukum memandikan orang yang mati syahīd adalah haram sekalipun masih dalam keadaan junub sebab Nabi s.a.w. tidak memandikan orang-orang yang mati dalam perang Uhud. Haram menghilangkan darah orang yang mati syahīd.

(وَ هُوَ مَنْ مَاتَ فِيْ قِتَالِ كُفَّارٍ) أَوْ كَافِرٍ وَاحِدٍ، قَبْلَ انْقِضَائِهِ، وَ إِنْ قُتِلَ مُدْبِرًا (بِسَبَبِهِ) أَيِ الْقِتَالُ، كَأَنْ أَصَابَهُ سِلَاحُ مُسْلِمٍ آخَرَ خَطَأً، أَوْ قَتَلَهُ مُسْلِمٌ اسْتَعَانُوْا بِهِ، أَوْ تَردَّى بِبِئْرٍ حَالَ قِتَالٍ، أَوْ جُهِلَ مَا مَاتَ بِهِ، وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ بِهِ أَثَرُ دَمٍ (لَا أَسِيْرَ قُتِلَ صَبْرًا) فَإِنَّهُ لَيْسَ بِشَهِيْدٍ عَلَى الْأَصَحِّ، لِأَنَّ قَتْلَهُ لَيْسَ بِمُقَاتَلَةٍ. وَ لَا مَنْ مَاتَ بَعْدَ انْقِضَائِهِ، وَ قَدْ بَقِيَ فِيْهِ حَيَاةٌ مُسْتِقرّةٌ، إِنْ قُطِعَ بِمَوْتِهِ بَعْدَ مِنْ جَرْحٍ بِهِ. أَمَّا مَنْ حَرَكَتُهُ حَرَكَةُ مَذْبُوْحٍ عِنْدَ انْقِضَائِهِ فَشَهِيْدٌ جَزْمًا. وَ الْحَيَاةُ الْمُسْتَقِرَّةُ مَا تَجَوَّزَ أَنْ يَبْقَى يَوْمًا أَوْ يَوْمَيْنِ عَلَى مَا قَالَهُ النَّوَوِيُّ وَ الْعِمْرَانِيُّ. وَ لَا مَنْ وَقَعَ بَيْنَ كُفَّارٍ فَهَرَبَ مِنْهُمْ فَقَتَلُوْهُ، لِأَنَّ ذلِكَ لَيْسَ بِقِتَالٍ كَمَا أَفْتَى بِهِ شَيْخُنَا ابْنُ زِيَادٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى. وَ لَا مَنْ قَتَلَهُ اغْتِيَالًا حَرْبِيٌّ دَخَلَ بَيْنَنَا. نَعَمْ، إِنْ قَتَلَهُ عَنْ مُقَاتِلَةٍ كَانَ شَهِيْدًا كَمَا نَقَلَهُ السَّيِّدُ السَّمْهُوْدِيُّ عَنِ الْخَادِمِ

Syahid adalah orang yang gugur di medan perang melawan orang-orang kafir atau seorang raja sebelum peperangan selesai – sekalipun terbunuh waktu mundur dari musuh – , yang matinya sebab peperangan tersebut. Misalnya terkena senjata temannya yang Muslim, dibunuh oleh Muslim dengan permintaan orang-orang kafir, jatuh masuk ke sumur waktu berperang, atau tidak diketahui sebab kematiannya, sekalipun tidak terdapat bekas darahnya. Menurut pendapat yang ashaḥḥ: Tawanan yang dibunuh setelah selesai peperangan tidaklah termasuk mati syahīd, (5112) sebab dibunuhnya bukan karena berperang. Demikian pula, orang yang mati setelah perang berakhir dan masih mengalami mustaqirrah (masih ada gerak yang disadari dengan beberapa alamat), sekalipun dapat dipastikan ia akan mati setelah itu akibat luka yang diderita. Mengenai orang yang setelah perang masih dapat bergerak seperti gerak hewan yang disembelih adalah dengan pasti dihukumi syahīd. Ḥayāt Mustaqirrah menurut pendapat Imām an-Nawawī dan al-‘Imrānī adalah keadaan orang itu yang masih dimungkinkan untuk hidup barang satu atau dua hari. Tidak termasuk syahīd pula, orang yang tertangkap oleh orang-orang kafir, kemudian melarikan diri dan akhirnya dibunuh. Sebab kematiannya bukan karena berperang, sebagaimana fatwā yang dikeluarkan oleh guru kami Ibnu Ziyād raḥimahullāh ta‘ālā. Begitu juga orang yang dibunuh akibat tipuan orang kafir harbi yang menelusup di tengah-tengah kita. Memang begitu, jika terbunuhnya akibat mengadakan pertempuran, maka menurut pendapat as-Sayyid as-Samhūdī yang dikutip dari kitab al-Khādim, orang seperti itu adalah Syahīd.

(وَ كُفِّنَ) نَدْبًا (شَهِيْدٌ فِيْ ثِيَابِهِ) الَّتِيْ مَاتَ فِيْهَا، وَ الْمُلَطَّخَةُ بِالدَّمِ أَوْلَى، لِلْاِتِّبَاعِ، وَ لَوْ لَمْ تَكْفِهِ بِأَنْ لَمْ تَسْتُرْ كُلَّ بَدَنِهِ تُمِمَّتْ وُجُوْبًا، (لَا) فِيْ (حَرِيْرٍ) لَبِسَهُ لِضَرُوْرَةِ الْحَرْبِ، فَيَنْزَعُ وُجُوْبًا.

Orang yang mati syahīd, sunnah dibungkus dengan pakaian yang dipakai waktu mati, sedangkan yang berlumuran darah adalah lebih utama, karena mengikuti dengan Nabi s.a.w. Jika pakaiannya tidak mencukupi, misalnya belum menutup seluruh badannya, maka wajib menyempurnakan dengan menambah yang lain. (5213) Tidak boleh dikafani memakai pakaian dari sutra yang dipakai karena terpaksa waktu perang, karena itu, sutra yang dipakainya harus dilepas. (5314).

(وَ يُنْدَبُ) أَنْ يُلَقَّنَ مُحْتَضِرٌ وَ لَوْ مُمَيِّزًا عَلَى الْأَوْجَهٍ الشَّهَادَةَ: أَيْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ، فَقَطْ لِخَبَرِ مُسْلِمٍ: “لَقِّنُوْا مَوْتَاكُمْ أَيْ مَنْ حَضَرَهُ الْمَوْتُ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ” مَعَ الْخَبَرِ الصَّحِيْحِ: “مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ، دَخَلَ الْجَنَّةَ”، أَيْ مَعَ الْفَائِزِيْنَ. وَ إِلَّا فَكُلُّ مُسْلِمٍ وَ لَوْ فَاسِقًا يَدْخُلُهَا، وَ لَوْ بَعْدَ عَذَابٍ، وَ إِنْ طَالَ. وَ قَوْلُ جَمْعٍ: يُلَقَّنُ “مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ” أَيْضًا، لِأَنَّ الْقَصْدَ مَوْتُهُ عَلَى الْإِسْلَامِ، وَ لَا يُسَمَّى مُسْلِمًا إِلَّا بِهِمَا مَرْدُوْدٌ بِأَنَّهُ مُسْلِمٌ، وَ إِنَّمَا الْقَصْدُ خَتْمُ كَلَامِهِ بِلَا إِلهَ إِلَّا اللهُ لِيُحْصُلَ لَهُ ذلِكَ الثَّوَابَ. وَ بُحِثَ تَلْقِيْنُهُ الرَّفِيْقُ الْأَعْلَى، لِأَنَّهُ آخِرُ مَا تَكَلَّمَ بِهِ رَسُوْلُ اللهِ، مَرْدُوْدٌ بِأَنَّ ذلِكَ لِسَبَّبٍ لَمْ يُوْجَدْ فِيْ غَيْرِهِ، وَ هُوَ أَنَّ اللهَ خَيَّرَهُ فَاخْتَارَهُ. وَ أَمَّا الْكَافِرُ فَيُلَقَّنُهُمَا قَطْعًا، مَعَ لَفْظِ أَشْهَدُ، لِوُجُوْبِهِ أَيْضًا عَلَى مَا سَيَأْتِيْ فِيْهِ إِذْ لَا يَصِيْرُ مُسْلِمًا إِلَّا بِهِمَا. وَ أَنْ يَقِفَ جَمَاعَةٌ بَعْدَ الدَّفْنِ عِنْدَ الْقَبْرِ سَاعَةً يَسْأَلُوْنَ لَهُ التَّثْبِيْتُ وَ يَسْتَغْفِرُوْنَ لَهُ

Sunnah Mentalqīn Orang yang Sedang Sakit

Sunnah mentalqīn orang yang sedang sakit keras (5415) – sekalipun baru mumayyiz, menurut pendapat aujah – , yaitu dengan bacaan (لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ) saja. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imām Muslim, yang artinya: “Tuntunlah orang yang sedang sakit keras di antara kalian, dengan ucapan (لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ),” serta hadits shaḥīḥ yang artinya: “Barang siapa yang di akhir ucapannya berupa (لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ) maka ia masuk bersama-sama orang-orang yang beruntung”. Jika tidak diartikan seperti ini, maka setiap orang yang Muslim pasti masuk surga, sekalipun fāsiq, dan meskipun terlebih dahulu disiksa lama sekali. Tentang perkataan segolongan ‘ulamā’: – Mayit juga ditalqīn dengan (مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ), sebab supaya mati  dalam keadaan Islam, sedang ia belum dikatakan Muslim, jika belum mengucapkan dua kalimat tersebut – , adalah ditolak sebab orang yang ditalqīn itu sendiri sudah Muslim. Talqīn hanya bertujuan untuk mengakhiri ucapannya dengan kalimat: (لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ) supaya mendapatkan pahala. Mengenai pembahasan tentang menalqīn mayat memakai “ar-Rafīq-ul-A‘lā” (derajat tertinggi), sebab kalimat tersebut adalah kalimat yang diucapkan oleh Nabi s.a.w. adalah ditolak, sebab akhir perkataan Nabi tersebut merupakan suatu perkara yang tidak ditemukan pada selain beliau, yaitu Allah s.w.t. menyuruh Nabi memilih, lalu beliau memilih Rafīq-ul-A‘lā. Adapun orang kafir, maka pasti ditalqin memakai dua kalimat di atas, yang diawali memakai lafazh: (أَشْهَدُ) “saya bersaksi” sebab kata ini harus diucapkan seperti keterangan yang akan datang. Hal itu dikarenakan seseorang tidak bisa dikatakan Muslim kecuali dengan dua kalimat tersebut. Sunnah sesudah mayat dimaqāmkan segolongan orang berdiri sejenak di sekitar kubur untuk memohonkan ketetapan iman dan ampunan dosa. (5516).

وَ (تَلْقِيْنُ بَالِغٍ، وَ لَوْ شَهِيْدًا) كَمَا اقْتَضَاهُ إِطْلَاقُهُمْ خِلَافًا لِلزَّرْكَشِيِّ (بَعْدَ) تَمَامِ (دَفْنٍ) فَيَقْعُدُ رَجُلٌ قِبَالَةَ وَجْهِهِ وَ يَقُوْلُ: “يَا عَبْدَ اللهِ ابْنَ أَمَةِ الله: اذْكُرِ الْعَهْدَ الَّذِيْ خَرَجْتَ عَلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا: شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَ أَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ، وَ أَنَّ النَّارَ حَقٌّ، وَ أَنَّ الْبَعْثَ حَقٌّ، وَ أَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيْهَا، وَ أَنَّ اللهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُوْرِ، وَ أَنَّكَ رَضِيْتَ بِاللهِ رَبًّا، وَ بِالْإِسْلَامِ دِيْنًا، وَ بِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا، وَ بِالْقُرْآنِ إِمَامًا، وَ بِالْكَعْبَةِ قِبْلَةً، وَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ إِخْوَانًا. رَبِّيَ اللهُ، لَا إِلهَ إِلَّا هُوَ، عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ، وَ هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ”. قَالَ شَيْخُنَا: وَ يُسَنُّ تِكْرَارَهُ ثَلَاثًا، وَ الْأَوْلَى لِلْحَاضِرِيْنَ الْوُقُوْفُ، وَ لِلْمُلَقَّنِ الْقَعُوْدُ. وَ نِدَاؤُهُ بِالْأُمِّ فِيْهِ أَيْ إِنْ عُرِفَتْ، وَ إِلَّا فَبِحَوَّاءَ لَا يُنَافِيْ دُعَاءَ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِآبَائِهِمْ، لِأَنَّ كِلَيْهِمَا تَوْقِيْفٌ، لَا مَجَالَ لِلرّْأْيِ فِيْهِ. وَ الظَّاهِرُ أَنَّهُ يُبْدَلُ الْعَبْدَ بِالْأُمَّةِ فِي الْأُنْثَى، وَ يُؤْنَثُ الضَّمَائِرَ. اِنْتَهَى.

Mentalqīn Mayat yang Telah Bāligh

Sesudah sempurna pemaqāman, hukumnya sunnah menalqīn mayat yang sudah bāligh, sekalipun mati syahīd, (5617) sebagaimana menurut ketetapan ‘ulamā’, berbeda dengan pendapat Imām az-Zarkasyī. Maka pentalqīn duduk berhadapan dengan wajah mayat dan berkata: (يَا عَبْدَ اللهِ ابْنَ أَمَةِ الله:…..) – sampai selesai – “Wahai hamba Allah, putra hamba wanita! Ingatlah janjimu yang engkau bawa dari alam dunia, yaitu persaksian tiada tuhan selain Allah, yang tiada menyekutui-Nya; Nabi Muḥammad adalah Rasūl-Nya; sungguh surga itu hak adanya, neraka adalah hak, kebangkitan dari kubur adalah hak, hari kiamat pasti akan tiba yang tiada keraguan lagi, dan Allah akan membangkitkan orang-orang yang berada dalam kubur. Sesungguhnya engkau telah rela Allah s.w.t. menjadi Tuhanmu; Islam sebagai agamamu; al-Qur’ān sebagai panutanmu; Ka‘bah sebagai qiblatmu, orang-orang mu’min sebagai saudaramu, Tuhanku adalah Allah s.w.t.; Tiada tuhan selain Allah, kepada-Nya saya berserah diri, dan Dia Penguasa ‘Arsy Yang Agung”. Guru kami berkata: Sunnah mengulang talqīn sebanyak tiga kali. Yang lebih utama dalah peziarah-peziarah berdiri, sedangkan orang yang mentalqin duduk. (5718) Memanggil si mayat dalam talqīn dengan menyebut nama ibunya – jika ibunya diketahui, jika tidak, maka dengan menyebut nama Ḥawwā’ – tidak menafikan panggilan manusia di hari kiamat yang memakai nama ayahnya. Sebab, keduanya merupakan ketentuan dari syara‘ yang tidak dapat di nalar oleh pikiran. Sudah jelas bahwa lafazh (الْعَبْدَ) diganti dengan (الْأُنْثَى) bagi mayat wanita dan dhamīr-dhamīrnya diganti dengan mu’annats. Selesai.

(وَ) يُنْدَبُ (زِيَارَةُ قُبُوْرٍ لِرَجُلٍ) لَا لِأُنْثَى، فَتُكْرَهُ لَهَا. نَعَمْ، يُسَنُّ لَهَا زِيَارَةُ قَبْرِ النَّبِيِّ. قَالَ بَعْضُهُمْ: وَ كَذَا سَائِرَ الْأَنْبِيَاءِ، وَ الْعُلَمَاءِ، وَ الْأَوْلِيَاءِ. وَ يُسَنُّ كَمَا نَصَّ عَلَيْهِ أَنْ يَقْرَأَ مِنَ الْقُرْآنِ مَا تَيَسَّرَ عَلَى الْقَبْرِ، فَيَدْعُوْ لَهُ مُسْتَقْبِلًا لِلْقِبْلَةِ. (وَ سَلَامٌ) لِزَائِرٍ عَلَى أَهْلِ الْمَقَبَرَةِ عُمُوْمًا، ثُمَّ خُصُوْصًا، فَيَقُوْلُ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِيْنَ عِنْدَ أَوَّلِ الْمَقْبَرَةِ. وَ يَقُوْلُ عِنْدَ قَبْرِ أَبِيْهِ مَثَلًا: السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا وَالِدِيْ. فَإِنْ أَرَادَ الْاِقْتِصَارَ عَلَى أَحَدِهِمَا أَتَى بِالثَّانِيَةِ، لِأَنَّهُ أَخَصَّ بِمَقْصُوْدِهِ، وَ ذلِكَ لِخَبَرِ مُسْلِمٍ: “أَنَّهُ قَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُم دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِيْنَ، وَ إِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُوْنَ”. وَ الْاِسْتِثْنَاءُ لِلتَّبَرُّكِ، أَوْ لِلدَّفْنِ بِتِلْكَ الْبُقْعَةِ، أَوْ لِلْمَوْتِ عَلَى الْإِسْلَامِ.

Ziarah Qubur

Sunnah bagi laki-laki berziarah qubur, lain halya wanita, ziarah qubur baginya hukumnya adalah makrūh. (5819) Memang makruh, namun bagi wanita tetap disunnahkan berziarah ke maqām Nabi s.a.w. (5920) Sebagian ‘ulamā’ menambah: Demikian juga berziarah ke maqām nabi-nabi yang lain, ‘ulamā’ dan para auliyā’. Sunnah – sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imām Syāfi‘ī – membaca sebagian al-Qur’ān yang terasa mudah di maqām, lalu dengan menghadap qiblat dan berdoa untuk si mayat. Bagi orang yang berziarah, sunnah mengucapkan salam untuk ahli qubur secara umum, lalu khusus yang dimaksudkan. Yaitu begitu masuk membaca: (السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِيْنَ عِنْدَ أَوَّلِ الْمَقْبَرَةِ) dan setelah sampai pada maqām ayahnya misalnya, membaca: (السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا وَالِدِيْ.). Apabila ingin mencukupkan dengan salah satunya, maka yang dibaca adalah kalimat yang kedua tersebut, karena salām tersebut lebih khusus pada tujuannya. Hal itu berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imām Muslim, bahwa Nabi s.a.w. berucap: “As-Salāmu ‘alaikum – dan seterusnya – “Semoga keselamatan buat kalian semua, wahai kaum mu’min. Dan in syā’ Allāh, kami semua akan menyusul kalian”. Istisnā’ (ucapan in syā’ Allāh) di sini bertujuan mencari berkah atau dimaqāmkan di tempat itu atau mati dalam keadaan Islam.

[فَائِدَةٌ]: وَرَدَ أَنَّ {مَنْ مَاتَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ أَوْ لَيْلَتَهَا أَمِنَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَ فِتْنَتِهِ}. وَ وَرَدَ أَيْضًا: “مَنْ قَرَأَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، فِيْ مَرَضِ مَوْتِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ، لَمْ يُفْتَنْ فِيْ قَبْرِهِ، وَ أَمِنَ مِنْ ضَغْطَةِ الْقَبْرِ، وَ جَاوَزَ الصِّرَاطِ عَلَى أَكُفِّ الْمَلَائِكَةِ”. وَ وَرَدَ أَيْضًا: “مَنْ قَالَ: لَا إِلهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ أَرْبَعِيْنَ مَرَّةً فِيْ مَرَضِهِ فَمَاتَ فِيْهِ، أُعْطِيَ أَجْرَ شَهِيْدٍ، وَ إِنْ بَرِىءَ بَرِىءَ مَغْفُوْرًا لَهُ”. غَفَرَ اللهُ لَنَا، وَ أَعَاذَنَا مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَ فِتْنَتِهِ.

(Fā’idah). Tersebut dalam hadits bahwa orang yang mati di hari atau malam Jum‘at akan diselamatkan dari siksa dan fitnah qubur. (6021) Tersebut juga: Barang siapa membaca surat Ikhlāsh (Qulhu… dan seterusnya) 100 kali ketika sakit yang mengantarkan kematiannya, maka di dalam qubur akan diselamatkan dari fitnah qubur, aman dari cepitan qubur (6122) dan melintasi Shirāt-al-Mustaqīm dalam telapak malaikat.” Tersebut dalam hadits lagi, bahwa barang siapa mau membaca: “Lā Ilāha Illā Anta... dan seterusnya. (Tiada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh kami masuk golongan orang-orang yang zhālim” sebanyak 40 kali di waktu sakit, lalu mati, maka ia akan mendapatkan pahala sebagaimana orang yang mati syahīd. Kalau ia sembuh, maka diampunilah dosanya. Semoga Allah s.w.t. berkenan mengampuni dosa kita, dan melindungi kita sekalian dari siksa dan fitnah qubur. Amin. (6223)

Catatan:

  1. 40). Sedangkan menurut Imām ad-Dārimī hukumnya tetap wajib dishalati. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 2 hal. 149. Dār-ul-Fikr.
  2. 41). Sebab tidak ditemukannya syarat, oleh karenanya bila mayit tidak dimandikan atau ditayammumi sebab tidak adanya alat bersuci tersebut, maka ia tidak dishalati. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 2 hal. 149. Dār-ul-Fikr.
  3. 42). Sebab mayat seperti halnya imām. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 2 hal. 149. Dār-ul-Fikr.
  4. 43). Imām ‘Alī Sibramalisī menghukumi mubāḥ mengulanginya. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 2 hal. 150. Dār-ul-Fikr.
  5. 44). Sekira di atas Ḥadd-ul-Qarīb. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 2 hal. 151. Dār-ul-Fikr.
  6. 45). Batasan dekat atau Ḥadd-ul-Qarīb adalah jarak yang wajib untuk mencari air dalam tayammum. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 2 hal. 151. Dār-ul-Fikr.
  7. 46). Menurut Imām Ramlī, sedangkan Imām Ibnu Ḥajar melarangnya walaupun daerahnya luas. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 2 hal. 151. Dār-ul-Fikr.
  8. 47). Ini adalah pendapat yang dha‘if, sedang yang mu‘tamad adalah sah. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 2 hal. 152. Dār-ul-Fikr.
  9. 48). Dengan cara berniat: (أُصَلِّي الْفَرْضَ عَلَى مَنْ حَضَرَ مِنْ أَمْوَاتِ الْمُسْلِمِيْنَ.) atau (أُصَلِّي الْفَرْضَ عَلَى هذَا مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ الْإِمَامُ). I‘ānat-uth-Thālibīn juz 2 hal. 153. Dār-ul-Fikr.
  10. 49). Walaupun kita berpendapat bahwa anak-anak kecil kafir tersebut nantinya masuk surga. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 2 hal. 153. Dār-ul-Fikr.
  11. 50). Maka tetap wajib untuk dirawat janazahnya sebagaimana yang lainnya seperti memadikan dan lain sebagainya. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 2 hal. 153. Dār-ul-Fikr.
  12. 51). Maksudnya tidak masuk kategori syahīd dunia akhirat, namun tetap syahīd akhirat seperti yang telah dijelaskan oleh Imām asy-Syaubarī. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 2 hal. 156. Dār-ul-Fikr.
  13. 52). Ini berpijak pada pendapat yang mengatakan bahwa minimal mengkafani adalah menutup seluruh tubuh mayit. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 2 hal. 157. Dār-ul-Fikr.
  14. 53). Ini adalah pendapat dari Ibnu Ḥajar dan Ibnu Qāsim. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 2 hal. 153. Dār-ul-Fikr.
  15. 54). Tanpa memaksa dan jangan mengatakan: Ucapkan!!!, namun berdzikirlah di sampingnya agar ia berfikir. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 2 hal. 157. Dār-ul-Fikr.
  16. 55). Ketahuilah bahwa pertanyaan malaikat pasti terjadi pada seluruh orang yang mukallaf dan sesuai dengan bahasanya menurut pendapat yang shaḥīḥ. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 2 hal. 157. Dār-ul-Fikr.
  17. 56). Berbeda dengan pendapat Imām Zarkasyī yang menyatakan tidak perlu ditalqīn sebab ia tidak akan ditanya malaikat di alam qubur. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 2 hal. 159. Dār-ul-Fikr.
  18. 57). Supaya mayit dapat mendengar talqīn tersebut. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 2 hal. 160. Dār-ul-Fikr.
  19. 58). Sebab adanya praduga menyebabkan menangisnya wanita tersebut dan mengeraskan suaranya. Hal itu karena wanita hatinya tipis, banyak mengeluh dan tidak kuat menanggung musibah. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 2 hal. 161. Dār-ul-Fikr.
  20. 59). Sebab berziarah ke maqām Nabi merupakan ‘ibādah yang paling agung bagi lelaki dan wanita. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 2 hal. 162. Dār-ul-Fikr.
  21. 60). Dari situ dapat diambil bahwa ia tidak ditanya malaikat qubur, namun jika memang hadits tersebut sah dari Nabi atau sahabat. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 2 hal. 163. Dār-ul-Fikr.
  22. 61). Cepitan Qubur berlaku bagi siapapun, baik orang shāliḥ ataupun tidak, kecil ataupun dewasa kecuali orang yang membaca seperti di atas. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 2 hal. 164. Dār-ul-Fikr.
  23. 62). Disunnahkan pula untuk berta‘dziah sebelum lewatnya tiga hari dari kematian mayit. Makrūh hukumnya setelah lewatnya tiga hari. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 2 hal. 165. Dār-ul-Fikr.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.