Syarah Hikmah Ke-122-123 – Syarah al-Hikam – KH. Sholeh Darat

شَرْحَ
AL-HIKAM
Oleh: KH. SHOLEH DARAT
Maha Guru Para Ulama Besar Nusantara
(1820-1903 M.)

Penerjemah: Miftahul Ulum, Agustin Mufarohah
Penerbit: Penerbit Sahifa

Syarah al-Hikam

KH. Sholeh Darat
[Ditulis tahun 1868]

SYARAH HIKMAH KE-122

 

مِنْ تَمَامِ النِّعْمَةِ عَلَيْكَ أَنْ يَرْزُقَكَ مَا يَكْفِيْكَ وَ يَمْنَعَكَ مَا يُطْغِيْكَ.

Di antara bentuk kesempurnaan ni‘mat Allah kepadamu adalah jika Allah memberimu rezeki yang cukup dan menahan darimu apa yang dapat menyesatkanmu.

 

Syaikh Ibnu ‘Athā’illāh berkata:

مِنْ تَمَامِ النِّعْمَةِ عَلَيْكَ أَنْ يَرْزُقَكَ مَا يَكْفِيْكَ وَ يَمْنَعَكَ مَا يُطْغِيْكَ.

Di antara bentuk kesempurnaan ni‘mat Allah kepadamu adalah jika Allah memberimu rezeki yang cukup dan menahan darimu apa yang dapat menyesatkanmu.

Setengah dari sempurnanya keni‘matan yang diberikan Allah kepadamu yaitu engkau diberi rezeki yang cukup, tidak lebih dan tidak kurang. Karena dengan pemberian ini akan mencegahmu dari lupa pada Allah, ya‘ni saat engkau memiliki banyak harta. Allah berfirman:

كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى، أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى.

Sesungguhnya manusia (kafir) itu kesemuanya adalah orang-orang yang tersesat di seluruh tempatnya ketika melihat dirinya mempunyai banyak harta.” (Q.S. al-‘Alaq [96]: 6-7).

Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Rezeki sedikit yang cukup itu lebih baik daripada rezeki banyak yang menjadikan lupa kepada Allah dan melupakan kematian.”

Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَ لكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ.

Bukannya kekayaan itu dengan banyaknya harta-benda, akan tetapi kekayaan yang sesungguhnya ialah kaya hati, jauh dari mencintai dunia.”

 

SYARAH HIKMAH KE-123

 

لِيَقِلَّ مَا تَفْرَحُ بِهِ يَقِلَّ مَا تَحْزَنُ عَلَيْهِ.

Kurangilah kesenanganmu dengan dunia, supaya berkurang pula kedukaanmu pada dunia.

 

Syaikh Ibnu ‘Athā’illāh berkata:

لِيَقِلَّ مَا تَفْرَحُ بِهِ يَقِلَّ مَا تَحْزَنُ عَلَيْهِ.

Kurangilah kesenanganmu dengan dunia, supaya berkurang pula kedukaanmu pada dunia.

Hendaknya engkau mengurangi sesuatu yang membuat hatimu bahagia, harta-benda atau lainnya, sehingga sesuatu yang membuatmu sedih semakin berkurang, baik perkara dunia atau lainnya.

Ketika kebahagiaan terhadap harta duniawi itu sedikit saja, maka kesedihanmu saat tidak mendapatkan harta dunia juga akan sedikit.

Sesuatu yang ada di dunia ini pasti akan rusak, engkau akan bersedih ketika tidak bisa mendapatkannya. Jikalau dunia tidak rusak engkau pun tetap rusak (binasa) karena ajal pasti akan menjemputmu, engkau pun akan menyesal dan lupa mengingat kematian. Dengan demikian, kadar kesenanganmu seperti kadar kesedihanmu. Maka sudah selayaknya bagi orang-orang yang berakal jangan berbahagia karena (mendapatkan) selain Allah s.w.t., karena sesuatu selian-Nya pasti akan rusak (binasa).

1 Komentar

  1. Mohammad zaini berkata:

    Alhamdulillah matur nuwon

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.