Surat kepada Pembesar Bashra, Pemimpin Damaskus, dll. – Nurul Yaqin

NŪR-UL-YAQĪN
 
Judul Asli:
Nūr-ul-Yaqīn fī Sīrati Sayyid-il-Mursalīn
Penulis: Muhammad al-Khudhari Bek

 
Alih Bahasa: Muhammad Faisal Fadhil
Penerbit: UMMUL QURA
 
(Diketik oleh: Zulfa)

Rangkaian Pos: Menyurati Raja-raja - Nurul Yaqin

Surat kepada Pembesar Bashrā

Rasūlullāh s.a.w. mengutus al-Ḥārits bin ‘Umair al-Azdī mengantarkan surat kepada pembesar Bashrā. Namun, ketika ia sampai di Mu’tah, yaitu salah satu perkampungan yang masuk wilayah al-Balqā’, negeri Syām, ia dihadang oleh Syuraḥbīl bin ‘Amr al-Ghassānī (orang ‘Arab yang memihak kepada Raja Romawi). Kemudian Syuraḥbīl berkata kepadanya: “Hendak ke manakah kamu?”

Al-Ḥārits menjawab: “Negeri Syām.”

Syuraḥbīl bertanya lagi: “Barangkali engkau ini termasuk utusan Muḥammad bukan?”

Al-Ḥārits menjawab, “Ya.”

Maka Syuraḥbīl memerintahkan orang-orangnya supaya menangkapnya, kemudian ia dibunuh dengan cara dipenggal. Al-Ḥārits merupakan satu-satunya utusan Rasūlullāh yang terbunuh. Rasūlullāh s.a.w. bersedih karenanya.

Surat kepada al-Ḥārits bin Abī Syamir

Kemudian Rasūlullāh s.a.w. mengirimkan Syujā‘ bin Wahb untuk menyampaikan suratnya kepada Pemimpin Damaskus dari pihak Heraklius, yang bernama al-Ḥārits bin Abī Syamir. Ia tinggal di daerah perkebunan kota Damaskus. Isi suratnya adalah sebagai berikut:

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dari Muḥammad Rasūl Allāh, kepada al-Ḥārits bin Abī Syamir. Kesejahteraan atas orang yang mengikuti dan mau beriman serta percaya kepada Allah.

Sesungguhnya aku mengajak kepadamu supaya beriman kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Niscaya kerajaanmu akan tetap (tegak).

Tatkala al-Ḥārits selesai membaca surat dari Nabi itu, ia melemparkan surat itu seraya berkata: “Siapakah yang berani merebut kerajaanku dari tanganku?” Setelah itu, ia bersiap-siap menghimpun bala tentaranya guna memerangi kaum Muslimīn, lalu berkata kepada Syujā‘: “Beritahukanlah kepada shahabatmu (Nabi s.a.w.) apa yang telah engkau lihat.”

Lalu al-Ḥārits mengirimkan surat kepada Kaisar untuk meminta idzin melaksanakan hal tersebut. Ternyata, ketika utusan itu menghadap, ia bertemu dengan Dihyah yang juga sedang berada di situ. Lalu Kaisar membalas suratnya seraya memuji niatnya itu, dan ia memerintahkan al-Ḥārits supaya membuat persiapan bagi kunjungannya nanti karena, setelah Kaisar berhasil mengalahkan pasukan Persia berniat mengunjunginya di Īlīyā’. Setelah membaca surat Kaisar, Al-Ḥārits mempersilahkan Syujā‘ bin Wahb kembali dengan cara baik-baik, bahkan menghadiahkan kepadanya perbekalan dan pakaian.

Surat kepada Muqauqis

Rasūlullāh s.a.w. mengutus Ḥāthib bin Abī Balta‘ah untuk mengantarkan surat kepada Muqauqis, Raja Mesir, yang diangkat oleh kaisar Romawi. Surat tersebut berbunyi:

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muḥammad Rasūl Allāh, ditujukan kepada Muqauqis pembesar orang-orang Mesir (Qibth). Kesejahteraan atas orang yang mau mengikuti petunjuk.

Amma ba‘du: Sesungguhnya aku menyerumu dengan seruan Islam; masuk Islamlah niscaya engkau selamat. Allah akan memberikan pahala kepadamu dua kali lipat. Namun, jika engkau menolak maka engkau memikul dosa bangsa Qibthi. Hai orang-orang ahli kitab, marilah menuju kepada suatu kalimat dan seterusnya (Āli ‘Imrān: 64).

Kemudian surat itu disampaikan oleh Ḥāthib kepada Muqauqis di Iskandaria. Setelah Muqauqis membacanya, ia berkata: “Apakah gerangan yang mencegahnya (bila memang ia seorang nabi) dari berdoa supaya orang-orang yang menentangnya dan yang telah mengusirnya dari tanah tumpah darahnya dihancurkan dan dibinasakan?”

Ḥāthib menjawab: “Tidakkah engkau percaya bahwa Nabi ‘Īsā bin Maryam adalah Rasūl Allāh ketika kaumnya menangkap dirinya dan bermaksud hendak membunuhnya? Mengapa dia tidak berdoa saja kepada Allah supaya membinasakan mereka? Mengapa ia menunggu sampai Allah mengangkat dirinya ke sisi-Nya?”

Muqauqis berkata: “Jawabanmu sangat bagus. Engkau memang bijaksana dan datang dari seorang yang bijaksana pula.”

Kemudian Muqauqis berkata: “Sesungguhnya aku telah memperhatikan perihal nabi ini, ternyata aku menjumpainya bahwa dia tidak memerintahkan kepada hal yang tidak disukai dan tidak pula melarang hal yang disukai. Aku menemukannya bukan seorang penyihir dan sesat, dan bukan pula seorang juru ramal dan pendusta. Aku menemukan pada dirinya tanda kenabian, yaitu dapat mengetahui hal ghaib yang tersembunyi, dan dapat menceritakan tentang apa yang terbetik di dalam hati. Aku akan mempertimbangkannya lebih dahulu.” Selanjutnya, ia menulis surat balasan sebagai berikut:

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Ditujukan kepada Muḥammad bin ‘Abdillāh, dari Muqauqis penguasa bangsa Mesir. Semoga kesejahteraan terlimpahkan atas dirimu.

Amma ba‘du: Aku telah membaca suratmu dan telah mengerti apa yang engkau serukan, serta aku telah mengetahui bahwa masih ada seorang nabi yang aku duga keluar dari negeri Syām. Aku telah memuliakan utusanmu serta aku kirimkan bersamanya dua orang jāriyah yang keduanya mempunyai kedudukan terhormat di kalangan kami, dan kami kirimkan pula pakaian-pakaian, serta aku hadiahkan khusus untukmu seekor bagal sebagai kendaraanmu.

Wassalam.

Salah seorang dari kedua jāriyah tersebut bernama Mariah, yang kemudian dinikahi oleh Nabi s.a.w. Dari hasil pernikahannya dengan Mariah, Nabi s.a.w. mempunyai seorang anak lelaki bernama Ibrāhīm. Sementara jāriyah yang seorang lagi diberikan kepada shahabat Ḥassān bin Tsābit. Namun, Muqauqis tidak mau masuk Islam.

Surat kepada Raja Najāsyī (Negus)

Rasūlullāh s.a.w. mengutus shahabat ‘Amr bin Umayyah adh-Dhamrī untuk mengantarkan surat kepada Raja Najāsyī, Raja Ḥabasyah (Ethiopia). Bunyi surat itu sebagai berikut:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muḥammad utusan Allah kepada Najāsyī, Penguasa Negeri Ḥabasyah. Salam sejahtera.

Amma ba‘du; Aku memulai suratku kepadamu dengan memuji Allah, Yang tiada tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, dan aku bersaksi bahwa ‘Īsā bin Maryam adalah tiupan rūḥ Allah yang disampaikan-Nya kepada Maryam Perawan Suci maka ia mengandung ‘Īsā dengan tiupan rūḥ dari-Nya sebagaimana Dia menciptakan Ādam dengan tangan-Nya.

Sesungguhnya aku mengajakmu untuk menyembah kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan bersedia taat kepada-Nya, dan hendaknya engkau mau mengikutiku serta meyakini apa yang disampaikan kepadaku.

Sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Aku mengajakmu dan bala tentaramu untuk menyembah kepada Allah s.w.t. Aku telah menyampaikan dan telah mengutarakan nasihatku, maka terimalah nasihatku. Semoga kesejahteraan atas orang yang mengikuti hidāyah.

Tatkala surat Rasūlullāh s.a.w. itu sampai ke tangannya dan dibaca, ia menghormati utusan Rasūlullāh s.a.w. dengan penghormatan yang luar biasa. Lalu ia berkata kepada ‘Amr: “Sesungguhnya aku telah mengetahui, demi Allah bahwa ‘Īsā telah memberikan kabar gembira tentang kedatangannya. Hanya saja, pembantu-pembantuku di Ḥabasyah masih sedikit jumlahnya. Untuk itu tangguhkanlah diriku hingga pengikutku banyak, dan aku dapat melunakkan hati mereka.”

Kemudian ‘Amr menawarkan kepada kaum Muslimīn yang masih tertinggal di Ḥabasyah dari kalangan Muhājirīn Muslimīn untuk kembali bergabung dengan Rasūlullāh s.a.w. di Madīnah. Di antara mereka terdapat Ummu Ḥabībah binti Abī Sufyān, istri ‘Ubaidullāh bin Jaḥsy yang telah masuk Islam dan kemudian membawa istrinya hijrah ke Ḥabasyah, tetapi ia (‘Ubaidullāh bin Jaḥsy) telah ditaqdīrkan memeluk agama Nashrānī (dan dia menceraikan istrinya). Kemudian Rasūlullāh s.a.w. menikahi Ummu Ḥabībah yang berada di Ḥabasyah. Orang yang menikahkannya adalah Raja Najāsyī sebagai perwakilan Rasūlullāh s.a.w.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.