Sampai di Madinah – Nurul Yaqin

NŪR-UL-YAQĪN
 
Judul Asli:
Nūr-ul-Yaqīn fī Sīrati Sayyid-il-Mursalīn
Penulis: Muhammad al-Khudhari Bek

 
Alih Bahasa: Muhammad Faisal Fadhil
Penerbit: UMMUL QURA
 
(Diketik oleh: Zulfa)

Rangkaian Pos: Hijrah-hijrah - Nurul Yaqin

Sampai di Madīnah

Kemudian Rasūlullāh s.a.w. melanjutkan perjalanan ke Madīnah, sedangkan para shahabat Anshār pada saat itu mengawalnya seraya menyandang pedang masing-masing. Di sini terjadilah hal baru, tetapi tidak mengapa karena hal itu merupakan ungkapan rasa gembira yang meluap dari penduduk Madīnah. Hal itu adalah hari yang sangat menggembirakan, belum pernah mereka bergembira sedemikian rupa seperti kegembiraan mereka dalam menyambut kedatangan Rasūlullāh s.a.w. Kaum wanita, anak-anak, dan hamba sahaya menyambut Rasūlullāh s.a.w. seraya mengucapkan:

طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنَامِنْ ثَنِيَّاتِ الْوَدَاعِ
وَجَبَ الشُّكْرُ عَلَيْنَامَا دَعَى للهِ دَاعٍ
أَيُّهَا الْمَبْعُوْثُ فِيْنَاجِئْتَ بِالْأَمْرِ الْمُطَاعِ

Telah terbit purnama (Rasūlullāh s.a.w.) kepada kami
Dari tsaniyāt-ul-wadā‘
Kami harus bersyukur atas kedatangan
Orang yang mengajak kepada Allah
Hai orang-orang yang diutus kepada kami
Engkau telah datang dengan membawa perkara yang ditaati

Pada saat itu orang-orang berjalan di belakang Rasūlullāh s.a.w. Di antara mereka ada yang berjalan kaki, dan ada pula yang menaiki kendaraan. Kemudian mereka berebut memegang tali kendali kendaraan Rasūlullāh s.a.w. Setiap orang menginginkan agar Rasūlullāh s.a.w. berkenan singgah di rumahnya.

Shalat Jum‘at Pertama

Ketika Rasūlullāh s.a.w. sampai di tempat Bani Salīm, datanglah waktu shalat Jum‘at. Rasūlullāh s.a.w. turun dari kendaraannya, lalu melaksanakan shalat Jum‘at bersama orang-orang yang ada pada saat itu. Shalat Jum‘at ini adalah pertama kalinya dilakukan oleh Rasūlullāh s.a.w. dan ini juga merupakan Khutbah pertama beliau. Pada permulaan Khutbah itu Rasūlullāh s.a.w. terlebih dahulu mengucapkan ḥamdalah dan sanjungan kepada Allah s.w.t., kemudian beliau bersabda:

Amma ba’du. Wahai kaum Muslim, hendaklah kalian berbuat kebajikan demi keselamatan diri kalian sendiri. Demi Allah, kalian tentu mengetahui, setiap orang diantara kalian pasti akan berpulang ke hadirat Allah dan meninggalkan domba-domba piaraannya tanpa pengembala. Kemudian Rabb-nya akan bertanya kepadanya-tanpa perantara penerjemah dan tanpa tirani yang memisahkannya – , ‘Bukankah Rasūl-Ku telah datang kepadamu untuk menyampaikan (risalah-Ku)? Bukankah telah Aku anugerahkan kepadamu (berbagai kenikmatan), lalu kebaikan apakah yang telah engkau kerjakan demi keselamatan dirimu?’

Maka orang yang ditanya itu akan menengok ke kanan dan ke kiri, tapi ia tidak melihat apa-apa. Kemudian ia melihat ke depan dan yang tampak hanyalah neraka Jahannam. Karena itu, barang siapa mampu melindungi dirinya dari api neraka, walau hanya dengan separuh kurma maka lakukanlah! Dan siapa yang tidak dapat memiliki sesuatu pun maka dengan ucapan yang baik. Sungguh, setiap kebaikan akan memperoleh balasan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Was-Salāmu ‘alaikum wa ‘alā Rasūlillāh.” (91)

Singgah di Rumah Abū Ayyūb

Rasūlullāh s.a.w. dan para penggiringnya melanjutkan perjalanan. Setiap melewati rumah orang Anshār, para penghuninya meminta agar Beliau s.a.w. berkenan singgah di rumahnya dan tinggal bersama mereka, dan mereka berebutan memegang tali kendali kendaraan beliau untuk dituntun ke rumahnya. Namun, Rasūlullāh s.a.w. bersabda kepada mereka: “Biarkan ia (untanya) karena sesungguhnya ia mendapatkan perintah (dari Allah). Rasūlullāh s.a.w. terus berjalan hingga sampai di halaman tempat Bani ‘Adī bin an-Najjār (mereka adalah paman-paman Beliau dari pihak ibu yang mana Hāsyim, kakek Beliau, menikah dengan wanita dari mereka). Tiba-tiba unta kendaraan Rasūlullāh s.a.w. berhenti dan menderum di suatu pekarangan milik mereka, tepatnya di depan rumah Abū Ayyūb al-Anshārī yang nama aslinya Khālid bin Zaid. Lalu di tempat itu dibangun Masjid Nabawi. Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Di sinilah rumahku, in syā’ Allāh.” Selanjutnya, Rasūlullāh s.a.w. bersabda seraya membacakan firman-Nya:

وَ قُلْ رَّبِّ أَنْزِلْنِيْ مُنْزَلًا مُّبَارَكًا وَ أَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِيْنَ

Ya Rabb-ku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat.” (QS. al-Mu’minūn [23]: 29)

Rasūlullāh s.a.w. keluar menemui mereka dan bertanya: “Apakah kalian mencintai dirikuMereka menjawab: “Ya.” Lalu Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Allah mengetahui bahwa aku mencintai kalian.” Rasūlullāh s.a.w. memilih tinggal di bagian bawah rumah milik Abū Ayyūb supaya memudahkan orang-orang jika hendak mengunjungi beliau. Namun, Abū Ayyūb al-Anshārī tidak merelakan hal tersebut karena menghormati Rasūlullāh s.a.w. Sebab, bilamana Rasūlullāh s.a.w. tinggal di bawah, niscaya akan terkena debu yang ditimbulkan oleh kaki orang-orang yang berjalan di atasnya, atau akan terkena air yang dituangkan dari bagian atasnya.

Tak disangka, pada suatu malam gentong tempat air istri Abū Ayyūb pecah, kemudian Abū Ayyūb dan istrinya membersihkan pecahannya seraya mengelap air yang tertuang karena mereka takut akan mengenai Rasūlullāh s.a.w. Oleh sebab itu, Abū Ayyūb r.a. terus membujuk Rasūlullāh s.a.w. agar berkenan tinggal di bagian atas. Lama-kelamaan Rasūlullāh s.a.w. mau menerima permintaannya. Kiriman hidangan selalu datang di tempat tinggal Rasūlullāh s.a.w. dari para shahabat Anshār yang mampu seperti Sa‘ad bin ‘Ubādah, As‘ad bin Zurārah, dan ibu shahabat Zaid bin Tsābit. Setiap malam, di depan pintu Rasūlullāh s.a.w. selalu terdapat tiga atau empat tempat makanan. (102)

Tempat Tinggal Kaum Muhājirīn

Ketika sebagian besar kaum Muhājirīn ikut bersama Rasūlullāh s.a.w., orang-orang Anshār pun berlomba-lomba menerima mereka. Akhirnya, diputuskan melalui undian di antara mereka, sehingga tiada seorang Muhājir pun yang tinggal di tempat Anshār tanpa melalui undian.

Persaudaraan Islām

Siapa pun yang memperhatikan kecintaan ini, yang mustaḥīl disebabkan oleh pengaruh manusia, tetapi berkat kemurahan dan rahmat Allah s.w.t., niscaya akan paham bagaimana kaum tersebut bisa menang melawan para penentangnya, kaum musyrikīn dan Ahlu Kitāb, padahal jumlah dan perlengkapan mereka hanya sedikit.

Orang Anshār lebih mengutamakan kaum Muhājirīn daripada diri mereka sendiri. Sehubungan dengan ini Allah s.w.t. berfirman:

وَ الَّذِيْنَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَ الْإِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَ لَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوْتُوْا وَ يُؤْثِرُوْنَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَ لَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَ مَنْ يُوْقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madīnah dan telah beriman (Anshār) sebelum (kedatangan) mereka (Muhājirīn), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka, dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang telah diberikan kepada mereka (orang Muhājirīn); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhājirīn) atas diri meraka sendiri sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. al-Ḥasyr [59]: 9)

Inilah derajat persaudaraan yang paling tinggi. Semua perlakuan ini dianggap oleh kaum Anshār masih belum memadai daripada kewajiban yang harus mereka suguhkan kepada kaum Muhājirīn.

Hal ini berkat pengaruh Rasūlullāh s.a.w. yang mampu mempersaudarakan kaum Muhājirīn dan kaum Anshār sehingga setiap kaum Anshār bersama tamu Muhājirīnnya menjadi dua saudara karena Allah s.w.t. Sia-sialah jika kami memaksakan diri untuk menjelaskan kepada para pembaca bahwa persaudaraan ini lebih tinggi rasa solidaritasnya daripada persaudaraan kefanatikan. Semua itu kami serahkan pada perasaan keislaman agar menilainya, karena hal itu lebih fasih daripada ungkapan kata-kata dari pena.

Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa Allah s.w.t. telah mempersatukan hati mereka sekalipun jasad mereka berbeda. Semoga Allah s.w.t. juga mempersatukan hati kaum Muslimīn zaman kita sekarang ini, sehingga mereka memiliki pengaruh seperti pengaruh yang dimiliki oleh kaum Muslimīn zaman dahulu yang telah bersatu.

Persaudaraan ini berdasarkan asas saling tolong menolong, menegakkan perkara yang hak, dan saling mewarisi walaupun tidak ada hubungan kekerabatan. Rasūlullāh s.a.w. berpesan kepada setiap dua orang di antara mereka (seorang Muhājirīn dan seorang Anshār): “Bersaudaralah kalian berdua karena Allah, dua saudara dua saudara.” Dan pewarisan semacam ini tetap berlaku sampai Allah s.w.t. menurunkan firman-Nya:

وَ أُوْلُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِيْ كِتَابِ اللهِ

Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewaris) dalam Kitāb Allāh.” (QS. al-Aḥzāb [33]: 6)

Hijrahnya Ahl-ul-Bait

Setelah Rasūlullāh s.a.w. menetap di Madīnah dengan tenang, beliau mengutus Zaid bin Ḥāritsah dan Abū Rāfi‘ ke Makkah untuk menjemput keluarga Rasūlullāh s.a.w.yang masih tertinggal di Makkah. Rasūlullāh s.a.w. juga mengutus ‘Abdullāh bin ‘Uraiqith sebagai penunjuk jalan. Mereka berdua datang menemui Fāthimah dan Ummu Kultsūm, dua putri Rasūlullāh s.a.w. Mereka juga menemui istri Rasūlullāh s.a.w., yaitu Saudah. Selanjutnya, mereka menemui Ummu Aimān, istri Zaid, dan Usāmah, anaknya. Adapun putri Rasūlullāh s.a.w. yang lain, yaitu Zainab, dilarang oleh suaminya, Abū-l-‘Āsh bin ar-Rabī‘, sehingga tidak ikut hijrah. Bersama rombongan itu turut pula ‘Abdullāh bin Abī Bakar dan Ummu Rūmān (istri ayahnya, Abū Bakar), ‘Ā’isyah (saudara perempuan ‘Abdullāh bin Abī Bakar), dan Asmā’ (istri Zubair bin al-‘Awwām). Pada saat itu Asmā’ sedang mengandung. Kemudian ia melahirkan anaknya di Madīnah dan diberi nama ‘Abdullāh. Ia merupakan anak pertama kaum Muhājirīn yang dilahirkan di Madīnah.

Demam di Madīnah

Pada awalnya udara di kota Madīnah kurang cocok bagi kaum Muhājirīn penduduk Makkah sehingga banyak di antara mereka yang terserang penyakit demam. Rasūlullāh s.a.w. sangat rajin menjenguk mereka tatkala mereka mengadukan masalah ini, lalu Rasūlullāh s.a.w. berdoa:

اللهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِيْنَةَ كَمَا حَبَبْتَ إِلَيْنَا مَكَّةَ وَ أَشَدَّ وَ بَارِكْ لَنَا فِيْ مُدِّهَا وَ صَاعِهَا وَ انْقُلْ وَبَاءَهَا إلَى الْجُحْفَة.

Ya Allah jadikanlah kami mencintai Madīnah sebagaimana Engkau menjadikan kami cinta kepada kota Makkah dengan kecintaan yang lebih kuat. Dan berkahilah untuk kami mudd dan shā‘-nya, dan pindahkanlah wabah (penyakitnya) ke Juḥfah.” (113)

Allah s.w.t. mengijabahi doa Rasūlullāh s.a.w. tersebut sehingga kaum Muhājirīn hidup di kota Madīnah dengan tenang dan damai.

Kaum Muslimin yang Lemah Berhijrah

Kaum Musyrikīn Makkah mencegah sebagian kaum Muslimīn berhijrah, serta menangkap dan menyiksa mereka. Kaum Muslimīn yang mendapat perlakuan tersebut antara lain al-Walīd bin al-Walīd, Iyāsy bin Rabī‘ah, dan Hisyām bin al-‘Āsh. Oleh sebab itu, Rasūlullāh s.a.w. selalu mendoakan mereka dalam shalatnya. Inilah awal mula doa qunut. Doa ini dilakukan Rasūlullāh s.a.w. pada waktu-waktu shalat yang berbeda-beda. Doa ini dilakukan Rasūlullāh s.a.w. terkadang dalam raka‘āt ganjil shalat ‘Isyā’ dan terkadang dalam shalat Shubuḥ sesudah Rukū‘ dan sebelumnya. Setiap shahabat meriwayatkan hadits tentang qunut ini sesuai dengan apa yang dilihatnya, dan hal inilah yang menjadi penyebab perbedaan pendapat ‘ulamā’ dalam pembahasan tempat qunut dibaca. (124)

Catatan:

  1. 9). As-Sīrat-un-Nabawiyyah, Ibnu Hisyām (2/166-167), Sunan-ul-Baihaqī (2/524-525), dan As-Sīrat-un-Nabawiyyat-ush-Shaḥīḥah (1/257-258).
  2. 10). As-Sīrat-un-Nabawiyyat-ush-Shaḥīḥah (1/220).
  3. 11). HR al-Bukhārī (1889, 3926, 5654, 5677, 6372) dan Muslim (1376).
  4. 12). HR al-Bukhārī (797, 803, 1006, 2932) dan lain-lain, Muslim (676).

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.