Rukun Shalat #13 – FIQH Populer Terjemah FATHUL MU’IN

FIQH Populer
Terjemah Fath-ul-Mu‘in
Penulis: Syaikh Zainuddin bin ‘Abdul-‘Aziz al-Malibari
(Judul Asli: Fatḥ-ul-Mu’īni Bi Syarḥi Qurrat-il-‘Aini Bi Muhimmāt-id-Dīn)

Penerjemah: M. Fikril Hakim, S.H.I. dan Abu Sholahuddin.
Penerbit: Lirboyo Press.

Rangkaian Pos: Tentang Cara Shalat (Rukun Shalat) - FIQH Populer Terjemah FATHUL MU'IN

(وَ) ثَالِثَ عَشَرَهَا: تَسْلِيْمَةٌ أُوْلَى، (وَ أَقَلُّهَا: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ) لِلْاِتِّبَاع، وَ يُكْرَهُ عَلَيْكُمُ السَّلَامُ، وَ لَا يُجْزِىءُ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بالتَّنْكِيْرِ وَ لَا سَلَامُ اللّهِ أَوْ سَلَامِيْ عَلَيْكُمْ. بَلْ تَبْطُلُ الصَّلَاةُ إِنْ تَعَمَّدَ وَ عَلِمَ. كَمَا فِيْ شَرْحِ الْإِرْشَادِ لِشَيْخِنَا. (وَ سُنَّ) تَسْلِيْمَةٌ (ثَانِيَةٌ) وَ إِنْ تَرَكَهَا إِمَامُهُ، وَ تَحْرُمُ إِنْ عَرَضَ بَعْدَ الْأُوْلَى مُنَافٍ، كَحَدَثٍ وَ خُرُوْجِ وَقْتِ جُمْعَةٍ وَ وُجُوْدِ عَارٍ سُتْرَةً. (وَ) يُسَنُّ أَنْ يُقْرِنَ كُلًّا مِنَ التَّسْلِيْمَتَيْنِ (بِرَحْمَةِ اللهِ) أَيْ مَعَهَا، دُوْنَ: وَ بَرَكَاتِهِ، عَلَى الْمَنْقُوْلِ فِيْ غَيْرِ الْجَنَازَةِ. لكِنْ اُخْتِيْرَ نَدْبُهَا لِثُبُوْتِهَا مِنْ عِدَّةِ طُرُقٍ. (وَ) مَعَ (الْتِفَاتٍ فِيْهِمَا) حَتَّى يَرَى خَدَّهُ الْأَيْمَنَ فِي الْأُوْلَى وَ الْأَيْسَرَ فِي الثَّانِيَةِ.

(Rukun shalat yang ketiga belas) adalah (salām pertama minimalnya adalah ucapan (السَّلَامُ عَلَيْكُمْ) – Salām bagi kalian semua – ) sebab mengikuti Nabi s.a.w. (1271) Dimakruhkan dengan lafazh (عَلَيْكُمُ السَّلَامُ), tidak cukup dengan lafazh (سَلَامٌ عَلَيْكُمْ) dengan menakirahkan lafazh (سَلَامٌ) dan juga tidak dengan lafazh (سَلَامُ اللّهِ) atau lafazh (سَلَامِيْ عَلَيْكُمْ) bahkan lafazh tersebut membatalkan shalat jika disengaja dan menggetahui keharamannya seperti keterangan di dalam kitab Irsyād milik guru kita. (Disunnahkan) salām (yang kedua) (1282) walaupun imām meninggalkannya. Haram melakukan salām yang kedua jika setelah salam yang awal terjadi sebuah hal yang menafikan keabsahan shalat seperti hadats, keluarnya waktu jum‘at dan adanya penutup aurat bagi seorang yang shalat telanjang. (Disunnahkan) untuk membarengkan setiap satu dari dua salām besertaan dengan (lafazh (رَحْمَةُ اللهِ) ) tanpa menambahi lafazh (وَ بَرَكَاتُهُ) menurut pendapat yang telah dikutip selain dalam shalat janazah, namun pendapat yang dipilih justru menghukumi sunnah menambahi lafazh (وَ بَرَكَاتُهُ) sebab adanya hadits dari beberapa rawi, (dan) besertaan (dengan menoleh di saat dua salām tersebut) sampai pipi kanan terlihat pada salām pertama dan pipi kiri pada salām kedua.

 

[تَنْبِيْهٌ]: يُسَنُّ لِكُلٍّ مِنَ الْإِمَامِ وَ الْمَأْمُوْمِ وَ الْمُنْفَرِدِ أَنْ يَنْوِيَ السَّلَامَ عَلَى مَنْ اِلْتَفَتَ هُوَ إِلَيْهِ مِمَّنْ عَنْ يَمِيْنِهِ بِالتَّسْلِيْمَةِ الْأُوْلَى، وَ عَنْ يَسَارِهِ بِالتَّسْلِيْمَةِ الثَّانِيَةِ، مِنْ مَلَائِكَةٍ وَ مُؤْمِنِيْ إِنْسٍ وَ جِنٍّ، وَ بِأَيَّتِهِمَا شَاءَ عَلَى مَنْ خَلْفَهُ وَ أَمَامَهُ وَ بِالْأُوْلَى أَفْضَلُ. وَ لِلْمَأْمُوْمِ أَنْ يَنْوِيَ الرَّدَّ عَلَى الْإِمَامِ بِأَيِّ سَلَامَيْهِ شَاءَ إِنْ كَانَ خَلْفَهُ، وَ بِالثَّانِيَةِ إِنْ كَانَ عَنْ يَمِيْنِهِ، وَ بِالْأُوْلَى إِنْ كَانَ عَنْ يَسَارِهِ. وَ يُسَنُّ أَنْ يَنْوِيَ بَعْضُ الْمَأْمُوْمِيْنَ الرَّدَّ عَلَى بَعْضٍ، فَيَنْوِيْهِ مَنْ عَلَى يَمِيْنِ الْمُسَلِّمِ بِالتَّسْلِيْمَةِ الثَّانِيَةِ وَ مَنْ عَلَى يَسَارِهِ بِالْأُوْلَى، وَ مَنْ خَلْفَهُ وَ أَمَامَهُ بِأَيَّتِهِمَا شَاءَ، وَ بِالْأُوْلَى أَوْلَى.

(Peringatan). Disunnahkan bagi setiap imām, ma’mūm dan orang yang shalat sendiri untuk berniat memberi salām dengan salām pertama terhadap orang yang menoleh padanya dari arah kanan, dan dengan salām kedua terhadap orang yang menoleh dari arah kirinya, ya‘ni dari malaikat, manusia dan jinn yang mu’min. (1293) Dan dengan salām manapun terhadap orang yang berada di belakang dan depannya, namun dengan salām pertama lebih baik. Bagi ma’mūm disunnahkan untuk berniat mengembalikan salām terhadap imām dengan salām manapun jika ma’mūm berada di belakangnya, dengan salām kedua jika berada di samping kanannya, dan dengan salām pertama jika berada di samping kirinya. Disunnahkan bagi sebagian ma’mūm untuk berniat mengembalikan salām terhadap sebagian ma’mūm yang lain, maka sebagian ma’mūm itu berniat mengembalikan salām terhadap orang yang berada di samping kanannya dengan salām kedua, dengan salam pertama terhadap orang yang berada di samping kirinya, dan dengan salām manapun terhadap orang yang berada di arah belakang dan depannya, namun yang lebih utama dengan salām pertama. (1304).

 

[فُرُوْعٌ]: يُسَنُّ نِيَّةُ الْخُرُوْجِ مِنَ الصَّلَاةِ بِالتَّسْلِيْمَةِ الْأُوْلَى خُرُوْجًا مِنَ الْخِلَافِ فِيْ وُجُوْبِهَا، وَ أَنْ يُدْرِجَ السَّلَامَ، وَ أَنْ يَبْتَدِئَةُ مُسْتَقْبِلًا بِوَجْهِهِ الْقِبْلَةَ، وَ أَنْ يُنْهِيَهُ مَعَ تَمَامِ الْاِلْتِفَاتِ، وَ أَنْ يُسَلِّمَ الْمَأْمُوْمُ بَعْدَ تَسْلِيْمَتَي الْإِمَامِ.

(Cabangan Masalah). Disunnahkan untuk berniat keluar dari shalat dengan salām pertama (1315) sebab menghindari perbedaan ‘ulamā’ yang mewajibknnya. (1326) Sunnah mempercepat bacaan salām,  mengawali salām dengan menghadap qiblat, (1337) mengakhiri salām besertaan sempurnanya menoleh dan sunnah bagi ma’mūm untuk melakukan salām setelah dua salām imāmnya. (1348).

Catatan:

  1. 127). Tidak diperbolehkan untuk menghilangkan satu huruf dari minimal ini dan tidak boleh pula mengganti dengan huruf yang lain. I‘ānah Thālibīn Juz 1, Hal. 205 Darul Fikr.
  2. 128). Salām kedua adalah termasuk dari mulḥiqat shalat atau tābi‘u shalat, bukan termasuk dari shalat menurut pendapat yang mu’tamad. I‘ānah Thālibīn Juz 1, Hal. 206 Darul Fikr.
  3. 129). Namun tidak wajib menjawab bagi seorang yang tidak shalat walaupun dirinya tahu bahwa ia mengucapkan salām untuk dirinya. I‘ānah Thālibīn Juz 1, Hal. 207 Darul Fikr.
  4. 130). Disyaratkan menurut Imām Ibnu Qāsim besertaan dengan niat memberi salām atau mengembalikan salām pada ma’mūm yang lain untuk berniat salām shalat, jika tidak maka shalatnya batal. I‘ānah Thālibīn Juz 1, Hal. 207 Darul Fikr.
  5. 131). Saat memulai salām pertama, jika sebelum salām maka shalat batal dan jika saat salām kedua atau di tengah yang awal, maka kesunnahan salām kedua hilang. I‘ānah Thālibīn Juz 1, Hal. 207 Darul Fikr.
  6. 132). Ya‘ni Imām Ibnu Suraij dan lainnya. I‘ānah Thālibīn Juz 1, Hal. 207 Darul Fikr.
  7. 133). Menghadapkan wajahnya, untuk menghadapkan dada hukumnya wajib. I‘ānah Thālibīn Juz 1, Hal. 208 Darul Fikr.
  8. 134). Jika malah bersamaan dengan imām, maka hukumnya boleh, namun makruh, yang dapat menhilangkan pahala jamā‘ah. I‘ānah Thālibīn Juz 1, Hal. 208 Darul Fikr.
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *