Rukun Shalat #1 – FIQH Populer Terjemah FATHUL MU’IN

FIQH Populer
Terjemah Fath-ul-Mu‘in
Penulis: Syaikh Zainuddin bin ‘Abdul-‘Aziz al-Malibari
(Judul Asli: Fatḥ-ul-Mu’īni Bi Syarḥi Qurrat-il-‘Aini Bi Muhimmāt-id-Dīn)

Penerjemah: M. Fikril Hakim, S.H.I. dan Abu Sholahuddin.
Penerbit: Lirboyo Press.

Rangkaian Pos: Tentang Cara Shalat (Rukun Shalat) - FIQH Populer Terjemah FATHUL MU'IN
  1. 1.Anda Sedang Membaca: Rukun Shalat #1 – FIQH Populer Terjemah FATHUL MU’IN
  2. 2.Rukun Shalat #2 – FIQH Populer Terjemah FATHUL MU’IN
  3. 3.Rukun Shalat #3 – FIQH Populer Terjemah FATHUL MU’IN
  4. 4.Rukun Shalat #4 – FIQH Populer Terjemah FATHUL MU’IN (1/5)

(فَصْلٌ): فِيْ صِفَةِ الصَّلَاةِ

TENTANG CARA SHALAT

 

(أَرْكَانُ الصَّلَاةِ) أَيْ فُرُوْضُهَا: أَرْبَعَةُ عَشَرَ، بِجَعْلِ الطُّمَأْنِيْنَةِ فِيْ مَحَالِّهَا رُكْنًا وَاحِدًا.

أَحَدُهَا: (نِيَّةٌ) وَ هِيَ الْقَصْدُ بِالْقَلْبِ، لِخَبَرِ: “إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ”. (فَيَجِبُ فِيْهَا) أَيِ النِّيَّةِ (قَصْدُ فِعْلِهَا) أَيِ الصَّلَاةِ، لِتَتَمَيَّزُ عَنْ بَقِيَّةِ الْأَفْعَالِ (وَ تَعْيِيْنُهَا) مِنْ ظُهْرٍ أَوْ غَيْرِهَا، لِتَتَمَيَّزَ عَنْ غَيْرِهَا، فَلَا يَكْفِيْ نِيَّةُ فَرْضِ الْوَقْتِ. (وَ لَوْ) كَانَتِ الصَّلَاةُ الْمَفْعُوْلَةُ (نَفْلًا) غَيْرَ مُطْلَقٍ، كَالرَّوَاتِبِ وَ السُّنَنِ الْمُؤَقَّتَةِ أَوْ ذَاتِ السَّبَبِ، فَيَجِبُ فِيْهَا التَّعْيِيْنُ بِالْإِضَافَةِ إِلَى مَا يُعَيِّنُهَا كَسُنَّةِ الظُّهْرِ الْقَبْلِيَّةِ أَوِ الْبَعْدِيَّةِ، وَ إِنْ لَمْ يُؤَخِّرِ الْقَبْلِيَّةَ. وَ مِثْلُهَا كُلُّ صَلَاةٍ لَهَا سُنَّةٌ قَبْلَهَا وَ سُنَّةٌ بَعْدَهَا، وَ كَعِيْدِ الْأَضْحَى أَوِ الْأَكْبَرِ أَوِ الْفِطْرِ أَوِ الْأَصْغَرِ، فَلَا يَكْفِيْ صَلَاةُ الْعَيْدِ وَ الْوِتْرِ سَوَاءٌ الْوَاحِدَةُ وَ الزَّائِدَةُ عَلَيْهَا، وَ يَكْفِيْ نِيَّةُ الْوِتْرِ مِنْ غَيْرِ عَدَدٍ. وَ يُحْمَلُ عَلَى مَا يُرِيْدُهُ عَلَى الْأَوْجَهِ، وَ لَا يَكْفِيْ فِيْهِ نِيَّةُ سُنَّةِ الْعِشَاءِ أَوْ رَاتِبَتِهَا، وَ التَّرَاوِيْحِ وَ الضُّحَى، وَ كَاسْتِسْقَاءٍ وَ كُسُوْفِ شَمْسٍ أَوْ (خُسُوْفِ) قَمَرٍ. أَمَّا النَّفَلُ الْمُطْلَقُ فَلَا يَجِبُ فِيْهِ تَعْيِيْنٌ بَلْ يَكْفِيْ فِيْهِ نِيَّةُ فِعْلِ الصَّلَاةِ، كَمَا فِيْ رَكْعَتَيِ التَّحِيَّةِ وَ الْوُضُوْءِ وَ الْاِسْتِخَارَةِ، وَ كَذَا صَلَاةِ الْأَوَّابِيْنَ، عَلَى مَا قَالَهُ شَيْخُنَا ابْنُ زِيَادٍ وَ الْعَلَّامَةُ السُّيُوْطِيُّ رَحِمَهُمَا اللهُ تَعَالَى. وَ الَّذِيْ جَزَمَ بِهِ شَيْخُنَا فِيْ فَتَاوِيْهِ أَنَّهُ لَا بُدَّ فِيْهَا مِنَ التَّعَيُّنِ كَالضُّحَى. (وَ) تَجِبُ (نِيَّةُ فَرْضٍ فِيْهِ) أَيْ فِي الْفَرْضِ، وَ لَوْ كِفَايَةً أَوْ نَذْرًا، وَ إِنْ كَانَ النَّاوِيْ صَبِيًّا، لِيَتَمَيَّزَ عَنِ النَّفْلِ. (كَأُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ) مَثَلًا، أَوْ فَرْضَ الْجُمْعَةِ، وَ إِنْ أَدْرَكَ الْإِمَامَ فِيْ تَشَهُّدِهَا.

(Rukun-rukun shalat) yakni kefardhuannya ada 14 dengan menjadikan tuma’nīnah sebagai satu rukun di dalamanya (11). Yang pertama adalah (niat). Niat adalah menyengaja dalam hati. (22) Dasar dari niat ini adalah hadits Nabi: Sahnya dari amal perbuatan hanyalah dari niatnya. (Wajib di dalam niat untuk menyengaja melaksanakan shalat) (33) supaya shalat menjadi berbeda dengan pekerjaan yang lain (dan wajib untuk menentukannya) dari shalat Zhuhur, atau selainnya agar shalat Zhuhur berbeda dari shalat lainnya, maka tidaklah cukup berniat fardhu dengan waktu yang mutlak (walaupun) shalat yang dikerjakan (adalah shalat sunnah) selain shalat mutlak seperti shalat rawātib, shalat sunnah yang memiliki waktu atau sebab, (44) maka wajib untuk menentukan shalat itu dengan menyandarkan, pada hal yang dapat menentukan seperti sunnah Zhuhur qabliyyah atau ba‘diyyah – walaupun sunnah qabliyyah diakhirkan dari fardhunya dan seperti halnya Zhuhur adalah setiap shalat yang memiliki kesunnahan sebelum dan setelahnya – , Dan seperti shalat ‘Īd-ul-Adhḥā (akbar), atau ‘Īd-ul-Fithri (ashghar), – maka tidaklah cukup berniat shalat ‘Īd – , seperti shalat witir – baik satu raka‘at ataupun lebih, cukup niat witir tanpa menyebutkan jumlah raka‘atnya dan diarahkan kepada raka‘at yang dikehendaki menurut pendapat yang unggul, tidak cukup dalam shalat witir ini dengan hanya berniat shalat sunnah ‘Isyā’ atau rawātib-nya – , seperti shalat tarāwiḥ, dhuḥā, istisqā’, gerhana matahari dan rembulan. Sedangkan bila shalat sunnah tersebut adalah shalat sunnah mutlak, maka cukup di dalamnya berniat melakukan shalat saja seperti halnya niat di dalam shalat dua raka‘at tahiyyat-ul-masjid, dua rakaat wudhū’ dan istikhārah, begitu pula shalat awwābīn seperti yang telah dipaparkan oleh guru kita Ibnu Ziyād dan al-‘Allāmah as-Suyūthī – semoga Allah mengasihinya – . Sedang pendapat yang diputuskan oleh guru kita Ibnu Ḥajar dalam Fatāwī-nya adalah wajibnya menentukan shalat awwābīn seperti shalat dhuḥā. (Wajib untuk berniat fardhu (55) di dalam shalat yang fardhu) – walaupun fardhu kifāyah atau nadzar dan walaupun orang yang berniat adalah anak kecil – agar niat fardhu itu membedakan dengan kesunnahan. (Contoh niatnya: Saya shalat kefardhuan Zhuhur) (66) atau kefardhuan jum‘at walaupun hanya menemukan imām dalam tasyahhudnya.

 

(وَ سُنَّ) فِي النِّيَّةِ (إِضَافَةٌ إِلَى اللهِ) (تَعَالَى)، خُرُوْجًا مِنْ خِلَافِ مَنْ أَوْجَبَهَا، وَ لِيَتَحَقَّقَ مَعْنَى الْإِخْلَاصِ. (وَ تَعَرُّضٌ لِأَدَاءٍ أَوْ قَضَاءٍ) وَ لَا يَجِبُ وَ إِنْ كَانَ عَلَيْهِ فَائِتَةٌ مُمَاثِلَةٌ لِلْمُؤَدَّاةِ، خِلَافًا لِمَا اعْتَمَدَهُ الْأَذْرَعِيُّ. وَ الْأَصَحُّ صِحَّةُ الْأَدَاءِ بِنِيَّةِ الْقَضَاءِ، وَ عَكْسُهُ إِنْ عُذِرَ بِنَحْوِ غَيْمٍ، وَ إِلَّا بَطُلَتْ قَطْعًا لِتَلَاعُبِهِ، (وَ) تَعَرُّضٌ (لِاسْتِقْبَالٍ وَ عَدَدِ رَكَعَاتٍ) لِلْخُرُوْجِ مِنْ خِلَافِ مَنْ أَوْجَبَ التَّعَرُّضَ لَهُمَا. (وَ) سُنّ (نُطْقٌ بِمَنَوِيٍّ) قَبْلَ التَّكْبِيْرِ، لِيُسَاعِدَ اللِّسَانُ الْقَلْبَ، وَ خُرُوْجًا مِنْ خِلَافِ مَنْ أَوْجَبَهُ. وَ لَوْ شَكَّ: هَلْ أَتَى بِكَمَالِ النَّيَّةِ أَوْ لَا؟ أَوْ هَلْ نَوَى ظُهْرًا أَوْ عَصْرًا؟ فَإِنْ ذَكَرَ بَعْدَ طُوْلِ زَمَانٍ، أَوْ بَعْدَ إِتْيَانِهِ بِرُكْنٍ وَ لَوْ قَوْلِيًا كَالْقِرَاءَةِ  بَطَلَتْ صَلَاتُهُ، أَوْ قَبْلَهُما فَلَا.

(Disunnahkan) di dalam niat (untuk menyandarkan lafazh Allah ta‘ālā), (77) karena keluar dari perselisihan ‘ulamā’ yang mewajibkannya dan sekaligus sebagai ungkapan bentuk nyata makna keikhlasan. (Menyebutkan lafazh ‘adā’ ataupun qadhā’), hukumnya tidak wajib walaupun baginya memiliki shalat yang telah terlewat waktunya yang menyamai dengan shalat yang dikerjakan, berbeda dengan pendapat yang menjadi pedoman Imām Adzra‘ī. Menurut pendapat yang ashaḥ shalat yang sedang dikerjakan sah diniati dengan qadha’, begitu pula sebaliknya, jika ada ‘udzur semacam mendung, dan bila tidak ada ‘udzur, maka shalat batal secara mutlak sebab mempermainkan shalat. Sunnah pula menyebutkan (menghadap qiblat dan jumlah raka‘at), untuk keluar dari perbedaan ‘ulamā’ yang mewajibkan penyebutan dua hal tersebut (mengucapkan hal yang diniatkan) sebelum takbīr supaya lidah membantu terhadap hati, dan untuk keluar dari perselisihan ‘ulamā’ yang mewajibkannya. Jika seorang yang shalat ragu, apakah telah berniat shalat Zhuhur atau ‘Ashar?, maka jika ia ingat setelah waktu yang lama atau setelah mengerjakan satu rukun – walaupun rukun qauli seperti membaca surat al-Fātiḥah – maka shalatnya batal. Atau ingat sebelum kedua hal tersebut, maka tidaklah batal.

Catatan:

  1. 1). 14 rukun ini dikelompokkan menjadi tiga: Rukun Qalbi, rukun Qauli dan rukun Fi‘li. I‘ānah Thālibīn Juz 1, Hal. 148 Darul Fikr.
  2. 2). Ini adalah ma‘na niat secara bahasa. Sedangkan ma‘na secara syara‘ adalah: Menyengaja sesuatu yang bersamaan dengan pekerjaannya. I‘ānah Thālibīn Juz 1, Hal. 148 Darul Fikr.
  3. 3). Secara global shalat dibagi menjadi tiga: Shalat fardhu, shalat sunnah yang memiliki waktu atau sebab dan shalat sunnah mutlak. Shalat fardhu disyaratkan di dalamnya tiga hal; niat mengerjakan, menentukan shalatnya, dan niat fardhu. Untuk shalat sunnah yang memiliki waktu atau sebab disyaratkan dua hal; niat mengerjakan dan menentukan. Sedang yang terakhir ya‘ni shalat sunnah mutlak hanya disyaratkan satu hal saja yaitu niat mengerjakan shalat. I‘ānah Thālibīn Juz 1, Hal. 148 Darul Fikr.
  4. 4). Dikecualikan dari shalat yang memiliki sebab adalah shalat tahiyyat-ul-masjid, dua rakaat wudhu’, sunnah ihram, istikhārah, thawāf, shalat hajat, sunnah zawāl, shalat awwābīn sebab shalat-shalat tersebut dapat dihasilkan dengan shalat apapun. Artinya, dalam niat tidak perlu menentukannya, bila hanya sekedar untuk menggugurkan kesunnahannya saja, namun jika ingin mendapatkan pahalanya, maka mesti harus berniat dengan niat shalat-shalat tersebut. I‘ānah Thālibīn Juz 1, Hal. 151 Darul Fikr.
  5. 5). Dalam masalah penyebutan fardhu dalam sebuah ibadah terbagi menjadi empat kelompok: Wajib menyebutkan niat fardhu tanpa khilaf ya‘ni kaffarat, tidak wajib menyebutkan niat fardhu tanpa khilaf ya‘ni haji, ‘umrah, dan jamā‘ah, disyaratkan menurut pendapat ashaḥḥ ya‘ni mandi, shalat, zakat dengan lafazh shadaqah, tidak disyaratkan menurut pendapat yang ashaḥḥ ya‘ni wudhu’, puasa, dan zakat dengan lafazh zakat. I‘ānah Thālibīn Juz 1, Hal. 151 Darul Fikr.
  6. 6). Contoh di atas telah mencakup tiga komponen yang wajib dalam shalat fardhu ya‘ni berniat mengerjakan, menentukan dan niat fardhu. I‘ānah Thālibīn Juz 1, Hal. 148 Darul Fikr.
  7. 7). Alasan tidak wajib disandarkan pada lafazh Allah karena pada realitasnya shalat memang dikerjakan hanya Allah. I‘ānah Thālibīn Juz 1, Hal. 151 Darul Fikr.
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *