Pengembalian ‘Aradh – Terjemah Tauhid Sabilul Abid KH. Sholeh Darat

TERJEMAH TAUHID

سَبِيْلُ الْعَبِيْدِ عَلَى جَوْهَرَةِ التَّوْحِيْدِ
Oleh: Kiyai Haji Sholeh Darat
Mahaguru Para Ulama Besar Nusantara
(1820-1903 M.)

Penerjemah: Miftahul Ulum, Agustin Mufrohah
Penerbit: Sahifa Publishing

Rangkaian Pos: 004 Persoalan Aqidah yang Bersumber dari Dalil Naqli (Sam'iyyah) - Terjemah Tauhid Sabilul Abid

Pengembalian ‘Aradh

 

Syaikh Ibrāhīm al-Laqqānī berkata:

وَ فِيْ إِعَادَة الْعَرَضْ قَوْلَانِوَ رُجِّحَتْ إِعَادَةُ الْأَعْيَانِ.

Dalam hal pengembalian ‘aradh (sifat) ada dua pendapat. Yang terkuat adalah ‘aradh dikembalikan dengan segala ‘ain-nya.”

Dalam hal pengembalian ‘aradh (sifat) ada dua pendapat ‘ulamā’. Yang diunggulkan adalah pendapat yang mengatakan bahwa ‘aradh (sifat) kembali dengan seluruh ‘ain-nya.

Penjelasan:

Ada dua pendapat tentang kembalinya ‘aradh (sifat-sifat jisim). (1731).

  1. Pendapat mayoritas ‘ulamā’ yang sesuai dengan pendapat Imām al-Asy‘arī, ‘aradh akan kembali beserta kembalinya jisim. Warna putih, bergerak, diam, dan suaranya ketika berada di dunia seperti itulah kelak dibangkitkan di akhirat. Begitu pula sifat bodoh, ‘ālim, kufur, beriman dan lainnya semasa di dunia, seperti itulah ia akan dibangkitkan.
  2. ‘Aradh tidak bisa kembali secara mutlak. Jisim akan bertemu dengan ‘aradh yang lain, bukan ‘aradh saat ada di dunia, karena tidak mungkin ada jisim tanpa ‘aradh.

Pendapat kedua ini lemah dan marjūḥ. Pendapat yang pertama adalah yang benar, sebagaimana perkataan Syaikh Ibrāhīm al-Laqqānī: (وَ رُجِّحَتْ إِعَادَةُ الْأَعْيَانِ), ya‘ni pendapat yang kuat adalah ‘ain ‘aradh dikembalikan sebagaimana keadaan semula di dunia, bukan digantikan dengan ‘aradh yang lain sebagaimana pendapat kedua yang menyatakan bahwa ‘aradh tidak bisa kembali ke jisimnya yang awal. Wallāhu a‘lam.

Catatan:

  1. 173). Tuḥfat-ul-Murīd, hal. 281.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.