Penambahan Maturidi Pada Ma’ani Untuk Sifat Takwin – Terjemah Kifayat-ul-‘Awam

KIFĀYAT-UL-‘AWĀM
Pembahasan Ajaran Tauhid Ahl-us-Sunnah

Karya: Syaikh Muḥammad al-Fudhalī
 
Penerjemah: H. Mujiburrahman
Diterbitkan Oleh: MUTIARA ILMU Surabaya

42. PENAMBAHAN MĀTURĪDĪ PADA MA‘ĀNĪ UNTUK SIFAT TAKWĪN.

 

هذَا وَ زَادَ الْمَاتُرِيْدِيَّةُ فِيْ صِفَاتِ الْمَعَانِيْ صِفَةً ثَامِنَةً وَ سَمُّوْهَا التَّكْوِيْنُ وَ هِيَ صِفَةٌ مَوْجُوْدَةٌ كَبَقِيَّةِ صِفَاتِ الْمَعَانِيْ لَوْ كُشِفَ عَنَّا الْحَجَابُ لَرَأَيْنَاهَا كَمَا تَرَى صِفَاتِ الْمَعَانِيْ لَوْ كُشِفَ عَنَّا الْحِجَابُ.

(Pahamilah) ini! Dan Māturīdiyyah menambahkan pada sifat-sifat ma‘ānī akan sifat kedelapan dan mereka menamakannya dengan AT-TAKWĪN (pembentukan) dan dia adalah sifat yang maujūd seperti sifat-sifat ma‘ānī yang lainnya yang kalau kita dibukakan ḥijāb niscaya kita dapat melihatnya sebagaimana anda dapat melihat sifat-sifat ma‘ānī kalau kita dibukakan ḥijāb.”

 

وَ اعْتَرَضَهُمُ الْأَشَاعِرَةُ بِأَنَّ مَا فَائِدَةُ التَّكْوِيْنِ بَعْدَ الْقُدْرَةِ لِأَنَّ الْمَاتُرِيْدِيَّةَ يَقُوْلُوْنَ: إِنَّ اللهَ يُوْجِدُ وَ يُعْدِمُ بِالتَّكْوِيْنِ.

Dan Asyā‘irah membantah mereka dengan: Apakah kegunaan Takwīn sesudah qudrat? karena Māturīdiyyah berkata sesungguhnya Allah menjadikan dan meniadakan dengan Takwīn itu.”

 

فَأَجَابُوْا بِأَنَّ الْقُدْرَةَ تُهَيِّءَ الْمُمْكِنَ لِلْوُجُوْدِ أَيْ تُصَيِّرُهُ قَابِلًا لِلْوُجُوْدِ بَعْدَ أَنْ لَمْ يَكُنْ وَ التَّكْوِيْنُ بَعْدَ ذلِكَ يُوْجِدُهُ بِالْفِعْلِ.

Maka mereka (Māturīdiyyah) menjawab: dengan bahwa qudrat itu mempersiapkan yang mungkin untuk wujūd dalam arti menjadikannya siap menerima untuk wujūd sesudah dia (kesiapan menerima wujūd itu) tidak ada dan Takwīn sesudah yang demikian itu menjadikannya dengan perbuatan.”

 

وَ رَدَّهُ الْأَشَاعِرَةُ بِأَنَّ الْمُمْكِنِ قَابِلٌ لِلْوُجُوْدِ مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ.

Dan Asyā‘irah menolak jawaban tersebut dengan bahwa yang mungkin itu menerima bagi wujūd dengan tanpa sesuatu.”

 

Artinya: dengan tanpa sesuatu yang menjadikannya siap menerima wujūd itu karena perkara mungkin adalah sesuatu yang sama nisbah wujūd dan ‘adam kepadanya. Penolakan Asyā‘irah dengan alasan ini dibantah pula oleh Māturīdiyyah dengan: bahwa penerimaan yang mungkin akan wujūd seperti itu adalah masih imkānī (bersifat kemungkinan saja) sedangkan penerimaan yang dimaksudkan di sini adalah penerimaan isti‘dādī (yang bersifat persiapan) yang dekat dari perbuatan.

 

وَ مِنْ أَجْلِ كَوْنِهِمْ زَادُوْا هذِهِ الصِّفَةَ قَالُوْا: إِنَّ صِفَاتِ الْأَفْعَالِ قَدِيْمَةٌ كَالْخَلْقِ وَ الْإِحْيَاءِ وَ الرِّزْقِ وَ الْإمَاتَةِ لِأَنَّ هذِهِ الْأَلْفَاظَ أَسْمَاءٌ لِلتَّكْوِيْنِ الَّذِيْ هُوَ صِفَةٌ مَوْجُوْدَةٌ عِنْدَهُمْ وَ التَّكْوِيْنُ قَدِيْمٌ فَتَكُوْنُ صِفَاتُ الْأَفْعَالِ قَدِيْمَةٌ.

Dan dari sebab keadaan mereka itu menambah sifat ini maka mereka berkata: “Sesungguhnya sifat-sifat af‘āl (perbuatan) itu adalah qadīm seperti menciptakan, menghidupkan, memberi rezeki dan mematikan karena lafal-lafal ini adalah nama-nama bagi Takwīn yang dia adalah sifat yang maujūd menurut mereka dan takwīn itu adalah qadīm maka jadilah sifat-sifat af‘āl itu qadīm.”

 

وَ عِنْدَ الْأَشَاعِرَةِ صِفَاتُ الْأَفْعَالِ حَادِثَةٌ لِأَنَّهَا أَسْمَاءٌ لِتَعَلُّقَاتِ الْقُدْرَةِ فَالْإِحْيَاءُ اِسْمٌ لِتَعَلُّقِ الْقُدْرَةِ بِالْمَحْيَا وَ الرِّزْقُ اِسْمٌ لِتَعَلُّقِ الْقُدْرَةِ بِالْمَرْزُوْقِ وَ الْخَلْقُ اِسْمٌ لِتَعَلُّقِهَا بِالْمَخْلُوْقِ وَ الْإِمَاتَةُ اِسْمٌ لِتَعَلُّقِهَا بِالْمَوْتِ وَ تَعَلُّقَاتُ الْقُدْرِةِ عِنْدَهُمْ حَادِثَةٌ.

Dan menurut Asyā‘irah: Sifat-sifat af‘al itu adalah baru karena dia adalah nama bagi beberapa ta‘alluq qudrat. Maka menghidupkan adalah nama bagi ta‘alluqnya qudrat dengan yang dihidupkan dan memberi rezeki adalah nama bagi ta‘alluqnya qudrat dengan yang yang diberi rezeki dan menciptakan adalah nama bagi ta‘alluqnya qudrat dengan yang diciptakan serta mematikan adalah nama bagi ta‘alluqnya qudrat dengan yang dimatikan dan ta‘alluq-ta‘alluq qudrat itu menurut mereka (Asyā‘irah) adalah baru.”

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.