Mu’jizat-Mu’jizat Rasulullah S.A.W. – Nurul Yaqin 3

NŪR-UL-YAQĪN
 
Judul Asli:
Nūr-ul-Yaqīn fī Sīrati Sayyid-il-Mursalīn
Penulis: Muhammad al-Khudhari Bek

 
Alih Bahasa: Muhammad Faisal Fadhil
Penerbit: UMMUL QURA
 
(Diketik oleh: Zulfa)

Rangkaian Pos: Mengenal Pribadi Rasulullah S.A.W. dan Mu'jizatnya - Nurul Yaqin

3. Makanan Menjadi Banyak

Mu‘jizat Nabi s.a.w. lainnya adalah makanan yang sedikit dapat menjadi banyak berkat doa Nabi s.a.w. Shahabat Thalḥah telah menceritakan bahwa Rasūlullāh s.a.w. pernah memberi makan delapan puluh atau tujuh puluh orang hanya dari sedikit gandum yang dibawa oleh shahabat Anas r.a. Lalu Rasūlullāh s.a.w. memerintahkan agar gandum itu dibagi-bagikan, dan sebelum itu beliau membacakan doa seperti apa yang telah dikehendaki oleh Allah. (1511)

Shahabat Jābir r.a. meriwayatkan bahwa Perang Khandaq, Rasūlullāh s.a.w. telah memberi makan seribu orang hanya dari satu sha’ gandum. Jābir r.a. berkata: “Aku bersumpah demi Allah, sungguh mereka telah makan semuanya sehingga mereka meninggalkannya. Ketika mereka meninggalkan makanan, nampan milik kami masih penuh dengan makanan seperti semula. Ketika adonan roti milik kami diolah, Rasūlullāh s.a.w. meludahi adonan dan burmah (tempat membuat adonan) dan memberkahinya dengan doa.

Abū Ayyūb r.a. menceritakan bahwa ia membuatkan makanan untuk Rasūlullāh s.a.w. dan Abū Bakar r.a., yang hanya cukup untuk mereka berdua. Namun, dari makanan tersebut Rasūlullāh s.a.w. dapat memberikan makan kepada seratus delapan puluh orang shahabatnya. (1522) hal seperti ini diriwayatkan pula oleh banyak shahabat, di antara mereka adalah shahabat ‘Abd-ur-Raḥmān bin Abī Bakar, Salamah bin al-Akwā’, Abū Hurairah, ‘Umar bin al-Khaththāb, dan Anas bin Mālik, semoga Allah meridai mereka semuanya.

4. Batang Kurma yang Menangis

Mu‘jizat Rasūlullāh s.a.w. yang lainnya ialah kisah tentang rintihan batang kurma. (1533) Shahabat Jābir bin ‘Abdillāh r.a. menceritakan bahwa Masjid Madīnah pada saat itu diberi atap yang ditopang oleh batang-batang kurma: “Apabila Rasūlullāh s.a.w. berkhutbah, beliau berdiri di dekat salah satu dari batang kurma tersebut. Ketika dibuatkan mimbar untuk Rasūlullāh s.a.w., kami mendengar suara yang bersumber dari batang kurma itu mirip dengan suara unta.” Dalam riwayat yang dikemukakan oleh shahabat Anas disebutkan bahwa masjid sampai bergetar karena rintihannya itu. Menurut riwayat yang dikemukakan oleh Sahl, banyak orang yang menangis ketika mereka melihat hal itu.

Dalam hadits di atas, menurut riwayat yang dikemukakan oleh al-Muththalib, disebutkan bahwa batang kurma itu pecah, lalu Nabi s.a.w. mendatanginya dan meletakkan tangannya pada batang kurma yang pecah itu sehingga batang kurma itu diam dan tenang. Dalam riwayat selain Al-Muththalib ditambahkan bahwa setelah itu Rasūlullāh s.a.w. berkata: “Sesungguhnya batang kurma ini menangis karena ia merasa kehilangan dzikir.” (1544) Perawi lainnya lagi menambahkan: “Demi Dzāt yang jiwaku berada di Tangan-Nya, seandainya Rasūlullāh s.a.w. tidak segera menenangkannya, niscaya batang kurma itu akan tetap dalam keadaan demikian karena merasa sedih ditinggal oleh Rasūlullāh s.a.w. Setelah itu, Rasūlullāh s.a.w. memerintahkan agar batang kurma itu dikubur, lalu dikubur di bawah mimbarnya.” (1555)

Hadits ini dikemukakan oleh para perawi yang dapat dipercaya kesahihannya, dan banyak pula tābi‘īn yang telah meriwayatkannya dengan bersumber dari para shahabat. Kemudian hadits ini diriwayatkan oleh para tābi‘īn yang berperingkat lemah dan oleh orang-orang yang kedudukannya di bawah mereka dengan bersumberkan para tābi‘īn. Namun, kebenaran kisah ini akan dapat diketahui oleh orang yang menekuni bab ini. Semoga Allah menetapkan kebenaran.

5. Menyembuhkan Orang Sakit dengan Idzin Allah

Mu‘jizat Rasūlullāh s.a.w. yang lainnya lagi adalah beliau s.a.w. dapat menyembuhkan orang-orang sakit dan orang-orang cacat. Dalam Perang Uhud, mata shahabat Qatādah bin Nu‘mān terkena pukulan sehingga bola matanya keluar. Kemudian bola mata yang keluar itu dikembalikan lagi ke tempatnya semula oleh Rasūlullāh s.a.w. Setelah itu, ternyata mata yang dikembalikan oleh Rasūl jauh lebih tajam pandangannya daripada yang satunya lagi.

Dalam perang Dzū Qard, muka Abū Qatādah terkena anak panah, kemudian Rasūlullāh s.a.w. meludahi lukanya (mengobatinya). Ternyata, setelah itu sembuh tanpa meninggalkan bekas luka. Ibnu Mulā‘ib al-Asinnah terkena suatu penyakit yang berat sekali. Ia mengirimkan utusan kepada Rasūlullāh s.a.w. untuk meminta obat. Rasūlullāh s.a.w. mengambil segenggam tanah, kemudian meludahinya, lalu diberikannya tanah itu kepada utusan Ibnu Mulā‘ib. Utusan itu menerima tanah tersebut, tetapi kelihatan ia merasa jijik dan meremehkannya. Sekalipun demikian, terpaksa ia menyampaikannya juga kepada Ibnu Mulā‘ib yang pada saat itu hampir meninggal. Lalu tanah itu dicampur dengan air dan diminumkan kepadanya. Akhirnya, Allah menyembuhkan Ibnu Mulā‘ib.

Dalam pembahasan tentang Perang Khaibar telah kami sebutkan kisah mengenai Shahabat ‘Alī dan sakit mata yang dideritanya, yang kemudian disembuhkan oleh Nabi s.a.w. Pada kenyataannya masih banyak hal yang seperti itu dan diriwayatkan oleh ‘ulamā’ kaum Muslimīn yang dapat dipercaya, tetapi tidak dapat kami kemukakan semua karena banyaknya.

Mengenai anugerah Allah yang dilimpahkan kepada Rasūlullāh s.a.w. sehubungan dengan doa-doanya yang dikabulkan, ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh shahabat Anas bin Mālik r.a. Ia meriwayatkan bahwa ibunya yang bernama Ummu Sulaim berkata kepada Rasūlullāh s.a.w.: “Wahai Rasūlullāh, doakanlah kepada Allah pembantumu si Anas ini.” Rasūlullāh s.a.w. berdoa: “Ya Allah, perbanyaklah harta benda dan anak-anaknya, dan berkahilah apa yang telah aku berikan kepadanya.” Kemudian Anas bin Mālik r.a. berkata: “Demi Allah, sesungguhnya harta bendaku menjadi banyak sekali, dan anak cucuku sekarang telah mencapai sekitar seratus orang.” (1566)

Rasūlullāh s.a.w. pernah pula mendoakan kebaikan untuk shahabat ‘Abd-ur-Raḥmān bin ‘Auf, supaya harta miliknya diberkahi. Ternyata, bagian warisan setiap istrinya yang berjumlah empat orang, setelah ia meninggal dunia, unta-untanya berkembang biak menjadi sebanyak delapan puluh ribu ekor. Ia pernah menyedekahkan satu kafilah miliknya bersama unta-unta dan barang-barang yang dibawanya, sedangkan jumlah unta dalam kafilahnya itu tujuh ratus ekor. (1577)

Rasūlullāh s.a.w. pernah pula mendoakan Mu‘āwiyah supaya diberi kekuasaan di muka bumi ini. Akhirnya, Mu‘āwiyah pun menjadi khalifah. Rasūlullāh s.a.w. juga pernah mendoakan shahabat Sa‘ad supaya menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya. Setelah itu, setiap mendoakan (keburukan) atas seseorang pasti dikabulkan. Pada pembahasan yang lalu telah kami terangkan doa Rasūlullāh s.a.w. untuk shahabat ‘Umar r.a., yaitu semoga Allah menjayakan Islam dengannya. (1588)

Pada suatu hari, Rasūlullāh s.a.w. berdoa untuk Abū Qatādah r.a.: “Semoga dirimu beruntung, ya Allah, berkahilah rambut dan kulitnya.” Ternyata, ketika shahabat Abū Qatādah meninggal dunia dalam umur tujuh puluh tahun, jenazahnya kelihatan seolah-olah masih berumur lima belas tahun. (1599) Doa-doa Rasūlullāh s.a.w. yang mustajab memang cukup banyak hingga sulit dihitung. Hal ini dapat diketahui oleh seseorang yang membaca seluruh kitab riwayat hidup beliau s.a.w. ini.

Adapun mengenai yang telah ditampakkan Allah kepada Rasūlullāh s.a.w. berupa pengetahuan mengenal hal-hal yang belum terjadi, banyak diceritakan oleh para shahabat. Shahabat Ḥudzaifah r.a. menceritakan: “Rasūlullāh s.a.w. singgah pada kami, lalu berdiri di suatu tempat. Apa yang bakal terjadi pada tempat tersebut hingga hari kiamat nanti, semua diceritakannya. Hal ini dihafal oleh orang yang menghafalnya, dan dilupakan oleh orang yang melupakannya. Teman-temanku telah mengetahui semua itu. Sesungguhnya, apabila terjadi sesuatu maka aku segera mengetahui dan mengingatnya sebagaimana seseorang mengingat wajah orang lain yang pergi, kemudian bilamana ia melihatnya, ia langsung dapat mengenalnya. Namun, aku tidak mengetahui, apakah teman-temanku lupa kepadanya atau melupakannya. Demi Allah, Rasūlullāh s.a.w. tidak pernah tidak menyebutkan suatu pemimpin fitnah pun hingga hari kiamat, yang jumlahnya ada tiga ratus orang lebih. Beliau menyebutkan kepada kami namanya, nama bapaknya, dan nama kabilahnya.”

Para perawi hadits yang shaḥīḥ dan para imām telah mengemukakan hadits-hadits yang menceritakan janji Rasūlullāh s.a.w. terhadap para shahabatnya, yaitu bahwa mereka akan memperoleh kemenangan atas musuh-musuh mereka, Fatḥu Makkah dan Bait-ul-Maqdis, Yaman, Syām, dan ‘Irāq. Kemudian stabilitas keamanan akan menaungi negeri-negeri yang telah dikuasai mereka sehingga seorang wanita berani melakukan perjalanan dari Hirah sampai ke Makkah sendirian tanpa merasa takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah s.w.t. Juga bahwa kota Madīnah akan diserang, dan tanah Khaibar pada keesokan harinya akan ditundukkan oleh shahabat ‘Alī r.a.

Rasūlullāh s.a.w. telah memberitakan pula tentang penaklukan yang dianugerahkan Allah terhadap umatnya hingga banyak negara besar yang ditaklukkan umatnya, sehingga Persia takluk di bawah kekuasaan para shahabatnya, dan mereka memperoleh banyak harta benda serta kemewahan, pada pembahasan yang telah lalu dari kitab ini telah kami jelaskan sebagian besar daripadanya. Hal itu cukup untuk dijadikan pegangan.

Untuk lebih jelasnya lagi, kami kisahkan tentang anugerah yang dilimpahkan Allah terhadap Nabi-Nya, yaitu beliau s.a.w. selalu berada dalam pemeliharaan-Nya dari ulah manusia dan perbuatan mereka yang ingin mencelakakan dirinya. Sehubungan dengan hal ini, Allah s.w.t. telah berfirman:

Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.” (Al-Mā’idah: 67)

Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Rabb-mu maka sesungguhnya kamu berada dalam pemeliharaan Kami.” (Ath-Thūr: 48)

Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hambaNya?” (Az-Zumar: 36)

Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu).” (Al-Ḥijr: 95)

Ketika turun kepada Rasūlullāh s.a.w. firman Allah berikut ini: “Allah memelihara kamu dari (ganguan) manusia,” (Al-Mā’idah: 67), Rasūlullāh s.a.w. langsung menyuruh pergi pengawal-pengawal pribadinya seraya berkata kepada mereka: “Pergilah kalian karena sesungguhnya Allah telah memelihara diriku.”

Pada pembahasan yang telah lalu kami telah menjelaskan tentang Da‘tsūr yang bermaksud membunuh beliau s.a.w., kemudian Allah memelihara Nabi-Nya dari kejahatan Da‘tsūr. Kami banyak menceritakan perbuatan Abū Jahal, yaitu ketika Abū Jahal bermaksud menipu Rasūlullāh s.a.w. dengan berbagai macam cara yang menyakitkan, tetapi Allah s.w.t. memelihara Nabi s.a.w. dari kejahatannya. Telah kami kisahkan pula tentang anugerah Allah s.w.t. yang dilimpahkan kepada beliau s.a.w. pada malam hijrah serta cerita tentang Surāqah sewaktu Nabi s.a.w. dalam perjalanan hijrah.

Dapat kami simpulkan dari pembahasan yang telah lalu bahwa Rasūlullāh s.a.w. telah tinggal di Makkah di antara musuh-musuh besarnya selama tiga belas tahun (setelah beliau diangkat menjadi Rasūl). Nabi s.a.w. tinggal di Madīnah di tengah-tengah orang-orang yang berpura-pura masuk Islam, yaitu kaum munāfiqin, dan orang-orang Yahudi selama sepuluh tahun. Namun, dalam rentang waktu yang cukup lama itu ternyata tidak ada seorang pun di antara mereka yang dapat menimpakan hal-hal yang membahayakan terhadap diri beliau karena Allah s.w.t. telah memeliharanya dari kejahatan musuh-musuhnya sehingga Allah s.w.t. memenangkan dan menyempurnakan agama-Nya.

Segala puji bagi Allah dengan pujian yang patut dengan limpahan karunia-karuniaNya dan lebih dari itu lagi. Dan kami memohon kepada Allah semoga Dia berkenan memberikan taufīq kepada para pembaca kitab riwayat hidup Rasūlullāh s.a.w. ini untuk dapat mengikuti jejak-jejaknya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salām-Nya kepada Rasūlullāh s.a.w., para shahabatnya, dan semua yang menolongnya.

Dengan pertolongan Allah semata, karya ini telah selesai.

Catatan:

  1. 151). HR. Muslim (2040).
  2. 152). HR. al-Baihaqī dalam ad-Dalā’il (6/94).
  3. 153). HR. al-Baihaqī dalam ad-Dalā’il (6/94).
  4. 154). HR. al-Bukhārī (3583).
  5. 155). HR. al-Baihaqī dalam ad-Dalā’il (2/558).
  6. 156). HR al-Bukhārī (6344) dan Muslim (2480).
  7. 157). HR Abū Dāwūd (2109) dan al-Bukhārī (2049).
  8. 158). HR at-Tirmidzī (3681) di-shaḥīḥ-kan oleh al-Albānī dalam al-Misykāt (6036).
  9. 159). HR. al-Baihaqī dalam ad-Dalā’il (6/217).

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.