Mengenal dan Memelihara Jiwa – Kitab-ush-Shidq

JALAN CINTA MENUJU ALLAH
 
Dari naskah ath-Tharīqu ilā Allāh atau Kitāb ash-Shidq
 
Oleh: Abū Sa‘īd al-Kharrāz
Penerbit: Pustaka Shufi

Rangkaian Pos: Pintu-pintu Kebenaran - Kitab-ush-Shidq

PINTU-PINTU KEBENARAN DALAM

MENGENAL DAN MEMELIHARA JIWA
MENGENAL MUSUH: IBLIS
WARA‘ KEPADA ALLAH
MENCARI YANG HALAL
ZUHUD
BERTAWAKKAL
TAKUT KEPADA ALLAH
MALU KEPADA ALLAH
MENGENAL DAN MENSYUKURI NI‘MAT ALLAH
MENCINTA
RIDHĀ KEPADA COBAAN ALLAH
RINDU KEPADA ALLAH
KEMESRAAN DENGAN ALLAH.

 

BAGIAN SATU

MENGENAL DAN MEMELIHARA JIWA

 

Benar dalam mengenal dan memelihara jiwa, banyak disinggung dalam beberapa firman Allah s.w.t. antara lain:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ للهِ وَ لَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَ الْأَقْرَبِيْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kalian orang-orang yang benar-benar menegakkan keadilan dan menjadi saksi karena Allah semata, walaupun terhadap dirimu sendiri, atau ibu-bapak dan kaum kerabatmu.” (an-Nisā’: 135)

وَ مَا أُبَرِّئُ نَفْسِيْ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوْءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْ

Dan aku tidak dapat membebaskan diriku. Sesungguhnya nafsu selalu menyuruh untuk berbuat kejahatan, kecuali yang dirahmati Tuhanku.” (Yūsuf: 53).

وَ أَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَ نَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوى، فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوى

Adapun orang yang merasa takut akan kebesaran Tuhannya, dan mengendalikan dirinya dari ajakan hawa nafsu, maka sesungguhnya Surga adalah tempat tinggalnya.” (an-Nāzi‘āt: 40-41)

Selain itu, ada juga beberapa sabda Nabi Muḥammad s.a.w. yang mendukung hal ini. di antaranya adalah:

أَعْدَى عَدُوٍّ لَكَ نَفْسُكَ الَّتِيْ بَيْنَ جَنْبَيْكَ ثُمَّ أَهْلُكَ ثُمَّ وَلَدُكَ ثُمَّ الْأَقْرَبُ فَالْأَقْرَبُ

Musuh yang paling nyata bagimu adalah nafsu yang berada di antara kedua tulang rusukmu, kemudian keluargamu, anak-anakmu, dan terakhir kaum kerabatmu yang terdekat, kemudian yang lebih dekat lagi.” (71)

Selain itu, diriwayatkan pula dari Rasūlullāh s.a.w., beliau bersabda: “Jiwa yang tunduk pada hawa nafsu dan patuh pada hasrat jahatnya, niscaya akan mencelakaimu di hari kemudian.” Mendengar itu, para sahabat bertanya: “Apakah dia itu, wahai rasūl?” Rasūl menjawab: “Hawa nafsumu yang berada di antara kedua tulang rusukmu.”

Benar dalam Ber‘ibādah Kepada Allah s.w.t.

Salah satu ciri sifat orang yang benar dalam ber‘ibādah kepada Allah s.w.t. adalah yang jiwanya mantap untuk menaati Allah s.w.t. serta mencari keridhāan-Nya, sehingga ia mensyukuri segala ni‘mat yang diberikan Allah s.w.t. serta membaktikan seluruh jiwa kepada-Nya.

Diceritakan, dahulu Abū Hurairah r.a. pernah dilihat oleh banyak orang sedang mencari sesuatu untuk dijadikan alas tempat duduk. Kala itu, orang-orang bertanya kepadanya: “Apa yang sedang anda lakukan?” Ia menjawab: “Mencari-cari sesuatu untuk kujadikan alas tubuhku, karena jika aku tidak berbuat baik kepada tubuhku sendiri, niscaya ia tidak akan menuruti perintahku.” Dengan demikian, jika jiwa masih tidak mau mematuhi apa-apa yang diridai Allah s.w.t., dengan terus-menerus berdalih menghindarinya, maka seyogianya kamu menahan nafsunya dan melawan kehendaknya. Sesudah itu, arahkanlah ia agar tunduk di jalan Allah s.w.t., dan terus-menerus berdoa kepada-Nya dengan harapan semoga Dia meluruskannya.

Selain itu, janganlah kamu mencela jiwamu pada suatu saat, dan pada saat lain memujinya. Tetapi, biasakanlah mengingat aib jiwa dan mencelanya karena melakukan banyak perbuatan yang tidak diridhāi Allah s.w.t., sebagaimana yang diisyaratkan oleh sebagian ‘ulamā’ ketika menyatakan: “Aku tahu mana yang baik buat diriku, dan mana yang tidak baik buatnya.” Dengan demikian, cukuplah dosa bagi seorang hamba, jika ia mengetahui aib pada dirinya, namun tidak berusaha membetulkannya dan tidak menganjurkan dirinya untuk bertaubat. Sementara itu, sebagian ‘ulamā’ yang lain berkata: “Jika kamu benar-benar ingin mencela dirimu (atas kesalahannya), maka ketika ada orang lain mencelamu atas kesalahan yang kamu perbuat, janganlah kamu marah kepadanya.”

Jika nafsu menyuruhmu melakukan suatu perbuatan tercela, atau menyibukkan hatimu untuk melakukan suatu perbuatan yang diharamkan Allah, seyogianya kamu segera meluruskannya. Selain itu, kamu pun harus mengontrolnya layaknya seorang tuan kepada hambanya. Dan juga, kamu harus menahannya dari perilaku hedonisme serta mendorongnya mengikuti jejak-jejak orang saleh sebelumnya (as-Salaf-ush-Shāliḥ).

Karena segala hal yang diperintahkan oleh nafsu biasanya tidak terlepas dari perkara haram. Oleh karena itu, jika kamu mematuhinya, niscaya akan mendapatkan murka Allah s.w.t. Atau jika pun pada perkara yang halal, kamu tidak akan terlepas dari pertanggungjawabannya di Akhirat, di kala orang-orang yang menjauhi perkara yang haram karena takut kepada Allah s.w.t. dan mengagungkan-Nya berjalan menuju Surga. Dan juga di kala orang-orang yang tidak mengambil perkara yang halal sekali pun, langsung masuk ke dalam Surga.

Oleh karena itu, seyogianya kamu berusaha menempatkan diri dari dua kondisi tersebut guna memperoleh hasil positifnya di Akhirat. Karena, barang siapa menganggap Akhirat sebagai negerinya, niscaya ia akan menjunjungnya dan selalu ingin segera kembali kepadanya. Dan sebaliknya, jika ada orang yang hatinya terpaut dengan urusan duniawi, niscaya ia akan menjadikannya sebagai negeri, lalu berusaha mematuhi dan menaatinya. Dan untuk orang seperti mereka ini, hendaklah kamu menjauhi mereka seraya memberi nasihat akan akibat buruk yang akan mereka temui kelak dan mengingatkannya akan bencana dunia.

Dengan demikian, kamu harus selalu menepati tradisi orang-orang terdahulu dengan cara menjaga diri sendiri dan menganjurkannya kepada keluarga dan kawan-kawanmu. Sebab, orang-orang terdahulu telah berusaha dan bekerja sekuat tenaga dalam menjaga diri. Karena itu, mereka diberi anugerah kesehatan yang cukup dan energi yang memadai oleh Allah s.w.t., sebab mereka telah memelihara hak dan kewajiban-Nya serta takut melanggar larangan-Nya. Di samping itu, mereka pun dengan sukarela menolak segala yang diperbolehkan Allah s.w.t. dan menjauhi perkara yang diharamkan demi mematuhi perintah-Nya, serta meninggalkan yang halal untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Mereka senantiasa terjaga di malam hari, membiasakan diri lapar dan haus di siang hari ( – puasa) dan merasa cukup dengan apa adanya dan dengan yang sedikit.

Catatan:

  1. 7). Hawa nafsu merupakan musuh utama manusia, karena ia mengajak kepada yang salah dan tidak ada yang selamat dari bujukan hawa nafsu, kecuali orang-orang yang dilindungi rahmat Allah s.w.t. dan keluarga juga merupakan musuh manusia, karena bisa menimbulkan fitnah, sebab Allah s.w.t. telah berfirman: “Sesungguhnya harta kekayaan dan anak istrimu adalah fitnah.” (at-Taghābun: 15). Atau bisa jadi sebagian anggota keluarga adalah musuh, sebagaimana firman-Nya: “Dan ada di antara istri dan anak-anakmu yang menjadi musuhmu, maka hendaklah kamu waspada dari mereka.” (at-Taghābun: 14). Tegasnya hawa nafsu mempunyai pengaruh yang besar bagi manusia dan menjadi faktor utama bagi hidupnya, bahagia atau celaka di Akhirat kelak.

1 Komentar

  1. IRWAN HIDAYAT berkata:

    SUGUHAN ILMU YANG DI MUAT SUNGGUH SANGAT BERMANFAAT BAGI UMAT, SAYA SANGAT MERASA SENANG DAN BAHAGIA MEMBACANYA DAN MENGAMBIL MANFAATNYA, KITAB YANG DAHULU SULIT DI DAPATKAN SEMUA TERSEDIA TINGGAL BACA KITA DAPAT ILMU. UNTUK HATISENANG.COM SEMOGA KRU INI MENDAPAT PAHALA DAN KEBAHAGIAN DUNIA DAN AKHIRAT. IJINKAN SAYA MENYEBARLUASKAN ILMU INI DENGAN WA DAN FACEBOOK.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *