Kisah Nabi Daud A.S. – Kisah 25 Nabi & Rasul

KISAH 25 NABI DAN RASŪL
Diserti Dalil-dalil al-Qur’ān
 
Penyusun: Mahfan, S.Pd.
Penerbit: SANDRO JAYA

KISAH NABI DĀŪD A.S.

 

Nabi Dāūd a.s. adalah keturunan yang ke-12 dari Nabi Ibrāhīm a.s.. Bapak-bapak beliau berlanjut silsilahnya sampai kepada Nabi Isḥāq a.s. putra Nabi Ibrāhīm a.s..

Sesudah Nabi Hārūn dan Nabi Mūsā wafat, kaum Bani Isrā’īl dipimpin oleh Yusya’ bin Nūn. Kepemimpinan Yusya’ bin Nūn itu mereka dapat menguasai tanah Palestina dan bertempat tinggal di istana. Namun setelah Yusya’ bin Nūn meniggal, mereka terpecah-belah. Isi kitab Taurāt berani mereka rubah dan ditambah-tambah. Mereka suka bersilang pendapat akhirnya hilanglah kekuatan persatuan mereka. Tanah Palestina diserbu dan dikuasai bangsa lain. Bani Isrā’īl menjadi bangsa jajahan yang tertindas. Mereka merindukan datangnya seorang. Pemimpin yang tegas dan gagah berani untuk berperang melawan penjajah.

Pada suatu hari mereka pergi menemui Nabi Samuel untuk minta petunjuk. “Wahai Samuel,” kata mereka. “Angkatlah salah seorang di antara kami sebagai raja yang akan memimpin kita berperang melawan penjajah.” “Aku khawatir bila sudah dapat pemimpin yang dipilih Allah kalian justru tidak mau berangkat berperang,” kata Nabi Samuel. “kita sudah lama menjadi bangsa yang tertindas,” kata mereka. “Kita tidak mau menderita lebih lama lagi. Kita harus menegakkan agama Allah.” Karena didesak kaumnya Nabi Samuel kemudian berdo’a kepada Allah. Do’anya dikabulkan dan Thālūt diangkat sebagai raja yang memimpin mereka.

Begitu nama Thālūt diucapkan oleh Nabi Samuel, mereka justru menolak. Karena nama Thālūt tidak begitu dikenal. Ia hanya seorang petani biasa. Malah bisa digolongkan orang miskin. Nabi Samuel kemudian menjelaskan bahwa walau pun Thālūt itu petani biasa namun ia pandai strategi perang, tubuhnya kekar dan kuat dan pandai ilmu tatanegara. Akhirnya mereka mau menerima Thālūt sebagai raja mereka.

Jālūt dan Dāūd

Thālūt mengajak orang-orang yang tak punya ikatan rumah tangga dan perdagangan ke medan perang. Dengan memilih orang-orang terbaik itu ia berharap mereka dapat memusatkan diri pada pertempuran dan tak menghiraukan lagi urusan rumah tangga dan perdagangan. Salah seorang pemuda yang ikut dalam barisan Thālūt adalah seorang remaja bernama Dāūd. Ia diperintah ayahnya untuk menyertai kedua kakaknya yang maju ke medan perang. Dāūd tidak diperkenankan maju ke garis depan, ia hanya disuruh melayani kedua kakaknya. Tempatnya di garis belakang. Jika kakaknya lapar atau haus dialah yang melayani dan menyiapkannya.

Tentara Thālūt sebenarnya tidak seberapa banyak. Jauh lebih besar dan lebih banyak tentara Jālūt sang penindas. Jālūt sendiri adalah seorang panglima perang yang bertubuh besar seperti raksasa. Setiap orang yang berhadapan dengannya selalu binasa. Tentara Thālūt gemetar saat melihat keperkasaan musuh-musuhnya itu. Demi melihat tentaranya ketakutan, Thālūt berdo’a kepada Allah: “Ya Tuhan kami, curahkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.”

Maka dengan kekuatan do’a itu mereka menyerbu tentara Jālūt. Mereka bertempur dengan gagah berani, tentara Jālūt tak mengira lawan yang berjumlah sedikit itu mempunyai keberanian bagaikan singa terluka. Akhirnya Jālūt dapat diporak-porandakan dan lari cerai-berai. Tinggallah Jālūt sang panglima dengan beberapa pengawalnya yang masih tersisa. Thālūt dan pengikutnya tak berani berhadapan dengan raksasa itu. Lalu diumumkannya oleh Thālūt bahwa siapa yang dapat membunuh Jālūt maka ia akan diambil sebagai menantu.

Tak disangka dan diduga Dāūd yang masih remaja tampil ke depan. Minta idzin kepada Thālūt untuk menghadapi Jālūt. Mula-mula Thālūt ragu, mampukah Dāūd yang masih muda itu mengalahkan Jālūt, namun setelah didesak oleh Dāūd ia mengidzinkan anak muda itu maju ke medan perang. Dari kejauhan Thālūt melihat sepak terjang Dāūd. Jālūt dengan sombongnya berteriak menantang orang-orang Isrā’īl untuk berperang tanding. Ia juga mengejek bangsa Isrā’īl sebagai bangsa pengecut dan hinaan-hinaan lainnya yang menyakitkan hati.

Tiba-tiba Dāūd muncul di hadapan Jālūt. Jālūt tertawa terbahak-bahak melihat anak muda itu menantang duel. Dāūd tidak membawa senjata tajam. Senjatanya hanya ketepel. Berkali-kali Jālūt melayangkan pedangnya untuk membunuh Dāūd namun Dāūd dapat menghindari dengan gesitnya. Pada suatu kesempatan Dāūd berhasil melayangkan peluru batu ketepelnya tepat di antara kedua mata Jālūt. Jālūt berteriak keras, roboh dengan dahi pecah dan mati.

Dengan demikian menanglah pasukan Thālūt melawan Jālūt. Dāūd diangkat sebagai menantu Raja Thālūt. Dijodohkan dengan anak Thālūt yang bernama Mikyāl.

Dāūd Menjadi Raja

Disamping menjadi menantu raja, Dāūd juga diangkat sebagai penasehat. Ia dihormati semua orang. Bahkan rakyatnya seolah lebih menghormati Dāūd daridapa Thālūt. Hal ini membuat Thālūt iri hati, ia berusaha mencelakakan Dāūd ke medan perang yang sulit. Dāūd ditugaskan membasmi musuh yang jauh lebih kuat dan besar jumlahnya. Namun Dāūd justru memenangkan pertempuran itu dan kembali ke istana dengan disambut luapan kegembiraan rakyatnya.

Thālūt makin merasa iri dan sakit hati atas kepopuleran Dāūd di mata rakyatnya. Ia terus mencoba membunuh dan menyingkirkan Dāūd dengan berbagai cara namun selalu menemui kegagalan. Dāūd dilindungi Allah s.w.t..

Akhirnya terjadilah perang terbuka. Dalam peperang itu Thālūt tewas. Setelah Thālūt dan putra mahkotanya juga tewas dalam pertempuran melawan orang-orang yang berpihak kepada Dāūd maka Dāūd diangkat sebagai raja Isrā’īl.

Keistimewaan Nabi Dāūd a.s.

Nabi Dāūd diistimewakan Allah, yaitu dengan ditundukkannya gunung-gunung supaya bertasbih memuji Allah bersama Dāūd pada waktu pagi, siang dan malam. Demikian pula burung-burung telah ditundukkan kepada Dāūd untuk berkumpul memuji Allah bersama Dāūd.

Cara Nabi Dāūd mengatur Hari-harinya

Nabi Dāūd membagi hari-harinya menjadi empat bagian sehari untuk beribadah, sehari menjadi hakim, sehari untuk memberikan pengajaran dan sehari lagi untuk kepentingan pribadi.

Puasa Nabi Dāūd

Nabi Dāūd suka berpuasa, beliau puasa sehari dan berbuka sehari. Jadi sehari berpuasa sehari tidak.

Peringatan Allah Kepada Nabi Dāūd

Para Nabi adalah manusia yang menjadi contoh teladan, jika ia bermasalah maka Allah segera memperingatkannya. Demikian pula halnya dengan Nabi Dāūd. Ia mempunyai istri sembilan puluh sembilan orang. Memang pada masa itu tidak ada batasan bagi seorang laki-laki untuk memiliki beberapa istri, terlebih bagi seorang raja. Nabi Dāūd ingin menggenapkan jumlah istrinya menjadi 100 orang.

Pada suatu hari datanglah dua orang laki-laki mengadu kepada Nabi Dāūd: “Saudaraku ini mempunyai kambing sembilan puluh sembilan ekor. Sedangkan aku hanya memiliki seekor, tetapi ia menuntut dan mendesakku agar kambingku yang hanya seekor itu kuserahkan kepadanya supaya kambingnya genap seratus ekor. Ia membawa berbagai alasan yang tak bisa kubantah karena aku tak pandai berdebat.”

“Benarkah ucapan saudaramu?” tanya Nabi Dāūd kepada pria lainnya.

“Benar.” Jawab pria itu.

“Jika demikian halnya,” kata Dāūd dengan marah. “Maka saudaramu telah berbuat zhalim. Aku tidak akan membiarkanmu meneruskan perbuatanmu yang semena-mena itu atau engkau akan mendapat hukuman pukulan pada wajah dan hidungmu.”

“Hai Dāūd!” kata laki-laki itu. “Sebenarnya engkaulah yang pantas mendapatkan hukuman yang kau ancamkan kepadaku itu. Bukankah engkau telah mempunyai sembilan puluh sembilan istri, tetapi kenapa engkau masih menyunting lagi seorang gadis yang sudah bertunangan dengan pemuda yang menjadi anggota tentaramu sendiri. Padahal pemuda itu setia dan berbakti kepadamu.”

Nabi Dāūd tercengang mendengar ucapan pria yang tegas dan berani itu. Ia berpikir keras siapakah sesungguhnya kedua pria yang beram itu. Mendadak, kedua pria itu hilang lenyap tanpa bekas. Tahulah Nabi Dāūd bahwa ia telah diperingatkan Allah s.w.t. melalui malaikat-Nya. Ia segera bertaubat dan memohon ampun kepada Allah. Dan Allah menerima taubatnya.

Mukjizat Nabi Dāūd a.s.

Nabi Dāūd a.s. memiliki suara yang merdu tiada taranya. Itulah salah satu rahmat Allah s.w.t. yang diberikan kepadanya. Selain itu, Nabi Dāūd a.s. juga dikenal sebagai orang yang pandai melunakkan besi dan membuat bermacam-macam perlengkapan untuk keperluan hidup, seperti pakaian dan sebagainya. Allah s.w.t. dalam hal ini, telah berfirman:

وَ لَقَدْ آتَيْنَا دَاودَ مِنَّا فَضْلًا يَا جِبَالُ أَوِّبِيْ مَعَهُ وَ الطَّيْرَ وَ أَلَنَّا لَهُ الْحَدِيْدَ. أَنِ اعْمَلْ سَابِقَاتٍ وَ قَدِّرْ فِي السَّرْدِ وَ اعْمَلُوْا صَالِحًا إِنِّيْ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

Artinya:

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Dāūd kurnia dari Kami. (Kami berfirman): “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Dāūd,” dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang shaleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Saba’: 10-11).

Nabi Dāūd menerima kitab dari Allah dengan nama Zabūr yang berisikan pelajaran, peringatan dan nyanyian pujian kepada Allah s.w.t..

Asal-Usul Bait-ul-Maqdis

Pada suatu hari berjangkitlah penyakit kolera di wilayah kerajaan yang dikuasai Dāūd. Banyak rakyat yang mati karena penyakit ini. Nabi Dāūd a.s. kemudian berdo’a kepada Allah maka hilanglah penyakit itu.

Untuk menunjukkan rasa syukurnya kepada Allah maka Nabi Dāūd mengajak puteranya yaitu Sulaimān untuk membangun tempat suci yaitu Bait-ul-Maqdis. Nabi Dāūd a.s. meninggal dunia dalam usia 100 tahun lebih enam bulan, di Bait-ul-Maqdis (Yerussalem).

Hikmah Dari Kisah Nabi Dāūd a.s.

  1. Nabi Dāūd a.s. adalah hamba Allah yang pandai bersyukur. Ia dianugerahi berbagai macam keistimewaan, dari suaranya yang merdu hingga kepandaiannya mengolah besi. Itu semua ia pergunakan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.
  2. Ibadah puasa Nabi Dāūd a.s. yakni sehari puasa sehari tidak, dijadikan tuntunan puasa sunnah oleh Nabi Muḥammad s.a.w. yang pahalanya sangat besar bagi yang melaksanakannya.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.