Keutamaan Baginda Rasulullah S.A.W. Di Atas Para Nabi – Kisah Sang Rasul (1/2)

Cover Buku Kisah Sang Rasul oleh Abdullah ibn Jakfar al-Habsyi

KISAH SANG RASUL:
Menyimak dan Meneguhkan Sosok Pembawa Risalah

Karya: Abdullah ibn Jakfar al-Habsyi
 
Diterbitkan oleh:
CV. Layar Creative Mediatama

Rangkaian Pos: Keutamaan Baginda Rasulullah S.A.W. Di Atas Para Nabi - Kisah Sang Rasul
  1. 1.Anda Sedang Membaca: Keutamaan Baginda Rasulullah S.A.W. Di Atas Para Nabi – Kisah Sang Rasul (1/2)
  2. 2.Syafaat Baginda Rasulullah s.a.w. – Kisah Sang Rasul (2/2)

Bab 12:

KEUTAMAAN BAGINDA RASŪLULLĀH S.A.W. DI ATAS PARA NABI.

 

Telah menjadi sunnatullāh (taqdīr Allah) bahwa Yang Maha Kuasa memilih para nabi sebagai makhluk yang Dia cintai dan yang paling mulia di sisi-Nya, agar para nabi yang Allah utus menjadi lentera dan penerang bagi kaumnya, dan contoh baik bagi manusia. Allah s.w.t. berfirman tentang pemilihannya terhadap pengemban risalah, sebagai berikut:

وَ مِنْ آبَائِهِمْ وَ ذُرِّيَّاتِهِمْ وَ إِخْوَانِهِمْ وَ اجْتَبَيْنَاهُمْ وَ هَدَيْنَاهُمْ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ

(Dan Kami lebihkan pula derajat) sebagian dari nenek-moyang mereka, keturunan mereka dan saudara-saudara mereka. Kami telah memilih mereka (menjadi nabi dan rasūl) dan mereka Kami beri petunjuk ke jalan yang lurus.”. (QS. al-An‘ām [6]: 87).

Sebagaimana Allah s.w.t. mengutamakan para Rasūl-Nya atas seluruh alam, maka Allah s.w.t. mengutamakan sebagian para Rasūl-Nya di antara mereka dan Allah s.w.t. tinggikan derajat mereka. Bahwasanya Allah s.w.t. berfirman:

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِّنْهُم مَّنْ كَلَّمَ اللهُ وَ رَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ…..

Rasūl-rasūl itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang (langsung) Allah berfirman dengannya dan sebagiannya lagi ada yang ditinggikan-Nya beberapa derajat.”. (QS. al-Baqarah [2]: 253).

a). Perjanjian Para Nabi.

Dan di antara keutamaan yang Allah s.w.t. berikan kepada Baginda Rasūlullāh s.a.w. adalah menjadikannya sebagai paling utamanya para rasul dan penutupnya para nabi, maka Allah s.w.t. mengambil perjanjian dari para nabi, seandainya Rasūlullāh s.a.w. diutus di zaman mereka, mereka akan setia kepada Baginda Rasūlullāh s.a.w. dan menjadi pengikutnya. Dalam hal ini Allah s.w.t. telah berfirman:

“Rasūl-rasūl itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang (langsung) Allah berfirman dengannya dan sebagiannya lagi ada yang ditinggikan-Nya beberapa derajat.”(QS. al-Baqarah [2]: 253).

وَ إِذْ أَخَذَ اللهُ مِيْثَاقَ النَّبِيِّيْنَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِّنْ كِتَابٍ وَ حِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُوْلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَ لَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَ أَخَذْتُمْ عَلَى ذلِكُمْ إِصْرِيْ قَالُوْا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوْا وَ أَنَا مَعَكُمْ مِّنَ الشَّاهِدِيْنَ

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Manakala Aku memberikan Kitāb dan Ḥikmah kepadamu, lalu datang kepada kamu seorang rasūl yang membenarkan apa yang ada pada kamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu setuju dan menerima perjanjian dengan-Ku atas yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami setuju”. Allah berfirman: “Kalau begitu bersaksilah kamu (para nabi) dan Aku menjadi bersama kamu”.”. (QS. Āli ‘Imrān [3]: 81).

b). Umumnya Risalah Rasūlullāh s.a.w.

Rasūlullāh s.a.w. diutus untuk sekalian umat manusia dan golongan, bahkan jika para nabi terdahulu hanya diutus untuk kaum tertentu, maka Baginda Rasūlullāh s.a.w. diutus untuk seluruh suku, ras, dan golongan. Bahwasanya Allah s.w.t. telah berfirman:

وَ مَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيْرًا وَ نَذِيْرًا وَ لكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muḥammad), melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.”. (QS. Saba’ [34]: 28).

Dan pesan risalah yang dibawa oleh Rasūlullāh s.a.w. mencakup bukan hanya umat manusia melainkan alam semesta pun mendapatkan rahmat berkat diutusnya Baginda Rasūlullāh s.a.w.

Inilah khushushiyyah (keutamaan) yang besar diberikan oleh Allah s.w.t. kepada Baginda Rasūlullāh s.a.w., sehingga jelas dan nyata bahwa dia-lah yang paling utama di antara yang utama dan yang paling mulia di antara yang mulia.

Allah s.w.t. berfirman:

وَ مَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ.

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”. (QS. al-Anbiyā’ [21]: 107).

Dalam sebuah hadits juga disebutkan:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ (ص) قَالَ: فُضِلْتُ عَلَى الْأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ: أُعْطِيْتُ جَوَامِعَ الْكَلِمِ، وَ نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ، وَ أُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ، وَ جُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ طَهُوْرًا وَ مَسْجِدًا، وَ أُرْسِلْتُ إِلَى الْخَلْقِ كَافَّةً،، وَ خُتِمَ بِي النَّبِيُّوْنَ.

Dari sahabat Abū Hurairah r.a. meriwayatkan bahwasanya Rasūlullāh s.a.w. pernah bersabda: “Aku diberikan keutamaan oleh Allah di atas para nabi lainnya dengan enam hal; aku dibekali jawāmi‘-ul-kalim (kemampuan untuk berbicara singkat namun mengandung ma‘na yang padat/luas). Aku ditolong oleh Allah dengan rasa takut, cemas dan gelisah di hati musuh-musuhku. Ghanīmah (harta rampasan perang) dijadikan halal untukku. Bumi dijadikan masjid bagiku, dan tanahnya suci untuk bersuci. Aku diutus kepada semua makhluk (jinn dan manusia) pada umumnya. Dan aku dijadikan sebagai penutup (pengakhir) para nabi.” (HR. Muslim).

Dari ayat dan hadits di atas jelas bahwa Rasūl s.a.w., diberikan keutamaan di atas para nabi lainnya dengan diutus kepada seluruh alam semesta, bahkan disebutkan bahwa risalah Rasūl s.a.w. untuk para malaikat adalah risalah tasyrīf (memuliakan) para malaikat.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *