Kelahiran Nabi S.A.W. – Kisah Sang Rasul (1/2)

KISAH SANG RASUL:
Menyimak dan Meneguhkan Sosok Pembawa Risalah

Karya: Abdullah ibn Jakfar al-Habsyi
 
Diterbitkan oleh:
CV. Layar Creative Mediatama

Rangkaian Pos: Kelahiran Nabi S.A.W. - Kisah Sang Rasul

Bab 2:

KELAHIRAN NABI S.A.W.

 

Saat hari-hari menjelang kelahiran Baginda Nabi Muḥammad s.a.w. sudah semakin dekat, Allah s.w.t. semakin melimpahkan berbagai macam anugerahnya kepada Sayyidah Āminah rha., mulai malam tanggal satu hingga malam tanggal 12 Bulan Rabī‘-ul-Awwal malam kelahiran Baginda Nabi Muḥammad s.a.w., berikut beberapa macam anugerah tersebut:

Pada malam tanggal ke-1, Allah s.w.t. melimpahkan segala kedamaian dan ketentraman yang luar biasa kepada Sayyidah Āminah rha., sehingga beliau merasakan ketenangan dan kesejukan jiwa yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Pada malam tanggal ke-2, datang seruan berita kabar gembira kepadanya bahwa sebentar lagi dirinya akan mendapati anugerah agung yang luar biasa dari Allah s.w.t.

Pada malam tanggal ke-3, datang seruan memanggil kepadanya: “Wahai Āminah, sudah dekat saatnya engkau melahirkan Nabi Agung Rasūlullāh Muḥammad s.a.w. yang senantiasa memuji dan bersyukur kepada Allah s.w.t.

Pada malam tanggal ke-4, Sayyidah Āminah rha. mendengar beraneka ragam tasbīḥ para malaikat secara nyata dan sangat jelas sekali.

Pada malam tanggal ke-5, Sayyidah Āminah rha. mimpi bertemu dengan Khalīlullāh Nabi Ibrāhīm a.s. seraya berkata: “Berbahagialah wahai Āminah dengan Nabi Agung ini pemilik cahaya, kebesaran, keutamaan dan pujian dari Allah.

Pada malam tanggal ke-6, Sayyidah Āminah rha. melihat cahaya Rasūlullāh s.a.w. memenuhi segala penjuru alam semesta.

Pada malam tanggal ke-7, Sayyidah Āminah rha. melihat para malaikat silih berganti saling berdatangan mengunjungi kediamannya membawa kabar gembira, sehingga kebahagiaan dan kedamaiannya semakin memuncak.

Pada malam tanggal ke-8, Sayyidah Āminah rha. mendengar seruan memanggil di mana-mana, suara tersebut sangat jelas mengumandangkan: “Berbahagialah wahai seluruh penghuni alam semesta, telah dekat saat kelahiran Nabi Agung Kekasih Allah Pencipta alam semesta.

Pada malam tanggal ke-9, Allah s.w.t. semakin mengucurkan limpahan belas kasih sayangnya kepada Sayyidah Āminah rha., sehingga tidak ada sedikitpun rasa sedih, susah atau sakit dalam diri dan jiwa Sayyidah Āminah rha.

Pada malam tanggal ke-10, Sayyidah Āminah rha. melihat tanah Khaif dan Minā ikut bergembira ria menyambut kelahiran Baginda Nabi Muḥammad s.a.w.

Pada malam tanggal ke-11, Sayyidah Āminah rha. melihat seluruh penghuni langit dan bumi ikut bersuka cita menyongsong kelahiran Nabi Besar Muḥammad s.a.w.

Pada malam tanggal ke-12 Bulan Rabī‘-ul-Awwal, langit dalam keadaan cerah tanpa ada mendung sedikitpun, saat itu Sayyid ‘Abd-ul-Muththalib r.a. sedang bermunajat kepada Allah s.w.t. di sekitar Ka‘bah, dan Sayyidah Āminah rha. sendirian di rumah, tanpa ada seorang pun yang menemaninya, tiba-tiba beliau melihat tiang rumahnya terbelah, dan perlahan-lahan muncul empat orang wanita yang sangat anggun nan cantik jelita dan diliputi cahaya laksana rembulan serta semerbak harum wewangian memenuhi seluruh ruangan.

Tiba-tiba wanita pertama datang dan seraya berkata kepada Sayyidah Āminah rha.: “Sungguh, berbahagialah engkau wahai Āminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung junjungan alam semesta Baginda Nabi Muḥammad s.a.w.

Maka Sayyidah Āminah rha. pun berkata: “Siapakah gerangan dirimu?

Wanita tersebut menjawab: “Kenalilah olehmu sesungguhnya aku ini adalah Ḥawwā’ Ibunda seluruh umat manusia. Aku diperintahkan Allah s.w.t. untuk menemanimu.”

Kemudian Ibu Ḥawwā’ duduk di samping kanan Sayyidah Āminah rha.

Dan mendekat lagi wanita yang kedua kepada Sayyidah Āminah rha. untuk menyampaikan kabar gembira kepadanya: “Sungguh, berbahagialah engkau wahai Āminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Baginda Nabi s.a.w.; seorang Nabi Agung yang dianugerahi oleh Allah s.w.t. kesucian yang sempurna pada diri dan kepribadiannya. Nabi Agung yang ilmunya sebagai sumber seluruh ilmunya para Nabi dan Kekasih Allah. Nabi Agung yang cahayanya meliputi seluruh alam.”

Dan Sayyidah Āminah rha. berkata: “Siapakah gerangan dirimu?

Wanita tersebut menjawab: “Ketahuilah olehmu wahai Āminah, sesungguhnya aku ini adalah Sarah istri Nabiyyullāh Ibrāhīm a.s., aku diperintahkan Allah untuk menemanimu.

Kemudian Sayyidah Sarah duduk di sebelah kiri Sayyidah Āminah rha.

Maka wanita ketiga pun kemudian mendekat dan menyampaikan kabar berita gembira kepadanya: “Sungguh, berbahagialah engkau wahai Āminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung Baginda Nabi s.a.w.; kekasih Allah yang paling agung, dan insan sempurna yang paling utama mendapati pujian dari Allah s.w.t. dan dari seluruh makhluk-Nya. Perlu engkau ketahui sesungguhnya aku adalah Asiyah binti Muzāḥim yang diperintahkan Allah untuk menemanimu.”

Kemudian Sayyidah Asiyah binti Muzāḥim tersebut duduk di belakang Sayyidah Āminah rha.

Sejenak Sayyidah Āminah rha. semakin kagum, karena wanita yang keempat adalah yang paling anggun, berwibawa dan memiliki kecantikan luar biasa. Kemudian mendekat kepada Sayyidah Āminah rha. untuk menyampaikan kabar gembira: “Sungguh, berbahagialah engkau wahai Āminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung Baginda Nabi s.a.w. yang dianugerahi Allah s.w.t. berbagai macam mu‘jizat yang sangat agung dan sangat luar biasa. Beliau adalah junjungan seluruh penghuni langit dan bumi, hanya untuk beliau semata segala bentuk shalawat (rahmat ta‘zhīm) Allah s.w.t. dan salam sejahtera-Nya yang sempurna. Ketahuilah olehmu wahai Āminah, sesungguhnya aku adalah Maryam Ibunda Nabiyyullāh ‘Īsā a.s. Kami semua ditugaskan Allah untuk menemanimu demi menyambut kehadiran Baginda Nabi s.a.w.

Kemudian Sayyidah Maryam Ibunda Nabiyyullāh ‘Īsā a.s. duduk mendekatkan diri di depan Sayyidah Āminah rha.

Keempat wanita suci mulia nan agung di sisi Allah s.w.t. tersebut kemudian merapat dan mengelilingi diri Ibunda Rasūlullāh s.a.w., Sayyidah Āminah binti Wahhab, sehingga semakin memuncak rasa kedamaian dan kebahagiaan dalam jiwa Ibunda Rasūlullāh s.a.w. Kebahagiaan dan keindahan yang dialami oleh Ibunda Rasūlullāh s.a.w. saat itu, tidak bisa terlukiskan dengan kata-kata. Dan peristiwa demi peristiwa yang sangat agung, semakin Allah s.w.t. limpahkan demi penghormatan besar kepada Baginda Nabi Muḥammad s.a.w.

Keajaiban berikutnya adalah Sayyidah Āminah rha. melihat sekelompok manusia bercahaya saling berdatangan silih berganti memasuki ruangan beliau dan mereka memanjatkan puja-puji dan tasbih kepada Allah s.w.t. dengan berbagai macam bahasa yang berbeda-beda.

Detik berikutnya adalah Sayyidah Āminah rha. melihat atap rumahnya terbuka dan terlihat oleh beliau berbagai macam bintang-bintang di angkasa raya yang sangat indah berkilauan yang saling beterbangan di langit, ke segenap penjuru angkasa yang sangat cerah dipenuhi cahaya.

Maka, detik berikutnya adalah Allah s.w.t. perintahkan kepada Malaikat Ridhwān penjaga surga agar mengomando semua bidadari surga supaya berdandan rapi cantik jelita dan memakai segala macam bentuk perhiasan kain sutra dengan bermahkotakan emas, intan pertama yang gemerlapan dan menebarkan wewangian surga yang harum semerbak ke segala arah demi menyambut kedatangan Baginda Nabi Muḥammad s.a.w.

Sanggahan (Disclaimer): Artikel ini telah kami muat dengan izin dari penerbit. Terima kasih.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.