Kelahiran Muhammad – Muhammad The Greatest Story

MUHAMMAD
THE GREATEST STORY
(Kisah Hidup Rasulullah – For Teens)
Oleh: S.M. Hasan al-Banna

Penerjemah: Rini Nurul Badariah
Penerbit: Penerbit Mizania

Diketik oleh: Ikram Husain

KELAHIRAN MUHAMMAD.

 

Aminah melahirkan pada tahun yang sama dengan kekalahan Abrahah. Tepatnya hari Senin, 12 Rabi’ al-Awwal pagi-pagi sekali. Bayi itu anak ‘Abdullah dan ditakdirkan menjadi Nabi Terakhir.

Sewaktu diberi tahu bahwa cucunya telah lahir, ‘Abdul Muththalib pergi ke rumah Aminah, lalu menggendong bayi itu. Dibawanya sang bayi ke Ka’bah untuk bersyukur. Dia menamai cucunya Muhammad, berarti Yang Terpuji. Begitu mendengar nama itu, para pemimpin Quraisy menanyakan alasan pemberian nama yang unik itu. ‘Abdul Muththalib menjawab, “Kuharap dia dipuji Allah di surga, juga oleh manusia di dunia.”

Masa Balita

Tak lama setelah lahir, Muhammad kecil dititipkan kepada Thuwaiba. Wanita ini budak Abu Lahab, salah seorang paman Nabi. Meski hanya disusui beberepa hari, Rasulullah sangat menyayangi dan menghormati Thuwaiba dengan penuh rasa terima kasih kelak.

Bangsawan Arab menganut tradisi memberikan anak-anak mereka untuk diasuh wanita Badui. Dengan begitu, mereka tumbuh di lingkungan yang sehat dan bebas. Di sana pula anak-anak itu belajar perilaku kaum Badui, yang terkenal berbahasa santun dan jauh dari pengaruh buruk masyarakat Makkah.

Selama beberapa hari, Muhammad disusui Aminah, lalu dipercayakan kepada  Halimah. Wanita ini orang Badui dari suku Bani Sa’ad. Semula Halimah enggan, karena imbalan mengasuh bayi yatim tidak banyak. Namun, semua wanita lain di sukunya sudah membawa seorang bayi. Halimah tidak ingin menjadi satu-satunya yang gagal. Ketika mulai menyusui Muhammad di perjalanan pulang, air susu Halimah mendadak bertambah. Cukup untuk Muhammad dan bayi lelaki Halimah sendiri.

Selama merawat Muhammad, rumah Halimah terus dilimpahi rezeki. Tanahnya menjadi subur, tanaman kurma menghasilkan panen yang banyak. Bahkan, domba dan unta betina tuanya menghasilkan susu. Dua tahun kemudian, Halimah mengembalikam bayi Aminah tersebut. Namun, saat itu Makkah dilanda wabah, maka Aminah memutuskan agar Halimah membawa kembali Muhammad.

Ketika Muhammad tinggal di rumah Halimah, datang dua lelaki yang sebenarnya malaikat. Mereka membersihkan jantung Muhammad. Kakak sepersusuan Muhammad menyaksikan itu. Diberitahukan sang ibu yang spontan khawatir. Allah membersihkan jantung Muhammad agar menjadi orang yang lebih mulia daripada manusia manapun.

٩٤:١.أًلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ
٩٤:٢.وَ وَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ
٩٤:٣.الَّذِيْ أَنْقَضَ ظَهْرَكَ
٩٤:٤.وَ رَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ
٩٤:٥.فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
٩٤:٦.إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
٩٤:٧.فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ
٩٤:٨.وَ إِلى رَبِّكَ فَارْغَبْ

Bukankah Kami telah lapangkan dadamu (Muhammad)?
Dan Kami telah menurunkan bebanmu,
yang telah memberatkan punggungmu,
dan Kami tinggikan sebutan (namamu) bagimu.
Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,
sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.
Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan) tetaplah bekerja keras (untuk urusan lain), dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya engkau berharap.
(QS Al-Insyirah (94); 1- 8)

Muhammad kecil tumbuh kuat dan sehat. Dia belajar bahasa Arab yang murni di wilayah gurun. Sejak masik anak-anak pun, dia terbiasa berpikir dan merenung.

Masa Kecil

Muhammad tinggal bersama Halimah selama enam tahun, lalu kembali kepada Aminah. Sang ibu memutuskan membawanya ke Yatsrib, untuk mengunjungi  kerabat dan makam ‘Abdullah. Sayangnya, dalam perjalanan pulang, Aminah jatuh sakit, kemudian meninggal. Dia dimakamkan di al-Abwa’, yang terletak di antara Makkah dan Yatsrib. Baraka, budak perempuan Aminah, membawa pulang Muhammad kepada kakeknya di Makkah. ‘Abdul Muththalib terpukul oleh berita itu. Apalagi Muhammad, yang sudah menjadi yatim piatu pada 6 tahun.

Kini, membesarkan Muhammad menjadi tanggung jawab ‘Abdul Muththalib. Dirawatnya Muhammad seperti putra sendiri. Namun, lagi-lagi terjadi peristiwa menyedihkan. Dua tahun kemudian, ‘Abdul Muththalib meninggal pada usia 82.

Hidup sebagai Gembala

Setelah kakeknya berpulang, Muhammad diasuh pamannya, Abu Thalib. Muhammad mewarisi sekawanan kambing, lima ekor unta, dan seorang budak perempuan dari ayahnya. Muhammad tidak dapat menulis atau membaca karena bangsa Arab tidak mengenal pendidikan. Seperti sebayanya, Muhammad mengurus kambing dan domba di Makkah. Tepatnya di tempat yang bernama Ajyad. Perkerjaan ini sesuai dengan sifat Muhammad yang pendiam suka merenung, dan berpikir. Menggembala adalah latihan sebagai pemimpin umat. Gembala pun selalu waspada akan keadaan kawanan ternaknya, memastikan gembalaannya tidak tersesat dan aman dari segala bahaya. Begitu pula para nabi. Mereka gembala umat manusia, selalu memikirkan kebaikan dan memperingatkan datangnya ancaman. Maka, hampir semua utusan Allah pernah menjadi gembala.

Perjalanan Dagang ke Suriah

Ketika berumur 12 tahun, Muhammad menempuh perjalanan niaga ke Suriah bersama pamannya, Abu Thalib. Abu Thalib mengajak sang keponakan pergi sejauh itu karena sangat sayang padanya. Dalam perjalanan itulah, mereka bertemu Bahira, seorang pendeta Nasrani. Bahira melihat kafilah Muhammad dan pamannya dan memperhatikan sebentuk awan putih besar menaungi salah satu dari mereka. Dari kitab suci, Bahira tahu bahwa nabi lain akan datang setelah Isa a.s. Oleh karena itu, dia ingin tahu lebih jauh tentang orang dalam kafilah itu.

Sang pendeta mengundang mereka makan bersama. Abu Thalib dan Rombongan terkejut. Sudah sering mereka berpapasan dengan Bahira dan baru kali ini pendeta itu mengundang mereka. Bahira mendesak agar Muhammad diajak, lalu dia mengamatinya. Ciri fisik Muhammad cocok dengan gambaran dalam kitab suci. Setelah makan, Bahira mengajak Muhammad bicara empat mata. Dimintanya Muhammad bersumpah atas nama al-Lata dan al-‘Uzza, dua berhala. Muhammad menjawab “Jangan meminta atas nama mereka, sebab demi Allah keduanya sangat kubenci.” Setelah banyak bertanya, Bahira yakin inilah nabi yang disebut-sebut. Dia kembali kepada Abu Thalib, lalu berkata, “Pulanglah ke negaramu bersama keponakanmu. Jagalah dia dari kaum Yahudi, mereka akan berniat jahat sebab keponokanmu istimewa. Lekaslah kembali.” Menuruti saran Bahira, Abu Thalib memutuskan pulang ke Makkah.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *