Jejak-Jejak Wali Allah | Pendahuluan | Biografi Abu Hasan Al-Syadzili R.A.

Jejak-Jejak Wali Allah - Melangkah Menuju Gerbang Kewalian Bersama Syekh Abu Hasan Al-Syadzili
Oleh: Muhammad Ibn Abi-Qasim Al-Humairi
Penerjemah : Saiful Rahman Barito (Mumtaz Arabia)
Penerbit : Erlangga

1. Nasab Beliau

Nama lengkap al-Syadzili adalah Abu Hasan al-Syadzili al Hasani bin Abdullah Abdul Jabbar bin Tamim bin Hurmuz bin Hatim bin Qushay bin Yusuf bin Yusya’ bin Ward bin Baththal bin Ahmad bin Muhammad bin Isa bin Muhammad-anak pemimpin pemuda ahli surga dan cucu sebaik-baik manusia: (Abu Muhammad-ed.) Hasan bin Ali bin Abi Thalib r.a. dan bin Fatimah al-Zahra’ binti Rasulullah SAW.

Nama kecil Abu Hasan al-Syadzili adalah Ali, gelarnya adalah Taqiyuddin, julukannya adalah Abu Hasan. Dan, nama populernya adalah al-Syadzili.

2. Kelahiran Beliau

Sebagian besar sumber yang berbicara tentang sejarah al Syadzili sepakat bahwa dia lahir di negeri Maghrib pada tahun 593 H (1197 M), di sebuah desa yang bernama Ghumarah, dekat kota Sabtah. Dia tumbuh di desa ini. Dia menghapal Al-Qur’an Al-Karim dan mulai mempelajari ilmu-ilmu syariat. Kemudian, dia pergi ke kota Tunis ketika masih sangat muda. Dia tinggal di sebuah desa yang bernama Syadzilah. Oleh karena itu, dia dinisbatkan kepada desa tersebut meskipun dia tidak berasal dari sana, sebagaimana dikatakan oleh penulis al-Qamus. Ada juga yang mengatakan bahwa dia dinisbatkan kepada desa tersebut karena dia tekun beribadah di sana.

Di sana al-Syadzili bertemu dengan para ulama untuk memuaskan dahaga ilmunya dan mereguk pengetahuan sebanyak yang Allah kehendaki baginya. Di sana dia belajar fikih berdasarkan mazhab Imam Malik, serta memperoleh ilmu naqli dan aqli yang bermacam-macam, sehingga dia mampu mengungguli pembesar-pembesar ulama pada masanya. Oleh karena itu, Imam Ibnu Atha’illah al-Sakandari berkata, “la tidak memasuki jalan kaum sufi sebelum mempersiapkan diri untuk berdebat tentang ilmu-ilmu zahir.

Kemasyhuran al-Syadzili tersebar ke seluruh penjuru. Para syekh datang kepadanya untuk berguru. Kadang sebagian orang ingin berdebat dengannya untuk memastikan kedudukan ilmiahnya, maka orang tersebut pun duduk di hadapannya. Dan, tiba-tiba si pendebat ini merasa bahwa dia berada di hadapan sebuah lautan yang menenggelamkan, yang tidak mungkin didekati kecuali untuk menciduk sebagian dari limpahan ilmunya.

3. Ciri-Ciri Beliau

Kulit al-Syadzili sawo matang, badannya kurus, perawakannya tinggi, pipinya tipis, jari-jari kedua tangannya panjang seakan akan dia adalah orang Hijaz, lidahnya fasih, dan perkataannya manis.

Penampilannya menarik. Dia tidak terlalu membatasi diri dalam makan dan minum. Dia selalu mengenakan pakaiannya yang indah setiap kali memasuki masjid. Tidak pernah sekali pun ia terlihat memakai baju-baju yang penuh tambalan sebagaimana yang dipakai oleh sebagian sufi, bahkan dia selalu berhias dengan pakaian yang bagus. Dia menyukai kuda, memeliharanya, dan menungganginya selayaknya seorang penunggang kuda. Dia selalu menasihatkan untuk bersikap moderat. Dalam semua itu dia berpegang pada firman Allah SWT, “Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik? Katakanlah: Semuanya itu (disediakan) bagi orang orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.” (QS. Al-A’raf: 32)

2 Komentar

  1. Marsal Wirdana berkata:

    Lanjutkan Ustadz

    1. Ihsan Author berkata:

      Siap, in sya Alloh terus lanjut,mohon do’anya..

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.