Iman dan Kemajuan Ilmu – Rahasia Allah Di Balik Hakikat Alam Semesta

Rahasia
اللهُ
Di Balik Hakikat Alam Semesta

Diterjemahkan dari: Nihāyat-ul-‘Alam
Karya DR. M. Mutawalli asy-Sya‘rawi

Penerjemah: Amir Hamzah Fachrudin
Penerbit: PUSTAKA HIDAYAH

Iman dan Kemajuan Ilmu.

Saya katakan kepada mereka yang terpedaya oleh ilmu manusia, bahwa ilmu yang sedikit yang telah dianugerahkan Allah kepada manusia itulah yang telah melahirkan peradaban dan kemajuan ilmiah yang mencengangkan, yang kita saksikan sekarang dan yang akan disaksikan oleh generasi-generasi setelah kita hingga hari kiamat kelak. Jika ilmu yang sedikit itu dapat melahirkan kemegahan seperti yang kita saksikan sekarang, bagaimanakah gambaran yang diciptakan Allah untuk manusia di akhirat kelak?

Seharusnya kemajuan ilmiah menambah keimanan dan kekhusyu‘an kita kepada Allah. Kita, selaku manusia, hidup di alam dan alam ini akan binasa karena kesalahan manusia menghadapi dan menyikapinya.

Sesungguhnya “tangan” Allah terbuka untuk memberikan unsur-unsur alam kepada setiap makhluk-Nya, dan mereka yang memanfaatkan unsur-unsur itu dengan sungguh-sungguh akan menguatkan yang lainnya. Tanah yang diolah oleh manusia, ditanaminya dengan baik melalui penyemaian benih-benih yang baik, akan mendatangkan hasil yang baik pula. Dan mereka yang membiarkan tanah tanpa menanaminya, tentu tanah itu tidak akan memberikan hasil apa pun bagi dirinya. Inilah pemberian Rubūbiyyah.

Di alam ini Allah telah menciptakan banyak hal, yaitu yang bergerak untuk manusia dan yang bergerak bersama manusia. Hal-hal yang bergerak untuk manusia akan diperoleh manusia tanpa bekerja dan tanpa harus berusaha keras, perolehan yang tidak memerlukan pengusahaan. Matahari, bulan, bintang-bintang dan atmosfer semuanya memerankan fungsinya tanpa membutuhkan usaha atau pekerjaan dari kita, dan yang diberikannya adalah sama rata untuk semua manusia. Tidak memberi seseorang melebihi yang lainnya, tidak mengkhususkan suatu bangsa atau suatu golongan manusia tanpa yang lainnya. Itulah hal-hal yang bergerak untuk manusia.

Sedangkan yang bergerak bersama manusia adalah yang ada di bumi. Jika kita menanam dan menyemaikan benih, tentu tanah akan memberikan hasilnya, dan jika kita tidak menanaminya, tentu tanah ini tidak akan memberikan apa-apa kepada kita. Jika kita menggali isi bumi, kita akan menemukan minyak tanah dan barang tambang lainnya yang terkandung dalam perut bumi, namun jika kita tidak mengusahakannya, tentu saja bumi tidak akan memberikan apa-apa yang dikandung dalam perutnya.

Peningkatan kehidupan dunia dan persaingan antarnegara yang berbeda-beda telah banyak melahirkan hal-hal yang bergerak bersama manusia. Mereka yang berusaha dengan sungguh-sungguh dalam mengolah apa yang ada di bumi akan lebih maju daripada bangsa-bangsa lainnya, dan mereka yang tidak mengerjakannya atau tidak mengerjakan dengan sungguh-sungguh, tentu tidak akan memperoleh apa-apa.

Adalah selayaknya bagi kita, selaku Mu’min, sebagaimana kita meningkatkan perolehan langsung dari anugerah Tuhan, harus pula berusaha untuk meningkatkan perolehan tak langsung dari Tuhan. Namun sayangnya, masih banyak di antara kita yang meninggalkan hal ini dan membiarkan umat lain melakukannya.

Mereka yang berusaha mengolah pemberian Rubūbiyyah ini akan diberi hasil duniawi walaupun mereka kafir, sebagaimana firman Allah menyatakan:

Barang siapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya satu bagian pun di akhirat.” (QS. asy-Syūrā: 20).

Keuntungan dunia itu adalah pemberian Rubūbiyyah yang dapat kita peroleh dengan mengolah unsur-unsurnya. Sejak pertama kali diciptakannya alam ini, Allah telah memberikan kepada kita unsur-unsur pokok kehidupan untuk kelangsungan hidup manusia. Sejak zaman Ādam a.s., air, udara dan makanan merupakan unsur-unsur pokok bagi kehidupan manusia, yang semua itu telah dicukupkan Allah bagi manusia karena Allah telah memerintahkan seperti demikian. Maka tugas pokok dari unsur-unsur itu adalah sebagai unsur-unsur pokok kehidupan manusia. Allah menciptakan air untuk diminum manusia, menciptakan buah-buahan untuk menjadi makanan manusia sehingga dapat melangsungkan hidupnya, menciptakan udara untuk dihirup oleh manusia, dan menciptakan bumi sebagai hamparan untuk tempat tinggalnya. Semua itu merupakan unsur-unsur pokok kehidupan manusia yang mereka dapatkan tanpa harus berusaha sejak pertama diciptakannya. Namun jika ingin meningkatkan taraf kehidupan, manusia harus menggunakan akal yang telah dianugerahakan Allah kepada mereka dalam mengolah alam yang telah ditundukkan Allah kepada manusia. Dengan demikian manusia akan sampai kepada kemegahan hidup yang efektif, simpel dan efisien.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.