Ikhlas sebagai Inti Ajaran Islam – Syekh Ibn Taimiyah – Ikhlas Tanpa Batas

Ikhlas Tanpa Batas
 
Belajar Hidup Tulus dan Wajar

Kepada 10 Ulama – Psikolog Klasik
 
Imām al-Ghazālī (w. 505 H)
Imām al-Ḥākim al-Tirmidzī (w. 320 H)
Imām al-Nawawī al-Dimasyqī (w. 676 H.)
Syekh al-Ḥārits al-Muḥāsibī (w. 243 H)
Syekh ‘Abd al-Qādir al-Jailānī (w. 561 H.)
Syekh Ibn ‘Athā’illāh (w. 709 H.)
Syekh Ibn Taimiyah (w. 728 H)
Syekh ‘Abd al-Raḥmān al-Lajā’ī (w. 599 H.)
Syekh ‘Abd al-Ḥamīd al-Anqūrī (abad 8 H)
Syekh Muḥammad al-Birgawī (w. 995 H)
 
Penerbit: Zaman

Di antara tanda punya niat baik dalam melaksanakan suatu pekerjaan adalah tidak malas, panik, atau putus asa tatkala menemui kesulitan atau kendala. Orang yang baik niatnya, pada kenyataan tak gampang menyerah, dan kepada Allah senantiasa berserah.

Bila niat ikhlas tidak saja menentukan diterimanya suatu amal, namun juga bisa melipatgandakan pahala, tentu ikhlas adalah ajaran yang sangat penting. Bahkan Syekh Ibn Taimiyah menyebutnya sebagai inti ajaran Islam. Marilah simak keterangan beliau dalam salah satu bab pada kitab at-Tuḥfah al-‘Irāqiyyah fi al-A‘mal al-Qalbiyah.

 

5

Ikhlas sebagai Inti Ajaran Islam

[Syekh Ibn Taimiyah (w. 728 H)]

 

Kesungguhan dan keikhlasan adalah wujud iman dan islam. Penganut agama Islam terbagi dua: mukmin dan munafik. Keduanya dibedakan oleh kesungguhan, sebab dasar kemunafikan adalah kepura-puraan. Allah menyandingkan hakikat iman dengan kesungguhan. Allah berfirman: “Orang-orang Badui berkata: “Kami telah beriman.” Katakan kepada mereka: “Kamu belum beriman, tetapi katakan kami telah tunduk, karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Jika kamu taat kepada Allah dan Rasūl-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Sesungguhnya orang-orang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasūl-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang sungguh-sungguh.” (al-Ḥujurāt: 14-15).

Allah juga berfirman: “Para fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan rida-Nya, dan mereka menolong Allah dan Rasūl-Nya; mereka itulah orang-orang yang sungguh-sungguh.” (al-Ḥasyr: 8)

Ayat ini mengukuhkan bahwa orang yang benar-benar beriman adalah mukmin yang tidak sedikit pun disergap rasa ragu, kemudian berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Inilah janji yang diambil Allah dari semua orang sejak dulu hingga sekarang.

Allah berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.” Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.” (Āli ‘Imrān: 81)

Menurut Ibn ‘Abbās, setiap kali Allah mengutus nabi, Dia pasti mengambil janji darinya untuk beriman dan menolong Nabi Muḥammad sekiranya masih hidup saat beliau diutus. Allah juga menyuruh nabi tersebut untuk memerintahkan umatnya beriman dan menolong Nabi Muḥammad sekiranya mereka masih hidup saat beliau diutus.

Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasūl-rasūl Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasūl-rasūlNya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (al-Ḥadīd: 25)

Allah menandaskan telah menurunkan Kitāb, neraca, dan besi untuk menegakkan keadilan, supaya Dia tahu orang yang menolong-Nya, juga yang membantu para utusan-Nya. Maka, agama bisa tegak dengan Kitāb yang mengandung petunjuk dan senjata yang memberikan pertolongan. Dan cukuplah Allah sebagai Petunjuk dan Penolong.

Allah melukiskan orang yang konsisten dalam bingkai kebajikan sebagai pengukuh agama. Dia berfirman: “Kebajikan bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tapi kebajikan ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, para malaikat, kitāb, nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musāfir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang sungguh-sungguh (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 177).

Sedangkan orang munafik digambarkan oleh Allah sebagai pendusta, antara lain dalam ayat: “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya, dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (al-Baqarah: 10).

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar rasūl Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar rasūl-Nya, dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (al-Munāfiqūn: 1)

Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta.” (al-Taubah: 77)

Ayat senada masih banyak dalam al-Qur’ān.

Keinginan, cita, kelakuan, perbuatan, dan perkataan yang sungguh-sungguh harus tercermin dari orang beriman. Perkataan dan perbuatan orang munafik pastilah diwarnai kepura-puraan, seperti orang yang melakukan sesuatu karena riyā’ atau pamer. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riyā’ (dengan shalat) di hadapan manusia.” (al-Nisā’: 142)

Ikhlas merupakan inti ajaran Islam. Sebab, islam berarti pasrah atau berserah diri kepada Allah, bukan yang lain. Allah berfirman: “Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); adakah kedua budak itu sama?” (az-Zumar: 29)

Orang yang tidak berserah diri kepada-Nya berarti sombong. Sedangkan pasrah kepada-Nya dan juga kepada selain-Nya berarti syirik. Sombong dan syirik berlawanan dan bertentangan dengan kebeserahan diri (islam). Allah berfirman: “Ketika Tuhan berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.” (al-Baqarah: 131)

Allah juga berfirman: “Bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang dia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (al-Baqarah: 112).

Ayat senada banyak ditemukan dalam al-Qur’ān.

Dasar Islam adalah kesaksian bahwa tiada tuhan selain Allah. Kesaksian ini meniscayakan ketundukan hanya kepada-Nya semata dan tidak kepada yang lain. Islam merupakan satu-satunya agama yang diterima di sisi Allah sejak dahulu hingga saat ini. Allah berfirman: “Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (Āli ‘Imrān: 85)

Allah juga berfirman: “Allah menyatakan bahwa tiada tuhan selain Dia, yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan demikian itu). Tak ada tuhan selain Dia yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Āli ‘Imrān: 18-19).

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.