Definisi ‘Am – Terjemah Syarah al-Waraqat

Ushul Fiqh
Terjemah Syarah al-Waraqat
 
Judul (Asli): Syarh al-Waraqat
(Penjelasan dan Tanya Jawab Ushul Fiqh)
 
 
Penyusun: Darul Azka, Nailul Huda, Munawwir Ridlwan
 
Penerbit: Santri salaf press.

Rangkaian Pos: Lafazh 'Am - Terjemah Syarah al-Waraqat

LAFAZH ‘ĀM

Definisi ‘Ām

 

وَ أَمَّا الْعَامُ فَهُوَ مَا عَمَّ شَيْئِيْنِ فَصَاعِدًا) مِنْ غَيْرِ حَصْرٍ (مِنْ قَوْلِهِ عَمَمْتُ زَيْدًا وَ عَمْرًا بِالْعَطَاءِ وَ عَمَمْتُ جَمِيْعَ النَّاسِ بِالْعَطَاءِ) أَيْ شَمِلْتُهُمْ بِهِ فَفِي الْعَامِ شُمُوْلٌ.

Lafazh ‘ām yaitu lafazh yang mencakup dua perkara atau lebih tanpa batas. Diambil dari ucapan seseorang: “aku mengumumkan Zaid dan ‘Umar dengan pemberian” dan ucapan “aku mengumumkan semua manusia dengan pemberian”, yang artinya aku membagikan secara merata pemberian pada mereka. Dalam lafazh ‘ām terdapat pemerataan.

Penjelasan:

Lafazh ‘ām yaitu lafazh yang mencakup dua perkara atau lebih tanpa batas. Contoh:

فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ

Maka bunuhlah orang-orang musyrik.”

Perintah membunuh berlaku pada setiap orang yang memiliki kriteria musyrik.

 

Uraian definisi:

  1. Lafazh: mengecualikan ma‘na, karena ‘ām termasuk sifat dari lafazh.
  2. Mencakup dua perkara atau lebih: mencakup satu persatu dari perkara yang pantas masuk di dalamnya dalam satu tahapan (دَفْعَةٌ). Mengecualikan:
  3. Lafazh mutlak. Lafazh ini tidak menunjukkan (أَفْرَادٌ) “satu persatunya” dari perkara yang pantas masuk di dalamnya.
  4. Nakirah dalam rangkaian kalimat itsbāt (positif), baik mufrad, tatsniyah atau jama‘. Seperti lafazh (رَجُلٌ), (رَجُلَيْنِ), (رِجَالٌ).
  5. Isim ‘adad seperti lafazh (عَشْرَةٌ).

Catatan: sub b dan c mencakup perkara yang pantas untuk di dalamnya dengan cara mengganti (بَدْلٌ), tidak secara umum dan menghabiskan keseluruhannya (اِسْتِغْرَاقٌ).

Contoh:

– (أَكْرِمْ رَجُلًا) “muliakanlah seorang laki-laki”

– (تَصَدَّقْ بِعَشْرَةِ دَرَاهِمَ) “bersedekahlah sepuluh dirham!”

Lafazh (رَجُلًا) tidak mencakup setiap laki-laki, dan orang yang diperintah lepas dari tuntutan dengan memuliakan satu laki-laki tanpa ditentukan. Dan lafazh (عَشْرَةِ) tidak mencakup setiap “sepuluh”, dan orang yang diperintah cukup bersedekah sepuluh dirham satu kali tanpa ditentukan.

  1. Tanpa batas: mengecaulikan isim ‘adad dipandang dari sisi (أَفْرَادٌ) “satu persatunya). Di mana secara lafazh isim ‘adad menghabiskan afrād-nya, namun hanya terbatas.

Contoh, lafazh (عَشْرَةِ), menghabiskan afrād tidak lebih dari jumlah yang terbilang.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.