Cahaya-cahaya Hati – Biarkan Hatimu Bicara! (4/4)

Biarkan Hatimu Bicara!
MENCERDASKAN DADA, HATI, FU’AD, DAN LUBB

Oleh: Abū ‘Abd Allāh Muḥammad ibn ‘Alī al-Ḥakīm at-Tirmidzī
 
Judul Asli:
بيان الفرق بين الصدر و القلب و الفؤاد و اللب
للحاكم التلمذي

 
Penerjemah: Fauzi Faisal Bahreisy
Penerbit: PT SERAMBI ILMU SEMESTA

Orang yang meniti jalan ini pada awalnya sama seperti seseorang yang berada di kegelapan malam dan tinggal di rumah yang gelap gulita. Lalu ia diberi sebuah lampu sehingga mendapat penerangan darinya. Selanjutnya, celah dinding dan pintu rumahnya dibuka sehingga cahaya bulan bisa masuk. Ia pun merasa nyaman dan gembira. Setelah itu, ia keluar ke padang yang luas sehingga merasa cukup dengan cahaya dan sinar rembulan serta tidak lagi memerlukan cahaya lampu tadi. Ketika ia gembira dengan semua itu, tiba-tiba waktu pagi tiba. Tentu saja cahaya fajar mengalahkan cahaya rembulan. Ia merasa sangat senang. Tidak lama kemudian matahari terbit di mana cahaya dan sinarnya terus bertambah terang hingga mencapai puncaknya. Nah, rumah yang gelap di atas sama seperti jiwa yang tidak mengetahui kegelapannya. Cahaya lampu yang berada di dalamnya ibarat cahaya akal. Kemudian akal ini terus bertambah terang – seperti terbitnya bulan – lewat cahaya syariat dan sunah. Lalu ia kian benderang dengan cahaya ma‘rifat yang murni laksana menyingsingnya fajar. Selanjutnya ia bertambah terang dengan melihat berbagai karunia dan kebaikan Allah s.w.t., baik lahir maupun bāthin, berikut berbagai rahasia ciptaan dan hukum-Nya. Setelah itu, ia bertambah terang dengan cahaya tauhid laksana matahari terbit. Ia terus naik dengan cahaya, sinar, dan manfaatnya yang terus bertambah lewat penyaksian berbagai tanda kekuasaan-Nya. Ketika cahayanya sempurna dan terkumpul sedemikian rupa, hamba itu pun khawatir kalau cahaya tadi lenyap dan berpindah. Ia takut kalau kondisinya berubah. Orang yang sudah sampai pada tingkatan ini khawatir berpisah dengan cahaya tersebut. Lenyapnya cahaya dan kegembiraan ini lebih ia takuti daripada lenyapnya cahaya matahari. Sebait syair mengungkapkan:

Cahaya mataharinya terbit di hati
dan bersinar terang tanpa pernah terbenam
mereka berbangga dengan sang kekasih
dan setiap orang mengambil bagian dari kekasihnya.

Perumpamaan seorang hamba yang melihat kepada ‘amal perbuatan dan kondisi dirinya sama seperti orang yang menyalakan lampu. Cahaya lampu tadi pun meneranginya. Lalu, sesudah cahayanya begitu terang, masihkah ia melihat kepada lampu itu? Tentu saja tidak. Tetapi, ia akan berterima kasih kepada dzāt yang memberinya taufīq untuk bisa ber‘amal. Demikian pula kondisi ahli tauḥīd. Ia melihat bāthinnya tampak secara jelas lewat berbagai hakikat īmān. Dan lewat cahaya petunjuk ar-Raḥmān ia saksikan berbagai tanda keagungan Allah berikut kekuasaan, kemuliaan, kebesaran, dan keesaan-Nya. Ia tidak lagi menoleh kepada ‘amal perbuatannya dan tidak bergantung padanya. Tetapi, ia bergantung kepada Allah, tenggelam dalam cahaya penyaksian karunia-Nya, dalam limpahan rahmat-Nya, dan bukti kasih sayang-Nya. Ia tidak lagi melihat kepada gerak-gerik dirinya. Ia hinakan dirinya karena perangai buruk yang ia saksikan.

Contoh lainnya adalah: bintang tampak berkuasa di malam yang gelap gulita. Ketika bulan purnama terbit, cahayanya bisa mengalahkan cahaya bintang. Apalagi ketika pagi mulai merekah dan matahari mulai terbit, maka jejak semua bintang itu pun sirna. Hal yang sama terjadi pada cahaya rembulan. Jika demikian, bagaimana dengan kondisi ‘amal seseorang ketika rubūbiyyah-Nya tampak jelas lewat taufīq, pertolongan, dan petunjuk Tuhan. Layakkah dalam kondisi demikian seorang ahli tauḥīd bergantung pada ‘amal, sementara ia menyaksikan luasnya rahmat Tuhan. Padahal seorang hamba hanya bisa tegak dengan-Nya dan terus membutuhkan-Nya, baik secara lahir maupun bāthin, dalam urusan agama dan dunianya. Ketika petunjuk, cahaya perlindungan, dan lembutnya pengawasan Tuhan terkumpul dan melimpah, seseorang tidak lagi melihat kepada gerak-gerik dirinya dan ‘amal perbuatannya karena setiap saat ia telah melihat lembutnya karunia Tuhan.

Aku ingin menjelaskan sedikit tentang gambaran hati yang berada dalam pemeliharaan Tuhan. Ketahuilah bahwa hati para wali Allah merupakan wadah hikmah, tempat rahmat, sumber penyaksian, perbendaharaan ma‘rifat, tempat karamah, objek yang Allah lihat dengan rahmat-Nya, ladang kasih-Nya, wadah pengetahuan-Nya, lahan hikmah-Nya, wadah tauḥīd-Nya, tempat berbagai cahaya-Nya. Dia melihatnya setiap saat dengan pandangan rahmat-Nya sehingga cahayanya bertambah dan bāthinnya menjadi baik. Allah menghiasinya dengan cahaya īmān, membangunnya di atas landasan tawakkal kepada ar-Raḥmān, mengisinya dengan berbagai pemberian, membangun temboknya dari pengertian iḥsān, membaguskan tanahnya lewat cahaya kebenaran dan petunjuk sehingga ia bersih dari penyakit syirik, ragu, nifāq, dan berbagai penyakit lainnya. Tanah tersebut merupakan tanah ma‘rifat yang Allah siram dengan lautan ridha sehingga muncullah di dalamnya berbagai cahaya jiwa. Di samping itu, Allah menguatkannya lewat interaksi yang baik dengan para pemilik kebun yang tidak lain merupakan sosok orang-orang yang bertaqwā. Dia mengeluarkan kelopaknya lewat angin peneladanan terhadap penghulu para rasūl (Nabi s.a.w.). Menumbuhkannya lewat tiupan berbagai angin rabbānī: angin rahmat, angin kasih sayang, angin kemenangan, dan angin rubūbiyyah lainnya. Mematangkan buahnya lewat lautan mentari ma‘rifat. Menambahkannya dengan putaran malam kepapahan dan siang kemuliaan. Memperbagus warna buahnya dengan celupan Allah yang berupa penjelasan hukum-hukum syarī‘at dan berpegangnya hamba pada tali buhul yang kuat. Melezatkan rasanya dengan komitmen pada sunnah Nabi s.a.w. Kemudian meletakkan singgasana cinta di atas landasan kebenaran yang tanahnya dihiasi dengan cahaya lubb, didukung oleh cahaya taufīq, disuguhi hidangan pembenaran, dibangun dengan fondasi pembuktian, serta diperkuat dengan pilar-pilarnya yang kokoh. Lalu Dia hamparkan di atas singgasana tersebut kasur empuk yang berasal dari pertolongan dan kekuatan-Nya. Diletakkan di atasnya bantal-bantal setundukan dan penghambaan. Dijadikan sebagai sandarannya sikap istiqāmah dan sikap bergantung kepada Allah agar Dia meneguhkannya di atas kebenaran dan senantiasa berjamā‘ah. Kemudian Dia dudukkan di atas singgasana tersebut hamba dan wali-Nya dalam kondisi gembira, didukung, dan dibela. Dia pakaikan padanya pakaian ketaqwāan dan Dia lepaskan darinya baju kesulitan dan tuntutan. Diberikanlah padanya karāmah-Nya yang bersumber dari khazanah karunia-Nya. Ia pun dibantu dengan anugerah dan taufīq-Nya. Lalu ia diberi mahkota kewalian-Nya. Dibersihkan dengan air kebaikan dan pemeliharaan-Nya. Disucikan dengan lautan petunjuk-Nya. Diberi makan dengan kenikmatan dzikir dan cinta pada-Nya. Disuguhi minuman yang suci dengan gelas tauḥīd yang berasal dari laut pengesaan sehingga jiwanya hanya tegak bersama-Nya. Dirinya menjadi hina ketika tampak kemuliaan-Nya dan tidak merasa berat ketika melihat pertolongan-Nya. Ia pun menghambakan diri pada-Nya laksana seorang hamba yang terikat atau laksana orang yang tertawan. Kemudian Tuhan melihat kepadanya dengan pandangan rahmat. Dia tebarkan padanya berbagai karamah istimewa yang berasal dari khazanah rubūbiyyah-Nya. Sehingga ia menampilkan hakikat pengabdian yang sesungguhnya. Allah s.w.t. mencukupinya dengan itu semua. Lalu Allah mendekatkannya, memanggilnya, memuliakannya, menyebutnya, mengasihinya, dan menyerunya. Ia pun mendatangi-Nya ketika mendengar seruan-Nya. Kemudian Allah mendudukkannya, menguatkannya, menjaganya, dan melindunginya. Sehingga ia menjawab-Nya, menyambut-Nya, memanggil-Nya, selalu menyeru-Nya, dan meminta tolong kepada Tuhannya. Ia tidak mengenal tuhan selain-Nya. Maka, Allah segera memberikan permintaannya, memilihnya untuk menghamba kepada-Nya, menunjukinya, rida atas cintanya, memilihnya untuk mengenal-Nya, serta mengalirkan di hadapannya sungai-sungai kejujuran dan ketulusan, pembuktian dan rasa malu, cinta dan ridha, takut dan harap, sabar dan setia, syukur dan ketetapan, keabadian dan pertemuan, rasa bangga dan papa, penghormatan dan kepasrahan, serta penyaksian Dzāt Yang Maha Perkasa dan Gagah. Selain itu, Allah senantiasa menambahkan padanya berbagai karunia yang tidak bisa digambarkan oleh siapa pun. Ia sangat dekat dengan Tuhannya, merasa jemu dengan dunianya, sibuk dengan Allah sehingga lupa pada kesudahannya. Ia berada dalam kehidupan yang sangat menyenangkan bersama Tuhan. Ia takut kondisi ini akan sirna. Ia mengkhawatirkan terjadinya peristiwa yang mengharuskannya berpindah dari posisi di mana ia bisa menyaksikan keagungan dan kebesaran-Nya. Dalam kondisi tersebut, ia seperti orang yang senang sekaligus kesepian seperti orang yang tenang sekaligus gelisah. Ia tenggelam dalam lautan di mana ia melihat jalan satu-satunya untuk bisa selamat hanya lewat tauḥīd. Ia tidak mengharap selamat dari setenggelaman itu. Orang ini justru merasa nikmat sebagaimana orang-orang menikmati manisnya dunia. Ia merasa sangat pedih ketika berpisah dengannya yang rasa pedih tersebut tidak pernah dirasakan oleh mereka yang lapar, yang sakit, yang berada dalam kesulitan, yang dipukul dengan cambuk, dan disayat dengan besi. Maka, Allah menyelamatkannya dari pedihnya perpisahan tersebut. Allah kumpulkan untuknya segala bentuk keselamatan sekaligus memberinya rasa aman. Mahasuci Allah Yang telah menganugerahkan kepada para wali-Nya dan orang-orang pilihan-Nya berbagai karunia yang agung; Yang telah memberikan kepada mereka segala macam nikmat-Nya yang besar. Yang melindungi mereka dari hawa nafsu yang buruk; Yang memberikan kepada mereka hati yang sehat; serta Yang telah menuntun mereka di jalan istiqāmah. Segala puji bagi Allah yang menangkal bencana, yang memberikan karunia, tambahan nikmat, kemuliaan petunjuk, serta taufīq untuk mengikuti Nabi pilihan, ajaran kekasih-Nya, dan sunnah Rasūlullāh, penutup para nabi dan rasūl, menuju jalan yang paling terang. Dengan beliau Allah menutup kenabian dan mematahkan argumen. Allah mengutus beliau sebagai rahmat bagi alam semesta. Kemudian lewat beliau, Allah tangkal segala bencana dan Allah sempurnakan nikmat-Nya. Sebab, beliau merupakan Rasūl pilihan-Nya. Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salām kepada beliau, kepada keluarga beliau yang jujur dan tulus, kepada para sahabat beliau yang cinta dan setia, kepada para istri beliau yang menjaga diri dan bertaqwā. Tidak ada tempat berlindung dan tempat untuk menyelamatkan diri dari-Nya. Dialah Pelindung setiap mu’min dan sebaik-baik Penolong. Semoga shalawat dan salām tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muḥammad s.a.w.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.