Cahaya Adalah Tentara Hati Dan Kegelapan Adalah Tentara Nafsu – Syarah al-Hikam – asy-Syarqawi

Al-Ḥikam
Kitab Tasawuf Sepanjang Masa
Judul Asli: Syarḥ-ul-Ḥikami Ibni ‘Athā’illāh-il-Iskandarī

Pensyarah: Syaikh ‘Abdullāh asy-Syarqawī
Penerjemah: Iman Firdaus, Lc.
Diterbitkan oleh: Turos Pustaka

Cahaya Adalah Tentara Hati Dan Kegelapan Adalah Tentara Nafsu.

 

58. النُّوْرُ جُنْدُ الْقَلْبِ كَمَا أَنَّ الظُّلْمَةَ جُنْدُ النَّفْسِ فَإِذَا أَرَادَ اللهُ أَنْ يَنْصُرَ عَبْدَهُ أَمَدَّهُ بِجُنُوْدِ الْأَنْوَارِ وَ قَطَعَ عَنْهُ مَدَدَ الظُّلَمِ وَ الْأَغْيَارِ

Cahaya adalah tentara qalbu dan kegelapan adalah prajurit nafsu. Jika Allah ingin menolong hamba-Nya, Allah akan membantunya dengan bala tentara cahaya dan memutus bantuan prajurit kegelapan dan keduniaan.

 – Ibnu ‘Athā’illāh al-Iskandarī –

 

Dengan iringan tentara qalbu (cahaya), hati bisa sampai ke hadirat Allah dengan mudah dan selamat, sebagaimana seorang raja yang diiringi bala tentaranya menuju tujuannya, yaitu mengalahkan musuh. Inilah pengertian yang dapat kita petik dari hikmah di atas.

“Kegelapan”, yang merupakan tabiat seorang hamba, dianggap sebagai bala bantuan dan prajurit nafsu yang mengiringi seorang hamba sampai kepada tujuan, yaitu meraih keduniaan.

Perang antara hati dan nafsu akan terus berlangsung sepanjang waktu. Jika Allah ingin membantu hamba-Nya mengalahkan nafsunya, Dia akan mengirimkan bala bantuan-Nya berupa cahaya. Jika hamba itu mendapat bantuan-Nya, ia akan menyadari keburukan syahwat yang menghambatnya untuk sampai kepada Allah. Selain itu, Allah juga akan membinasakan prajurit kegelapan dan tipuan dunia yang akan membantu nafsu.

Sebaliknya, jika Allah ingin menghinakan seorang hamba, Dia akan memberinya prajurit kegelapan. Hati yang cenderung kepada ‘amal saleh (misalnya, ingin berpuasa) dan nafsu yang cenderung kepada syahwat (misalnya, ingin berbuka) akan bertempur dan saling membunuh. Saat itu, cahaya dan rahmat Allah akan segera membantu hati, sedangkan kegelapan akan menolong nafsu. Saat kedua barisan pasukan itu bertemu dan pertempuran semakin sengit, tak ada jalan lain bagi seorang hamba kecuali ia harus takut kepada Allah dan bertawakkal kepada-Nya. Seperti itulah yang terjadi dalam setiap ‘amal saleh yang dikerjakannya hingga ia berhasil sampai ke hadirat Allah. Saat itu, kekuasaan nafsu akan terputus dan kalah.

 

59. النُّوْرُ لَهُ الْكَشْفُ وَ الْبَصِيْرَةُ لَهُ الْحُكْمُ وَ الْقَلْبُ لَهُ الْإِقْبَالُ وَ الْإِدْبَارُ

Cahaya bisa menyingkap, mata hati dapat mengetahui, sedangkan hati bisa menerima dan menolak.

 – Ibnu ‘Athā’illāh al-Iskandarī –

 

Cahaya yang dipancarkan Allah ke dalam hati seorang murīd bisa menyibak berbagai makna dan hal ghaib, seperti baiknya ketaatan dan buruknya maksiat. Mata hati bisa melihatnya. Dalam melihat makna dan hal ghaib ini, mata hati membutuhkan cahaya, seperti halnya mata biasa yang membutuhkan bantuan cahaya lentera atau matahari ketika akan melihat sesuatu. Cahaya yang dibutuhkan mata hati itu adalah cahaya batin.

Selanjutnya, yang dilihat oleh mata hati itu akan diterima atau ditolak oleh hati. Jika mata hati melihat baiknya ketaatan, hati akan menerima dan mencintainya, lalu diikuti oleh seluruh anggota tubuh. Bila mata hati melihat buruknya maksiat, hati akan menolak dan menjauhinya, kemudian diikuti oleh anggota tubuh yang lain.

Hikmah ini juga bisa diartikan bahwa cahaya bisa menyingkap misteri ghaib, seperti rahasia takdir, atau memprediksikan apa yang akan terjadi di dunia. Setelah itu, mata hati berperan melihatnya dan hati memastikannya. Terkadang penyingkapan dan penglihatan tersebut tidak sempurna.

Oleh karena itu, seorang mukāsyif (yang mampu menyingkap misteri ghaib) harus memastikan terlebih dahulu apa yang disingkapkan di hadapannya itu. Ia tidak boleh ber‘amal hanya berdasarkan apa yang disingkapkan untuknya. Ia juga tidak boleh memprediksikan sesuatu sebelum bertanya kepada hatinya, apakah hatinya itu menerima atau menolaknya. Itulah sebabnya prediksi sebagian wali ada yang tidak terjadi. Ya, karena ia tidak memastikan terlebih dahulu apa yang disingkapkan di hadapannya itu.

 

60. لَا تُفْرِحُكَ الطَّاعَةُ لِأَنَّهَا بَرَزَتْ مِنْكَ وَ افْرَحْ بِهَا لِأَنَّهَا بَرَزَتْ مِنَ اللهِ إِلَيْكَ قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَ بِرَحْمَتِهِ وَ بِذلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُوْنَ

Janganlah senang lantaran kau bisa melakukan ketaatan, tetapi senanglah lantaran ketaatan itu dikaruniakan Allah kepadamu. “Katakanlah: Berkat karunia dan rahmat Allah-lah hendaknya mereka bergembira. Itu lebih baik daripda apa yang mereka kumpulkan. (Yūnus [10]: 58).

 – Ibnu ‘Athā’illāh al-Iskandarī –

 

Jangan merasa senang jika kau mampu melakukan sebuah ketaatan. Sikap seperti itu adalah sikap tercela, terhalang, dan dapat membatalkan ketaatan. Yang semestinya membuatmu senang bukanlah kemampuanmu melakukan ketaatan, tetapi karena Allah telah menganugerahkan ketaatan itu kepadamu. Inilah sikap yang terpuji dan diharapkan dari seorang hamba. Inilah bentuk kesyukuran seorang hamba atas karunia tersebut.

Ibnu ‘Athā’illāh mendasari hikmah itu atas firman Allah: Katakanlah: Berkat karunia dan rahmat Allah-lah hendaknya mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan. (Yūnus [10]: 58).

Ketaatan yang bisa dilakukan seorang hamba merupakan bentuk perhatian dan kasih sayang Allah kepadanya. Oleh karena itu, ia patut berbahagia atas hal itu, bukan atas upayanya menjalankan ketaatan itu.

 

61. قَطَعَ السَّائِرِيْنَ لَهُ الْوَاصِلِيْنَ إِلَيْهِ عَنْ رُؤْيَةِ أَعْمَالِهِمْ وَ شُهُوْدِ أَحْوَالِهِمْ. أَمَّا السَّائِرُوْنَ فَلِأَنَّهُمْ لَمْ يَتَحَقَّقُوا الصِّدْقَ مَعَ اللهِ فِيْهَا وَ أَمَّا الْوَاصِلُوْنَ فَلِأَنَّهُ غَيَّبَهُمْ بِشُهُوْدِهِ عَنْهَا

Allah membuat orang-orang yang tengah menuju kepada-Nya (sā’irūn) dan orang-orang yang telah sampai kepada-Nya (wāshilūn) tidak mampu melihat ‘amal dan keadaan (aḥwāl) mereka. Karena para sā’irūn belum benar-benar ikhlas dalam ‘amal mereka dan karena para wāshilūn terlalu sibuk melihat Tuhan mereka.

 – Ibnu ‘Athā’illāh al-Iskandarī –

 

Allah menghalangi pandangan para sā’irūn dan wāshilūn sehingga mereka tidak bisa melihat atau memperhatikan ‘amal lahir dan aḥwāl hati mereka. Sekalipun sama-sama dihalangi, penyebabnya berbeda. Pandangan para sā’irūn dihalangi lantaran Allah melihat hati mereka kurang hadir di hadapan-Nya saat ber‘amal. Sementara itu, pandangan para wāshilūn dihalangi lantaran mereka sibuk melihat Allah sehingga mereka tidak mampu melihat selain dzāt-Nya.

Allah telah memberikan karunia-Nya kepada dua kelompok itu. Dia membebaskan keduanya dari ketergantungan terhadap ‘amal dan aḥwāl mereka. Akan tetapi, Allah memberikan karunia-Nya kepada para sālik dengan terpaksa, sedangkan kepada para sā’irūn dengan sukarela. Tentu saja kedudukan yang kedua lebih tinggi daripada yang pertama.

Oleh sebab itu, al-Wāshitī bertanya kepada para sahabat Abū ‘Utsmān tentang apa gerangan yang diperintahkan oleh syaikh mereka. Mereka menjawab: “Ia memerintahkan kami untuk senantiasa taat dan melihat atau memperhatikan kekurangan di dalam ketaatan yang kami lakukan itu.”

Kemudian al-Wāshitī berkata: “Jika demikian, berarti dia telah memerintahkan kalian untuk meng‘amalkan ajaran-ajaran kaum Majūsī. Maukah kalian ku perintahkan untuk mengabaikan hal itu dan lebih melihat kepada sumber alirannya langsung?” Maksudnya adalah agar mereka meninggikan tekad mereka menuju maqām orang-orang ‘ārif, bukan merendahkan apa yang mereka alami karena hal itu juga termasuk kebaikan.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *