Bertemu Nabi Muhammad – Tarekat dalam Timbangan Syariat

TAREKAT dalam Timbangan SYARIAT
Jawaban atas Kritik Salafi Wahabi

Penulis: Nur Hidayat Muhammad
 
Penerbit: Muara Progresif

BERTEMU NABI MUḤAMMAD

 

Syaikh Akbar Ibnu ‘Arabī meyakini jika para shūfī atau auliyā’ yang mempunyai maqām tertentu dapat bertemu secara langsung dengan Rasūlullāh s.a.w. Beliau secara jasad memang telah wafat, akan tetapi beliau hidup dalam alam barzakhnya.

Imām Mālik bin Anas, sebagaimana dikutip Ibnu Qayyim dalam ar-Rūḥ (hal. 144), berkata: “Telah sampai kepadaku bahwa rūḥ bebas pergi ke mana ia suka”. Perkataan Imām Mālik di atas juga dikutip al-Ḥāfizh Ibnu Ḥajar dalam Fatḥ-ul-Bārī (231). Adapun kritik ‘Abd-ul-‘Azīz bin Bāz al-Wahhābī bahwa pendapat tersebut lemah tidak ada artinya sama sekali. Jika pendapat Imām Mālik di atas adalah untuk rūḥ secara umum, lalu bagaimana dengan Rasūlullāh s.a.w., manusia mulia yang pernah ada di muka bumi ini?

Masalah mungkin dan tidaknya bisa bertemu Rasūlullāh s.a.w. dalam keadaan terjaga, saat beliau sudah wafat, memang masih diperselisihkan ‘ulamā’. Akan tetapi mayoritas ‘ulamā’ menyebutnya mungkin. Ibnu Ḥajar al-Haitamī menyebutkan dalam al-Fatāwā-l-Ḥāditsiyyah, bahwa ‘ulamā’ yang pernah bertemu Rasūlullāh s.a.w. adalah al-Ghazālī, al-Barizī, Tāj-ud-Dīn as-Subkī, al-Yāfi‘ī, al-Qurthubī dan Ibnu Abī Jamrah. (242).

Pernyataan serupa juga disampaikan as-Suyūthī dalam al-Ḥāwī lil-Fatāwā karyanya. Secara khusus beliau memaparkan bukti-bukti tentang mungkinnya bertemu Rasūlullāh s.a.w. dalam keadaan terjaga. (253).

An-Nafrawī al-Mālikī dalam al-Fawākih-ud-Dawānī berkata: “Sah-sah saja melihat Rasūlullāh s.a.w. dalam keadaan terjaga dan tidur menurut kesepakatan para ḥuffāzh hadits. Yang mereka perselisihkan hanyalah tentang apakah yang dilihat adalah dzāt Rasūlullāh s.a.w. yang mulia atau hanya mitsāl yang menghikayahkan dzāt beliau.” (264).

Dalil yang berisi mungkinnya melihat Rasūlullāh s.a.w. adalah:

مَنْ رَآنِيْ فِي الْمَنَامِ فَسَيَرَانِيْ فِي الْيَقَظَةِ وَ لَا يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِيْ.

Barang siapa yang melihatku dalam tidur, maka ia akan melihatku dalam keadaan terjaga. Dan syaithan tidak akan mampu menyerupaiku.” (HR. Bukhārī dan Abū Dāwūd).

Di antara ‘ulamā’ yang menyatakan bisa bertemu Rasūlullāh s.a.w. dalam keadaan terjaga adalah al-Quthb ‘Abd-ul-Wahhāb asy-Sya‘rānī, Syaikh Muḥy-id-Dīn bin ‘Arabī, Syaikh al-Mursī, al-‘Allāmah an-Nafrawī al-Mālikī (dalam al-Fawākih-ud-Dawānī), Ibn-ul-Ḥajj al-Mālikī (dalam al-Madkhal) dan Syaikh ‘Ulayyisy.

Asy-Sya‘rānī berkata: “Telah sampai kepadaku dari Syaikh Abul-Ḥasan asy-Syādzilī dan muridnya, Abul-‘Abbās al-Mursī, dan lain-lain, bahwa mereka mengatakan: “Andaikan kami terhalang dari melihat Rasūlullāh s.a.w. sekejap saja, maka kami tidak akan menilai diri kami termasuk dari golongan orang-orang Islam.” Jika ini adalah ucapan salah satu dari auliyā’, maka imam-imam mujtahidīn lebih berhak atas maqām ini.” (275).

Beliau juga berkata: “Rūḥ-rūḥ para mujtahid bisa bertemu dengan rūḥ Rasūlullāh s.a.w. adalah bagian dari keramat para auliyā’. Dan jika para mujtahid bukan auliyā’, maka di muka bumi ini tidak akan ada auliyā’ selamanya. Dan masyhur berita tentang wali-wali agung yang derajatnya secara meyakinkan di bawah imam-imam mujtahid telah bertemu dengan Rasūlullāh s.a.w. berulang-ulang kali. Dan kejadian tersebut juga dibenarkan oleh ‘ulamā’-‘ulamā’ semasanya, seperti ‘Abd-ur-Raḥīm al-Qunawī, Abū Madyān, Abū Su‘ūd, Ibrāhīm as-Dusūqī, Abul-Ḥasan asy-Syādzilī, al-Mursī, Ibrāhīm al-Matbūlī, Jalāl-ud-Dīn as-Suyūthī, Aḥmad az-Zawawī dan lain-lain.” (286).

Asy-Sya‘rānī dalam al-Ajwibat-ul-Mardhiyyah juga berkata: “Di antara shūfī yang pernah bertemu dengan Rasūlullāh s.a.w. dalam kondisi terjaga adalah Syaikh ‘Abd-ul-Qādir al-Jīlī, Syaikh Aḥmad ar-Rifā‘ī (pendiri tarekat Rifā‘iyyah), Syaikh ‘Abd-ur-Raḥīm al-Qunawī, Syaikh Abū Madyān at-Tilmisānī, Syaikh Muḥy-id-Dīn bin ‘Arabī, Syaikh Abū Su‘ūd bin Abil-Asyair, Syaikh Abul-Ḥasan asy-Syādzilī, Syaikh Abul-‘Abbās al-Mursī, Syaikh Yāqūt al-Arsyī, dan shūfī- shūfī yang aku sebutkan dalam kitab Thabaqāt-ul-Auliyā’.

Dan para masyāyikh yang pernah aku jumpai yang pernah bertemu Rasūlullāh s.a.w. dalam keadaan terjaga adalah Syaikh Muḥammad bin Dāwūd, Syaikh Jalāl-ud-Dīn as-Suyūthī, Syaikh Nūr-ud-Dīn asy-Syaunī, Syaikh Aḥmad az-Zawawī, Syaikh ‘Alī al-Khawwāsh, saudaraku Syaikh Afdhal-ud-Dīn, Syaikh Muḥammad ash-Shūfī dan Syaikh ‘Umar al-Maghribī yang wiridnya setiap hari membaca shalawat 100 ribu kali.” (297).

Setelah membaca komentar di atas, maka yang sombong dan hatinya diisi dengan hasud dan kebencian akan berkata: “Ah, mana mungkin!”. Ya Allah, berikanlah kami pentunjuk-Mu.

Catatan:

  1. 23). Ahmad bin Ḥajar al-Asqalānī, Fatḥ-ul-Bārī (Kairo, Maktabah Salafiyyah, 1407), juz III, hal. 287.
  2. 24). Aḥmad bin Ḥajar al-Haitamī, al-Fatāwā-l-Ḥāditsiyyah (Beirut, Darul Fikr, tth), hal. 212.
  3. 25). Jalāl-ud-Dīn as-Suyūthī, al-Ḥāwī lil-Fatāwā (Beirut, Darul Fikr, 2009), juz II, hal. 307.
  4. 26). Dr. ‘Ali Jum‘at, al-Bayanu Lima Yasghalu fil-Adzan (Kairo: Elmokatam, 2005), hal. 162.
  5. 27). ‘Abd-ul-Wahhāb asy-Sya‘rānī, al-Mīzān-ul-Kubrā (Semarang Thoha Putra, tth), juz I, hal. 44).
  6. 28). Ibid, juz I, hal. 44.
  7. 29). ‘Abd-ul-Wahhāb asy-Sya‘rānī, al-Ajwibat-ul-Mardhiyyah (Kairo: Maktabah Ummul Qura, 2002), hal. 170).

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.