Beragam Thariqah Hakikatnya adalah Satu – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin

Sabīl-us-Sālikīn – Jalan Para Sālik
Ensiklopedi Tharīqah/Tashawwuf

 
Tim Penyusun:
Santri Mbah KH. Munawir Kertosono Nganjuk
Santri KH. Sholeh Bahruddin Sengonagung Purwosari Pasuruan
 
Penerbit: Pondok Pesantren NGALAH

Rangkaian Pos: Unsur-unsur Thariqah - Sabil-us-Salikin
  1. 1.Mursyid – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin
  2. 2.Mursyid sebagai Pemandu Jalan – Tugas Mursyid – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin (1/2)
  3. 3.Mursyid sebagai Pemandu Jalan – Tugas Mursyid – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin (2/2)
  4. 4.Mursyid Sebagai Khalifah Rasul – Tugas Mursyid – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin
  5. 5.Sifat dan Syarat (kualifikasi) Mursyid – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin
  6. 6.Wasilah – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin
  7. 7.Qalbu Rasul sebagai Tempat Wasilah – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin
  8. 8.Rabithah (Merabit) – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin
  9. 9.Teknik Melakukan Rabithah (Merabit) & sebagai Penghalau Iblis – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin
  10. 10.Suluk – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin
  11. 11.Suluk dalam Pandangan Ibnu Taimiyah – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin
  12. 12.Anda Sedang Membaca: Beragam Thariqah Hakikatnya adalah Satu – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin

Beragam Tharīqah Hakikatnya adalah Satu.

 

Tharīqah adalah satu tradisi keagamaan dalam Islam yang sebenarnya sudah ada sejak zaman Nabi Muḥammad s.a.w. Bahkan, perilaku kehidupan beliau sehari-hari adalah praktek kehidupan rohani yang dijadikan rujukan utama oleh para pengamal tharīqah dari generasi ke generasi sampai sekarang.

Adapun dalam konteks wirid, Nabi s.a.w. telah memberikan isi dzikir kepada para sahabat sesuai dengan derajat dan aḥwālnya. Secara khusus ada dua sahabat yang diberikan oleh Rasūlullāh s.a.w.:

  1. Sahabat Abū Bakar ash-Shiddīq r.a. Ia mengambil dari beliau dzikir ismu al-Mufrad yaitu “Allāh”.
  2. Sahabat ‘Alī bin Abī Thālib r.a. Ia mengambil dari beliau dzikir al-nafi wa al-itsbāt yaitu “lā ilāha illallāh”. Sebagaimana disebutkan oleh beberapa sumber sejarah, sahabat ‘Alī bin Abī Thālib r.a. pada suatu hari datang kepada Nabi s.a.w. Kemudian Nabi s.a.w. bersabda: “Wahai ‘Alī kamu harus melanggengkan dzikir kepada Allāh s.w.t. dalam keadaan sendiri (khalwat)”. Sahabat ‘Alī berkata, “Ini adalah fadhīlah dzikir. Setiap manusia melakukan dzikir.” Maka Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Wahai ‘Alī kiamat tidak akan terjadi selama disebut lafadz “Allāh”. Lalu sahabat ‘Alī bertanya, “Bagaimana cara aku berdzikir wahai Rasūlullāh?” Lalu Rasūlullāh s.a.w. menjawab: “Pejamkan matamu lalu dengarkan aku tiga kali, lalu ucapkanlah tiga kali sekiranya aku mendengar.” Lalu Rasūlullāh bersabda: “Lā ilāha illallāhu tiga kali, sambil memajamkan kedua mata beliau seraya mengeraskan suara dan ‘Alī mendengar. Lalu ‘Alī mengucapkan Lā ilāha illallāhu tiga kali, sambil memajamkan kedua mata beliau seraya mengeraskan suara dan Rasūlullāh s.a.w. Mendengar”. (‘Abd Raḥmān Jabarūt, Tārīkh ‘Ajā’ibu al-Atsar fī al-Tarājim wa al-Akhbār, Juz 1, halaman: 346).

Sejak munculnya tashawwuf Islam di akhir abad kedua hijriyyah, sebagai kelanjutan dari gerakan golongan Zuhhād, muncullah istilah “Tharīqah” yang tampilan bentuknya berbeda dan sedikit demi sedikit menunjuk pada suatu yang tertentu, yaitu sekumpulan akidah-akidah, akhlaq-akhlaq dan aturan-aturan tertentu bagi kaum Sufi. Pada saat itu disebut “Tharīqah Shūfiyyah” (metode orang-orang Sufi) menjadi penyeimbang terhadap sebutan “Tharīqah Arbābi al-‘Aql wa al-Fikr” (metode orang-orang yang menggunakan akal dan pikiran).

Yang pertama lebih menekankan pada dzauq (rasa), sementara yang kedua lebih menekankan pada burhān (bukti nyata atau empiris). Istilah “tharīqah” terkadang digunakan untuk menyebut suatu pembimbingan pribadi dan perilaku yang dilakukan oleh seorang mursyid kepada muridnya. Pengertian terakhir inilah yang lebih banyak difahami oleh banyak kalangan, ketika mendengarkan kata “tharīqah.”

Pada perkembangan berikutnya, terjadi perbedaan diantara tokoh Sufi di dalam menggunakan metode laku batin mereka untuk menggapai tujuan utamanya, yaitu Allāh s.w.t. dan ridhā-Nya. Ada yang menggunakan metode latihan-latihan jiwa, dari tingkat terendah, yaitu nafsu ammārah, ke tingkat nafsu lawwāmah, terus ke nafsu muthma’innah, lalu ke nafsu mulhimah, kemudian ke tingkat nafsu rādhiyah, lalu ke nafsu mardhiyyah, sampai ke nafsu kamāliyyah.

Ada juga yang menggunakan metode takhallī, taḥallī dan akhirnya tajallī. Ada pula yang menggunakan metode dzikir, yaitu dengan cara mulazamat-udz-dzikri, yakni melanggengkan dzikir dan senantiasa mengingat Allāh dalam keadaan apapun.

Perlu digarisbawahi di sini, bahwa meskipun nama tharīqah dan metodenya beragam tapi tujuan dan hakekatnya satu. Hal ini sesuai dengan pernyataan para imam dan Syaikh tharīqah. Di antaranya adalah:

  1. Imām al-Junaid bin Muḥammad (297 H): Ahli Sufi adalah penghuni satu rumah, di mana orang lain tidak dapat memasukinya, (ar-Risālah al-Qusyairiyah, halaman: 127).
  2. Imām Ibnu ‘Arabī (638 H): Sesungguhnya para ahli adzwāq (Tharīqah) jelas berada pada satu jalan, (al-Futūḥāt al-Makkiyyah, juz 3, halaman: 213).
  3. Ibnu ‘Ajībah menjelaskan pernyataan Ibnu Bana Sirqisthī: Madzhab Sufi telah disepakati maksud dan aktifitasnya meskipun berbeda-beda jalurnya. Sesungguhnya al-Ḥaqq adalah satu dan jalannya adalah satu meskipun berbeda-beda jalurnya, titik akhirnya satu dan rasanya (dzauq) satu. Maknanya sebagaimana dikatakan bahwa tharīqah-tharīqah itu bermacam-macam dan jalan al-Ḥaqq adalah satu. Madzhab Sufi adalah kesesuaian atau kesamaan antara ushūl dan furū‘, (al-Futuḥāt al-Ilāhiyyah, halaman: 101).
  4. ‘Abd-ur-Razzāq Qasyānī (730 H), “Maksud saya, sesungguhnya jalan (tharīq) dan tujuan (ghāyah) adalah hakekatnya satu, yaitu Al-Ḥaqq (Allāh s.w.t.)”, (Syaraḥ Fushūsh al-Ḥikam, halaman: 155).
  5. ‘Abd-ul-Qādir ‘Īsā: Sesungguhnya jalan (tharīq) hakekatnya satu, meskipun beragam metode ‘amaliyyah dan tata cara sesuai dengan ijtihad pada masa, situasi dan kondisi saat itu. oleh karena itu muncul beragam tharīqah sufi yang mana hakikatnya adalah satu, (Ḥaqā’iq ‘an at-Tashawwuf, halaman: 272).

Selain beberapa pernyataan di atas, ada beberapa pernyataan senada yang mungkin terlalu banyak kalau semuanya ditulis. Di antaranya adalah:

  1. Syaikh Abū Nasr Sirāj al-Thūsī (378 H), (al-Luma‘ fī Tārīkh al-Tashawwuf al-Islāmī, halaman: 457).
  2. Syaikh Abū Thālib al-Makkī (386 H), (Qūth al-Qulūb, juz 2, halaman: 79).
  3. Imām Abū Ḥāmid Muḥammad al-Ghazālī (505 H), (Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, juz 1, halaman: 255).
  4. Syaikh Aḥmad Shāwī al-Mālikī al-Khalwatī (1241 H), (al-Asrār ar-Rabbāniyyah wa al-Fuyūdhāt ar-Raḥmāniyyah, halaman: 45).
  5. Syaikh Muḥammad Kansus Tijānī (1294 H), (Kasyfu al-Ḥijāb, halaman: 329).
  6. Syaikh Muḥammad Abū al-Faidh al-Manufī (1312 H), (Ma‘ālim al-Tharīq ilā Allāh, halaman: 262).

Kebanyakan orang menganggap bahwa tashawwuf terdiri dari beberapa madzhab dan aliran. Mereka menyamakan dengan bidang keilmuan yang menggunakan analisa logika sebagaimana filsafat. Kalau filsafat menggunakan analisa logika maka pantas muncul beberapa aliran. Sedangkan tashawwuf adalah pengalaman seseorang (tajribah), maka tetap satu madzhab dan tidak terjadi beragam aliran. Kalau kenyataan jalan (tharīqah) tashawwuf bermacam-macam, tetapi adanya perbedaan dan beragam jalan tersebut, semuanya menuju satu tujuan, (lihat at-Ta‘arruf limadzhab ahli at-Tashawwuf, halaman: 12-13).

Melihat beberapa pernyataan di atas maka sangat jelas sekali bahwa meskipun nama tharīqah dan metodenya beragam tapi tujuan dan hakikatnya satu, yaitu al-Ḥaqq Allāh s.w.t. (ilāhī anta maqshūdī waridhāka mathlūbī).

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *