Adab Kepada Baginda Rasul S.A.W. – Kisah Sang Rasul

Cover Buku Kisah Sang Rasul oleh Abdullah ibn Jakfar al-Habsyi

KISAH SANG RASUL:
Menyimak dan Meneguhkan Sosok Pembawa Risalah

Karya: Abdullah ibn Jakfar al-Habsyi
 
Diterbitkan oleh:
CV. Layar Creative Mediatama

Bab 14:

ADAB KEPADA BAGINDA RASŪL S.A.W.

 

Telah kita ketahui bersama bahwa budi pekerti Rasūlullāh s.a.w. meliputi segala kemuliaan dan keindahan yang telah diberikan Allah s.w.t. kepadanya, dan bertambah indah dan bagusnya akhlak dan budi pekerti tersebut ketika disandingkan kepada beliau, maka darinya lah kemuliaan dan keutamaan.

Dan ketika kita mengerti akan bagaimana para sahabatnya yang mulia beradab di hadapan Rasūlullāh s.a.w., ketika mereka duduk di majelisnya seakan-akan burung hinggap di kepala merkea, hal ini mereka lakukan seperti penghormatan kepada Baginda Rasūlullāh s.a.w.

Mereka para sahabatnya Rasūlullāh s.a.w. memiliki kedudukan yang tinggi dalam penghormatan dan pengagungan terhadap apa yang diarahkan dan juga yang dilarang oleh Baginda Rasūlullāh s.a.w., dan bersegera terhadap hal yang dianjurkannya, mereka merendahkan suara ketika di hadapan Rasūlullāh s.a.w., dan ketika mereka berbicara dengan Rasūlullāh s.a.w. seperti orang yang sedang berbisik, tidaklah mereka beranjak dari majelis beliau kecuali dengan idzinnya, mereka tidak pernah mendahului pembicaraan Rasūlullāh s.a.w., tidak pernah mendahului pekerjaan yang akan dikerjakan Rasūlullāh s.a.w., dan tidaklah mereka beramal kecuali dengan petunjuk dan arahannya Rasūlullāh s.a.w.

Allah s.w.t. telah memerintahkan mereka untuk senantiasa beradab luhur di hadapan Baginda Rasūlullāh s.a.w., sebagaimana disebut dalam ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لَا تُقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَ رَسُوْلِهِ وَ اتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”. (QS. al-Ḥujurāt [49]: 1).

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لَا تَرْفَعُوْا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَ لَا تَجْهَرُوْا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَ أَنْتُمْ لَا تَشْعُرُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain, nanti (pahala) segla amalmu bisa terhpus sedangkan kamu tidak menyadari.”. (QS. al-Ḥujurāt [49]: 2).

Dan Allah s.w.t. telah mengajarkan bagaimana seharusnya ketika mereka ingin memanggil Baginda Rasūlullāh s.a.w., seperti disebut dalam ayat:

لَا تَجْعَلُوْا دُعَاءَ الرَّسُوْلِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا قَدْ يَعْلَمُ اللهُ الَّذِيْنَ يَتَسَلَّلُوْنَ مِنْكُمْ لِوَاذًا فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ

Janganlah kamu jadikan panggilan Rasūl (Muḥammad) di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain). Sungguh, Allah mengetahui orang-orang yang keluar (secara) sembunyi-sembunyi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasūl-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa ‘adzāb yang pedih.”. (QS an-Nūr [24]: 63).

Maka Allah s.w.t. pun memuji para sahabat yang beradab kepada Rasūl-Nya:

إِنَّ الَّذِيْنَ يَغُضُّوْنَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ أُولئِكَ الَّذِيْنَ امْتَحَنَ اللهُ قُلُوْبَهُمْ لِلتَّقْوَى لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَ أَجْرٌ عَظِيْمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasūlullāh, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hatinya oleh Allah untuk bertaqwa. Mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.”. (QS. al-Ḥujurāt [49]: 3).

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا بِاللهِ وَ رَسُوْلِهِ وَ إِذَا كَانُوْا مَعَهُ عَلَى أَمْرٍ جَامِعٍ لَمْ يَذْهَبُوْا حَتَّى يَسْتَأْذِنُوْهُ إِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَأْذِنُوْنَكَ أُولئِكَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَ رَسُوْلِهِ فَإِذَا اسْتَأْذَنُوْكَ لِبَعْضِ شَأْنِهِمْ فَأْذَنْ لِّمَنْ شِئْتَ مِنْهُمْ وَ اسْتَغْفِرْ لَهُمُ اللهَ إِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

)Yang disebut) orang mu’min hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasūl-Nya (Muḥammad), dan apabila mereka berada bersama-sama dia (Muḥammad), dalam suatu urusan bersama, mereka tidak meninggalkan (Rasūlullāh) sebelum meminta idzin kepadanya. Sungguh orang-orang yang meminta idzin kepadamu (Muḥammad), mereka itulah orang-orang yang (benar-benar) beriman kepada Allah dan Rasūl-Nya. Maka apabila mereka meminta idzin kepadamu karena suatu keperluan, berilah idzin kepada siapa yang engkau kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”. (QS an-Nūr [24]: 63).

Ketika salah satu utusan kaum Quraisy yang bernama ‘Urwah ibn Mas‘ūd ats-Tsaqafī (sebelum masuk Islam) datang kepada Baginda Rasūlullāh s.a.w. pada hari peperangan Ḥudaibiyyah, dia melihat bagaimana para sahabat mengagungkan Baginda Rasūlullāh s.a.w. bahwa mereka tidak mengambil air untuk bersuci kecuali air yang dipakai oleh Rasūlullāh s.a.w., dan tidaklah jatuh satu helai rambut Rasūlullāh s.a.w. kecuali mereka berebutan untuk mendapatkannya, jika Baginda Rasūlullāh s.a.w. memerintahkan sesuatu, maka

“Wahai para pemuka kaum Quraisy, aku telah datang ke kerajaan Kisra (Persia) dalam keagungannya dan aku telah datang ke kerajaan Kaisar (Romawi) dalam kekuasaannya, dan aku telah datang ke kerajaan Najasyi (Ethiopia) dalam kebesarannya, dan sungguh demi Allah aku tidak melihat penghormatan kerajaan di suatu kaum semisal Muḥammad di antara sahabatnya.” ‘Urwah ibn Mas‘ūd ats-Tsaqafī.

mereka bergegas melaksanakannya, dan jika Rasūlullāh s.a.w. berbicara mereka diam seribu bahasa mendengarkannya, tidak pernah mereka menatap wajah mulia Rasūlullāh s.a.w., sehingga ketika ‘Urwah kembali ke kaum Quraisy dia berkata:

“Wahai para pemuka kaum Quraisy, aku telah datang ke kerajaan Kisra (Persia) dalam keagungannya dan aku telah datang ke kerajaan Kaisar (Romawi) dalam kekuasaannya, dan aku telah datang ke kerajaan Najasyi (Ethiopia) dalam kebesarannya, dan sungguh demi Allah aku tidak melihat penghormatan kerajaan di suatu kaum semisal Muḥammad di antara sahabatnya.”

Dan jika kita ingin mengetahui kisah yang mulia bagaimana contoh adab yang lebih mulia dan agung, maka ketahuilah dari Sayyidinā ‘Abbās r.a. paman Baginda Rasūlullāh s.a.w., ketika ditanya oleh Rasūlullāh s.a.w., sebagai berikut:

Ana akbaru aw anta?” (Aku yang lebih besar atau dirimu?)

Maka dijawab oleh Sayyidinā ‘Abbās:

“Engkau lebih besar dan mulia akan tetapi aku lebih aku darimu ya Rasūlullāh.”

Dan kejadian ini terulang di antara para sahabat Rasūl s.a.w. yang menunjukkan tentang pemahaman yang sempurna dan adab yang lengkap, tidak tergerus oleh kelalaian dan kelupaan.

Diriwayatkan oleh Imām Ibn Ḥajar rhm. tentang sahabat Sa‘īd ibn Yarbu‘ al-Makhzūmī r.a. bahwasanya Baginda Rasūlullāh s.a.w. pernah bertanya kepadanya:

Ayyunā akbaru aw anta?” (Siapa yang lebih besar di antara kita, aku ataukah dirimu?)

Maka dijawab oleh Sahabat Sa‘īd ibn Yarbu‘:

“Engkau lebih besar dan lebih baik dariku dan aku lebih tua umurku ya Rasūlullāh.”

Dan jika kita membaca kisah mulia ini, kita akan lebih takjub ketika mengerti bahwa pengagungan mereka terhadap Rasūlullāh s.a.w. tidak terpisahkan sedikitpun baik ketika mereka di hadapan Rasūlullāh s.a.w., atau di belakangnya ataupun dekat maupun jauh. Ketika Sayyidinā ‘Utsmān ibn ‘Affān r.a. bertanya kepada sahabat Qubats ibn Asyam al-Kanānī r.a. sebagai berikut:

“Engkau lebih besar atau Rasūlullāh s.a.w. yang lebih besar? (Maksudnya menanyakan usia).

Maka dijawab oleh sahabat Qubats ibn Asyam:

“Rasūlullāh s.a.w. lebih besar dariku, dan aku lebih dulu darinya waktu kelahirannya.”

Inilah adab yang sesungguhnya harus menghiasi pribadi seorang muslim, dan mengetahui bahwa sesungguhnya dia-lah utusan (Rasūlullāh s.a.w.) dalam keadaan hidupnya maupun wafatnya, dan dari sinilah perangai akhlak yang menguji keimanan seroang muslim, yang menggambarkan bagaimana penghormatannya kepada Rasūlullāh s.a.w. di hatinya, dan memaknai bagaimana tingginya kedudukan yang mulia Rasūlullāh s.a.w. di sisinya, dahulu kala para salafunā-sh-shāliḥ adalah contoh nyata bagi kita terhadap adab yang mulia ini, bahkan adab dan pengagungan mereka kepada Rasūlullāh s.a.w. menjadi suatu hal yang menakjubkan untuk kita simak.

Dan pada bab berikutnya, maka akan kami susunkan bab khusus terkait pengagungan kepada Baginda Rasūlullāh s.a.w. yang mulia.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *