5-5 Hawa’ Binti Yazid Ibn-is-Sakan al-Anshariyyah (Istri Qais Ibn-ul-Khathim) – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW

Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah s.a.w.
(Judul Asli: Nisā’u Ḥaul-ar-Rasūl s.a.w.; al-Qudwat-ul-Ḥasanati wal-Uswat-uth-Thayyibah li Nisā’-il-Usrat-il-Muslimah).
Oleh: Muhammad Ibrahim Salim.

Penerjemah: Abdul Hayyie al-Kattani, Zahrul Fata
Penerbit: GEMA INSANI PRESS

Rangkaian Pos: 005 Wanita Muslimah Teladan Sebagai Pembaiat dan Utusan | Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW
  1. 1.5-1 Umayyah Binti Raqiqah – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW
  2. 2.5-2 Mu’adzah (Budak ‘Abdullah bin Ubay bin Salul) – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW
  3. 3.5-3 Hindun Binti ‘Utbah – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW
  4. 4.5-4 Asma’ Binti Yazid Ibn-is-Sakan al-Anshariyyah – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW
  5. 5.Anda Sedang Membaca: 5-5 Hawa’ Binti Yazid Ibn-is-Sakan al-Anshariyyah (Istri Qais Ibn-ul-Khathim) – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW
  6. 6.5-6 Ummu Ri’lah al-Qusyairiyyah – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW

5. HAWĀ’ BINTI YAZĪD IBN-US-SAKAN AL-ANSHĀRIYAH (ISTRI QAIS IBN-UL-KHATHĪM)

Dia juga wanita teladan dalam keimanannya kepada Allah dan Rasūl-Nya dan pengorbanan di jalan-Nya. Di Makkah, Hawā’ telah masuk Islam dan membai‘at Nabi Muḥammad s.a.w. sebelum Hijrah, ia pun menjadi penganut Islam yang baik tanpa sepengetahuan suaminya. Suaminya adalah Qais bin al-Khathīm, seorang penyair dari Dzal-Majaz. (161) Suatu hari, Qais didatangi Rasūlullāh s.a.w. dan mengajaknya masuk Islam. Qais berkata: “Alangkah mulianya ajakanmu. Akan tetapi, peperangan benar-benar telah menyibukkanku untuk membicarakan hal ini.” Beliau lalu berkata: “Wahai Abū Zaid (Qais bin al-Khathīm), saya mendapatkan kabar tentang istrimu, Hawā’ bahwa kamu sering memperlakukannya dengan tidak baik. Dia telah pergi dari agamamu maka bertakwalah kamu kepada Allah dan jagalah dia karena saya dan jangan sakiti dia!.” “Baik (wahai Rasūl), dengan penuh hormat, saya melakukan yang anda inginkan, tetapi saya pernah menyakitinya kecuali demi kebaikan,” jawab Qais.

Sampai suatu hari, Qais kembali ke Madīnah lalu ia berkata kepada istrinya: “Wahai Hawā’, saya telah bertemu sahabatmu Muḥammad dan dia memintaku untuk menjagamu demi dia. Dan demi Allah, aku akan menepatinya dengan apa yang telah kamu berikan. Berbuatlah sekehendakmu, saya tidak akan mengusikmu lagi.”

Hawā’ lalu menunjukkan keislamannya setelah ia rahasiakan dari Qais tidak menghalanginya sedikit pun. Suatu ketika, ada seseorang yang berkata (kepada Qais): “Istrimu telah ikut agama Muḥammad!!” Qais menjawab: “Aku telah berjanji kepada Muḥammad untuk tidak menyakitinya dan senantiasa menjaganya demi Muḥammad.” (172)

Catatan:

  1. 16). Nama salah satu pasar di Makkah, seperti “‘Ukkāz” dan “Majnah”. Pasar itu menjadi tempat bertemunya para penyair dan utusan-utusan.
  2. 17). Baca Thabaqātu Ibni Sa‘ad, al-Istī‘āb, al-Ishābah, Asad-ul-Ghābah.
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *