Hati Senang

5-2 Kepemimpinan Pasca Rasul – ‘Aqa’iduna – Syaikh Makarim Syirazi

Inikah Keyakinan Kita?
Oleh: Nasir Makarim Syirazi
(Judul Asli: ‘Aqū’idunā)

Penerjemah: Toha al-Musawa
Penerbit: Penerbit al-Mu‘ammal

Diketik oleh: Zaidah Melani

Rangkaian Pos: 005 Kepemimpinan Pasca Rasul | 'Aqa'iduna - Syaikh Makarim Syirazi
  1. 1.5-1 Kepemimpinan Pasca Rasul – ‘Aqa’iduna – Syaikh Makarim Syirazi
  2. 2.Anda Sedang Membaca: 5-2 Kepemimpinan Pasca Rasul – ‘Aqa’iduna – Syaikh Makarim Syirazi
  3. 3.5-3 Kepemimpinan Pasca Rasul – ‘Aqa’iduna – Syaikh Makarim Syirazi

Pengangkatan Imām ‘Alī a.s. oleh Nabi Saw

Kita meyakini bahwa Rasūl Saw telah berkali-kali, dalam berbagai kesempatan yang berbeda, memperkenalkan Imām ‘Alī as sebagai pengganti beliau. Salah satunya adalah di Ghadir Khum di dekat Zuhfah setelah melaksanakan Haji Wada, di antara ribuan orang yang telah menunaikan haji. Beliau menyampaikan khutbah sebagai berikut:

“Wahai manusia! Bukankah aku lebih utama atas diri kalian ketimbang diri kalian sendiri?”

Mereka menjawab: “Benar.”

Lantas beliau bersabda:

“Barang siapa yang menjadikan aku sebagai walinya, maka ‘Alī adalah walinya.”

Karena tujuan kita dalam menerangkan aqidah ini bukanlah untuk menyampaikan argumentasi secara terperinci, serta membahasnya dengan penuh ketegangan, maka cukuplah hadits di atas menunjukkan bahwa ia tidak dapat dengan mudah dilewatkan begitu saja, atau ditafsirkan secara sederhana; (karena) Rasūl Saw telah menyampaikannya secara resmi dengan penuh penekanan.

Bukankah maksud dari hadits tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Ibnu Atsīr dalam kitabnya Al-Kāmil ketika Rasūlullāh Saw memulai dakwahnya Setelah turun ayat:

Wa andzir ‘asyiratak-al-Aqrabīna

Beliau mengumpulkan keluarganya dan menyampaikan Islam kepada mereka, seraya bersabda:

“Siapakah di antara kalian yang akan menolongku dalam urusan ini, maka dia akan menjadi saudaraku, wasih-ku, dan khalifahku di antara kamu sekalian.”

Tak seorangpun yang menjawab ajakan Nabi Saw, kecuali Imām ‘Alī a.s., yang berkata:

“Aku, wahai Nabi Allah, yang akan menjadi wasir dan penolongmu dalam urusan ini.”

Lalu, Rasūl Saw berpaling kearah beliau seraya bersabda:

“Inilah saudaraku, washi-ku, dan khalifahku aku diantara kamu sekalian.”

Bukankah inilah persoalan yang ingin disampaikan dan ditekankan kembali oleh Nabi Saw pada saat-saat terakhir kehidupan beliau? Berdasarkan hadits yang disampaikan oleh Bukhārī, Nabi Saw memberikan perintah kepada mereka seraya berkata:

“Berikan kepadaku sesuatu agar aku dapat menuliskan surat untuk kalian, sehingga kalian tidak akan tersesat.”

Dalam lanjutan hadits di atas disebutkan bahwa sebagian sahabat menentang perintah Rasūl Saw itu, bahkan melontarkan ucapan yang tidak sepantasnya diucapkan di hadapan Rasūlullāh Saw dan menjadi penyebab tidak terwujudnya upaya penulisan hal itu.

Kami kembali mengingatkan bahwa tujuan kami di sini adalah menerangkan persoalan akidah dengan argumentasi-argumentasi yang sangat singkat, bukan dengan argumentasi-argumentasi yang panjang. Sebab, apabila yang terakhir ini kami lakukan, maka bentuk pembahasan buku ini tentu akan menjadi lain.

 

Penetapan Masing-masing Imām terhadap Penerusnya

Kita meyakini bahwa setiap Imām di antara dua belas Imām menjadi Imām setelah ditetapkan oleh Imām sebelumnya. Imām pertama adalah Imām ‘Alī Bin Abī Thālib a.s., lalu putra beliau, Imām Ḥasan a.s. Setelah Imām Ḥasan a.s., kemudian Imām Ḥusain bin ‘Alī a.s., penghulu orang yang telah syahid. Setelah Imām Ḥusain bin ‘Alī a.s., lalu Imām ‘Alī bin Ḥusain a.s. Pasca Imām ‘Alī bin Ḥusain a.s., imamah kemudian beralih kepada Imām Muḥammad bin ‘Alī al-Bāqir a.s. Setelah Imām Muḥammad bin ‘Alī al-Bāqir a.s., imamah dilanjutkan oleh Imām Ja‘far bin Muḥammad ash-Shādiq a.s. Setelah Imām Ja‘far bin Muḥammad ash-Shādiq a.s., kemudian Imām Mūsā bin Ja far a.s. Pasca imamah Imām Mūsā bin Ja‘far a.s., lantas Imām ‘Alī bin Mūsā Ar-Ridhā a.s. Setelah Imām ‘Alī bin Mūsā Ar-Ridhā a.s., lalu Imām Muḥammad bin ‘Alī At-Taqī a.s. Setelah Imām Muḥammad bin ‘Alī At-Taqī a.s., kemudian Imām ‘Alī bin Muḥammad an-Naqī a.s. Setelah Imām ‘Alī bin Muḥammad an-Naqī a.s., lalu Imām Ḥasan bin ‘Alī a.s. Dan Imām yang terakhir adalah Imām Muḥammad bin Ḥasan al-Mahdī a.s., di mana kita semua meyakini bahwa beliau ini masih hidup hingga sekarang.

Kita mengetahui bahwa keyakinan terhadap Imām Mahdī, yaitu orang yang akan memenuhi alam ini dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi oleh kezhaliman dan dosa-dosa, bukanlah hanya keyakinan kita saja. Bahkan, semua orang Islam meyakini akan kemunculan Imām Mahdī ini; sebagian ulama Ahl-us-Sunnah telah menulis kitab tentang kemutawatiran hadits yang berkenaan dengan Imām Mahdī ini.

Dalam sebuah risalah yang terbit beberapa tahun yang lalu, yang dikeluarkan oleh Rābithah Al-Alami Al-Islāmī dalam rangka menjawab pertanyaan seputar Imām Mahdī, terdapat penekanan tentang kepastian munculnya Imām Mahdī. Di situ juga dinukil riwayat-riwayat tentang Imām Mahdī yang berasal dari berbagai kitab yang diakui keotentikannya. Kendati mereka meyakini bahwa Imām Mahdī baru akan terlahir di akhir zaman, tetapi kita percaya bahwa Imām Mahdī tersebut adalah Imam ke-12 dan sekarang masih hidup. Beliau akan muncul (kembali) setelah mendapatkan perintah dari Allah SWT untuk membersihkan bumi ini dari seluruh bentuk kezhaliman dan menegakkan keadilan.

 

‘Alī a.s., Sahabat Nabi yang Paling Utama

Kita meyakini bahwa Imām ‘Alī a.s. adalah sahabat yang paling utama serta merupakan orang yang memiliki derajat tertinggi setelah Rasūlullāh Saw. Kendati demikian, kita mengharamkan segala jenis penuhanan (ghuluw) dan sikap yang berlebih-lebihan terhadap sosok Imām ‘Alī a.s. Dan kita pun meyakini bahwa orang yang menyadarkan Maqām kebutuhan (ulūhiyyah) dengan menganggap Imām ‘Alī a.s. sebagai Tuhan atau sejenisnya patut dihukumi sebagai kafir dan dianggap setelah keluar dari barisan Islam (dan kaum muslimin).

Kita terlepas dari diri keyakinan mereka yang seperti itu. Namun, pada bola disayangkan bahwa kadangkala nama mereka itu digandengkan (atau dihubung-hubungkan) dengan nama Syī‘ah, sehingga penyebab kesalahan (pandangan dan sikap) dalam hal ini. Padahal, para ulama Syī‘ah, dalam karya-karyanya, telah menganggap mereka itu keluar dari agama Islam.

 

Sahabat dalam Pandangan Akal dan Sejarah

Kita meyakini bahwa di antara para sahabat Rasūlullāh Saw terdapat orang-orang Agung yang memiliki jiwa pengorbanan yang tinggi serta berkepribadian mulia, sebagaimana al-Qur’ān pun telah menjelaskan tentang keutamaan mereka ini. Akan tetapi, ini tidak berarti bahwa kita dapat menganggap seluruh sahabat itu ma‘shūm dan menyimpulkan bahwa semua perilaku sahabat itu benar dan tanpa cela. Sebab, dalam al-Qur’ān sendiri terdapat ayat ayat yang menerangkan tentang orang-orang munafik (dalam Surat at-Taubah, an-Nūr, dan al-Munāfiqūn). Mereka ini ada di antara para sahabat, bahkan secara nyata para sahabat tersebut termasuk di antara orang-orang munafik yang sangat dicela al-Qur’ān.

Setelah zaman Rasūl Saw, ada sebagian sahabat yang menyalakan api peperangan di antara kaum muslimin, lalu mereka batalkan niatnya terhadap imam dan khalifah mereka, yang menyebabkan pertumpahan darah ribuan kaum muslimin. Apakah dengan semua itu kita dapat tetap beranggapan bahwa mereka itu seluruhnya suci dan terbebas dari semua kesalahan?

Dengan kata lain, bagaimana mungkin kita dapat membenarkan perilaku kedua kelompok (dalam Perang Jamal dan Perang Shiffīn), yang telah menyalakan api peperangan dan perpecahan di antara kaum muslimin? Ini merupakan hal yang saling bertentangan dan tidak dapat kita terima. Untuk mencari kebenaran atas perilaku para sahabat ini, sebagian kalangan telah menyadarkan permasalahan ini kepada persoalan ijtihad, dengan mengatakan bahwa salah satu di antara kedua kelompok itu benar dan yang lain salah. Namun, karena mereka beramal sesuai dengan hasil ijtihad mereka, maka mereka semua telah dimaafkan di sisi Allah SWT, bahkan beroleh pahala. Sungguh, kita sangat sulit untuk menerima hal ini.

Bagaimana mungkin, hanya dengan balasan istirahat saja mereka dapat membatalkan bakiak terhadap pengganti Rasūl Saw, yang selalu menyalahkan api peperangan serta menumpahkan darah ribuan orang yang tidak berdosa. Kalau pertumpahan darah itu dapat dicarikan pembenarannya dengan ijtihad, lantas perbuatan apalagi yang tidak dapat dicarikan pembenarannya dengan itu.

Dengan lebih jelas dapat kita katakan bahwa kita meyakini, semua manusia bergantung pada amal perbuatannya, yang termasuk para sahabat Rasūlullāh Saw, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam al-Qur’ān:

Sesungguhnya orang yang paling mulia disisi Allah adalah orang yang paling taqwa di sisi Allah. (Al-Ḥujarāt: 13)

Ayat ini juga mencangkup mereka. Oleh karena itu, kita harus menjelaskan terlebih dahulu kondisi mereka dengan amal perbuatannya, selalu menghukumi mereka secara logis serta kita katakan: “Mereka yang pada zaman Rasūl Saw yang termasuk sahabatnya ikhlas, lalu setelah Rasūl Saw wafat mereka tetap bekerja keras untuk membela Islam, tetap setia pada janji mereka terhadap al-Qur’ān, maka mereka dapat kita anggap sebagai sahabat yang baik yang harus kita hormati.”

Adapun mereka yang di zaman Rasūl Saw termasuk dalam barisan kaum munafik dan telah melakukan hal-hal yang membuat Rasūl Saw sedih, atau setelah Rasūl Saw wafat mereka berubah menjadi jahat serta melakukan perkara-perkara yang merugikan Islam dan kaum muslimin, maka kita tidak akan pernah menyukai mereka.

Allah SWT berfirman dalam al-Qur’ān:

Engkau tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasūl-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dalam pertolongan yang datang daripada-Nya. (al-Mujādalah: 22)

Menurut keyakinan kita, orang-orang yang telah mengganggu Rasūl Saw, baik di zaman beliau masih hidup maupun setelah beliau wafat, tidak berhak untuk mendapatkan pujian.

Namun, kita tidak dapat melupakan bahwa terdapat sekelompok sahabat yang telah berjuang bagi kemajuan Islam, dan Allah SWT pun telah menguji mereka. Begitu pula, orang-orang setelah mereka, yang akan dilahirkan hingga akhir dunia, yang meneruskan jalan dan program para sahabat yang benar; mereka berhak mendapatkan segala jenis pujian.

Dalam al-Qur’ān Allah SWT berfirman:

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhājirīn dan Anshār dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun berdoa kepada Allah. (Al-Taubah: 100)

Ini ringkasan aqidah kita tentang para sahabat

Bagikan ('Amal Jāriyah):
Langganan buletin Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru di hatisenang.com

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas