4-6 Fathimah Binti ‘Utbah bin Rabi’ah (Saudari Hindun Binti ‘Utbah) – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW

Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah s.a.w.
(Judul Asli: Nisā’u Ḥaul-ar-Rasūl s.a.w.; al-Qudwat-ul-Ḥasanati wal-Uswat-uth-Thayyibah li Nisā’-il-Usrat-il-Muslimah).
Oleh: Muhammad Ibrahim Salim.

Penerjemah: Abdul Hayyie al-Kattani, Zahrul Fata
Penerbit: GEMA INSANI PRESS

Rangkaian Pos: 004 Wanita Muslimah Teladan Sebagai Saudari | Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW
  1. 1.4-1 Shafiyyah Binti ‘Abd-ul-Muththalib (Saudari Hamzah) – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW
  2. 2.4-2 Fathimah binti al-Khaththab bin Nufail (Saudari ‘Umar al-Faruq) – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW
  3. 3.4-3 Fathimah bint-il-Walid ibn-ul-Mughirah (Saudari Khalid bin Walid) – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW
  4. 4.4-4 Saffanah Binti Hatim ath-Tha’i (Saudari ‘Adi bin Hatim) – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW
  5. 5.4-5 Al-Fari’ah Binti Abish-Shalt ats-Tsaqafiyyah (Saudari Umayyah bin Abish-Shalt) – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW
  6. 6.Anda Sedang Membaca: 4-6 Fathimah Binti ‘Utbah bin Rabi’ah (Saudari Hindun Binti ‘Utbah) – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW

6. FĀTHIMAH BINTI ‘UTBAH BIN RABĪ‘AH (SAUDARI HINDUN BINTI ‘UTBAH)

Bersama dengan saudarinya (Hindun binti ‘Utbah), Fāthimah binti ‘Utbah termasuk rombongan wanita muslimah yang berbaiat di hadapan Rasūlullāh s.a.w. setelah penaklukan kota Makkah (Fatḥu Makkah). Suatu hari, setelah masuk Islam, Fāthimah mendatangi Rasūlullāh s.a.w. dan berkata: “Wahai Rasūlullāh, dulu (sebelum masuk Islam) tidak ada kubah (bangunan masjid, penj.) yang ingin saya hancurkan di muka bumi ini selain kubahmu. Akan tetapi sekarang (setelah masuk Islam), tidak ada kubah yang paling saya cintai di muka bumi ini selain kubahmu.”

Mendengar perkataan Fāthimah tersebut, Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

Sesungguhnya, tidak sempurna iman kalian sampai saya adalah orang yang lebih dicintainya daripada (dia mencintai) dirinya sendiri.

Setelah memeluk Islam, sikap Fāthimah terhadap Islam berubah drastis. Padahal, sebelum masuk Islam, dialah – bisa dikatakan – orang yang selalu memusuhi “Bani Hāsyim”. Suatu hari dia berkata: “Wahai Bani Hāsyim, hati saya tidak akan pernah mencintaimu selama-lamanya. Demikian pula ayah, paman, dan saudaraku (juga membencimu).”

Fāthimah menikah dengan ‘Aqīl bin Abū Thālib dan dia termasuk wanita yang banyak hartanya. (141)

Catatan:

  1. 14). Lihat kitab Thabaqātu Ibni Sa‘ad, Asad-ul-Ghābah karangan Ibnu Atsīr dan al-Bayānu wat-Tabāyun karangan al-Jāhidz.
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *