skip to Main Content
Post Series: 004 Tahapan Godaan - Minhaj-ul-Abidin
4-1-8 Tahapan Godaan – Rezeki & Tuntutan Nafsu | Minhaj-ul-Abidin

Dari Buku:

Minhajul ‘Abidin
Oleh: Imam al-Ghazali


Penerjemah: Moh. Syamsi Hasan
Penerbit: Penerbit Amalia Surabaya

Seandainya ditanyakan: “Apakah orang yang tafwīdh (menyerahkan urusan kepada Allah) itu akan aman dari kerusakan, sementara dunia adalah negeri tempat cobaan?”

Ketahuilah, bahwa seseorang tidaklah akan ber-tafwīdh, melainkan secara umum, tentu ia akan mendapatkan kemaslahatan. Namun bisa juga terjadi, mendapatkan yang tidak baik, tetapi sangat langka. Lantaran Allah hendak mengujinya, masihkah tetap konsisten dengan penyerahannya ataukah sebaliknya. Jika ternyata, melorot dari kedudukan tafwīdh. Maka tidak ada lagi kebaikan, tetapi justru kehinaan, karena posisinya yang jauh meninggalkan tafwīdh. Demikianlah kata Syaikh Abū ‘Amr, raḥimahullāh.

Ada yang mengatakan bahwa orang yang menyerahkan urusannya kepada Allah, tentu Allah akan memberikan kemaslahatan dari urusannya itu baginya. Sementara kehinaan itu bakal terjadi karena mengabaikan tafwīdh. Penempatan tafwīdh yang tidak tepat, hanyalah akan menimbulkan kerusakan. Pengambilan sikap tafwīdh itu, hanya pada persoalan yang masih meragukan, apakah mengandung kerusakan atau kemaslahatan. Yang demikian ini, merupakan salah satu pendapat yang lebih utama dari dua pendapat, menurut guruku. Sebab, kalau Allah tidak menghendaki apa yang baik buat hamba-Nya, tentu tidak ada pendorong yang kuat untuk melakukan tafwīdh.

Jika ditanyakan: “Apakah wajib bagi Allah, berbuat sesuatu yang paling utama bagi orang yang menyerahkan urusan kepada-Nya.”

Ketahuilah, bahwa mustahil bagi Allah, berkewajiban berbuat sesuatu buat hamba-Nya. Tidak ada kewajiban bagi Allah terhadap hamba-Nya. Memang kadang-kadang Allah melakukan apa yang lebih baik bagi hamba-Nya, tetapi bukan yang lebih utama sebagai hikmah perbuatan Allah.

Tidakkah anda tahu, bahwa ketika Rasūlullāh dan para sahabat melakukan suatu perjalanan, Allah menakdirkan Rasūlullāh s.a.w. dan para sahabatnya tertidur sepanjang malam hingga matahari terbit. Sehingga, mereka tidak mengerjakan shalat malam dan shalat Fajar (Subuh) tepat pada waktunya. Padahal seperti kita ketahui, shalat lebih utama daripada tidur.

Bisa jadi Allah menakdirkan seseorang kaya raya dan hidup penuh kenikmatan di dunia, meskipun fakir adalah lebih utama. Terkadang Allah menakdirkan seseorang sibuk mengurusi istri dan anak-anaknya, sekalipun mengosongkan diri untuk fokus beribadah kepada Allah itu, lebih utama. Sungguh, Allah mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Yang demikian ini, seperti halnya seorang dokter ahli yang memilih memberikan kepada pasiennya air gandum, meskipun air gula adalah lebih enak. Sebab, dokter tahu bahwa si sakit bisa sembuh dengan minum air gandum.

Maksudnya, ketika dalam kondisi seperti itu, maka keselamatan si pasien lebih penting agar tidak binasa. Sebab, tidak ada gunanya keutamaan dan kemuliaan yang disertai penderitaan dan kebinasaan.

Jika ditanyakan: “Apakah orang yang menyerahkan urusannya kepada Allah itu mempunyai pilihan?”

Ketahuilah, bahwa yang shaḥīḥ menurut ulama kita, adalah bahwa orang yang menyerahkan urusannya kepada Allah itu mempunyai pilihan dan hal itu tidak membuatnya tercela. Artinya, bahwa apabila dalam sesuatu yang lebih utama dan lebih afdhal itu mengandung kemaslahatan bagi dirinya, dan itu yang diinginkan dari Allah agar menjadikannya sebagai sebab kebaikan dan kesembuhannya. Sama halnya dengan orang sakit yang berkata kepada dokter: “Berilah aku obat air gula, bukan air gandum, kalau memang kesehatan tubuhku bisa diperoleh dari kedua-duanya, agar aku mendapatkan terutama sekaligus kesehatan.”

Demikian pula, bila seorang hamba memohon kepada Allah agar menjadikan kebaikan dirinya dalam perkara yang lebih utama, supaya ia memperoleh keutamaan dan kebaikan sekaligus. Tetapi dengan syarat, kalau Allah memilihkan untuknya kebaikan pada selain yang lebih utama, ia harus rela dengan hal itu.

Apabila ada yang bertanya: “Mengapa seorang hamba mesti memilih yang lebih utama, bukan yang lebih baik?”

Ketahuilah, bahwa perbedaan antara keduanya adalah, karena seseorang mengetahui mana yang lebih utama dibanding yang kurang utama, tetapi tidak mengetahui mana yang baik dan mana yang rusak. Yang demikian itu, agar ia dapat menentukan keinginannya dengan bijak.

Kemudian, makna pilihan hamba kepada apa yang lebih utama itu, berarti ia mengharapkan dari Allah, semoga Allah berkenan menjadikan kebaikan bagi dirinya dalam perkara yang lebih utama dan memilihkan untuknya apa yang lebih utama itu, serta menakdirkan hal tersebut baginya. Jadi bukan berarti seseorang bertindak menurut pendapatnya sendiri mengenai apa yang dianggap lebih utama.

Apa yang kuterangkan ini, merupakan versi terdalam dari ilmu tashawwuf dan rahasia-rahasianya, seandainya tidak terdorong oleh kebutuhan yang sangat mendesak, tentu tidak perlu aku menerangkannya. Karena, ilmu ini merupakan bagian dari pergolakan lautan ilmu mukāsyafah. Aku hanya menerangkan faedah yang memuaskan dalam kitab ini dan maksudku hanyalah menjelaskan, supaya para ulama besar dan orang-orang yang baru mulai mendalami ilmu ini dapat mengambil manfaat, in syā’ Allāh.

 

3. Qadhā’ dan Manifestasinya.

‘Awāridh (godaan) ketiga adalah qadha’ dan macam-macam realisasinya. Dalam hal ini, cukuplah kiranya bagi anda untuk bersikap ridhā’ terhadap qadhā’ Allah. Yang demikian itu, karena dua hal, yaitu:

Pertama: Agar dapat memusatkan segala perhatian untuk ibadah. Sebab, jika anda tidak ridhā’ terhadap qadhā’ Allah, hati anda selalu diliputi kegelisahan, sehingga anda senantiasa berkeluh-kesah, mengapa begini dan kenapa bisa jadi begini? Apabila hati anda selalu disibukkan oleh keresahan, maka bagaimana anda bisa berkonsentrasi untuk beribadah. Karena hati anda hanya satu dan sudah anda penuhi dengan kegelisahan, begini dan begitu mengenai persoalan keduniaan. Tidak tersisa lagi ruang di hati anda untuk berzikir dan beribadah kepada Allah, dan memikirkan akhirat.

Benar apa yang dikatakan Syaikh Syaqīq al-Balkhī: “Kegelisahan menyesali masalah-masalah yang telah berlalu dan memikirkan perkara yang akan datang, sungguh melenyapkan keberkahan waktu hidup anda yang sedang anda lewati.

Kedua: Dikhawatirkan anda mendapat murka Allah. Dalam suatu riwayat diceritakan, bahwasanya ada seorang nabi mengadu kepada Allah mengenai keresahan yang dialaminya. Lalu Allah menjawab pengaduan itu dengan firman-Nya: “Mengapa anda mengadu kepada-Ku? Aku bukan Tuhan yang pantas untuk dicela. Memang begitulah realitas keadaan anda, sebagaimana yang ada dalam ilmu ghaib (Lauḥ-ul-Maḥfūzh). Mengapa anda tidak suka terhadap qadhā’-Ku? Apakah anda berkeinginan agar Aku merubah dunia karena anda? Atau anda berkeinginan agar Aku mengganti Lauḥ-ul-Maḥfūzh, sebab anda? Lalu Aku memutuskan apa saja menurut apa yang anda kehendaki, bukan menurut apa yang Aku kehendaki? Supaya apa yang anda sukai bisa terwujud, bukan menurut apa yang Aku sukai? Aku bersumpah, demi keagungan-Ku, bahwa apa yang anda adukan kepada-Ku itu, kalau tergerak di hati anda sekali lagi, sungguh Aku akan lepas baju kenabian dari anda, lalu Aku akan ceburkan anda ke dalam neraka, dan Aku tidak mempedulikan anda.”

Orang yang berakal sehat, tentu benar-benar mendengarkan dan memperhatikan didikan dari Tuhan yang sangat penting ini dan ancaman Allah yang sangat mengerikan ini terhadap para nabi-Nya dan hamba-hambaNya yang istimewa itu. Terhadap mereka para kekasihnya saja begitu, lalu bagaimana kira-kira tindakan Allah terhadap selain nabi?

Kemudian, coba perhatikan firman Allah tersebut di atas: “Seandainya apa yang anda adukan kepada-Ku itu tergerak sekali lagi di dalam hati anda.” Ancaman ini ditujukan kepada gerak-gerik hati, lalu bagaimana kalau orang yang menghadapi qadhā’ itu berkeluh-kesah, berteriak-teriak, memaki-maki dan mengadu kepada Tuhannya di depan orang banyak serta mengajak teman-temannya untuk membantu pengaduannya.

Ancaman tersebut ditujukan kepada orang yang tidak suka terhadap qadhā’ Allah yang hanya dilakukan sekali saja, lalu bagimanakah ancaman Allah terhadap orang yang selama hidupnya selalu membenci qadhā’? Ancaman ini untuk orang yang mengadu kepada Allah, lalu bagaimana murka Allah kepada orang yang mengadu kepada selain Allah?

Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan nafsu kita, dari keburukan amal kita. Dan kita memohon kepada Allah, semoga berkenan mengampuni dosa-dosa kita, memaafkan keburukan tata krama kita serta berkenan membaguskan keadaan kita, dengan pengawasan Allah. Sungguh, Allah adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Tinggalkan Pesan

Jadilah yang pertama berkomentar!

avatar
1000
  Berlangganan  
Pemberitahuan untuk
  • Diposting Pada: 7:13 AM 05/11/2018
  • Dalam Kategori: Tasawwuf
  • Terdiri Dari: 1188 Kata
  • Dilihat: 14 Kali.
×
Back To Top