skip to Main Content
Post Series: 003 Tahapan Rintangan - Minhaj-ul-Abidin
3-3-2 Tahapan Rintangan – Syaithan (2/4) | Minhaj-ul-Abidin

Dari Buku:

Minhajul ‘Abidin
Oleh: Imam al-Ghazali


Penerjemah: Moh. Syamsi Hasan
Penerbit: Penerbit Amalia Surabaya

Jika Anda bertanya: “Bagaimana aku bisa mengetahui tipu daya syaithan dan bagaimana cara untuk mengetahui hal itu?”

Ketahuilah bahwa syaithan itu mempunyai sesuatu yang disebut waswas. Waswas ini berfungsi sebagai panah yang ditembakkan kepada kita. Hal yang demikian itu dapat dimengerti sejelas-jelasnya dengan pengetahuan tentang gerak hati dan pembagiannya.

Yang kedua, sesungguhnya syaithan itu memiliki tipu daya yang bisa disamakan dengan jaring yang dipasang buat menjerat anak turun Ādam. Hal ini juga akan menjadi jelas bagi Anda, jika Anda mengetahui tipu daya syaithan, sifat-sifatnya dan jalan-jalannya.

Para ulama kita telah banyak menjelaskan dalam bab-bab tentang gerak hati. Aku sendiri juga sudah menyusun sebuah kitab yang aku beri nama dengan judul Talbīs-ul-Iblīs. Sedangkan kitab Minhāj-ul-‘Ābidīn ini tidak dapat memuat keterangan panjang lebar mengenai hal ini. Namun, in syā’ Allāh, aku hendak menjelaskan inti dan pokok dari masing-masing khāthir (derak hati). Apabila anda pegangi benar-benar, in syā’ Allāh cukup memadahi bagi Anda.

Adapun asal timbulnya khāthir itu ialah bahwa Allah s.w.t. menugasi di hati anak Adam, satu malaikat yang mengajak berbuat kebaikan. Malaikat itu bernama Mulhim, sementara ajakannya disebut ilham. Untuk mengimbangi Malaikat Mulhim ini, Allah juga memberi kuasa syaithan yang mengajak anak turun Ādam untuk berbuat jahat. Syaithan itu bernama syaithan Waswas, dan ajakannya disebut waswasah.

Malaikat Mulhim tidak mengajak dan menyerukan manusia, melainkan kepada kebaikan, sedangkan syaithan waswas juga tidak mengajak manusia, kecuali pada kejahatan. Demikian menurut pendapat sebagian besar ulama kita.

Diceritakan dari guruku, bahwa syaithan itu kadang-kadang mengajak berbuat baik, tetapi maksudnya sangat jahat dan buruk. Misalnya, syaithan mengajak manusia untuk melakukan perbuatan utama, untuk mencegah agar ia tidak melakukan kebaikan yang jauh lebih utama, atau mengajak manusia berbuat baik dengan maksud menarik manusia itu kepada dosa besar, di mana kebaikannya tidak seimbang dengan kejahatan yang diperbuat, seperti ‘ujub, riyā’ dan sebagainya.

Dua penyeru yang saling kontroversial dan bersifat gaib (Malaikat Mulhim dan syaithan Waswas) itu, selalu bertempat di hati manusia. Sementara itu, manusia bisa merasakan pendengaran hatinya terhadap ajakan-ajakan itu. Hal ini sesuai dengan keterangan hadits yang diriwayatkan, bahwa Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

إِذَا وُلِدَ لاِبْنِ آدَمَ مَوْلُوْدٌ قَرَنَ اللهُ سُبْحَانَهُ بِهِ مَلَكًا وَ قَرَنَ الشَّيْطَانُ بِهِ شَيْطَانًا فَالشَّيْطَانُ جَائِمٌ عَلى أُذُنِ قَلْبِ بْنِ آدَمَ الأَيْسَرِ وَ الْمَلَكُ جَائِمٌ عَلى أُذُنِ قَلْبِهِ الأَيْمَنِ فَهُمَا يَدْعُوَانِهِ

Artinya:

Apabila anak Ādam melahirkan anak, maka Allah menyertakan pada anak itu satu malaikat. Sementara syaithan juga menyertakan satu syaithan. Syaithan bertengger pada telinga hati manusia sebelah kiri dan malaikat bertengger pada telinga hati manusia sebelah kanan. Lalu keduanya mengajak manusia itu.

Nabi s.a.w. juga bersabda:

لِلشَّيْطَانِ لَمَّةٌ بِابْنِ آدَمَ وَ لِلْمَلَكِ لَمَّةٌ

Artinya:

Syaithan itu mempunyai tempat di hati anak turun Ādam dan malaikat juga mempunyai tempat.

Menempati dalam arti sebagai sebuah ajakan yang bisa dirasakan. Kemudian Allah menyertakan dalam konstruk manusia, sebuah tabiat yang cenderung kepada kesenangan-kesenangan dan mendapatkan kelezatan-kelezatan dengan tanpa mempertimbangkan baik buruknya. Itulah yang disebut hawa nafsu yang selalu mendorong manusia pada berbagai bahaya dan petaka. Itulah ketiga penyeru atau pembisik manusia.

Kemudian, sesudah keterangan pendahuluan ini, selanjutnya ketahuilah bahwa gerak-gerik hati itu adalah bekas atau gejala yang timbul di dalam hati seseorang, yang mendorong dan mengajaknya untuk melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan. Gejala-gejala ini disebut khāthir, karena berubah-ubahnya gerakan atau getaran-getaran di dalam hati.

Semua gerak-gerik (khawāthir) yang timbul di hati seseorang itu pada hakikatnya dari Allah s.w.t. namun khawāthir terbagi menjadi empat macam, yaitu:

  1. Khāthir yang ditimbulkan oleh Allah s.w.t. di dalam hati pada permulaan. Khāthir semacam ini hanya disebut khāthir.
  2. Khāthir yang diadakan Allah sesuai dengan tabiat manusia, yang disebut hawa nafsu, lalu ia disandarkan kepada nafsu itu.
  3. Khāthir yang dijadi Allah s.w.t. sesudah adanya ajakan Malaikat Mulhim. Lalu ia dinisbatkan pada khāthir ilham ini yang disebut dengan ilham.
  4. Kāhthir yang ditimbulkan, sesudah adanya ajakan syaithan. Khāthir ini disebut khāthir syaithāniy atau waswasah. Dinamakan demikian, karena waswasah itu gerak hati yang datang dari syaithan. Tetapi sebenarnya khāthir itu timbul sesudah ajakan dari syaithan, sehingga seolah-olah syaithan menyebabkan timbulnya khāthir ini.

Sesudah anda mengetahui macam-macam khāthir ini, perlu pula anda ketahui bahwa khāthir yang timbul pertama kali dari Allah s.w.t. itu kadang-kadang mengajak kepada kebaikan, untuk memuliakan dan menetapkan ujjah atas seseorang. Tetapi, kadang-kadang juga mengajak kepada kejelekan, untuk menguji dan memberatkan ujian.

Khāthir yang datang dari Malaikat Mulhim pasti mengajak kepada kebaikan, karena Malaikat Mulhim selalu memberikan nasihat dan menunjukkan laku baik. Dia tidak diutus melainkan untuk menjalankan tugas itu.

Sedangkan khāthir yang datang dari syaithan, tidak lain hanyalah mengajak kepada kejahatan, untuk menyesatkan manusia atau membuatnya tergelincir. Memang kadang-kadang mengajak kepada kebaikan namun maksudnya hanyalah menipu.

Sementara itu, khāthir yang datang dari hawa nafsu mengajak kepada kejahatan, dan pada hal-hal yang sama sekali tidak ada kebaikannya. Ia selalu mencegah seseorang berbuat kebaikan dan mendorong agar bertindak menyimpang.

Sungguh, aku mendapatkan keterangan dari sebagian ulama salaf, bahwa hawa nafsu itu terkadang juga mengajak kepada kebaikan, tetapi maksudnya adalah supaya orang berbuat buruk, sama halnya dengan syaithan. Demikianlah macam-macam lintasan atau gerak-gerik hati (khawāthir).

Selanjutnya anda perlu mengetahui tiga pasal, mengerti akan tiga pasal itu menjadi keharusan bagi anda, karena di dalamnya anda akan menemukan apa yang menjadi maksud dan tujuan anda.

Tiga pasal itu, ialah:

  1. Perbedaan antara khāthir baik dan khāthir jahat secara global (umum).
  2. Perbedaan antara khāthir buruk, apakah bersifat ibtida’iy (datang dari malaikat), atau terbilang syaithāniy (datang dari syaithan), atau hawā’iy (datang dari hawa nafsu), serta bagaimana cara membedakan tiga khawāthir tersebut? Karena masing-masing bisa menolak yang lain.
  3. Perbedaan antara khāthir baik, manakah yang terbilang khāthir ibtida’iy dan ilhāmiy, atau syaithāniy atau hawā’iy, agar dapat mengikuti khathir yang datang dari Allah s.w.t. (khāthir Ramāniy) atau dari Mulhim dan menjauhi khāthir yang datang dari syaithan dan hawa nafsu.

  • Diposting Pada: 9:20 AM 12/23/2017
  • Dalam Kategori: Tasawwuf
  • Terdiri Dari: 950 Kata
  • Dilihat: 2 Kali.
Back To Top