3-2 Hikmah Keagungan Dalam Firman Tentang Nuh – Fushush-ul-Hikam Mutiara Hikmah 27 Nabi

FUSHŪSH-UL-ḤIKAM
MUTIARA HIKMAH 27 NABI
Penulis: Ibn ‘Arabī

(Diterjemahkan dari judul asli: The Bezels of Wisdom)

Alih Bahasa: Ahmad Sahidah dan Nurjannah Arianti
Penerbit: PENERBIT DIADIT MEDIA

Rangkaian Pos: Hikmah Keagungan Dalam Firman Tentang Nuh - Fushush-ul-Hikam Mutiara Hikmah 27 Nabi
  1. 1.3-0 Catatan Pengantar – Hikmah Keagungan Dalam Firman Tentang Nuh – Fushush-ul-Hikam Mutiara Hikmah 27 Nabi
  2. 2.3-1 Hikmah Keagungan Dalam Firman Tentang Nuh – Fushush-ul-Hikam Mutiara Hikmah 27 Nabi
  3. 3.Anda Sedang Membaca: 3-2 Hikmah Keagungan Dalam Firman Tentang Nuh – Fushush-ul-Hikam Mutiara Hikmah 27 Nabi

Nūḥ, dalam hikmahnya, berkata pada mereka: “Niscaya Dia mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat”, (151) yang berarti pengetahuan dan refleksi intelektual, dan “memberikan kamu harta yang berlimpah”, (162) dengan mana Dia menyerahkan padamu untuk Diri-Nya. Ketika Dia melakukan hal ini, kamu akan melihat bentukmu pada Diri-Nya. Siapa pun yang membayangkan bahwa dia melihat Realitas Diri-Nya, tidak memiliki gnosis; yang memiliki gnosis (‘ārif) adalah yang mengetahui bahwa diri esensinya sajalah yang dia lihat sendiri. Jadi, manusia pada dasarnya dibagi menjadi manusia yang mengetahui (‘ālim) dan manusia yang tidak mengetahui (ghayr ‘ālim). Dan, “….. keturunannya”, (173) yang berarti bahwa hasil dari pemikiran diskursif biasa mereka, sementara yang dibutuhkan adalah kesetiaan pengetahuan pada kontemplasi, jauh dihilangkan dari buah pemikiran biasa. “(Hanya akan bertambah pada mereka) kerugian” (184) dan “perdagangan mereka akan merugi”, (195) berarti bahwa yang mereka pahami dan yang mereka bayangkan sebagai warisan mereka berasal dari mereka. Berkenaan dengan para pewaris Muḥammad (al-Muḥammadiyyīn), Dia berfirman: “Nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah jadikan kamu menguasainya.” (206) Dalam kasus Nūḥ – dan kaumnya – Dia berfirman: “Apakah kamu tidak mengambil orang yang terpercaya selain Aku?” (217) Dengan ini, Dia menegaskan bahwa, dalam kasus mereka, kekuatannya adalah milik mereka, Allah sebagai terpercaya bagi mereka, sementara dalam kasus pewaris Muḥammad, mereka adalah wakil-wakil Allah dalam kerajaan-Nya. Allah sebagai Pemilik dan Pengawas, sementara mereka adalah hanya pemilik, dalam arti mereka adalah wakil-wakil.

Jadi, Realitas adalah Penguasa Kerajaan, sebagaimana yang ditunjukkan oleh at-Tirmidzī. (228).

Dan mereka merencanakan suatu konspirasi besar”, (239) yang berarti seruan pada Allah, dalam satu cara, adalah suatu tipu-daya yang dimainkan atas orang yang diseru, karena Allah bukanlah noneksisten dalam cara pertama, yaitu yang diseru, ketimbang yang kedua. “Saya menyeru kepada Allah”, yang merupakan tipu-daya dirinya, “dengan penyingkapan yang jelas”, (2410) yang menunjukkan bahwa kedua cara ini berkaitan dengan-Nya. Jadi, mereka menanggapinya dengan tipu-daya, sebagaimana dia serukan mereka dengan tipu-daya.

Pewaris Muḥammad mengetahui bahwa seruan-seruan pada Allah bukanlah seruan pada Esensi-Nya, melainkan pada-Nya dalam hal Nama-namaNya. Dia berfirman: “Ingatlah pada suatu hari kita akan berkumpul bersama orang-orang taqwa dalam satu kelompok”, (2511) yang menunjukkan bahwa mereka akan datang di hadapan Allah dalam Nama Yang Maha Pengasih, bukan di hadapan Allah dalam Esensi-Nya. Kita mengetahui bahwa Kosmos berada di bawah aturan Nama ilahi, yang membuat semua yang ada di dalamnya terlindungi.

Di dalam tipu-daya mereka, mereka mengatakan: “Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan [penyembahan] tuhan-tuhan kamu, baik Wadd, Suwā‘, Yaghūts, Ya‘ūq dan Nasr.” (2612) Jika mereka meninggalkan sesembahan-sesembahan itu, maka mereka tidak akan mengenal Realitas, atas sekira-kira apa yang mereka tinggalkan dari sesembahan-sesembahan itu, karena di dalam setiap objek sesembahan, ada sebuah refleksi tentang Realitas, apakah ia diakui ataukah tidak.

Dalam hal para pewaris Muḥammad, Dia berfirman: “Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu hanya menyembah Dia”, (2713) yang berarti Dia telah menentukannya. Orang yang mengetahui, mengetahui Siapa yang disembah, dan dalam bentuk apakah Dia mengada (zhahara/manifest) untuk disembah. Dia juga mengetahui pembedaan dan keragaman bentuk-bentuk, semata-mata bagian dari sebuah bentuk indriawi atau kekuatan dari citra spiritual. Sesungguhnya, dalam setiap objek sesembahan itulah sebenarnya Allah yang disembah.

Orang bodoh (adnā) membayangkan objek yang dianggap ilahi dan, bukankah gagasan seperti ini, juga batu atau segala sesuatu, sama dengan sebuah objek sesembahan. Atas dasar ini, Dia berfirman: “Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu.” (2814). Ketika mereka melakukan demikian, mereka menyebut sesembahan-sesembahan itu sebagai batu, pohon, atau binatang. Ketika mereka ditanya siapakah yang mereka sembah, mereka katakan “tuhan” (ilāh) dan bukan “Allah” (Allāh) atau “Tuhan” (al-Ilāh).

Manusia yang dikaruniai dengan pengetahuan (a‘lā) tidak membayangkan demikian, tetapi mengetahui bahwa objek sesembahan adalah kendaraan manifestasi ilahi, rujukan yang layak, dan tidak membatasi dirinya pada objek khusus itu.

Orang bodoh mengatakan: “Kami hanya menyembah mereka agar menyebabkan kami lebih dekat kepada Allah.” (2915) Manusia yang mengetahui mengatakan: “Tuhanmu hanya Satu, oleh karenanya tundukkanlah diri pada-Nya, bagaimanapun Dia mengejawantah, dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang tunduk patuh kepada Tuhan”, (3016) yaitu, orang yang tunduk pada api akibat sifat mereka yang rendah. Mereka mengatakan “tuhan” dan bukan “alam”, sesuatu yang pasif.

Dia juga berfirman: “Mereka menyebabkan kesesatan banyak orang”, (3117) yang berarti bahwa mereka menyebabkan mereka yang banyak menjadi bingung menghadapi keragaman nyata dari Yang Esa, berkenaan dengan aspek-aspek dan sifat-sifatNya.

Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang zhalim [selain kesesatan]”, (3218) yang berarti orang-orang yang menzhalimi diri mereka sendiri – dengan penyangkalan diri – yang mewarisi Kitab. Ini adalah yang pertama dari tiga kategori yang disebutkan Allah di banyak tempat, karena Dia menempatkan orang yang menzhalimi diri-sendiri sebelum orang moderat (al-muqtashid) dan “orang yang berbuat kebaikan.” (3319) “Di dalam kesesatan”, (3420) yaitu, di dalam kebingungan (kefanaan-diri spiritual) pada sebagian para pewaris Muḥammad, yang mengatakan: “Tuhanku menambah kebingunganku berkenaan dengan Kamu.” (3521). “Setiap kali kilat [tajjali dari Yang Esa] itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka [karena keragaman bentuk-bentuk], mereka berhenti [karena kebingungan].” (3622). Dia yang mengalami kebingungan ini, secara terus-menerus memusatkan Allah, sementara dia yang mengikuti jalan “panjang”, menuju Allah yang jauh, selalu mengenyampingkan tujuan tertinggi untuk mencari yang secara abadi berada di dalamnya, sambil berlari mengejar imajinasi sebagai tujuannya. Dia mempunyai titik-tolak imajiner dan apa yang dianggapnya sebagai tujuan serta apa yang terletak di antara keduanya, sementara manusia yang memusatkan Allah, tidak ada pembatasan awal atau akhir, yang memiliki eksistensi paling komprehensif, dan sebagai penerima kebenaran-kebenaran dan realitas-realitas ketuhanan.

Karena pelanggaran mereka”, (3723) yang melampaui diri mereka sendiri, sehingga mereka tenggelam dalam pengetahuan Allah, yang merupakan sesuatu yang dimaksudkan dengan kebingungan. “Dan mereka terlempar ke dalam api”, (3824) yang berarti sama dengan tenggelamnya para pewaris. “Ketika air laut dipanaskan”, (3925) di mana akar verbal yang sama digunakan untuk menunjukkan panasnya tungku. “Mereka tidak akan mendapatkan penolong kecuali Allah”, (4026) karena penolong mereka pada esensinya tidak ada selain Allah, dan mereka terlempar ke dalam Diri-Nya untuk selama-lamanya.

Manakala Dia mengantarkan mereka dari laut gnosis ke pantai ‘Ālam, Dia akan merendahkan mereka dari sebuah tahap yang tinggi dari capaian spiritual, yakni yang relatif tinggi, meskipun pada hakikatnya semuanya adalah milik Allah, melalui Allah, yang memang adalah Allah.

Nūḥ mengatakan: “Wahai Tuhanku!” (4127) Dia tidak mengatakan: “Wahai Allahku”, karena Allah sebagai Tuhan adalah pasti, sementara ketuhanan adalah beragam, sesuai dengan keragaman dari Nama-namaNya, dan setiap hari ia terlibat dalam persoalan itu. (4228) Sebagai Tuhan, Allah menunjukkan sebuah keajengan mode tanpa harus seruan itu menjadi sesuai. “[Wahai Tuhanku], jangan tinggalkan [setiap orang kafir yang bertempat] di atas bumi”, (4329) yaitu pada tingkat ketaatan terhadap manifestasi formal, dengan memohon bahwa mereka akan dibawa pada aspek batin, dari pengtahuan Kesatuan esensial.

Berkaitan dengan para pewaris Muḥammad, dikatakan: “Jika kamu melepaskan sebuah tali, ia tergantung pada Allah [Dia berada di bawah dan di atas]”, (4430) dan “Miliknya apa yang ada di Surga dan di Bumi.” (4531) Ketika anda dikuburkan di dalamnya, anda akan berada di dalamnya, dan ia akan menjadi penutup anda: “kepadanya Kami akan mengembalikan kamu darinya Kami akan membangkitkan kamu untuk kedua kalinya”, (4632) karena keragaman aspek “… dari orang-orang kafir”, (4733), yang “berusaha menuntupkan baju mereka (ke muka mereka) dan memasukkan anak jari mereka ke telinga mereka”, (4834) yang berusaha menutup karena dia menyeru mereka agar Dia melindungi (memaafkan) mereka, yang merupakan sejenis penutup. “Bertempat”, (4935) yaitu semua mereka, sehingga kebajikan akan menjadi umum seperti seruan-seruan. “Jika kamu membiarkan mereka,” yaitu meninggalkan mereka, sebagaimana adanya, “mereka akan menyesatkan hamba-hambaMu”, (5036) yang berarti bahwa mereka akan membingungkan mereka dan menyebabkan mereka meninggalkan kehambaan mereka untuk menegaskan rahasia Ketuhanan dalam dirinya, sehingga mereka akan mempertimbangkan diri-diri mereka sebagaimana tuhan-tuhan setelah menjadi hamba-hamba. Mereka sebagai hamba-hamba menjadi tuhan-tuhan. “Mereka hanya akan melahirkan”, mereka hanya menghasilkan dan mewujudkan “orang yang melanggar secara terbuka [orang yang berbuat salah]”, yaitu orang yang mengungkapkan sesuatu yang tersembunyi, dan “orang yang mengingkari”, (5137) yaitu orang yang menyembunyikan sesuatu yang nyata setelah kemunculannya. Mereka melahirkan apa yang tersembunyi, dan kemudian menyembunyikannya setelah kemunculannya, sehingga pelaku akan bingung, tidak mengetahui apa yang dimaksudkan penyingkap dengan tindakannya, tidak juga penyembunyinya, meskipun mereka sebenarnya sama.

Tuhanku, lindungilah [ampunilah] daku”, (5238) yakni, sembunyikanlah daku (dari diri terpisahku) dan lindungilah kepentinganku (yang lain dari Kamu) dan bawalah masa dan maqamku yang tidak diketahui dalam Engkau karena Engkau tidak dapat diukur; Engkau berfirman: “Mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya.” (5339) “Dan orang tuaku”, dari mana saya berasal, yaitu Intelek dan ‘Ālam. “Dan siapa pun yang memasuki rumahku”, yaitu ke dalam hatiku, “yang beriman”, yaitu, menegaskan komunikasi-komunikasi ilahi, menjadikan dirinya menerima mereka: “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki”, yang bermakna intelek, “dan perempuan”, yang berarti jiwa.

Dan tambahkan bagi orang-orang zhalim”, orang-orang dalam kegelapan yang dimiliki oleh Yang Ghaib, tersembunyi di balik tirai yang gelap, “kecuali dalam kehancuran”, (5440) yaitu dalam kefanaan (pada Allah). Mereka mempunyai kesadaran tentang diri mereka sendiri, karena perenungan mereka tentang wajah Realitas menyerap mereka kepada pengucilan diri mereka sendiri yang terpisah. Di antara para pewarisnya, diingatkan ayat ini: “Semua binasa dan yang tetap wajah-Nya”, (5541) “kehancuran” (5642) dalam ayat di atas bermakna “pemusuhan” ini.

Siapa pun yang ingin memperoleh akses kepada rahasia-rahasia Nūḥ, harus naik (raqī) ke Planet Matahari – dalam teks ‘Arabnya, fulk Nūḥ – perahu (Nūḥ). Materi-materi ini juga dibahas dalam buku kami, at-Tanazzulāt-ul-Mawshuliyyah. (5743)

Catatan:

  1. 15). Ibid. LXXI: 11.
  2. 16). Ibid. LXXI: 12.
  3. 17). Ibid. LXXI: 21.
  4. 18). Ibid.
  5. 19). Ibid., II: 16.
  6. 20). Ibid., LVII: 7.
  7. 21). Ibid. XVII: 2.
  8. 22). Bdk. Ibid. III: 26.
  9. 23). Ibid., LXXI: 22.
  10. 24). Ibid., XXII: 108.
  11. 25). Ibid., XIX: 85.
  12. 26). Ibid., LXXI: 23.
  13. 27). Ibid., XVII: 23.
  14. 28). Ibid., XIII: 33.
  15. 29). Ibid., XXXI: 3.
  16. 30). Ibid., XXII: 34.
  17. 31). Ibid., LXXI: 24.
  18. 32). Ibid.
  19. 33). Ibid., XXXV: 32.
  20. 34). Ibid., LXXI: 24.
  21. 35). Saya tidak bisa melacak perkataan ini.
  22. 36). Al-Qur’ān, II: 20.
  23. 37). Ibid., LXXI: 25.
  24. 38). Ibid.
  25. 39). Ibid., LXXXI: 6.
  26. 40). Ibid., LXXI; 25.
  27. 41). Ibid., LXXI: 25.
  28. 42). Ibid., LV: 29.
  29. 43). Ibid., LXXI: 26.
  30. 44). Tirmidzī, V: 58.
  31. 45). Al-Qur’ān, II: 116.
  32. 46). Ibid., XX: 55.
  33. 47). Ibid., LXXI: 26.
  34. 48). Ibid., LXXI: 8.
  35. 49). Ibid., LXXI: 26.
  36. 50). Ibid., LXXI: 27.
  37. 51). Ibid.
  38. 52). Ibid., LXXI: 28.
  39. 53). Ibid., VI: 91.
  40. 54). Semua kutipan yang lain dari LXXI: 28.
  41. 55). Al-Qur’ān, XXVIII: 88.
  42. 56). Ibid. LXXI: 28.
  43. 57). Karya ini tidak diterbitkan. Ada sebuah otografi M.S. di Istambul, Murad Molla, 1236.
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas