Hati Senang

3-2 Beberapa Kekeramatan & Keistimewaannya – Imam Muhammad Al-Baqir Putra Imam Ali Zain ul-Abidin

Dari Kitab:

IMAM MUHAMMAD AL-BAQIR R.A.
PUTRA
IMAM ALI ZAIN UL-ABIDIN R.A.


Oleh: H.M.H. Al-Hamid Al-Husaini

Penerbit: C.V. Toha Putera - Semarang

Rangkaian Pos: Beberapa Kekeramatan & Keistimewaannya - Imam Muhammad Al-Baqir Putra Imam Ali Zain ul-Abidin
  1. 1.3-1 Beberapa Kekeramatan & Keistimewaannya – Imam Muhammad Al-Baqir Putra Imam Ali Zain ul-Abidin
  2. 2.Anda Sedang Membaca: 3-2 Beberapa Kekeramatan & Keistimewaannya – Imam Muhammad Al-Baqir Putra Imam Ali Zain ul-Abidin
Waktu baca : ≈ 5 menit

Imām Muḥammad al-Bāqir bin ‘Alī Zainul ‘Ābidīn putra al-Ḥusain bin ‘Alī bin Abī Thālib – radhiyallāhu ‘anhum – adalah seorang ulama besar dari kalangan Ahlul-Bait yang juga dikaruniai “Ilmu ghaib” oleh Allah s.w.t. – Sebuah riwayat dari Abū Bushair menceritakan sebagai berikut:

Pada suatu hari ketika aku (Abū Bushair) sedang berada di dalam masjid Nabawiy di Madīnah bersama Imām al-Bāqir, datanglah al-Manshūr dan Dāūd bin Sulaimān (sebelum kekuasaan jatuh ke tangan Bani ‘Abbās). Dāūd segera mendekati Imām al-Bāqir r.a., sedang al-Manshūr duduk di tempat yang agak jauh. Kepada Dāūd, Imām al-Bāqir r.a. bertanya: “Kenapa ad-Dawaniqiy (yakni al-Manshūr) tidak mau mendekatiku?”. Dāūd menjawab: “Ia memang orang angkuh.”

Imām al-Bāqir r.a. kemudian berkata lagi: “Di waktu mendatang ia (yakni al-Manshūr) akan menjadi penguasa yang mencekik leher rakyat. Wilayah kekuasaannya luas, mulai dari Timur sampai ke Barat. Usianya panjang dan ia akan dapat mengumpulkan harta kekayaan lebih besar daripada yang pernah dikumpulkan orang lain…..”

Apa yang dikatakan oleh Imām al-Bāqir r.a. itu disampaikan oleh Dāūd kepada al-Manshūr. Al-Manshūr lalu segera mendekati Imām al-Bāqir r.a. seraya berkata: “Yang membuatku tidak segera mendekati anda ialah kewibawaan anda” kemudian ia menanyakan persoalan yang didengarnya dari Dāūd. Imām al-Bāqir r.a. menjawab: “Ya, itu benar-benar akan terjadi.”

“Setelah aku meninggal dunia, apakah anakku juga akan tetap berkuasa?” tanya al-Manshūr.

“Ya….” sahut Imām al-Bāqir r.a.

“Manakah yang lebih lama: Masa kekuasaan Bani Umayyah ataukah masa kekuasaan kami?” tanya al-Manshūr.

“Masa kekuasaan kalian lebih lama….Anak-anak kalian akan bermain-main dengan kekuasaan seperti anak-anak bermain bola.” Jawab Imām al-Bāqir r.a.

Di kemudian hari, ketika kekuasaan jatuh ke tangan al-Manshūr ia merasa keheran-heranan setiap teringat kepada apa yang telah dikatakan oleh Imām al-Bāqir r.a. kepadanya. Demikianlah diriwayatkan dalam kitab “Jāmi‘u Karāmāt-il-Auliyā’.” Jilid I halaman 164).

  • Faidh bin Mathār menceritakan pengalamannya sendiri: Pada suatu hari aku datang ke rumah Abū Ja‘far r.a. (Imām Muḥammad al-Bāqir r.a.) dengan maksud hendak bertanya mengenai shalātul-lail (shalat sunnah di larut malam, dalam perjalanan jauh, tahajjud). Sebelum pertanyaan itu kuucapkan, ia sudah memberikan jawaban: “Rasul Allah s.a.w. melakukan shalātul-lail dalam perjalanan di atas untanya ke arah mana unta itu menghadap.”

  • ‘Abdullāh bin ‘Athā’ al-Makkiy mengatakan sebagai berikut: Pada suatu hari di Makkah aku sangat rindu kepada Abū Ja‘far. Seketika itu juga aku segera berangkat ke Madīnah. Malam hari aku tiba di Madīnah dalam keadaan basah kuyup kehujanan dan kedinginan. Aku tidak berani masuk ke dalam rumahnya hingga tengah malam. Saat itu aku berpikir: manakah yang lebih baik, mengetuk pintu rumahnya ataukah menunggu saja hingga pagi hari. Tiba-tiba kudengar suara Abū Ja‘far berkata kepada pembantunya: “Hai jariyah, bukakan pintu buat Ibnu ‘Athā’, malam ini dia kedinginan”. Beberapa saat kemudian pintu terbuka dan aku segera masuk.”

  • Ḥamzah bin Muḥammad ath-Thayyār menceritakan sebagai berikut: Pada suatu hari aku datang ke rumah Abū Ja‘far, mungkin karena sedang menerima kedatangan orang lain, saat itu ia tidak dapat menerima kedatanganku. Aku kembali ke rumah lalu berbaring di atas tempat tidur. Aku selalu memikirkan kepada siapakah aku harus menanyakan sesuatu yang selama ini mengganggu fikiranku? Orang dari kaum Murji‘ah mengatakan begini….. orang dari kaum Qadariyyah mengatakan begitu….. orang dari Ḥarūriyyah mengatakan yang lain lagi….. dan orang dari kaum Zaidiyyah mengatakan lain dari ketiga-tiganya itu. Aku berpendapat apa yang mereka katakan semuanya tidak baik. Di saat aku masih terus berfikir kepada siapa aku harus bertanya, tiba-tiba kudengar suara memanggil-manggil dan pintu rumahku diketuk orang. Dari dalam aku bertanya: “Siapakah yang di pintu?” Orang menjawab: “Suruhan Abū Ja‘far”. Ia mengajakku pergi ke rumah Abū Ja‘far. Setibanya di sana Abū Ja‘far berkata kepadaku: “Hai Muḥammad, jangan bertanya kepada orang Murji‘ah…. jangan bertanya kepada orang Qadariyyah dan jangan bertanya kepada orang Zaidiyyah, tetapi tanyakanlah kepada kami. Sesungguhnya engkau hanya perlu berbuat begini dan begitu….. dst. Apa yang dikatakan olehnya kulakukan.”

Kekeramatan yang dikaruniakan Allah s.w.t. kepada Imām al-Bāqir r.a. tampak sejak ia masih usia kanak-kanak. Dalam kitab “Ḥilyah” Abū Na‘im mengetengahkan sebuah riwayat sebagai berikut: Pada suatu hari ada seorang bertanya kepada ‘Abdullāh bin ‘Umar Ibn-ul-Khaththāb mengenai suatu masalah. Ibn ‘Umar tidak memberikan jawaban, tetapi hanya mengatakan: “Cobalah anda tanyakan saja kepada anak itu….. (ia menunjuk ke arah Muḥammad al-Bāqir) ….. kemudian beritahukan kepadaku bagaimana jawabannya”. Aku segera datang kepada Muḥammad al-Bāqir, kutanyakan sesuatu yang ingin kuketahui dan ia memberikan jawabannya. Hal itu lalu kuberitahukan kepada Ibn ‘Umar. Ketika itu Ibn ‘Umar memberikan tanggapan: “Mereka itu adalah orang-orang Ahlul-Bait ….. bisa dimengerti!”

  • Yaḥyā bin Muḥammad a-‘Ajl bin Ḥayy al-Kātib menceritakan sebagai berikut: Di saat aku sedang di tengah perjalanan antara Makkah dan Madīnah, dari kejauhan tampak bayang-bayang kadang menghilang kemudian muncul kembali. Makin lama makin dekat kepadaku, dan ketika kuamat-amati terbukti ia seorang anak lelaki berusia kurang lebih delapan tahun. Ia mengucapkan salam kepadaku dan kujawab sebagaimana mestinya. Ketika ia kutanya dari mana, ia menjawab: “Dari Allah!”  Kutanya lagi hendak ke mana, ia menjawab: “Kepada Allah!” Ia kudesak, ada urusan apa? Ia menjawab: “Urusan dengan Allah?” Ia kutanya lagi bekal apa yang dibawanya, ia menjawab: “Taqwā!” Aku benar-benar makin menjadi ingin tahu, lalu kutanya dia itu anak dari mana, dari kabilah apa dan dari keluarga siapa. Akhirnya ia menerangkan: “Aku orang ‘Arab, dari Quraisy, dari keluarga Bani Hāsyim, dan aku ini Muḥammad bin ‘Alī (Zainul ‘Ābidīn) bin al-Ḥusain bin ‘Alī bin Abī Thālib!”

Meskipun Imām Muḥammad al-Bāqir r.a. seorang ulama besar pada zamannya, tetapi ia tidak mau menggantungkan hidupnya pada bantuan orang lain. Hingga usia tua ia masih berusaha mencari nafkah untuk menghidupi dirinya bersama keluarga. Mengenai hal itu seorang sufi terkenal bernama Abū ‘Abdillāh bin Muḥammad bin al-Munkadir menceritakan pengalamannya sendiri sebagai berikut: Pada suatu hari di saat terik matahari aku pergi ke pinggiran kota Madīnah. Di sana aku melihat Muḥammad bin ‘Alī Zainul ‘Ābidīn r.a. (al-Bāqir) yang berbadan lemah itu sedang berjalan ditopang oleh dua orang pembantunya. Aku berkata di dalam hati: “Ya Allah, sungguh tidak patut seorang Quraisy terkemuka dalam keadaan panas seterik ini keluar mencari nafkah….. Ah, sebaiknya ia kuingatkan!” Aku lalu mendekatinya, kuucapkan salam dan ia pun menjawab salamku. Kulihat badannya basah karena keringat. Kepadanya aku berkata: “Anda seorang Syaikh Quraisy terkemuka. Sungguh tidak patut bagi anda dalam keadaan panas terik seperti sekarang ini keluar mencari nafkah. Bagaimanakah seandainya anda wafat dalam keadaan seperti ini?”. Mendengar pertanyaanku itu ia melepaskan diri dari topangan dua orang pembantunya dan menoleh padaku sambil berkata: “Jika aku meninggal dunia dalam keadaan seperti ini, berarti aku meninggal dunia dalam keadaan taat kepada Allah, aku tidak sampai meminta-minta kepada anda dan kepada orang lain. Yang paling ku takuti ialah kalau aku meninggal dalam keadaan berbuat maksiat terhadap Allah!” Dengan rasa kagum aku menjawab: “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada anda. Sesungguhnya aku hendak mengingatkan anda, tetapi ternyata andalah yang mengingatkan diriku”.

Imām Muḥammad al-Bāqir r.a. sepanjang hidupnya tidak pernah putus berdzikir, kecuali dalam keadaan-keadaan tertentu yang tidak diperbolehkan agama seperti di tempat-tempat yang tidak patut diucapkan kalimat Allah. Mengenai kebiasaan hidupnya sehari-hari itu, putranya yang bernama Ja‘far (ash-Shādiq) mengatakan sebagai berikut: “Tiap saat aku makan bersama ayahku, kulihat ia terus-menerus berdzikir sambil makan. Begitu pula saat ia berjalan ke mana saja, kulihat ia selalu berdzikir. Tiap hari ia dikerumuni oleh kaum Muslimin, tetapi itu tidak menjadi penghalang baginya untuk terus berdzikir. Aku selalu melihat lidahnya bergerak terus-menerus mengucapkan kalimat: “Lā ilāha illallāh”. Kami (putra-putranya) selalu menyertai ayah berdzikir sepanjang malam hingga matahari terbit. Kemudian di antara kami ada yang disuruh membaca al-Qur’ān dan ada pula yang disuruh terus berdzikir.”

Masih banyak lagi riwayat yang mengisahkan keistimewaan-keistimewaan yang ada pada Imām Muḥammad al-Bāqir r.a. Bagi orang awam keistimewaan seperti yang terdapat di dalam riwayat-riwayat tersebut terasa aneh tetapi bagi para keturunan Ahlul-Bait yang hidup sangat taqwa kepada Allah dan patuh melaksanakan Sunnah Rasul-Nya kenyataan-kenyataan itu bukan soal yang aneh lagi. Bukan karena mereka itu “manusia-manusia sakti” seperti yang sering kita dengar dari berbagai macam dongeng, melainkan karena ketaqwaannya yang tinggi kepada Allah dan Rasul-Nya itulah yang membuat mereka menerima karunia Allah berupa keistimewaan-keistimewaan tertentu.

Bagikan:

Tinggalkan Pesan

avatar
Lewat ke baris perkakas