3-0 Catatan Pengantar – Hikmah Keagungan Dalam Firman Tentang Nuh – Fushush-ul-Hikam Mutiara Hikmah 27 Nabi

FUSHŪSH-UL-ḤIKAM
MUTIARA HIKMAH 27 NABI
Penulis: Ibn ‘Arabī

(Diterjemahkan dari judul asli: The Bezels of Wisdom)

Alih Bahasa: Ahmad Sahidah dan Nurjannah Arianti
Penerbit: PENERBIT DIADIT MEDIA

Rangkaian Pos: Hikmah Keagungan Dalam Firman Tentang Nuh - Fushush-ul-Hikam Mutiara Hikmah 27 Nabi
  1. 1.Anda Sedang Membaca: 3-0 Catatan Pengantar – Hikmah Keagungan Dalam Firman Tentang Nuh – Fushush-ul-Hikam Mutiara Hikmah 27 Nabi
  2. 2.3-1 Hikmah Keagungan Dalam Firman Tentang Nuh – Fushush-ul-Hikam Mutiara Hikmah 27 Nabi
  3. 3.3-2 Hikmah Keagungan Dalam Firman Tentang Nuh – Fushush-ul-Hikam Mutiara Hikmah 27 Nabi

3

HIKMAH KEAGUNGAN DALAM FIRMAN TENTANG NŪḤ

CATATAN PENGANTAR

Barangkali, inilah yang paling sulit dan kontroversial dari bab-bab Fushūsh-ul-Ḥikam, dengan alasan penafsiran yang tidak biasa dan luar biasa terhadap al-Qur’ān yang menjadi ciri khas di dalamnya. Pastinya, dari sudut pandang teologi esoterik, pendekatan Ibn ‘Arabī terhadap materi al-Qur’ān dalam bab ini, adalah sembrono, terburuk, dan lebih parah lagi, adalah bid‘ah. Bab ini juga tidak lazim di antara bab-bab dari karya ini, di mana ia tidak hanya membatasi pokok persoalan pada situasi Nabi Nūḥ, yang disebut dalam judul, tetapi hampir menggambarkan semua materi kutipan dari surat Nūḥ di dalam al-Qur’ān. Jadi, bab ini sebenarnya adalah sebuah komentar tentang isu-isu yang diangkat dalam surat ini.

Situasi yang digambarkan dalam surat ini berkenaan dengan usaha-usaha Nūḥ untuk membujuk masyarakatnya yang bodoh dan buruk karena menyembah berhala, dan kebutuhan yang mendesak untuk bertobat dan mengakui kesatuan transenden Allah yang sebenarnya. Di sepanjang surat, Nūḥ memohon kepada Allah untuk menyucikannya, dan untuk menghukum orang sezamannya yang lalai dan keras kepala. Ibn ‘Arabī menggunakan situasi ini tidak untuk menegaskan kebenaran Nūḥ, tetapi agaknya untuk menggali dan mendalami secara keseluruhan serangkaian konsep-konsep polar, hubungan yang dia bahas dari sudut pandang Kesatuan Wujud (Waḥdat-ul-Wujūd).

Dia memulai dengan membahas ketegangan antara gagasan transendensi dan gagasan imanensi atau keberbandingan, dan hal ini menjadi jelas, dengan membaca lebih jauh bab ini, sehingga dia menganggap Nūḥ sebagai wakil dari yang pertama, dan masyarakat Nūḥ berpegang pada pandangan yang terakhir. Penjelasan di awal bab ini, bahwa kedua posisi ini saling berkaitan dan sebenarnya tidak bisa dianggap terpisah satu sama lain, juga menjadi jelas. Dia menganggap kedua sisi pertentangan dalam al-Qur’ān ini tidak salah atau benar, tetapi keduanya dengan sendirinya merepresentasikan dua modalitas fundamental dari pengalaman – Diri Ilahi yang, pada satu dan waktu yang sama, terlibat dalam, dan terasimilasikan ke dalam, penciptaan Kosmik, dan sepenuhnya dihilangkan dari, dan, melampauinya. Sesungguhnya, semua pasangan konsep lain yang dia bahas dalam bab ini, berasal dari pasangan ini.

Selanjutnya, Ibn ‘Arabī mempertimbangkan konsep-konsep lahir-batin, bentuk-ruh, serta mengelaborasi lagi sabda Nabi: “Siapa yang mengenal dirinya, mengenal Tuhannya”, dengan implikasi yang jelas bahwa wujud Ādam, sebagai tanah, sebagai ciptaan dari citra Realitas, adalah sintesis mikrokosmik dari bentuk dan ruh, menjadikan ruh dari bentuk, dan bentuk dari ruh. Dengan nada yang sama, Ibn ‘Arabī menuruti kecenderungannya untuk memanipulasi akar-akar kata ‘Arab dalam mengilustrasikan poin ini. Jadi, dia mengambil kata qur’ān, yang berasal dari akar qara’a, dan menjelaskannya seakan-akan ia berasal dari akar qarana, yang berarti berhubungan atau berkaitan. Kemudian, dia mempertentangkan penafsiran baru terhadap kata ini dengan furqān, sehingga kita mempunyai pasangan konsep-konsep, korelasi-distingsi – dengan kata lain, sehingga di satu sisi menghubungkan Allah dengan manifestasi kosmik, dan di sisi lain menegaskan keterpisahan mutlak-Nya darinya.

Dalam konteks ini, Ibn ‘Arabī tidak menganggap masyarakat Nūḥ dengan sendirinya tersesat, tetapi agaknya sebagai penentang – meskipun tidak sadar – terhadap realitas manifestasi-Diri (tajallī) ilahi dalam keragaman bentuk-bentuk kosmik yang berubah, dengan menyatakan secara tidak langsung bahwa Nūḥ mengeraskan transendentalisme ekstremnya dengan sedikit konsesi pada imanensi ilahi, masyarakatnya lebih responsif pada desakan kerasnya.

Di akhir bab ini, penafsiran-penafsiran Ibn ‘Arabi terhadap ayat-ayat al-Qur’ān, tampaknya sangat keras, karena dia tampak menegaskan makna-makna secara diametral, bertentangan dengan yang biasanya diterima. Pendek kata, dia menafsirkan “orang yang berbuat salah”, “kafir”, dan “pendosa”, dari ayat-ayat terakhir surah Nūḥ, sebagai orang suci dan gnostikus yang tenggelam dan terbakar, bukan di dalam siksaan Neraka tetapi bahkan di dalam nyala api dan air gnosis, yang dibingungkan dalam kebingungan ilahi terhadap kesadaran mereka dari paradoks Allah.

Meskipun pada pandangan pertama terkesan tidak komprehensif dan laur biasa, penafsiran-penafsiran semacam ini tampak sebagai usaha yang disengaja dari Ibn ‘Arabī untuk mendemonstrasikan sehidup mungkin implikasi penuh dari konsep Kesatuan Wujud, dalam konteks bahwa semua kemungkinan oposisi dan konflik diatasi dalam keseluruhan dan kesatuan Realitas yang tak terbayang.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *