2-8 Ta’wil dan Tafwidh – Terjemah Tauhid Sabilul Abid KH. Sholeh Darat

TERJEMAH TAUHID

سَبِيْلُ الْعَبِيْدِ عَلَى جَوْهَرَةِ التَّوْحِيْدِ
Oleh: Kiyai Haji Sholeh Darat
Mahaguru Para Ulama Besar Nusantara
(1820-1903 M.)

Penerjemah: Miftahul Ulum, Agustin Mufrohah
Penerbit: Sahifa Publishing

Rangkaian Pos: 002 Tentang Ketuhanan (Ilahiyyat) - Terjemah Tauhid Sabilul Abid KH. Sholeh Darat
  1. 1.2-1 Nafsiyyah dan Salbiyyah – Terjemah Tauhid Sabilul Abid KH. Sholeh Darat
  2. 2.2-2 Sifat Wajib Allah (Ma’ani) – Terjemah Tauhid Sabilul Abid KH. Sholeh Darat
  3. 3.2-3&4 Sifat Idrak & Asma’ Allah yang Diambil dari Sifat-Nya – Terjemah Tauhid Sabilul Abid KH. Sholeh Darat
  4. 4.2-5 Definisi Sifat – Terjemah Tauhid Sabilul Abid KH. Sholeh Darat
  5. 5.2-6 Ta’alluq Sifat Ma’ani – Terjemah Tauhid Sabilul Abid KH. Sholeh Darat
  6. 6.2-7 Asma’ dan Sifat-sifat Allah – Terjemah Tauhid Sabilul Abid KH. Sholeh Darat
  7. 7.Anda Sedang Membaca: 2-8 Ta’wil dan Tafwidh – Terjemah Tauhid Sabilul Abid KH. Sholeh Darat
  8. 8.2-9 Kalamullah – Terjemah Tauhid Sabilul Abid KH. Sholeh Darat
  9. 9.2-10 Sifat Mustahil dan Sifat Ja’iz bagi Allah – Terjemah Tauhid Sabilul Abid KH. Sholeh Darat

Ta’wīl dan Tafwīdh

Syaikh Ibrāhīm al-Laqqānī berkata:

أَوِّلْهُ أَوْ فَوِّضْ وَ رُمْ تَنْزِيْهَا.فَكُلِّ نَصٍّ أَوْهَمَ التَّشْبِيْهَا

Dan tiap-tiap nash yang membimbulkan prasangka adanya keserupaan maka ta’wīlkanlah ia atau serahkan kepada Allah dan bermaksudlah untuk menyucikan.”

Setiap nash al-Qur’ān dan Hadits yang menggambarkan, menunjukkan, atau memberi pemahaman pada makna yang mustaḥīl bagi Allah maka harus engkau ta’wīl. Maksudnya, ditangguhkan pada makna yang patut atau layak bagi Allah. Hal ini menurut pendapat ‘ulamā’ Khalaf, yaitu para ‘ulamā’ yang hidup setelah tahun 500 H. Atau, pasrahkan saja pada zhāhirnya nash dan yakinilah mustaḥīl-nya makna zhāhir nash al-Qur’ān tersebut, ini menurut pendapat para ‘ulamā’ Salaf, yaitu ‘ulamā’ yang hidup pada masa sahabat, tābi‘īn dan tābi‘it tābi‘īn, yakni sebelum tahun 500 H. (611).

Penjelasan

Dalam menghukumi nash al-Qur’ān dan Hadits yang menunjukkan pada sesuatu yang mustaḥīl bagi Allah, para ‘ulamā’ Salaf dan Khalaf berbeda pendapat.

Misalnya dalam menafsirkan firman Allah:

وَ يَبْقَى وَجْهُ رِبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَ الْإِكْرَامِ.

Dan tetap kekal Dzāt Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. ar-Raḥmān [55]: 27).

يَدُ اللهِ فَوْقَ أَيْدِيْهِمْ.

Kekuasaan Allah di atas kekuasaan mereka.” (QS. al-Fatḥ [48]: 10).

‘Ulamā’ Salaf pasrah atas makna kata “wajhu” (wajah) dan “yadun” (tangan). Mustaḥīl bagi Allah memiliki wajah dan tangan yang sama dengan makhluk, Allah yang lebih tahu makna kedua lafazh tersebut, kita hanya meyakini bahwa itu adalah firman Allah s.w.t.

‘Ulamā’ Khalaf mena’wil kedua lafazh tersebut, makna kata “wajhu rabbika” adalah “dzātu rabbika” (Dzāt Tuhanmu). Ini termasuk dalam bab tasmiyat-ul-juz wa irādat-ul-kull (menyebutkan sebagian, tapi menghendaki keseluruhan). Sedangkan makna “yadullāh” adalah “qudrah dan irādah”, yaitu Allah menguasai semua makhluk.

Contoh lain seperti sabda Nabi Muḥammad s.a.w.:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَ تَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرِ.

Rabb kita tabāraka wa ta‘ālā turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir.

‘Ulamā’ Salaf berpendapat: “wallāhu a‘lam atas makna lafazh rabbunā. Yang pasti, mustaḥīl bagi Allah turun seperti turunnya makhluk”. ‘Ulamā’ Khalaf berpendapat, lafazh “rabbunā” bermakna “malā’ikatu rabbinā” (malaikat tuhan kita). Jadi, yang turun adalah Malaikat, bukan Allah.

Contoh lain adalah sabda Nabi Muḥammad s.a.w.:

إِنَّ اللهَ خَلَقَ آدَمَ عَلَى صُوْرَتِهِ.

Sesungguhnya Allah menciptakan Nabi Ādam a.s. dalam bentuk rupanya.

Maksudnya, Allah menciptakan Nabi Ādam a.s. dengan memiliki sifat mendengar, melihat, berkata, dan hidup. Ini menurut ‘ulamā’ Khalaf.

Seperti halnya firman Allah s.w.t.:

الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى.

‘Ulamā’ Salaf menyatakan: “Wallāhu a‘lam atas makna istiwā’, mustaḥil bila Allah istiwā’ di atas ‘arsy”. ‘Ulamā’ Khalaf menyatakan, Lafazh “istiwā’” bermakna “istaulā”, artinya “yang memerintah dan berkuasa di atas ‘arsy.”

Ada seseorang yang datang menghadap Imām Mālik, dia bertanya: “Wahai Imam, seperti apakah makna ayat:

الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى.

Imām Mālik menunduk sejenak, kemudian berkata: “Makna istiwā’ itu tidak diketahui, kaifiyyah-nya ghairu ma‘qūl (seperti apa istiwā’ itu tidak bisa dinalar). Beriman dan memperlihatkan ayat ini hukumnya wājib, orang yang bertanya masalah ini berarti telah membuat bid‘ah”. (aku menyangka engkau adalah orang yang sesat, kemudian aku menyuruhnya pergi dan dia pun pergi). (622).

Imām Zamakhsyarī pernah bertanya kepada Imām al-Ghazālī tentang makna ayat tersebut, Imām al-Ghazālī berkata: “Jika untuk mengetahui bentuk dan tempat rūḥ yang ada di dirimu saja engkau tidak mampu, maka buat apa yang engkau ingin mengetahui keadaan Tuhanmu? Sungguh engkau orang yang bodoh dan sama sekali tak punya tatakrama.” (633).

Ketika engkau tidak bisa mengetahui secara yakin wujūd rūḥ yang ada di dirimu, tak tahu letak, warna, menghadap ke mana, ke atas atau ke bawah, maka buat apa engkau ingin mengetahui sifat atau kondisi Tuhanmu? Sungguh bodoh dan sesat dirimu.

Allah s.w.t. berfirman:

كَذلِكَ يُضِلُّ اللهُ مَنْ يَشَاءُ وَ يَهْدِيْ مَنْ يَشَاءُ.

Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. al-Muddatstsir [74]: 31).

Catatan:

  1. 61). Tuḥfat-ul-Murīd, hal. 156.
  2. 62). Tuḥfat-ul-Murīd, hal. 157.
  3. 63). Tuḥfat-ul-Murīd, hal. 157.
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *