2-4 Ruqayyah Binti Rasulillah saw. (Istri ‘Utsman Bin ‘Affan) – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW

Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah s.a.w.
(Judul Asli: Nisā’u Ḥaul-ar-Rasūl s.a.w.; al-Qudwat-ul-Ḥasanati wal-Uswat-uth-Thayyibah li Nisā’-il-Usrat-il-Muslimah).
Oleh: Muhammad Ibrahim Salim.

Penerjemah: Abdul Hayyie al-Kattani, Zahrul Fata
Penerbit: GEMA INSANI PRESS

Rangkaian Pos: 002 Wanita Muslimah Teladan Sebagai Istri | Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW
  1. 1.2-1 Khadijah Binti Khuwailid – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW
  2. 2.2-2 Saudah Binti Zam’ah – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW
  3. 3.2-3 Zainab Binti Rasulillah – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW
  4. 4.Anda Sedang Membaca: 2-4 Ruqayyah Binti Rasulillah saw. (Istri ‘Utsman Bin ‘Affan) – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW
  5. 5.2-5 Ummu Hakim Bint-il-Harits al-Makhzumiyyah (Istri ‘Ikrimah bin Abi Jahal) – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW
  6. 6.2-6 Khaulah Binti Malik Bin Tsa’labah – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW

4. RUQAYYAH BINTI RASŪLILLĀH SAW. (ISTRI ‘UTSMĀN BIN ‘AFFĀN)

Di antara rombongan kaum muslimin yang hijrah ke Ḥabasyah, terdapat sebelas wanita yang Ruqayyah termasuk salah satu dari mereka. Hal ini membuktikan bahwa wanita muslimah adalah bagian dari dakwah dan jihad di jalan Allah.

Ruqayyah hijrah meninggalkan gemerlap dunia dan tanah airnya yang subur menuju negeri pelosok dan asing. Berbeda sekali dengan negeri asalnya, baik dari warna kulit, penduduk, maupun adat istiadat.

Ruqayyah lahir setelah kakaknya Zainab. Tidak lama setelah kelahiran Ruqayyah, lahirlah Ummi Kaltsūm yang selalu bersama Ruqayyah setelah Zainab menikah.

Ketika mereka (Ruqayyah dan Ummi Kaltsūm) menginjak usia dewasa, datanglah Abū Thālib melamar mereka berdua untuk kedua putra Abū Lahab. Kehendak Allah menakdirkan lamaran tersebut tidak diterima karena posisi Abū Lahab yang selalu menentang dakwah Islam. Allah s.w.t. memilih ‘Utsmān bin ‘Affān untuk mereka berdua.

Anas bin Mālik r.a. berkata bahwa ketika ‘Utsmān berangkat hijrah ke Ḥabasyah bersama istrinya (Ruqayyah), datanglah seorang wanita Quraisy menemui Rasūlullāh s.a.w. seraya berkata: “Wahai Muḥammad, saya melihat menantumu bersama istrinya.” Rasūlullāh bertanya: “Bagaimana keadaan mereka?” Wanita tersebut menjawab: “Saya melihat ‘Utsmān menuntun pelana keledai yang dinaiki istrinya.” Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Allah bersama mereka. Sesungguhnya ‘Utsmān adalah orang yang pertama kali hijrah bersama istrinya setelah Nabi Lūth a.s..” Sekembalinya mereka dari Ḥabasyah, datanglah ajal menjemput Khadījah.

Ketika tiba saat hijrah ke Madīnah, ikut serta pula Ruqayyah yang menemani suaminya. Maka dengan itu, Ruqayyah mendapat gelar “Dzāt-ul-Hijrataini” (wanita yang pernah hijrah dua kali).

Motivasi dari hijrah ke Ḥabasyah adalah menghindari fitnah agama, untuk mencari ketenangan dalam beribadah menyembah Allah. Dalam hijrah tersebut tidak ada sedikit pun motivasi penyebaran agama. Karena penduduk negeri Ḥabasyah; termasuk rajanya – pada saat itu – telah memeluk agama ‘Īsā. Mereka tidak mau terusik dengan datangnya agama baru.

Hijrah ke Ḥabasyah bagian dari titik tolak dakwah Islam di mana kaum muslimin menemukan ketenangan dan keluasan dalam menjalankan ibadah tanpa ada siksaan dan penindasan. Sementara, kaum muslimin yang menetap di Makkah tetap berjuang mempertahankan iman mereka.

Adapun hijrah ke Madīnah, di samping menghindari fitnah agama, juga – dan merupakan tujuan utamanya – untuk mendirikan suatu negara bagi kaum muslimin setelah kurang lebih selama 13 tahun Islam datang tanpa negara dan kedaulatan.

Hijrah merupakan tahapan kedua dari beberapa tahapan dakwah. Hijrah merupakan bentuk pertahanan yang strategis meskipun pertahanan tersebut bernuansakan petualangan. Karena petualangan merupakan bentuk pertahanan yang jitu.

Bentuk pertahanan ini telah membuahkan kemenangan. Kemenangan iman atas kekuatan, kemenangan ruh atas jasad (materi), dan kemenangan kebenaran atas kebatilan. Sebuah kemenangan yang membanggakan.

Kemenangan yang mendobrak ketakutan menuju ketenangan, mendobrak perbudakan menuju kebebasan, mendobrak kehinaan menuju kemuliaan, mendobrak kesempitan menuju keluasan, mendobrak kejumudan (statisme) menuju dinamisme, mendobrak kelemahan menuju kekuatan, dan mendobrak penindasan menuju kebebasan.

Ruqayyah meninggal dunia setelah terserang demam. Selepas masa berkabung, ‘Utsmān datang menghadap Rasūlullāh s.a.w. dan menikahkannya dengan Ummi Kaltsūm.

Semoga Allah memberi rahmat-Nya kepada Ruqayyah “Dzāt-ul-Hijratain” dan ‘Utsmān “Dzul-Hijratain” (dan “Dzun-Nūrain.”) Semoga Allah membalas mereka atas jasa dan ketabahan mereka.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *