2-3 Kisah Penyembelihan dan Penebusan – Sejarah Hidup Muhammad – Haekal

حَيَاةُ مُحَمَّدٍ (ص)
SEJARAH HIDUP MUHAMMAD
Oleh: Muhammad Husain Haekal

 
Diterjemahkan dari bahasa ‘Arab oleh: Ali Audah
Penerbit: PUSTAKA JAYA

Rangkaian Pos: Bagian Kedua - Makkah, Ka'bah & Quraisy
  1. 1.2-1,2 Letak Makkah & Ibrahim dan Isma‘il – Sejarah Hidup Muhammad – Haekal
  2. 2.Anda Sedang Membaca: 2-3 Kisah Penyembelihan dan Penebusan – Sejarah Hidup Muhammad – Haekal
  3. 3.2-4 Zamzam – Sejarah Hidup Muhammad – Haekal
  4. 4.2-5 Perkawinan Isma‘il dengan Jurhum – Sejarah Hidup Muhammad – Haekal

2-3 Kisah Penyembelihan dan Penebusan

Beberapa ahli berselisih pendapat tentang penyembelihan Ismā‘īl serta kurban yang telah dipersembahkan oleh Ibrāhīm. Adakah sebelum kelahiran Isḥāq atau sesudahnya? Adakah itu terjadi di Palestina atau di Ḥijāz? Ahli-ahli sejarah Yahudi berpendapat, bahwa yang disembelih itu adalah Isḥāq, bukan Ismā‘īl. Di sini kita bukan akan menguji adanya perselisihan pendapat itu. Dalam Qishash-ul-Anbiyā’ Syaikh ‘Abd-ul-Wahhāb an-Najjār berpendapat, bahwa yang disembelih itu adalah Ismā‘īl. Argumentasi ini diambilnya dari Taurat sendiri bahwa yang disembelih itu dilukiskan sebagai anak Ibrāhīm satu-satunya. Pada waktu itu Ismā‘īl adalah anak satu-satunya sebelum Isḥāq dilahirkan. Setelah Sārah melahirkan, maka anak Ibrāhīm tidak lagi tunggal, melainkan sudah ada Ismā‘īl dan Isḥāq. Dengan mengambil cerita itu seharusnya kisah penyembelihan dan penebusan itu terjadi di Palestina. Hal ini memang bisa terjadi demikian kalau yang dimaksudkan itu terjadi terhadap diri Isḥāq. Selama itu Isḥāq dengan ibunya hanya tinggal di Palestina, tidak pernah pergi ke Ḥijāz. Akan tetapi cerita yang mengatakan bahwa penyembelihan dan penebusan itu terjadi di atas bukit Minā, maka ini tentu berlaku terhadap diri Ismā‘īl. Oleh karena di dalam Qur‘ān tidak disebutkan nama person korban itu, maka ahli-ahli sejarah kaum Muslimin berlain-lainan pendapat.

Tentang pengorbanan dan penebusan itu kisahnya ialah bahwa Ibrāhīm bermimpi, bahwasanya Tuhan memerintahkan kepadanya supaya anaknya itu dipersembahkan sebagai kurban dengan menyembelihnya. Pada suatu pagi berangkatlah ia dengan anaknya. “Bila ia sudah mencapai usia cukup untuk berusaha, ia (Ibrāhīm) berkata: “O anakku, dalam tidur aku bermimpi, bahwa aku menyembelihmu. Lihatlah, bagaimanakah pendapatmu?” Ia menjawab: “Wahai ayahku. Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Jika dikehendaki Tuhan, akan kaudapati aku dalam kesabaran.” Setelah keduanya menyerahkan diri dan dibaringkannya ke sebelah keningnya, ia Kami panggil: “Hai Ibrāhīm. Engkau telah melaksanakan mimpi itu.” Dengan begitu, Kami memberikan balasan kepada mereka yang berbuat kebaikan. Ini adalah suatu ujian yang nyata. Dan kami menebusnya dengan sebuah kurban besar.” (Qur’ān [37]: 103-107)

Beberapa cerita melukiskan kisah ini dalam bentuk puisi yang indah sekali, sehingga di sini perlu kita kemukakan, sekalipun tidak membawa kisah tentang Makkah. Kisahnya, setelah Ibrāhīm bermimpi dalam tidurnya bahwa ia harus menyembelih anaknya dan memastikan bahwa itu adalah perintah Tuhan, ia berkata kepada anaknya itu: “Anakku, bawalah tali dan parang itu, mari kita pergi ke bukit mencari kayu untuk keluarga kita.” Anak itupun menurut perintah ayahnya. Ketika itu datang setan dalam bentuk seorang laki-laki, mendatangi ibu anak itu seraya berkata: “Tahukah engkau ke mana Ibrāhīm membawa anakmu?” “Ia pergi mencari kayu dari lereng bukit itu,” jawab ibunya. “Tidak,” kata setan lagi, “ia pergi akan menyembelihnya.” Ibu itu menjawab lagi: “Tidak. Ia lebih sayang kepada anaknya.” “Ia mendakwakan bahwa Tuhan yang memerintahkan itu.”

“Kalau itu memang perintah Tuhan biarkan dia menaati perintah-Nya,” jawab ibu itu. Setan itu lalu pergi dengan perasaan kecewa. Ia segera menyusul anak yang sedang mengikuti ayahnya itu. Kepada anak itupun ia berkata seperti terhadap ibunya tadi. Tapi jawabannyapun sama dengan jawaban ibunya juga. Kemudian setan mendatangi Ibrāhīm dan mengatakan, bahwa mimpinya itu hanya tipu-muslihat setan supaya ia menyembelih anaknya dan akhirnya akan menyesal. Tetapi oleh Ibrāhīm ia ditinggalkan dan dilaknatnya. Dengan rasa jengkel Iblis itu mundur teratur, karena maksudnya tidak berhasil, baik dari Ibrāhīm, dari isterinya atau dari anaknya.

Kemudian itu Ibrāhīm menyatakan kepada anaknya tentang mimpinya itu dan minta pendapatnya. “Ayah, lakukanlah apa yang diperintahkan.” Lalu katanya lagi dalam ballada itu: “Ayah, kalau ayah akan menyembelihku, kuatkanlah ikatan itu supaya darahku nanti tidak kena ayah dan akan mengurangi pahalaku. Aku tidak menjamin bahwa aku takkan gelisah bila dilaksanakan. Tajamkanlah parang itu supaya dapat sekaligus memotongku. Bila ayah sudah merebahkan aku untuk disembelih, telungkupkan aku dan jangan dimiringkan. Aku kuatir bila ayah kelak melihat wajahku ayah akan jadi lemah, sehingga akan menghalangi maksud ayah melaksanakan perintah Tuhan itu. Kalau ayah berpendapat akan membawa bajuku ini kepada ibu kalau-kalau menjadi hiburan baginya, lakukanlah, ayah.”

“Anakku,” kata Ibrāhīm, “ini adalah bantuan besar dalam melaksanakan perintah Allah.”

Kemudian ia siap melaksanakan. Diikatnya kuat-kuat tangan anak itu lalu dibaringkan keningnya untuk disembelih. Tetapi kemudian ia dipanggil: “Hai Ibrāhīm! Engkau telah melaksanakan mimpi itu.” Anak itu kemudian ditebusnya dengan seekor domba besar yang terdapat tidak jauh dari tempat itu. Lalu disembelihnya dan dibakarnya.

Demikianlah kisah penyembelihan dan penebusan itu. Ini adalah kisah penyerahan secara keseluruhan kepada kehendak Allah.

Isḥāq telah menjadi besar di samping Ismā‘īl. Kasih-sayang ayah sama terhadap keduanya. Akan tetapi Sārah menjadi gusar melihat anaknya itu dipersamakan dengan anak Hājar dayangnya itu. Ia bersumpah tidak akan tinggal bersama-sama dengan Hājar dan anaknya tatkala dilihatnya Ismā‘īl memukul adiknya itu. Ibrāhīm merasa bahwa hidupnya takkan bahagia kalau kedua wanita itu tinggal dalam satu tempat. Oleh karena itu pergilah ia dengan Hājar dan anak itu menuju ke arah selatan. Mereka sampai ke suatu lembah, letak Makkah yang sekarang. Seperti kita sebutkan di atas, lembah ini adalah tempat para kafilah membentangkan kemahnya pada waktu mereka berpapasan dengan kafilah dari Syām ke Yaman, atau dari Yaman ke Syām. Tetapi pada waktu itu adalah saat yang paling sepi sepanjang tahun. Ismā‘īl dan ibunya oleh Ibrāhīm ditinggalkan dan ditinggalkannya pula segala keperluannya. Hājar membuat sebuah gubuk tempat ia berteduh dengan anaknya. Dan Ibrāhīmpun kembali ke tempat semula.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *