skip to Main Content
Post Series: 002 Tahapan Tobat - Minhaj-ul-Abidin
2-2 Tahapan Tobat – Minhaj-ul-Abidin (Bagian 2)

Dari Buku:

Minhajul ‘Abidin
Oleh: Imam al-Ghazali


Penerjemah: Moh. Syamsi Hasan
Penerbit: Penerbit Amalia Surabaya

BAB II

TAHAPAN TOBAT

(Bagian 2)

 

Apabila dikatakan, bukankah Nabi s.a.w. bersabda:

النَّدَمُ تُوْبَةٌ

Artinya: Menyesali dosa adalah tobat.

Dan beliau tidak menyebutkan syarat-syarat dan yang Anda kemukakan tersebut yang terasa begitu memberatkan?

Maka dikatakan padanya sebagai jawabannya, ketahuilah bahwa penyesalan (an-nadāmah) itu, tidak berada pada kekuasaan seorang hamba. Cobalah Anda renungkan, bisa saja seseorang merasa menyesal di dalam hatinya terhadap perkara yang diperbuatnya, padahal ia ingin hal itu tidak terjadi. Sedangkan tobat adalah diperintahkan bagi seorang hamba. Dengan demikian kita menjadi mengerti bahwa, seandainya seseorang menyesali dosa-dosa lantaran kehilangan kedudukan di antara manusia, atau kehilangan harta dan mata pencahariannya, maka hal itu, tidak diragukan lagi bukanlah suatu tindakan bertobat.

Dengan demikian, kirannya Anda menjadi tahu bahwa tidaklah cukup mengartikan hadis tersebut dari segi lahirnya saja. Hadis tersebut mengandung makna bahwa penyesalan itu harus dilakukan untuk mengagungkan Allah s.w.t. dan takut terhadap siksa-Nya, sehingga mendorong Anda untuk bertobat dengan yang sebenar-benarnya. Dan yang demikian itu merupakan sifat dan keadaan orang yang bertobat.

Apabila seseorang mengingat tiga hal yang menjadi perdahuluan tobat tersebut, maka dia akan merasa menyesal dan penyesalan itu sebagai pendorong untuk meninggalkan dosa-dosa. Penyesalan semacam itu, bila tetap bersemayam di dalam hatinya di waktu-waktu mendatang, tentu mendorongnya untuk menunduk dan merendah diri kepada Allah s.w.t. Ketika hal tersebut telah menjadi sebab-sebab tobat dan sifat-sifat orang yang bertobat, maka itulah yang dinyatakan oleh Rasulullah s.a.w. dengan nama tobat. Pahamilah hal itu dengan baik, insya Allah akan mendapatkan petunjuk dari Allah s.w.t.

Jika Anda bertanya, bagaimana mungkin manusia bisa tidak terjatuh pada perbuatan dosa sama sekali baik dosa kecil ataupun dosa besar, sedangkan para nabi yang merupakan manusia yang paling mulia dan pilihan Allah saja, di antara ahli ilmu terjadi kontroversi, apakah mereka memperoleh derajat tersebut (terbebas dan tidak pernah melakukan dosa) atau tidak.

Ketahuilah, bahwa hal itu (adanya manusia yang tidak pernah terjatuh dalam dosa) adalah mungkin dan bukan sesuatu yang mustahil. Untuk mewujudkan yang demikian itu mudah saja bagi Allah. Dialah yang memberikan keistimewaan rahmat-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

Selanjutnya, termasuk syarat tobat juga adalah hendaklah seseorang tidak memiliki kesengajaan untuk melakukan dosa. Adapun jika masih terjatuh pada perbuatan dosa karena kealpaan atau kesalahan semata, maka yang demikian itu dimaafkan, berkat anugerah keutamaan Allah ta‘ala. Dan hal ini mudah terjadi pada orang yang mendapatkan taufiq dari Allah s.w.t.

Jika Anda bertanya: sesungguhnya yang mencegah aku untuk bertobat adalah karena aku tahu bahwa diriku akan mengulangi dosa itu lagi dan aku tidak akan bisa melakukan tobat secara konsisten. Maka aku tidak bertobat, karena hal itu tidak ada gunanya.

Jika Anda menyatakan begitu, maka ketahuilah bahwa apa yang Anda katakan itu merupakan tipu daya setan. Dari mana Anda mengetahui kalau Anda akan mengulanginya lagi, karena bisa saja terjadi Anda akan mati dalam keadaan bertobat sebelum sempat mengulangi dosa itu lagi.

Ketakutan Anda untuk mengulangi dosa lagi hendaklah Anda hilangkan dengan kebulatan tekad dan kesungguhan memegang komitmen bahwa Anda tidak akan mengulangi dosa lagi. Jika begitu, maka adalah mudah bagi Anda untuk memberikan kesempurnaan rahmat dan anugerah-Nya kepada Anda, sehingga Anda tidak mengulangi dosa itu lagi. Jika Allah tidak memberikan kesempurnaan anugerah-Nya kepada Anda maka Anda sudah beruntung dengan diampuninya dosa yang pernah Anda lakukan, sehingga Anda telah terbebas dan bersih dari dosa Anda yang lampau, kecuali dosa yang baru Anda lakukan sekarang, setelah bertobat. Ini merupakan keuntungan dan faedah yang besar dan agung.

Oleh sebab itu, ketakutan kembali melakukan dosa lagi, jangan Anda jadikan sebagai alasan yang mencegah Anda untuk bertobat. Pastikan Anda bertobat selamanya, ketakutan Anda kembali pada dosa merupakan suatu hal yang baik pula, sebagai pendorong Anda untuk terus menerus bertobat. Semoga Allah memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita.


  • Diposting Pada: 9:37 PM 09/04/2017
  • Dalam Kategori: Tasawwuf
  • Terdiri Dari: 616 Kata
  • Dilihat: 22 Kali.
Back To Top