2-2 Saudah Binti Zam’ah – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW

Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah s.a.w.
(Judul Asli: Nisā’u Ḥaul-ar-Rasūl s.a.w.; al-Qudwat-ul-Ḥasanati wal-Uswat-uth-Thayyibah li Nisā’-il-Usrat-il-Muslimah).
Oleh: Muhammad Ibrahim Salim.

Penerjemah: Abdul Hayyie al-Kattani, Zahrul Fata
Penerbit: GEMA INSANI PRESS

Rangkaian Pos: 002 Wanita Muslimah Teladan Sebagai Istri | Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW
  1. 1.2-1 Khadijah Binti Khuwailid – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW
  2. 2.Anda Sedang Membaca: 2-2 Saudah Binti Zam’ah – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW
  3. 3.2-3 Zainab Binti Rasulillah – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW
  4. 4.2-4 Ruqayyah Binti Rasulillah saw. (Istri ‘Utsman Bin ‘Affan) – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW
  5. 5.2-5 Ummu Hakim Bint-il-Harits al-Makhzumiyyah (Istri ‘Ikrimah bin Abi Jahal) – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW
  6. 6.2-6 Khaulah Binti Malik Bin Tsa’labah – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW

2. SAUDAH BINTI ZAM‘AH.

Dia adalah wanita pertama yang dinikahi Rasūlullāh s.a.w. setelah wafatnya Khadījah. Setelah lebih dari tiga tahun dari masa pernikahannya dengan Saudah binti Zam‘ah, Rasūlullāh s.a.w. menikah lagi dengan ‘Ā’isyah.

Sepeninggal Khadījah, banyak sahabat berharap kepada Rasūlullāh untuk segera mengakhiri masa dudanya dengan menikah lagi. Namun, siapakah orang yang berani membuka jalan untuk itu?

Datanglah Khaulah binti Ḥakīm menghadap Rasūlullāh saw. guna mengemban misi tersebut dengan mengusulkan ‘Ā’isyah binti ash-Shiddīq sebagai calon istri yang menggantikan Khadījah. Namun, karena usia ‘Ā’isyah yang masih belia, lamaran itu pun ditunda sampai ‘Ā’isyah tumbuh dewasa.

Di sisi lain, siapakah yang mendampingi Rasūlullāh saw., yang merawat putri-putrinya, dan yang mengurus segala urusan rumah tangganya kalau harus menunggu ‘Ā’isyah sampai dua atau tiga tahun lagi? Jatuhlah pilihan beliau kepada Saudah binti Zam‘ah dari Bani Uday bin Najjār.

Untuk itu, diutuslah Khaulah binti Ḥakīm guna melamarnya. Sebelum ke rumah Zam‘ah (bapak Saudah), Khaulah mampir terlebih dahulu ke rumah Abū Bakar guna memberitahu niat Rasūlullāh saw. tersebut.

Sesampainya di rumah Zam‘ah dan bertemu dengan putrinya, Khaulah berkata kepada Saudah binti Zam‘ah: “Gerangan apa yang terjadi sehingga Allah menganugerahkan kebaikan dan keberkahan buatmu, wahai Saudah?” Dengan mimik muka yang penuh dengan tanda tanya, Saudah bertanya kepada Khaulah: “Apa yang anda maksud wahai Khaulah?” Khaulah menjawab: “Sesungguhnya saya diutus Rasūlullāh guna melamarmu untuknya.” Dengan nada yang gemetar, Saudah bertanya: “Anda serius!! Kalau memang benar, silakan anda mengungkapkannya kepada ayah.” (31) Diterimalah lamaran tersebut dan akad nikahpun segera dilangsungkan.

Menilik kondisi Saudah sebelum diperistri oleh Rasūlullāh akan tampak apa sebab (tujuan) Rasūlullāh saw. menikahinya? Dan sisi usia, Saudah bisa dikatakan telah memasuki usia senja saat itu.

Saudah adalah salah seorang wanita yang ikut hijrah ke Ḥabasyah bersama suaminya yang anak pamannya sendiri. Pada saat itu pula (hijrah), sang suami meninggal dunia. Tidak ada penderitaan sepedih yang diderita Saudah. Kesedihan seorang istri yang ditinggal mati suaminya di tengah-tengah penderitaan hijrah.

Kondisi Saudah tersebut merupakan salah satu faktor penyebab pernikahan Rasūlullāh saw. dengannya.

Selang beberapa tahun, Saudah hidup berdua bersama Rasūlullāh saw., “datanglah” ‘Ā’isyah r.a. sebagai istri baru Rasūlullāh saw. Saudah tahu persis bagaimana cinta Rasūlullāh kepada ‘Ā’isyah. Oleh karena itu, dalam banyak kesempatan Saudah sering mengalah dan memberikan harinya (gilirannya) kepada ‘Ā’isyah dan memberikan keluasan dalam mengatur urusan rumah tangga.

Dalam setiap geraknya, Saudah selalu menomorsatukan keridhaan pengantin baru (‘Ā’isyah), bahkan tidak jarang Saudah harus begadang demi ketenangan ‘Ā’isyah. Tidak ada yang Saudah harapkan di usianya yang semakin senja kecuali hanya ingin tetap menjadi istri Rasūlullāh s.a.w. selama di dunia dan akhirat. Dia terus berharap agar kemuliaan sebagai istri Rasūlullāh s.a.w. ini terus langgeng.

Itulah sosok kepribadian Saudah yang tidak henti-hentinya menjaga dan memelihara rumah tangga Nabi dengan penuh keikhlasan dan keimanan sampai akhir hayatnya. Saudah meninggal pada masa pemerintahan ‘Umar ibn-ul-Khaththāb r.a..

Keagungan dan kharisma Saudah pun masih membekas di hati ‘Ā’isyah sehingga ia berharap ingin sepertinya. ‘Ā’isyah berkata: “Tidak ada wanita yang saya cintai selain Saudah binti Zam‘ah. Saya berharap bisa menjadi “bajunya” (penggantinya) meskipun baju itu terlalu tajam bagiku (sesuatu yang sulit bagi saya, penj).

Begitu agungnya kepribadian Saudah sehingga tidak heran suatu hari sahabat Ibnu ‘Abbās bersujud atas kematiannya. Ketika ditanya mengapa dia melakukan itu, dia menjawab bahwasanya Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Apabila kalian melihat ayat (tanda) kebesaran Allah, bersujudlah. Tidak ada tanda kebesaran Allah melebihi kematian istri-istri Rasūlullāh s.a.w..

Saudah juga meriwayatkan lima hadits dari Rasūlullāh s.a.w.. Dalam Shaḥīḥ Bukhārī diriwayatkan satu hadits darinya. Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Bukhārī meriwayatkan dua hadits.

Di samping akhlaknya yang mulia, Saudah juga termasuk orang yang gemar bersedekah.

‘Ā’isyah ra. berkata: “Ketika istri-istri Rasūlullāh saw. berkumpul dengan beliau, mereka bertanya: “Wahai Rasūlullāh, siapakah di antara kami yang paling cepat menemuimu di akhirat nanti?” Rasūlullāh saw. Menjawab: “Yaitu orang-orang yang paling panjang tangannya di antara kalian.” Maka kami bergegas mencari sebatang kayu untuk mengukur siapa di antara kami yang paling panjang tangannya, dan ternyata Saudah adalah yang terpanjang (tangannya) di antara kami. Pada kemudian hari, kami tahu bahwa maksud dari panjang tangan adalah sedekah, dan dia Saudah paling suka bersedekah di antara kami.” (HR Bukhārī, Muslim, an-Nasā’ī)

Dalam riwayat lain dari Imām Muslim, Rasūlullāh saw. Bersabda: “Yang paling cepat bertemu denganku di antara kalian adalah yang paling panjang tangannya.” ‘Ā’isyah berkata: “Lalu kami saling memanjangkan tangan kami dan ternyata Zainab adalah yang terpanjang di antara kami karena kegemarannya dalam bersedekah.”

Catatan:

  1. 3). Lihat kisah selengkapnya di Tārīkh ath-Thabarī (3: 176) dan kitab as-Samthu ats-Tsamīn halaman 102.
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *