skip to Main Content
2-2 Hubungan Ahl-ul-Bait Dengan Sahabat – Al Hasan Ra & Al Husain Ra

Dari Buku:

SAYYIDĀ SYABĀB AHL-IL-JANNAH
AL-HASAN R.A. & AL-HUSAIN R.A.

Oleh: Achmad Zein Alkaf

Penerbit: Pustaka Albayyinat

Hubungan Ahl-ul-Bait Dengan Shaḥābat

(Bagian 2)

 

Kecintaan Imām ‘Alī k.w. kepada kedua Khalifah juga telah diwujudkannya dalam memberikan nama-nama anak-anaknya. Di mana anak-anaknya telah ia beri nama Abū Bakar dan ‘Umar.

Apa yang dilakulkan oleh Imām ‘Alī k.w. terhadap kedua Khalifah tidak lain karena beliau mengetahui kedudukan Sayyidinā Abū Bakar ra dan Sayyidinā ‘Umar ra di sisi Allah dan Rasūl-Nya.

Dalam hal ini Imām ‘Alī k.w. berkata:

خير هذه الأمة بعد نبيها أبو بكر ثم عمر. (رواه البخاري)

“Orang yang paling baik dari umat ini setelah Nabinya adalah Abū Bakar, kemudian ‘Umar.” (HR. Bukhārī)

Ucapan di atas diriwayatkan dari Imām ‘Alī k.w. lebih dari delapan puluh riwayat, sehingga merupakan riwayat yang sangat kuat.

Dalam kesempatan yang lain Imām ‘Alī k.w. berkata:

لا أوتى بأحد يفضّلني على أبي بكر و عمر إلَّا ضربته حدّ المفتري. (رواه الدارقطنى)

“Andaikan dihadapkan pada saya, seseorang yang mempunyai faham bahwa saya lebih afdhal dari Abū Bakar dan ‘Umar, niscaya orang itu akan saya pukul Khadd-ul-Muftarī.” (HR. ad-Dāruquthnī)

(Khadd-ul-Muftarī adalah sangsi hukuman yang diperuntukkan bagi seseorang yang melontarkan tuduhan palsu)

Itulah keterangan-keterangan Imām ‘Alī k.w. mengenai kedudukan tinggi Sayyidinā Abū Bakar r.a. dan Sayyidinā ‘Umar ra. Hal ini membuktikan Imām ‘Alī kepada kedua Khalifah tersebut. Dan sekaligus merupakan pelajaran bagi kita dalam mengambil sikap terhadap Sayyidinā Abū Bakar r.a. dan Sayyidinā ‘Umar r.a.

Siapa saja yang beliau cintai harus kita cintai dan apa saja yang beliau ajarkan, harus kita ikuti.

Jangan seperti orang-orang Syī‘ah, mereka mengaku sebagai pecinta Imām ‘Alī k.w. dan Ahl-ul-Bait lainnya, tetapi kenyataannya mereka tidak mengikuti Imām ‘Alī k.w. dan Ahl-ul-Bait lainnya, dalam mencintai para Shaḥābat, khususnya dalam mencintai Khalifah Abū Bakar r.a. dan Khalifah ‘Umar r.a.

Bahkan apabila kita membaca sejarah Ahl-ul-Bait, maka akan kita ketahui bahwa orang-orang Syī‘ah yang mengaku cinta pada Imām ‘Alī k.w. tersebut selain memusuhi para Shaḥābat, ternyata mereka juga memusuhi banyak dari keturunan Imām ‘Alī ra. Imām Zaid r.a. dan putra-putranya serta sebagian dari keturunan Imām Ḥasan r.a. Bahkan sampai sekarang, mereka selalu memusuhi dan memfitnah keturunan Imām ‘Alī k.w. yang tidak beraqidah Syī‘ah Imāmiyyah Itsnā ‘Asyariyah.

Semua itu membuktikan bahwa orang-orang Syī‘ah Imāmiyah Itsnā ‘Asyariyah (Ja‘fariyyah) itu hanya pura-pura mencintai Ahl-ul-Bait. Tujuan mereka yang sebenarnya adalah untuk menghancurkan Islam dari dalam.

Karenanya kami tidak sepaham dan tidak sependapat dengan orang-orang Syī‘ah yang suka menggambarkan, seakan-akan Imām ‘Alī k.w. itu dimusuhi oleh para Shaḥābat.

Sebab jelas sekali, bahwa pendapat yang demikian itu tidak didukung oleh bukti-bukti yang akurat. Tujuan mereka hanya akan menyerang dan menjelekkan para Shaḥābat. Padahal akibatnya justru dapat mendiskreditkan Imām ‘Alī k.w.

Rasūlullāh Saw pernah bersabda:

الله الله في أصحابي لا تتخذهم غرضا من بعد، فمن أحبهم فبحبي أحبهم، و من أبغضهم فببغضي أبغضهم. (رواه الترمذي)

Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah mengenai Shaḥābat-shaḥābatku. Janganlah kamu menjadikan mereka sebagai sasaran caci-maki sesudah aku tiada. Barang siapa mencintai mereka, maka berarti dia mencintai aku. Dan barang siapa membenci mereka maka berarti dia membenci aku.(HR. Tirmidzī)

Sabda Rasūlullāh Saw yang lain:

لا تسبوا أصحابي فو الذي نفسي بيده لو أن أحدكم أنفق مثل أحد ذهبا ما بلغ مد أحدهم ولا نصيفه. (رواه البخاري و مسلم)

Janganlah kalian mencaci maki Shaḥābat-shaḥābatku. Demi Tuhan yang menguasai nyawaku, andaikata seseorang dari kamu membelanjakan emas sebesar gunung Uhud, tentunya iya tidak mencapai satu mud maupun setengahnya yang dibelanjakan oleh seorang dari mereka (Shaḥābat-shaḥābatku).(HR. Bukhārī dan Muslim)

Itulah di antara Hadist-Hadist yang menunjukkan keutamaan para Shaḥābat dan pujian-pujian dari Rasūlullāh Saw untuk mereka. Serta perintah Rasūlullāh agar kita menghormati dan mencintai mereka. Disamping ancaman dari Allah dan Rasūl-Nya bagi orang-orang yang memusuhi dan mencaci-maki para Shaḥābat.

Sebenarnya apabila orang-orang Syī‘ah itu membaca al-Qur’ān dan memahami artinya, pasti mereka tidak akan bersikap yang tidak baik terhadap para Shahabat.

Sebab dalam al-Qur’ān banyak sekali ayat-ayat yang menunjukan dan menerangkan kebesaran dan keutamaan para Shaḥābat, serta ridha Allah pada mereka, disamping janji Allah untuk memasukkan mereka dalam surga.

Allah Swt berfirman:

وَ السّٰبِقُوْنَ الْأَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهٰجِرِيْنَ وَ الْأَنصَارِ وَ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِإِحْسٰنٍ رَّضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَ رَضُوْا عَنْهُ وَ أَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ تَحْتَهَا الْأَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ أَبَدًا ۚ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ (التوبة: ١٠٠)

“Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhājirīn dan Anshār dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka Surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah : 100)

Dalam ayat yang lain Allah Swt berfirman:

وَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَ هَاجَرُوْا وَ جَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللَّهِ وَ الَّذِيْنَ آوَوْا وَ نَصَرُوْا أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّا ۚ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَ رِزْقٌ كَرِيْمٌ (الأنفال: ٧٤)

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhājirīn), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rizki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfāl : 74)

Firman Allah Swt yang lain:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِيْنَ إِذْ يُبَايِعُوْنَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ عَلَيْهِمْ وَ أَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيْبًا (الفتح : ١٨)

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min, ketika mereka berjanji setia kepadanya dibawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka, lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. Al-Fatḥ: 18)

Demikian ayat-ayat yang menerangkan kebesaran dan keutamaan para Shaḥābat serta ayat-ayat yang menunjukan perjuangan dan pengorbanan para Shaḥābat, serta pujian dan ridha Allah pada merteka. Begitu pula janji Allah untuk memasukkan para Shaḥābat dalam surga.

Apa yang mereka dapatkan tidak lain dikarenakan jasa-jasa mereka dalam membantu Rasūlullāh Saw dalam menegakkan agama Allah. Mereka adalah orang-orang yang mendampingi Rasūlullāh Saw baik dalam suasana damai maupun perang, di dalam suasana gembira maupun sedih. Mereka korbankan harta bendanya, serta jiwa dan keluarganya demi Islam. Sehingga wajarlah bila mereka itu mendapat kedudukan yang sangat tinggi dari Allah Swt.

Melalui merekalah kita menerima ajaran Islam yang sudah teratur, sehingga kita tidak susah-susah lagi mencari-cari dan mengumpulkan Kalām Allah (Al-Qur’ān) serta Hadist-Hadis Nabi.

Oleh karena jasa-jasa mereka tersebut dan karena Allah dan Rasūl-Nya telah memuji dan memberikan kedudukan yang sangat tinggi pada mereka, maka kita golongan Ahl-us-Sunnah wal-Jamā‘ah mencintai dan menghormati mereka.

Kita siap berkorban apa saja, baik harta benda maupun jiwa raga demi membela mereka.

Demikian hubungan Ahl-ul-Bait dengan para Shaḥābat.


  • Diposting Pada: 6:15 AM 10/17/2017
  • Dalam Kategori: Sejarah
  • Terdiri Dari: 973 Kata
  • Dilihat: 6 Kali.
Back To Top