2-2-2 Pasal: Cukupnya Taqlid untuk Meyakini Allah (2/2) – Terjemah Syarh Umm al-Barahin

MENUJU KEBENINGAN TAUHID BERSAMA AS-SANUSI
Terjemah Syarḥ Umm-ul-Barāhin
Penulis: Al-Imam Muhammad bin Yusuf as-Sanusi

Penerjemah: Ahmad Muntaha AM.
Penerbit: Santri Salaf Press-Kediri

Rangkaian Pos: 2-2 Pasal: Cukupnya Taqlid untuk Meyakini Allah - Terjemah Syarh Umm al-Barahin
  1. 1.2-2-1 Pasal: Cukupnya Taqlid untuk Meyakini Allah (1/2) – Terjemah Syarh Umm al-Barahin
  2. 2.Anda Sedang Membaca: 2-2-2 Pasal: Cukupnya Taqlid untuk Meyakini Allah (2/2) – Terjemah Syarh Umm al-Barahin

وَ بِالْجُمْلَةِ فَالْاِحْتِيَاطُ فِي الْأُمُوْرِ هُوَ أَحْسَنُ مَا يَسْلُكُهُ الْعَاقِلُ، لَا سِيَّمَا فِيْ هذَا الْأَمْرِ الَّذِيْ هُوَ رَأْسُ الْمَالِ، وَ عَلَيْهِ يَنْبَنِيْ كُلُّ خَيْرٍ، فَكَيْفَ يَرْضَى ذُوْ هِمَّةٍ أَنْ يَرْتَكِبَ مِنْهُ مَا يُكَدِّرُ مَشْرَبَهُ مِنَ التَّقْلِيْدِ الْمُخْتَلَفِ فِيْهِ، وَ يَتْرُكُ الْمَعْرِفَةَ وَ التَّعَلُّمَ لِلنَّظَرِ الصَّحِيْحِ الَّذِيْ يَأْمَنُ مَعَهُ كُلُّ مُخَوِّفٍ، ثُمَّ يَلْتَحِقُ مَعَهُ بِدَرَجَةِ الْعُلَمَاءِ الدَّاخِلِيْنَ فِيْ سَلْكِ قَوْلِهِ تَعَالَى: “شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لَا إِلهَ إلَّا هُوَ وَ الْمَلَائِكَةُ وَ أُوْلُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ”، الآيَةَ.

Kesimpulannya, hati-hati dalam segala permasalahan merupakan langkah terbaik yang ditempuh orang berakal, apalagi terkait keimanan yang merupakan modal utama manusia, yang di atasnya semua kebaikan dibangun. Bagaimana orang ber-himmah rela menempuh jalan taqlīd yang masih diperselisihkan dan memperkeruh akidahnya, meninggalkan ma‘rifat dan belajar melakukan pemikiran yang benar yang dapat menghindarkannya dari segala kekhawatiran, kemudian dengannya mencapai derajat ulama yang masuk dalam makna firman Allah ta‘ālā: “Allah menjelaskan, sungguh tidak Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Menegakkan Keadilan; Malaikat dan orang-orang yang berpengetahuan pun mengakuinya…..” (321).

فَلَا يَتَقَاصَرُ عَنْ هذِهِ الرُّتْبَةِ الْمَأْمُوْنَةِ الزَّكِيَّةِ إِلَّا ذُوْ نَفْسٍ سَاقِطَةٍ وَ هِمَّةٍ خَسِيْسَةٍ. لكِنْ عَلَى الْعَاقِلِ أَنْ يَنْظُرَ أَوَّلًا فِيْمَنْ يُحَقِّقُ لَهُ هذَا الْعِلْمَ وَ يَخْتَارُهُ لِلصُّحْبَةِ مِنَ الْأَئِمَّةِ الْمُؤَيَّدِيْنَ مِنَ اللهِ تَعَالَى بِنُوْرِ الْبَصِيْرَةِ، الزَّاهِدِيْنَ بَقُلُوْبِهِمْ فِيْ هذَا الْعُرْضِ الْحَاضِرِ، الْمُشْفِقِيْنَ عَلَى الْمَسَاكِيْنِ، الرُّؤَفَاءُ عَلَى ضُعَفَاءِ الْمُؤْمِنِيْنَ.

Tidaklah mencukupkan diri jauh dari derajat yang aman dan suci ini kecuali orang yang berjiwa rendah dan ber-himmah hina. Namun demikian, pertama kali wajib bagi orang berakal untuk mempertimbangkan orang yang mengajarinya secara benar ilmu akidah keimanan ini, dan memilihnya untuk dijadikan guru, dari para imam yang oleh Allah dikokohkan dengan cahaya hati, yang zuhud dengan hatinya dari dunia yang ada ini, yang penuh belas kasihan kepada orang-orang mu’min ilmu, dan orang-orang mu’min yang lemah pemahamannya.

فَمَنْ وَجَدَ أَحَدًا عَلَى هذِهِ الصِّفَةِ فِي هذَا الزَّمَانِ الْقَلِيْلِ الْخَيْرَ جِدًّا، فَلْيَشُدَّ يَدَهُ عَلَيْهِ، وَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ لَا يَجِدُ لَهُ، وَ اللهُ أَعْلَمُ، ثَانِيًا فِيْ عَصْرِهِ، إِذْ مَنْ يَكُوْنُ عَلَى هذِهِ الصِّفَةِ أَوْ قَرِيْبًا مِنْهَا، لَا يَكُوْنُ مِنْهُمْ فِيْ أَوَاخِرِ الزَّمَانِ إِلَّا الْوَاحِدُ وَ مَنْ يَقْرُبُ مِنْهُ عَلَى مَا نَصَّ عَلَيْهِ الْعُلَمَاءُ.

Orang yang menemukan guru semacam itu pada zaman yang sedikit sekali kebaikannya ini, hendaklah selalu mengikutinya. Ketahuilah, sungguh ia tidak akan menemukannya lagi – wallāhu a‘lam – untuk kedua kalinya pada masanya. Sebab, orang yang mempunyai sifat seperti itu atau yang mendekatinya (yang secara terang-terangan mengajarkan ilmu ini), di akhir zaman tidak ada kecuali seorang saja, dan orang yang mendekatinya, sesuai penjelasan ulama.

ثُمَّ الْغَالِبُ عَلَيْهِ فِيْ هذَا الزَّمَانِ الْخَفَاءُ، بِحَيْثُ لَا يُرْشَدُ إِلَيْهِ إِلَّا قَلِيْلٌ مِنَ النَّاسِ. وَلْيَشْكُرِ اللهَ سُبْحَانَهُ الَّذِيْ أَطْلَعَهُ عَلَى هذِهِ الْغَنِيْمَةِ الْعظْمَى آنَاءَ اللَّيْلِ وَ أَطْرَافَ النَّهَارِ، إِذْ أَظْفَرَهُ مَوْلَاهُ الْكَرِيْمُ جَلَّ وَ عَزَّ بِمَحْضِ فَضْلِهِ بِكَنْزٍ عَظِيْمٍ مِنْ كُنُوْزِ الْجَنَّةِ، يُنْفِقُ مِنْهُ مَا شَاءَ وَ كَيْفَ شَاءَ، وَ قَلِيْلٌ أَنْ يُنْفِقَ الْيَوْمَ وُجُوْدَ مِثْلِ هذَا إِلَّا نَادِرٌ مِنَ السُّعَدَاءِ.

Pada umumnya di zaman ini, orang yang seperti itu samar (sulit ditemukan), sekira tidak ditunjukkan kepadanya kecuali sedikit orang saja. Hendaklah ia bersyukur kepada Allah sepanjang malam dan siang yang telah memperlihatkannya atas kesuksesan besar ini. Sebab Allah Yang Maha Pemurah – jalla wa ‘azza – dengan kemurnian anugerah-Nya telah memberinya kesuksesan mendapat kekayaan surga yang sangat besar (guru dengan sifat-sifat yang telah disebutkan) yang dapat menjadi sumber belajar dan dengan cara bagaimanapun yang dikehendakinya ia belajar kepadanya. Sedikit sekali orang yang dapat belajar kepada guru semacam ini pada masa sekarang ini kecuali orang beruntung yang langka.

وَ أَمَّا مَنْ يَقْرَأُ هذَا الْعِلْمَ عَلَى مَنْ يَتَعَاطَى لَهُ وَ لَيْسَ عَلَى الصِّفَةِ الَّتِيْ ذَكَرْنَاهَا فَمَفَاسِدُ صُخْبَةِ هذَا دُنْيًا وَ أُخْرَى أَكْثَرُ مِنْ مَصَالِحِهَا، وَ مَا أَكْثَرُ وُجُوْدِ مِثْلِ هؤُلَاءِ فِيْ زَمَانِنَا فِيْ كُلِّ مَوْضِعٍ، نَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى السَّلَامَةَ مِنْ شَرِّ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ شَرِّ كُلِّ ذِيْ شَرٍّ بِجَاهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ (ص).

Adapun orang yang membacakan ilmu akidah ini kepada orang yang meminta kepadanya sementara ia tidak mempunyai sifat-sifat yang telah aku sebutkan, maka mafsadah menjadi muridnya di dunia dan akhirat lebih banyak daripada kemaslahatannya. Sangat banyak orang-orang seperti itu di zaman kita di setiap tempat. Aku memohon keselamatan kepada Allah ta‘ālā dengan derajat Sayyidinā Muḥammad s.a.w. dari keburukan diriku dan keburukan setiap orang yang mempunyai keburukan.

وَلْيَحْذَرِ الْمُبْتَدِئُ جُهْدَهُ أَنْ يَأْخُذَ أُصُوْلَ دِيْنِهِ مِنَ الْكُتُبِ الَّتِيْ حُشِيَتْ بِكَلَامِ الْفَلَاسِفَةِ، وَ أُوْلِعَ مُؤَلِّفُوْهَا بِنَقْلِ هَوْسِهِمْ، وَ مَا هُوَ كُفْرٌ صُرَّاحٌ مِنْ عَقَائِدِهِمْ الَّتِيْ سَتَرُوْا نَجَاسَتَهَا بِمَا يَنْبَهِمُ عَلَى كَثِيْرٍ مِنِ اصْطِلَاحَاتِهِمْ وَ عِبَارَاتِهِمُ الَّتِيْ أَكْثَرُهَا أَسْمَاءُ بِلَا مُسَمَّيَاتٍ، وَ ذلِكَ كَكُتُبِ الْإِمَامِ الْفَخْرِ فِيْ عِلْمِ الْكَلَامِ، وَ طَوَالِعِ الْبَيْضَاوِيْ، وَ مَنْ حَذَا حَذْوَهُمَا فِيْ ذلِكَ.

Hendaklah pelajar pemula menghindarkan kemampuannya untuk belajar ushūl-ud-dīn-nya dari kitab-kitab yang dipenuhi pendapat-pendapat kaum filosuf, para penulisnya menggantungkan diri dengan mengutip kegilaan mereka yang merupakan kekufuran nyata, yaitu akidah-akidah yang kenajisannya mereka tutupi dengan berbagai istilah dan ungkapan yang samar yang mayoritas hanya merupakan nama tanpa substansi, seperti kitab-kitab karya al-Imām al-Fakhr ar-Rāzī tentang kalām, kitab Thawāli‘ karya al-Baidhāwī, dan orang-orang yang menempuh metode mereka dalam ilmu kalam. (332)

وَ قَلَّ أَنْ يُفْلِحَ مَنْ أَوْلَعَ بِصُحْبَةِ كَلَامِ الْفَلَاسِفَةِ أَوْ يَكُوْنَ لَهُ نُوْرُ إِيْمَانٍ فِيْ قَلْبِهِ أَوْ لِسَانِهِ. وَ كَيْفَ يُفْلِحُ مَنْ وَالَى مَنْ حَادَ اللهِ وَ رَسُوْلِهِ وَ خَرَقَ حِجَابِ الْهَيْبَةِ وَ نَبَذَ الشَّرِيْعَةَ وَرَاءَ ظَهْرِهِ وَ قَالَ فِيْ حَقّ مَوْلَانَا جَلَّ وَ عَزَّ وَ فِيْ حَقِّ رُسُلِهِ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ مَا سَوَّلَتْ لَهُ نَفْسُهُ الْحَمْقَاءُ، وَ دَعَاهُ إِلَيْهِ وَهْمُهُ الْمُخْتَلُّ.

Jarang sekali beruntung orang yang menggantungkan diri dengan menekuni kalam para filosuf, atau mendapatkan cahaya keimanan di hati atau lisannya. Bagaimana beruntung orang yang mengasihi orang yang memusuhi Allah dan Rasūl-Nya, membakar haibah Allah yang laksana hijab, membuang syariat di belakang punggungnya, dan berkata bagi Allah – jalla wa ‘azza – dan para Rasūl-Nya ‘alaihim-ush-shālatu was-salām – dengan perkataan yang dihiaskan oleh dirinya yang bodoh dan diajak oleh persangkaannya yang rusak.

وَ لَقَدْ خَذَلَ بَعْضُ النَّاسِ فَتَرَاهُ يُشْرِفُ كَلاَمَ الْفَلَاسِفَةِ الْمَلْعُوْنِيْنَ، وَ يُشْرِفُ الْكُتُيَ الَّتِيْ تُعَرِّضَتْ لِنَقْلِ كَثِيْرٍ مِنْ حَمَاقَاتِهِمْ لِمَا تَمَكَّنَ فِيْ نَفْسِهِ الْأَمَّارَةُ بِالسُّوْءِ مِنْ حُبِّ الرِّيَاسَةِ و حُبُّ الْإِغْرَابِ عَلَى النَّاسِ بِمَا يَنْبَهِمُ عَلَى كَثِيْرٍ مِنْهُمُ مِنْ عِبَارَاتٍ وَ اصْطِلَاحَاتٍ يُوْهِمُهُمْ أَنَّ تَحْتَهَا عُلُوْمًا دَقِيْقَةً نَفِيْسَةً، وَ لَيْسَ تَحْتَهَا إِلَّا التَّخْلِيْطُ وَ الْهَوْسُ وَ الْكُفْرُ الَّذِيْ لَا يَرْضَى أَنْ يَقُوْلَهُ عَاقِلٌ.

Sungguh sebagian orang telah terlalaikan, sehingga anda lihat ia memuliakan kalām kaum filosuf terlaknat, memuliakan kitab-kitab yang ditulis untuk mengutip berbagai kebodohan mereka karena cinta pangkat dan keunikan menggungguli orang lain dengan berbagai ungkapan dan istilah yang samar bagi kebanyakan orang, yang mengesankan bagi mereka bahwa di bawahnya terdapat ilmu-ilmu yang mendalam dan bagus, padahal kenyataannya hanya pencampuradukkan, kegilaan, dan kekufuran yang orang berakal tidak sudi mengucapkannya.

وَ رُبَّمَا يُؤْثِرُ بَعْضُ الْحَمْقَى هَوْسَهُمْ عَلَى الْاِشْتِغَالِ بِمَا يُعِيْنُهُ مِنَ التَّفَقُّهِ فِيْ أُصُوْلِ الدِّيْنَ وَ فُرُوْعِهِ عَلَى طَرِيْقِ السَّلَفِ الصَّالِحِ وَ الْعَمَلُ بِذلِكَ، وَ يَرَى هذَا الْخَبِيْثَ لِانْطِمَاسِ بَصِيْرتِهِ وَ طَرْدِهِ عَنْ بَابِ فَضْلِ اللهِ تَعَالَى إِلَى بَابِ غَضَبهِ أَنَّ الْمُسْتَغِلِيْنَ بِالتَّفَقُّهِ فِيْ دِيْنِ اللهِ تَعَالَى الْعَظِيْمِ الْفَوَائِدِ دُنْيًا وَ أُخْرًا بَلَدَاءَ الطَّبْعِ نَاقِصُو الذُّكَاء.

Terkadang sebagian orang bodoh memprioritaskan mempelajari kegilaan kaum filosuf daripada menyibukkan diri dengan mempelajari ushūl dan furū‘-ud-dīn sesuai metode kaum as-Salaf ash-Shāliḥ dan mengamalkannya, yang bermanfaat baginya. Karena terhapusnya mata hati dan terlemparnya dari pintu anugerah Allah ta‘ālā ke pintu murka-Nya. Orang bodoh yang keji ini menganggap orang-orang yang fokus memelajari agama Allah ta‘ālā yang besar manfaatnya di dunia dan akhirat, sebagai orang-orang berwatak bodoh dan kurang cerdas.

فَمَا أَجْهَلَ هذَا الْخَبِيْثَ وَ أَقْبَحَ سَرِيْرَتُهُ وَ أَعْمَى قَلْبَهُ حَتَّى رَأَى الظُّلْمَةَ نُوْرًا وَ النُّوْرَ ظُلْمَةً. وَ مَنْ يُرِدِ اللهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللهِ شَيْئًا، أولئِكَ الَّذِيْنَ لَمْ يُرِدِ اللهُ أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوْبَهُمْ، لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيْمٌ، سَمَّاعُوْنَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُوْنَ لِلسُّحْتِ…..

Sungguhnya bodoh, sungguh keji dan sungguh buta hatinya, sampai ia melihat kegelapan sebagai cahaya dan melihat cahaya sebagai kegelapan. Orang yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu (Muḥammad s.a.w.) tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) dari-Nya. Mereka adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan hatinya. Bagi mereka kehinaan di dunia dan akhirat. Bagi mereka siksaan yang besar. Mereka adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong dan banyak memakan harta haram….. (343).

نَسْأَلُهُ سُبْحَانَهُ أَنْ يُعَامِلَنَا وَ يُعَامِلَ جَمِيْعَ أَحِبَّتِنَا إِلَى الْمَمَاتِ بِمَحْضِ فَضْلِهِ، وَ أَنْ يَلْطَفَ بِجَمِيْعِ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَ يَقِيْهِمْ فِيْ هذَا الزَّمَانِ الصَّعْبِ مَوَارِدَ الْفِتَنِ بِجُوْدِهِ وَ كَرَمِهِ بِجَاهِ أَشْرَفِ الْخَلْقِ سَيِّدِنَا وَ مَوْلَانَا مُحَمَّدٍ (ص).

Aku memohon kepada Allah s.w.t. agar Ia menjagaku dan orang-orang yang mencintaiku sampai mati dengan kemurnian anugerahnya, dan agar mengasihi semua mu’minin, dan menjaga mereka di zaman yang penuh kesulitan ini dari datangnya berbagai fitnah, dengan kemurahan dan kedermawanan-Nya, dengan lantaran derajat manusia termulia, Sayyidinā wa Maulānā Muḥammad s.a.w.

Catatan:

  1. 32). QS. Āli ‘Imrān: 18.
  2. 33). Merujuk al-Burhān al-Laqqānī dalam Hidāyat-ul-Murīd sebagaimana kutipan al-Bajūrī, pada mulanya dahulu ulama mencukupkan diri dengan pembahasan dzat, shifat, kenabian, dan sam‘iyyat. Lalu muncul berbagai sekte ahli bid‘ah yang sering mendebat dan melempar propaganda yang bercampur kaidah-kaidah filsafat terhadap ulama. Di kemudian hari, hal ini menuntut ulama pada masa berikutnya seperti al-Fakhr-ur-Rāzī, al-Baidhāwī, as-Sa‘d, al-‘Adhad, dan Ibn ‘Irfah untuk memasukkan materi-materi filsafat pada kitab-kitab kalām mereka untuk menghadapi, meruntuhkan, menjelaskan kesalahan, dan menjelaskan bahwa propaganda kaum filosuf, sehingga peringatan agar menghindari kitab-kitab mereka hanya diperuntukkan bagi orang yang tidak mampu memahaminya. Ad-Dasūqī, Ḥāsyiyat-ud-Dasyūqī, 71.
  3. 34). QS. Al-Mā’idah: 41-42.
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *