2-13 Memenuhi Undangan Tetangga – 115 Kisah Menakjubkan dalam Kehidupan Rasulullah

115 Kisah Menakjubkan dalam Kehidupan Rasūlullāh Saw

Oleh: FUAD ABDURAHMAN
(Penulis buku bestseller The Great of Two Umars)

Penerbit: Penerbit Noura Books
(PT Mizan Publika)

Untuk kedua orangtuaku:
Ma’mun Fudholi ibn K.H. Ahmad Fudholi
Siti Sobariyah

Untuk dua guruku:
Al-‘Allamah Al-Ustadz Qurtubi (Alm.)
Drs. K.H. Pepe Syafi‘i Mukhtar (Alm.)

Diketik Oleh: Zahra’

Memenuhi Undangan Tetangga

 

Setelah pernikahan Rasūlullāh Saw. dan ‘Ā’isyah r.a. diresmikan pada tahun kedua Hijriah, pasangan suami-istri itu pindah ke rumah (lebih tepatnya bilik) baru, yaitu ke salah satu bilik di samping Masjid Nabawi yang dibangun Rasūlullāh Saw. dari tanah liat dan beratapkan anyaman pelepah kurma. Tidak ada perlangkapan berharga di dalam bilik itu. Di dalamnya hanya ada sebuah tempat tidur dari kulit yang disamak, diisi bulu, dan di pintu bilik digantungkan tirai dari bulu.

Suatu hari, Rasūlullāh Saw. sedang bersama ‘Ā’isyah r.a. di rumahnya. Ketika mengetahui bahwa Rasūlullāh Saw. ada di rumah ‘Ā’isyah r.a., salah seorang tetangganya, yang berasal dari Persia dan dikenal piawai memasak segera menyiapkan hidangan. Setelah hidangan siap, ia lalu menemui dan mengundang Rasūlullāh Saw. untuk menyantap hidangan masakannya. Karena saat itu sedang bersama istri  tercinta, beliau bertanya kepada orang Persia itu: “Saudaraku, apakah ‘Ā’isyah istriku, juga diundang?”

“Tidak, wahai Rasūlullāh,” jawab orang Persia itu. Ternyata, ia menyiapkan hidangan itu hanya untuk beliau.

Mendengar jawaban orang Persia itu, Rasūlullāh Saw. berkata kepada sang istri tercinta: “Wahai ‘Ā’isyah, engkau tidak diundang.”

Merasa sungkan menerima undangan tanpa mengajak istri tercinta, Rasūlullāh Saw. lantas menolak dengan halus undangan tetangganya itu.

Merasa ingin sekali rumahnya didatangi Rasūlullāh Saw., orang itu mengundang lagi beliau untuk mencicipi hidangan yang telah disiapkan di rumahnya.

Rasūlullāh Saw. yang tidak biasa menolak undangan, bertanya kepada orang Persia itu dengan ramah dan santun, “Wahai Saudaraku, apakah ‘Ā’isyah, istriku, juga diundang?”

“Tidak, wahai Rasūlullāh,” jawaban orang Persia itu sama seperti sebelumnya. Ia sama sekali tidak peka terhadap perasaan Rasūlullāh Saw. kepada istrinya tercinta. Beliau enggan memenuhi undangan tetangganya itu dan meninggalkan istrinya seorang diri di rumah.

Mendengar jawaban tetangga Persia tersebut, Rasūlullāh Saw. berkata kepada sang istri tercinta: “Wahai ‘Ā’isyah, engkau tidak diundang.” Untuk kali kedua, beliau enggan menerima undangan tanpa mengajak ‘Ā’isyah.

Namun orang Persia ini bersikukuh ingin dikunjungi Rasūlullāh Saw., karena kedatangan beliau menjadi kehormatan baginya. Maka, untuk kali ketiga, ia mengundang lagi Rasūlullāh Saw. agar berkenan mencicipi hidangan yang telah disiapkannya.

Dan, untuk ketiga kalinya pula Rasūlullāh Saw. bertanya kepad aorang Persia itu dengan ramah dan santun, “Apakah ‘Ā’isyah, istriku, juga diundang?”

“Ya, wahai Rasūlullāh!” Tetangga Persia itu merasa bersalah dan menyesali kebodohannya.

Mendengar jawaban si tetangga Persia itu, Rasūlullāh Saw. langsung mengiyakan dan menyatakan akan segera mengunjungi rumah tetangganya itu. Beberapa saat kemudian, Rasūlullāh dan istrinya, ‘Ā’isyah r.a. berjalan menuju rumah orang Persia itu.[]

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *