2-1 ISIM (nama) MUTLAK – Insan Kamil – Syaikh Abd. Karim al-Jaili

INSAN KAMIL
Ikhtiar Memahami Kesejatian Manusia Dengan Sang Khaliq Hingga Akhir Zaman

Karya: Syaikh Abd. Karim Ibnu Ibrahim al-Jaili

Penerjemah: Misbah El Majid. Lc.
Diterbitkan oleh: Pustaka Hikmah Perdana.

Rangkaian Pos: ISIM (nama) MUTLAK - Insan Kamil - Syaikh Abd. Karim al-Jaili

Bab 2

ISIM (nama) MUTLAK

 

Isim (nama) sejatinya adalah sesuatu (kata) yang membantu melahirkan pengertian (pendefinisian) sesuatu (objek) yang dinamai, menceritakannya dalam imajinasi, menghadirkannya dalam estimasi, mempolanya dalam berpikir (logika), menjaga (memelihara) nya dalam ingatan, menjadikannya ada dalam akal, baik sesuatu yang dinamai tersebut Maujūd (ada) maupun Ma’dūm (tidak ada), hadir maupun ghaib. Maka awal Kamāliyyah (kesempurnaan) untuk berkenalan dengan al-Musammā (objek yang dinamai) adalah mengenali eksistensi nama-nama Diri-Nya. Jika kesejatian nama-Nya dapat dimakrifahi. Penisbatannya ke al-Musammā adalah nisbat lahir (zhāhir) dan bāthin, Dia dengan I‘tibār seperti ini adalah ‘Ain (inti) al-Musammā. Di antara sesuatu yang dinamai (al-Musammiyāt) ada yang Ma‘dūm (tidak ada) eksistensinya maujūd (ada) isimnya semisal burung Garuda Emas. Secara terminologi eksistensi burung Garuda Emas hakekatnya tidak ada, namun maujūd (ada) isimnya, pameo burung tersebut telah mewacana dalam kehidupan ini meski sejatinya tidak ada. Meski Ma‘dūm kita bisa menggali hikmah yang ada dibalik realita wacana tersebut yakni: Kita mengetahui sifa-sifat yang terkait dengan nama (burung) itu, meski pada kenyataannya wujud burung itu tidak ada, kita juga mengetahui sifat yang terkait dengan inti (dzāt) nama tersebut, yang tidak lain adalah nama yang Ghair-ul-Musammā (Tidak dinamakan) dengan penta’biran seperti itu burung Garuda Emas dalam lanskap terminologis berarti sesuatu yang gharīb (aneh) dari tataran logika dan wacana pemikiran, digambarkan dalam struktur khusus yang keagungannya tak berbandingkan. Nama itu sendiri tidak terkait dengan tataran hukum, sebab makna dari nama (pameo) yang ada lebih bersifat kullī (universal) dalam takaran nalar logika, namun maknanya masih dalam kisaran logika guna menjaga eksistensi dan kedudukannya dalam wujūd agar tidak sirna. Dengan demikian kita bisa menganalogikan bahwa wujūd (pameo) dengan inti (dzāt) nya ada dalam tataran hukum, ia merupakan media dan Tharīqah (jalan) untuk memakrifahi (memahami) sesuatu yang ternamakan atau dinamai.

Maka berhati-hatilah dalam menganalogikan makna nama (mutlak), serta jangan menari-nari di bawah kaki logika dalam memaknai nama (mutlak), karena hal itu akan menjerembabkan anda ke dalam kekufuran. Telisik dengan penuh kearifan nama yang anda simak, tafakkuri pesan tersiratnya, cari Madzlūliyah (makna tersirat) nya. Jernihkan logika anda seperti yang anda ketahui, nama burung Garuda Emas adalah sebuah nama yang wujudnya tidak ada. Lain halnya dengan nama Allah adalah nama mutlak al-Ḥaqq, wujud Diri-Nya Ghaib, namun Dia Wājib-ul-Wujūd (wujud yang mesti ada dengan sendirinya). Burung Garuda Emas wujudnya diasumsikan maujūd (ada) karenanya adanya nama, berbeda dengan nama Allah meski wujūd-Nya tidak bisa capai dengan penglihatan mata kasat, namun eksistensi-Nya adalah Wājib-ul-Wujūd (wujud yang mesti ada dengan sendirinya). Demikian pula dengan sifat-sifat Garuda Emas itu bisa pula diketahui karena adanya nama yang melabeli burung tersebut, walau hakekat wujudnya sama sekali tidak ada. Maka seperti itulah kiranya anda bersemantis logika dalam memahami subtansi nama mutlak al-Ḥaqq, anda tidak akan bisa Wushūl (sambung) kepada-Nya melainkan dengan memahami nama Mutlak-Nya. Patrikan dalam diri anda bahwa untuk memakrifahi (memahami) Allah, tidak ada Tharīqah (jalan) menuju-Nya kecuali dengan tempuhan jalan nama-namaNya dan sifat-sifatNya, sebab semua nama-nama dan sifa-sifat al-Ḥaqq berada dibawah nama Allah ini. Orang tidak akan pernah Wishāl (sampai) kepada hakekat nama mutlak-Nya, kecauli dengan tangga nama-nama dan sifat-sifatNya, esensinya untuk wushūl (tersambungkan) kepada kesejatian Allah hanya bisa digapai dengan nama mutlak ini!

Ketahuilah bahwasanya nama mutlak ini akan menghasilkan wujud beserta hakekatnya, dengan nama mutlak ini pula jalan menuju Allah sangat jelas, nama Allah merupakan cincin kesempurnaan makna insāniyah (manusia), dengan nama ini tersambungkan antara manusia yang dirahmati dengan ar-Raḥmān (Maha Pemurah). Barang siapa melihat pahatan cincin al-Kamāl (kesempurnaan) sejatinya ia telah bersama Allah dengan isim (nama), barang siapa yang mampu mengekspresikan pahatan-pahatan (ukiran cincin) tersebut sejatinya ia telah bersama Allah dengan sifat-sifat. Barang siapa yang memecahkan cincin maka ia telah melintas batas sifat dan isim (nama), pada tahap ini sejatinya ia bersama Allah dengan inti (dzāt)-Nya, ia tidak terhijabkan dari sifat-sifatNya. Orang yang mampu memakrifahi nama mutlak-Nya akan tegak sendi-sendi kemanusian dirinya, akan eksis nilai-nilai ketuhanan dalam dirinya. Dengan nama ini pula al-Ḥaqq akan menyibakkan rahasia-Nya dan mengeluarkan al-Kanz (pundi-pundi) yang terpendam yang tersimpan rapi di dasar samudera rahasia kegaiban Diri-Nya.

Ketahuilah, bahwasanya al-Ḥaqq menjadikan nama (Allah) ini sebagai cermin bagi segenap manusia, jika insan tersebut menghadapkan wajahnya ke arah cermin (Allah), ia akan mengetahui hakekat adalah Allah, tidak ada sesuatu pun bersama-Nya, pada tahap ini ia mendapat Kasyf (pengetahuan intuitif), bahwasanya pendengarannya adalah pendengaran Allah, penglihatannya adalah penglihatan Allah, pembicaraannya adalah pembicaraan Allah, kehidupannya adalah kehidupan Allah, pengetahuannya adalah pengetahuan Allah, kehendaknya adalah kehendak Allah, kekuasaannya adalah kekuasaan Allah, semua itu berdasarkan ketersambungan. Pada tingkat spiritual ini ia akan mengetahui bahwa segala sesuatu ternisbatkan kepada al-Ḥaqq, baik dengan cara lugas maupun Majāz (kiasan) melalui jalan kekuasaan hakiki-Nya. Al-Ḥaqq berfirman: Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu berbuat.” Q.S ash-Shaffāt 37:96, dalam ayat lain Dia berfirman: “Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala dan kamu membuat dusta.” Q.S.al-Ankabūt 29:17. Maka sesuatu yang mereka karya laksana sesuatu yang diciptakan Allah, dan ciptaan tersebut dinisbatkan kepada mereka secara lugas dan Majāz, namun sejatinya karya tersebut tercipta dengan jalan kesejatian Mulkuhu (kekuasaan)-Nya.

Dan orang yang melihat di cermin isim mutlak ini akan mendapat ilmu (pengetahuan) Dzauq (intuisi), ia juga mendapatkan ilmu Tauḥīd dan ilmu al-Wāḥidiyyah (ke-Esa-an). Orang yang mendapat Syuhūd (penyaksian) ini du‘ā-du‘ānya terkabulkan, harapan-harapannya terlaksanakan, jika ia mendu’ākan seseorang akan diterima oleh-Nya, ia menjadi media penampakkan untuk nama-Nya (Allah). Kemudian ketika tingkat spiritualnya meningkat dari noda sifat ketiadaan berganti kepada Ilm (pengetahuan) akan wujud yang wajib. Al-Ḥaqq mensucikan orang itu dengan penampakkan Qidam (eternitas) dari keburukan Ḥudūts (kebaruan), pada nuqthah (titik) inilah orang itu menjadi cermin bagi nama-Nya (Allah). Ia pada saat itu bersama isim mutlak laksana dua cermin yang saling berhadap-hadapan satu sama lain mendapati dirinya. Orang yang mampu menggapai maqām (tingkat spiritual) ini du‘ānya dikabulkan al-Ḥaqq, semua permintaannya dijawab oleh-Nya, semua harapannya direalisir oleh-Nya. Al-Ḥaqq marah karena kemarahan insan tersebut, Dia ridha jika insan itu ridha, kemarahan dan keridhaan al-Ḥaqq adalah sejalan dengan kemarahan dan keridhaan hamba tersebut. Orang itu akan menjadi kampium dalam ilmu Tauḥīd dan Aḥadiyyah (ke-Esa-an), juga ilmu-ilmu lainnya. Antara Syuhūd (penyaksian) ini dan Tajallī (manifestasi) inti (dzāt) ada kelembutan-Nya, yaitu sang pelaku kesaksian (asy-Syuhūd) mampu membaca al-Furqān (keterangan yang membedakan antara yang hak dan yang bāthil) dengan sendirinya. Sedang sang penggapai inti (dzāt)-Nya mampu membaca semua kitab yang diturunkan al-Ḥaqq baik yang tersurat maupun yang tersirat. Perhatikan dengan seksama masalah ini!

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.