skip to Main Content
2-1 Fasal Tentang Syarat Shalat (Bag 1) – FIQH Populer Terjemah FATHUL MU’IN

FIQH Populer
Terjemah Fath-ul-Mu‘in
Penulis: Syaikh Zainuddin bin ‘Abdul-‘Aziz al-Malibari
(Judul Asli: Fatḥ-ul-Mu’īni Bi Syarḥi Qurrat-il-‘Aini Bi Muhimmāt-id-Dīn)


Penerjemah: M. Fikril Hakim, S.H.I. dan Abu Sholahuddin.
Penerbit: Lirboyo Press.

(فَصْلٌ) فِيْ شُرُوْطِ الصَّلَاةِ.
FASAL TENTANG SYARAT SHALAT

(Bagian 1)

 

الشَّرْطُ مَا يَتَوَقَّفُ عَلَيْهِ صِحَّةُ الصَّلَاةِ، وَ لَيْسَ مِنْهَا. وَ قُدِّمَتِ الشُّرُوْطُ عَلَى الْأَرْكَانِ لِأَنَّهَا أَوْلَى بِالتَّقْدِيْمِ، إِذِ الشَّرْطُ مَا يَجِبُ تَقْدِيْمُهُ عَلَى الصَّلَاةِ وَ اسْتِمْرَارُهُ فِيْهَا. (شُرُوْطُ الصَّلَاةِ خَمْسَةٌ: أَحَدُهَا: طَهَارَةٌ عَنْ حَدَثٍ وَ جَنَابَةٍ الطَّهَارَةُ: لُغَةً)، النَّظَافَةُ وَ الْخُلُوْصُ مِنَ الدَّنَسِ. وَ شَرْعًا: رَفْعُ الْمَنْعِ الْمُتَرَتَّبِ عَلَى الْحَدَثِ أَوِ النَّجَسِ.

Syarat adalah Suatu hal yang menjadikan sahnya shalat, namun bukan bagian dari shalat (11). Syarat-syarat shalat lebih didahulukan daripada rukun-rukunnya sebab syarat lebih utama didahulukan karena syarat adalah hal yang wajib didahulukan atas shalat dan wajib harus selalu ada dalam shalat. Syarat-syarat shalat ada lima. Yang pertam adalah suci dari hadats dan janabah. Bersuci (22) secara bahasa adalah bersih dan lepas dari kotoran. Sedang secara syara‘ adalah menghilangkan penghalang yang berupa hadats atau najis.

(فَالْأُوْلَى) أَيِ الطَّهَارَةُ عَنِ الْحَدَثِ: (الْوُضُوْءُ) هُوَ – بِضَمِّ الْوَاوِ – اسْتِعْمَالُ الْمَاءِ فِيْ أَعْضَاءٍ مَخْصُوْصَةٍ مُفْتَتَحًا بِنِيَّةٍ. وَ بِفَتْحِهَا: مَا يَتَوَضَّأُ بِهِ. وَ كَانَ ابْتِدَاءُ وُجُوْبِهِ مَعَ ابْتِدَاءِ وُجُوْبِ الْمَكْتُوْبَةِ لَيْلَةَ الْإِسْرَاءِ.

Syarat Shalat Ke-1

(Untuk yang pertama) yakni bersuci dari hadats adalah dengan cara (berwudhu’). Lafazh wudhu’ dengan membaca dhammah wāw-nya bermakna menggunakan air pada anggota-anggota tertentu yang diawali dengan sebuah niat. Dan dengan terbaca fatḥah wāw-nya bermakna sesuatu yang digunakan untuk berwudhu’. Awal diwajibkannya berwudhu’ adalah bersamaan dengan kewajiban shalat lima waktu pada malam Isrā’-nya Nabi s.a.w.

(وَ شُرُوْطُهُ) أَيِ الْوُضُوْءِ كَشُرُوْطِ الْغُسْلِ خَمْسَةٌ. أَحَدُهَا: (مَاءٌ مُطْلَقٌ)، فَلَا يَرْفَعُ الْحَدَثَ وَ لَا يُزِيْلُ النَّجَسَ وَ لَا يَحْصُلُ سَائِرَ الطَّهَارَةِ – وَ لَوْ مَسْنُوْنَةً – إِلَّا الْمَاءُ الْمُطْلَقُ، وَ هُوَ مَا يَقَعُ عَلَيْهِ اسْمُ الْمَاءِ بِلَا قَيْدٍ، وَ إِنْ رَشَحَ مِنْ بِخَارِ الْمَاءِ الطَّهُوْرِ الْمُغْلَى، أَوِ اسْتُهْلِكَ فِيْهِ الْخَلِيْطُ، أَوْ قَيْدٍ بِمُوَافَقَةِ الْوَاقِعِ كَمَاءِ الْبَحْرِ. بِخِلَافِ مَا لَا يُذْكَرُ إِلَّا مُقَيَّدًا كَمَاءِ الْوَرْدِ، (غَيْرُ مُسْتَعْمَلٍ فِيْ) فَرْضِ طَهَارَةٍ، مِنْ (رَفْعِ حَدَثٍ) أَصْغَرَ أَوْ أَكْبَرَ، وَ لَوْ مِنْ طُهْرِ حَنَفِيٍّ لَمْ يَنْوِ، أَوْ صَبِيٍّ لَمْ يُمَيِّزْ لِطَوَافٍ. (وَ) إِزَالَةِ (نَجَسٍ) وَ لَوْ مَعْفُوًّا عَنْهُ. (قَلِيْلًا) أَيْ حَالَ كَوْنِ الْمُسْتَعْمَلِ قَلِيْلًا، أَيْ دُوْنَ الْقُلَّتَيْنِ. فَإِنْ جُمِعَ الْمُسْتَعْمَلُ فَبَلَغَ قُلَّتَيْنِ فَمُطَهِّرٌ، كَمَا لَوْ جُمِعَ الْمُتَنَجِّسُ فَبَلَغَ قُلَّتَيْنِ وَ لَمْ يَتَغَيَّرْ، وَ إِنْ قَلَّ بَعْدُ بِتَفْرِيْقِهِ. فَعُلِمَ أَنَّ الْاِسْتِعْمَالَ لَا يَثْبُتُ إِلَّا مَعَ قِلَّةِ الْمَاءِ، أَيْ وَ بَعْدَ فَصْلِهِ عَنِ الْمَحَلِّ الْمُسْتَعْمَلِ وَ لَوْ حُكْمًا، كَأَنْ جَاوَزَ مَنْكِبَ الْمُتَوَضِّئِ أَوْ رُكْبَتَهُ، وَ إِنْ عَادَ لِمَحَلِّهِ أَوِ انْتَقَلَ مِنْ يَدٍ لِأُخْرَى. نَعَمْ، لَا يَضُرُّ فِي الْمُحْدِثِ انْفِصَالُ الْمَاءِ مِنَ الْكَفِّ إِلَى السَّاعِدِ، وَ لَا فِي الْجُنُبِ انْفِصَالُهُ مِنَ الرَّأْسِ إِلَى نَحْوِ الصَّدْرِ مِمَّا يَغْلِبُ فِيْهِ التَّقَاذُفُ.

Syarat Wudhu’

(Syarat-syaratnya wudhu’) seperti halnya syarat-syaratnya mandi berjumlah lima syarat. Syarat yang pertama adalah (menggunakan air mutlak). Maka hadats dan najis tidak akan hilang, begitu pula tidak akan dapat membuahkan kesucian lain walaupun itu sunnah kecuali dengan menggunakan air yang mutlak. Air mutlak adalah sebuah penamaan air tersebut terikat dengan sebab mencocoki terhadap realita yang terjadi seperti air laut walaupun air tersebut menetes dari uap air suci yang mendidih atau larut di dalamnya sesuatu yang mencampuri. (33) Hal ini berbeda dengan air yang tidak disebut kecuali selalu terikat dengan nama lain (44) seperti air mawar. Air mutlak tersebut haruslah (belum digunakan untuk) kefardhuan bersuci, (55) yakni (dari menghilangkan hadats) kecil ataupun besar walaupun bekas bersuci dari madzhab Ḥanafiyyah yang tidak menggunakan niat atau dari seorang anak kecil yang belum tamyiz untuk ibadah thawāf (dan belum digunakan untuk menghilangkan najis) walaupun najis tersebut dima‘fuw (sedang keadaan air yang digunakan tersebut adalah air yang jumlahnya sedikit) maksudnya adalah air yang kurang dari dua qullah. Jika seandainya ada air musta‘mal dikumpulkan hingga mencapai dua qullah, maka air tersebut dihukumi suci dan mensucikan seperti halnya ada air yang terkena najis kemudian dikumpulkan hingga mencapai dua qullah dan sifat air menjadi sedikit dengan memisah-misahkannya. Maka dari itu dapat diketahui, bahwa air musta‘mal tidak akan ada kecuali pada air yang jumlahnya sedikit dan setelah terpisahnya air dari tempat digunakannya air tersebut walaupun secara hukum saja seperti melampauinya air dari pundaknya orang yang berwudhu’ atau kedua lututnya walaupun air tersebut kembali ke tempat semula atau air berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Benar bahwa air yang telah terpisah walaupun secara hukum dikatakan musta‘mal namun tidak masalah terpisahnya air dari telapak tangan menuju lengan bagi seorang yang hadats dan bagi orang mandi junub, dari kepala menuju semisal dada yakni dari setiap anggota yang secara umumnya air tersebut menetes. (66)

Catatan:


  1. 1). Ini bukanlah pengertian dari syarat, namun hanya sekedar menjelaskan maksud syarat dalam bab shalat. Syarat secara istilah adalah sebuah kondisi yang akan tiada sebab tiadanya syarat dan tidak harus ada bila syaratnya telah ada dan tidak karena ketiadaan secara dzatiahnya. I‘ānah Thālibīn, Juz. 1 Hal. 36 Darul-Fikr. 
  2. 2). Bersuci memiliki 4 wasilah dan 4 tujuan. 4 wasilah adalah air, debu, batu dan menyamak. 4 tujuan adalah wudhu’, mandi, tayammum dan menghilangkan najis. I‘ānah Thālibīn, Juz. 1 Hal. 37 Darul-Fikr. 
  3. 3). Sekira tidak merubah kemutlakan nama air. I‘ānah Thālibīn, Juz. 1 Hal. 37 Darul-Fikr. 
  4. 4). Dengan disandarkan nama lain seperti air mawar. I‘ānah Thālibīn, Juz. 1 Hal. 37 Darul-Fikr. 
  5. 5). Maksudnya kefardhuan adalah sesuatu yang mesti harus menggunakan bersuci, baik berdoa bila ditinggalkan ataupun tidak, baik berupa ibadah ataupun tidak. I‘ānah Thālibīn, Juz. 1 Hal. 37 Darul-Fikr. 
  6. 6). Kesimpulannya bahwa syarat dari air musta‘mal ada empat: sedikitnya air, telah digunakan hal yang fardhu, terpisah dari anggota yang dibasuh, tidak adanya niat ightirāf. I‘ānah Thālibīn, Juz. 1 Hal. 38 Darul-Fikr. 

Sukai ini

  • Diposting Pada: 5:59 AM 09/19/2017
  • Dalam Kategori: Fikih
  • Terdiri Dari: 658 Kata
  • Dilihat: 113 Kali.
Back To Top