skip to Main Content
Post Series: Rukun-rukun Iman - Kashifat-us-Saja’ | Syekh Nawawi al-Bantani
02-0 Rukun-Rukun Islam – Kasyifat-us-Saja’

كاشفة السجا
في
شرح سفينة النجا
Kāsyifat-us-Sajā fī Syarḥi Safīnat-un-Najā
(Tirai penutup yang tersingkap dalam mensyarahi kitab Safīnat-un-Najā [Perahu Keselamatan])
لمحمد نووي بن عمر الجاوي
Oleh: Muḥammad Nawawī bin ‘Umar al-Jāwī

Alih Bahasa: Zainal ‘Arifin Yahya
Penerbit: Pustaka Mampir

(فَصْلٌ): فِيْ بَيَانِ جَمِيْعِ مَا وَجَبَ بِهِ الْإِيْمَانُ وَ الْبَرَاهِيْنِ الدَّالَّةِ عَلَى حَقِيْقَةِ الْإِيْمَانِ

(FASAL)

Menerangkan semua perkara yang wajib kepadanya untuk beriman, dan bukti-bukti yang menunjukkan hakikat iman.

(أَرْكَانُ الْإِيْمَانِ سِتَّةٌ) فَإِضَافَةُ الْأَرْكَانِ مِنْ إِضَافَةِ الْمُتَعَلَّقِ بِفَتْحِ اللَّامِ إِلَى الْمُتَعَلِّقِ بِكَسْرِهَا أَيْ جَمِيْعُ مَا وَجَبَ الْإِيْمَانُ بِهِ، وَ الْبَرَاهِيْنُ الدَّالَّةُ عَلَى حَقِيْقَةِ الْإِيْمَانِ سِتَّةٌ لِأَنَّ الْإِيْمَانَ الَّذِيْ هُوَ التَّصْدِيْقُ الْقَلْبِيُّ يَتَعَلَّقُ بِمَعْنًى يُتَمَسَّكُ بِذلِكَ،

(Rukun-rukun Iman itu ada enam). Adapun idhafah lafazh al-Arkān termasuk sesuatu yang digantungkan, dengan dibaca fatḥah huruf lām-nya kepada sesuatu yang menggantung.

Maksudnya adalah semua perkara yang wajib beriman dengannya, dan bukti-bukti yang menunjukkan kepada hakikat iman itu ada enam, karena sesungguhnya iman yang dilakukan oleh hati itu berkaitan dengan suatu makna yang dijadikan pegangan dengan 6 perkara itu.

فَالْإِيْمَانُ لُغَةً مُطْلَقُ التَّصْدِيْقِ سَوَاءٌ كَانَ بِمَا جَاءَ بِهِ النَّبِيُّ أَوْ بِغَيْرِهِ،

Adapun iman menurut bahasa adalah membenarkan secara mutlak, sama saja membenarkan pada sesuatu yang Nabi datang dengan membawanya, ataupun dengan lainnya.

وَ شَرْعًا التَّصْدِيْقُ بِجَمِيْعِ مَا جَاءَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مِمَّا عُلِمَ مِنَ الدِّيْنِ بِالضَّرُوْرَةِ لَا مُطْلَقًا،

Sedangkan [iman] menurut syari‘at adalah membenarkan dengan semua perkara yang Nabi s.a.w. datang dengan membawanya, yaitu hal-hal yang telah diketahui dari urusan agama secara mudah [dharūrī], tidak secara mutlak.

وَ مَعْنَى التَّصْدِيْقِ هُوَ حَدِيْثُ النَّفْسِ التَّابِعُ لِلْجَزْمِ سَوَاءٌ كَانَ الْجَزْمُ عَنْ دَلِيْلٍ وَ يُسَمَّى مَعْرِفَةً أَوْ عَنْ تَقْلِيْدٍ،

Dan makna membenarkan adalah perkataan hati yang mengikuti dengan kemantapan hati, sama saja adanya kemantapan itu dihasilkan dari dalīl [pembuktian], dan dinamai hal itu dengan ma‘rifat, ataupun diraih dari taqlīd [pengikutan kepada orang terpercaya].

وَ مَعْنَى حَدِيْثِ النَّفْسِ أَنْ تَقُوْلَ تِلْكَ النَّفْسُ أَيِ الْقَلْبُ: رَضِيْتُ بِمَا جَاءَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ.

Dan makna perkataan hati, yaitu jiwamu itu mengatakan, yakni hati [mengatakan]: “Aku ridha dengan apa yang Nabi s.a.w. datang [diutus] dengan membawanya.”

 

[غُرَّةٌ] مَرَاتِبُ الْإِيْمَانِ خَمْسَةٌ.

(Hal Penting) Tingkatan-tingakatan iman itu ada lima:

أَوَّلُهَا: إِيْمَانُ تْقَلِيْدٍ وَ هُوَ الْجَزْمُ بِقَوْلِ الْغَيْرِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَعْرِفَ دَلِيْلًا

Tingkatan pertama adalah iman taqlīd, yaitu kemantapan hati dengan sebab perkataan orang lain, dengan tanpa mengetahui dalilnya.

وَ هُوَ يَصِحُّ إِيْمَانُهُ مَعَ الْعِصْيَانِ بِتَرْكِهِ النَّظَرَ أَيِ الْاِسْتِدْلَالَ إِنْ كَانَ قَادِرًا عَلَى الدَّلِيْلِ.

Dan iman semacam ini dapat sah keimanannya, dengan disertai bermaksiat, sebab ia meninggalkan berfikir, yakni pencarian dalil, jika keadaannya sebagai orang yang mampu untuk pencarian dalil tersebut.

ثَانِيْهَا: إِيْمَانُ عِلْمٍ وَ هُوَ مَعْرِفَةُ الْعَقَائِدِ بِأَدِلَّتِهَا وَ هذَا مِنْ عِلْمِ الْيَقِيْنِ.

Tingkatan yang kedua adalah iman ‘ilmu, yaitu mengetahui berbagai akidah berikut dengan dalil-dalilnya. Dan iman ini termasuk Ilm-ul-Yaqīn.

وَ كِلَا الْقِسْمَيْنِ صَاحِبُهُمَا مَحْجُوْبٌ عَنْ ذَاتِ اللهِ تَعَالَى.

Dan masing-masing dua bagian ini [iman taqlīd dan iman ‘ilmu] pemiliknya terhalang dari Dzat Allah ta‘ālā.

ثَالِثُهَا: إِيْمَانُ عِيَانٍ وَ هُوَ مَعْرِفَةُ اللهِ بِمُرَاقَبَةِ الْقَلْبِ

Tingkatan yang ketiga adalah iman ‘iyan, yaitu mengetahui Dzat Allah dengan pengawasan [tata krama] hati.

فَلَا يَغِيْبُ رَبُّهُ عَنْ خَاطِرِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ بَلْ هَيْبَتُهُ دَائِمًا فِيْ قَلْبِهِ كَأَنَّهُ يَرَاهُ

Maka tidak pernah hilang Tuhannya [Allah] dari lintasan hatinya, sekejap matapun, bahkan keagungan wibawa Tuhan senantiasa ada di dalam hatinya, seakan-akan ia dapat melihat-Nya.

وَ هُوَ مَقَامُ الْمُرَاقَبَةِ وَ يُسَمَّى عَيْنَ الْيَقِيْنِ.

Dan iman tersebut adalah kedudukan murāqabah, dan dinamai dengan ‘Ain-ul-Yaqīn.

رَابِعُهَا: إِيْمَانُ حَقٍّ وَ هُوَ رُؤْيَةُ اللهِ تَعَالَى بِقَلْبِهِ وَ هُوَ مَعْنَى قَوْلِهِمِ الْعَارِفُ يَرَى رَبَّهُ فِيْ كُلِّ شَيْءٍ

Tingkatan yang keempat adalah iman Ḥaqq, yaitu melihat Allah ta‘ālā dengan hatinya, dan hal itu adalah makna ucapan para ulama: “Seorang ‘ārif akan melihat Tuhannya pada setiap sesuatu.”

وَ هُوَ مَقَامُ الْمُشَاهَدَةِ وَ يُسَمَّى حَقُّ الْيَقِيْنِ وَ صَاحِبُهُ مَحْجُوْبٌ عَنِ الْحَوَادِثِ.

Dan iman tersebut adalah kedudukan musyāhadah, dan dinamai dengan Ḥaqq-ul-Yaqīn, dan pemiliknya akan terhalang dari segala makhluk.

وَ خَامِسُهَا: إِيْمَانُ حَقِيْقَةٍ وَ هُوَ الْفَنَاءُ بِاللهِ وَ السَّكَرُ بِحُبِّهِ فَلَا يَشْهَدُ إِلَّا إِيَّاهُ كَمَنْ غَرَقَ فِيْ بَحْرٍ وَ لَمْ يَرَ لَهُ سَاحِلًا،

Dan tingkatan yang kelima adalah iman ḥaqīqat, yaitu fanā’ dengan Allah dan mabuk dengan mencintai-Nya, maka ia tidak menyaksikan, kecuali hanya kepada-Nya. Seperti orang yang tenggelam di lautan, dan tidak terlihat olehnya akan pantai.

وَ الْوَاجِبُ عَلَى الشَّخْصِ أَحَدُ الْقِسْمَيْنِ الْأَوَّلَيْنِ، وَ أَمَّا الثَّلَاثَةُ الْأُخَرُ فَعُلُوْمٌ رَبَّانِيَّةٌ يَخُصُّ بِهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ.

Dan wajib atas individu, salah satu dari dua bagian yang pertama [iman taqlīd dan iman ‘ilmu], dan adapun tiga bagian yang lain, merupakan ilmu-ilmu rabbāniyah yang Allah mengkhususkan dengannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara para hamba-Nya.


  • Diposting Pada: 11:47 AM 09/07/2017
  • Dalam Kategori: Fikih
  • Terdiri Dari: 457 Kata
  • Dilihat: 24 Kali.
Back To Top