Kisah Nabi Ayyub A.S. – Kisah 25 Nabi & Rasul

KISAH 25 NABI DAN RASŪL
Diserti Dalil-dalil al-Qur’ān
 
Penyusun: Mahfan, S.Pd.
Penerbit: SANDRO JAYA

12. KISAH NABI AYYŪB A.S.

 

Nabi Ayyūb a.s. adalah putra Ish bin Isḥāq bin Ibrāhīm. Nabi Ayyūb adalah seorang yang kaya raya. Istrinya banyak, anaknya banyak, hartanya melimpah-ruah dan ternaknya tak terbilang jumlahnya. Ia hidup makmur dan sejahtera. Walau demikian ia tetap tekun beribadah. Segala nikmat dan kesenangan yang dikaruniakan kepadanya tak sampai melupakannya kepada Allah. Ia gemar berbuat kebajikan, suka menolong orang yang menderita terlebih dari golongan fakir miskin.

Cobaan Silih Berganti

Para malaikat di langit terkagum-kagum dan sama membicarakan ketaatan Ayyūb dan keikhlasannya dalam beribadah kepada Allah. Iblīs yang mendengar pembicaraan itu merasa iri dan ingin menjerumuskan Ayyūb agar menjadi orang yang tidak sabar dan celaka.

Pertama Iblīs mencoba sendiri menggoda Nabi Ayyūb agar tersesat dan tak mau bersyukur kepada Allah. Namun ia gagal. Nabi Ayyūb tak tergoyahkan. Iblīs kemudian menghadap Allah. Minta idzin untuk menggoda Nabi Ayyūb: “Wahai Tuhan, sesungguhnya Ayyūb yang senantiasa patuh dan berbakti menyembah-Mu, senantiasa memuji-Mu, tak lain hanyalah karena takut kehilangan kenikmatan yang telah Engkau berikan kepadanya. Semua ibadah tidak ikhlas dan bukan karena cinta dan taat kepada-Mu. Andaikata ia terkena musibah dan kehilangan harta benda, anak-anak dan istrinya belum tentu ia akan taat dan tetap ikhlas menyembah-Mu.

Allah s.w.t. berfirman kepada iblis: “Sesungguhnya Ayyūb adalah hamba-Ku yang sangat taat kepada-Ku, ia seorang mu’min yang sejati. Apa yang ia lakukan untuk mendekatkan diri kepada-Ku adalah semata-mata didorong iman yang teguh kuat dan taat yang bulat kepada-Ku. Iman dan taqwanya takkan tergoyah oleh perubahan duniawi. Cintanya kepada-ku dan kebajikannya tidak akan menurun dan menjadi berkurang walau ditimpa musibah apapun yang melanda dirinya dan hartanya. Ia yakin bahwa apa yang ia miliki adalah pemberian-Ku yang sewaktu-waktu dapat Aku cabut daripadanya atau menjadikannya berlipat ganda. Ia bersih dari segala tuduhan dan prasangkamu. Engkau tidak rela melihat hamba-hambaKu anak cucu Ādam berada di atas jalan yang lurus. Untuk menguji keteguhan hati Ayyūb dan keyakinannya pada takdir-Ku. Kuizinkan kau menggoda dan memalingkannya dari-Ku. Kerahkanlah pembantu-pembantumu untuk menggoda Ayyūb melalui harta dan keluarganya. Cerai-beraikanlah keluarganya yang rukun damai sejahtera itu. Lihatlah sampai di mana kemampuanmu untuk menyesatkan hamba-Ku, Ayyūb itu.”

Demikianlah, Iblīs dan para pembantunya kemudian menyerbu keimanan Ayyūb. Mula-mula membinasakan hewan ternak peliharaan Nabi Ayyūb. Satu persatu hewan-hewan ternak itu mati bergelimpangan disusul lumbung-lumbung gandum dan lahan pertanian Nabi Ayyūb terbakar dan musnah. Iblīs mengira Ayyūb akan berkeluh kesah setelah kehilangan ternak dan lahan pertaniannya itu. Namun Ayyūb tetap berbaik sangka kepada Allah. Segalanya ia serahkan kepada Allah. Harta adalah titipan Allah sewaktu-waktu dapat saja diambil lagi.

Berikutnya Iblīs dan para pembantu-pembantunya mendatangi putra-putra Nabi Ayyūb di gedung yang besar dan megah. Mereka goyang-goyangkan tiang-tiang gedung sehingga gedung itu kemudian roboh dan anak-anak Nabi Ayyūb mati semua.

Iblīs mengira usahanya berhasil menggoyahkan iman Nabi Ayyūb yang sangat menyayangi putra-putranya itu, namun mereka kecele (dalam keadaan tidak mendapatkan/menemukan/memperoleh apa yang diharap/diduga/dicari, dsb). Nabi Ayyūb tetap berserah diri kepadda Allah. Nabi Ayyūb bersedih dan menangis tapi jiwa dan hatinya tetap kokoh dalam keyakinan bahwa jika Allah Yang Maha Pemberi menghendaki semua ini maka tak ada seorang pun mampu menghalangi-Nya.

Selanjutnya Iblīs menaburkan baksil (bacillus, kuman, kuman penyakit) di sekujur tubuh Nabi Ayyūb sehingga beliau menderita sakit kulit yang menjijikkan. Famili dan tetangganya menjauhinya. Istri-istrinya banyak yang melarikan diri. Hanya seorang saja yang setia mendampinginya yaitu Raḥmah.

Para tetangga Nabi Ayyūb tidak mau ketularan penyakit, sehingga mereka terutama kaum ibu secara terang-terangan mengusir Nabi Ayyūb dari perkampungan. Maka pergilah Nabi Ayyūb dan Raḥmah (istrinya) ke sebuah tempat yang sepi dari manusia.

Waktu tujuh tahun dalam penderitaan terus-menerus memang merupakan ujian berat bagi Ayyūb dan Raḥmah. Namun Nabi Ayyūb bisa bersabar dan tetap berdzikir menyebut Asmā’ Allah. Untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Raḥmah terpaksa bekerja pada pabrik roti. Pagi berangkat sorenya kembali ke rumah pengasingan. Namun lama-lama majikannya mengetahui jika Raḥmah adalah istri Ayyūb yang berpenyakitan. Mereka khawatir Raḥmah membawa baksil yang dapat menular melalui roti, maka Raḥmah diberhentikan dari pekerjaannya. Raḥmah yang setia ini masih memikirkan suaminya. Ia meminta majikannya agar memberikan hutang roti. Majikannya menolak. Majikannya hanya mau memberi roti jika Raḥmah rela memotong gelung rambutnya yang panjang. padahal gelung rambut itu sangat disukai suaminya. Raḥmah akhirnya setuju. Namun di rumah Nabi Ayyūb menyangka Raḥmah telah menyeleweng, padahal tidak.

Pada suatu hari, mungkin karena tidak tahan dalam penderitaan atau karena apa. Raḥmah pamit meninggalkan suaminya. Ia akan bekerja untuk menghidupi suaminya. Nabi Ayyūb melarang, namun Raḥmah tetap pergi sembari berkeluh kesah. “Kiranya kau telah terkena bujukan setan, sehingga berkeluh kesah atas takdir Allah.” Kata Ayyūb kepada istrinya. “Kelak jika aku sudah sembuh kau akan kupukul seratus kali. Mulai saat ini tinggalkanlah aku seorang diri, aku tak membutuhkan pertolonganmu sampai Allah menentukan takdir-Nya. Setelah ditinggal Raḥmah, satu-satunya orang yang masih menyayangi dan merawatnya kini Nabi Ayyūb hidup seorang diri. Di dalam kamarnya ia bermunajat kepada Allah sebagaimana tersebut dalam al-Qur’ān:

وَ اذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوْبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّيْ مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَ عَذَابٍ

Artinya:

Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyūb ketika ia menyeru Tuhannya; “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan.” (QS. Shād: 41)

Ujian Allah Berakhir

Allah menerima do’a Nabi Ayyūb yang telah mencapai puncak kesabaran dan keteguhan iman dalam menghadapi cobaan. Allah memerintahkan Nabi Ayyūb supaya ia menghentakkan kakinya ke tanah, maka memancarlah air yang dapat dipakai untuk mandi dan minum. Dengan idzin-Nya, Nabi Ayyūb sembuh dan sehat seperti sedia kala. Allah kisahkan peristiwa ini dalam al-Qur’ān:

ارْكُضْ بِرِجْلِكَ هذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وَ شَرَابٌ. وَ وَهَبْنَا لَهُ أَهْلَهُ وَ مِثْلَهُمْ مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنَّا وَ ذِكْرَى لِأُوْلِي الْأَلْبَابِ

Artinya:

(Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shād: 42-43)

Nabi Ayyūb Melaksanakan Sumpahnya

Sementara itu Raḥmah yang telah pergi meninggalkan Nabi Ayyūb lama-lama merasa kasihan dan tak tega membiarkan Nabi Ayyūb seorang diri. Ia datang menjenguk, namun ia tak mengenali suaminya lagi. Karena Nabi Ayyūb sudah sembuh dan keadaannya jauh lebih baik daripada sebelumnya. Lebih sehat dan lebih tampan. Nabi Ayyūb gembira melihat istrinya kembali, namun ia ingat sumpahnya yaitu ingin memukul istrinya seratus kali. Ia harus melaksanakan sumpah itu. Kini ia bimbang, istrinya sudah turut menderita sewaktu bersama-sama dengannya selama tujuh tahun ini, akankah ia memukul seratus kali. Dalam kebimbangan datanglah wahyu Allah yang memberikan jalan keluar. Firman-Nya:

وَ خُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِّهِ وَ لَا تَحْنَثْ إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ

Artinya:

Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyūb) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (QS. Shād: 44)

Demikinanlah Nabi Ayyūb a.s. akhirnya memukul istrinnya dengan seikat rumput yang berjumlah seratus sebanyak satu kali saja untuk memenuhi sumpahnya. Nabi Ayyūb kembali hidup dengan keluarganya, dan memperoleh kembali ketentraman hidup, dianugerahi oleh Allah anak-anak yang banyak. Di antara anak-anak Nabi Ayyūb itu ada yang menjadi Nabi yaitu Nabi Dzulkifli.

Hikmah dari Kisah Nabi Ayyūb

  1. Nabi Ayyūb a.s. adalah hamba Allah yang sangat sabar dan taat kepada Allah, dalam suka dan duka. Baik ketika senang dan bergelimang harta maupun ketika tertimpa musibah yang sangat luar biasa hingga dia diasingkan.
  2. Kekayaan Nabi Ayyūb tidaklah membuat ia lupa untuk taat dan berbakti kepada Allah. Kesusahan hidup yang ia alami sebagai cobaan dari Allah tidak membuatnya berkeluh kesah dan putus asa.
  3. Iblīs akan mengerahkan segala upayanya dalam menggoda manusia agar tergelincir ke dalam jurang kesesatan. Mawas diri dengan beriman dan beramal shaleh adalah benteng kokoh yang akan menghalangi dari gangguan Iblīs.
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *