Hati Senang

1-6 Pertemuan Kedua – Tauhid Mufadhdhal – Mengurai Tanda Kebesaran Allah

Mengurai Tanda KEBESARAN ALLAH

(Judul Asli:
تَوْحِيْدُ الْمُفَضَّلِ
TAUḤĪD-UL-MUFADHDHAL
Imlā’ al-Imām Abī ‘Abdillāh ash-Shādiq, ‘alā al-Mufadhdhal ibn ‘Umar al-Ju‘fiy)


Penerjemah: Irwan Kurniawan
Penerbit: PUSTAKA HIDAYAH

(Diketik oleh: Said (Rico Akbar)

Rangkaian Pos: Pertemuan Kedua - Tauhid Mufadhdhal - Mengurai Tanda Kebesaran Allah
  1. 1.1-1 Pertemuan Kedua – Tauhid Mufadhdhal – Mengurai Tanda Kebesaran Allah
  2. 2.1-2 Pertemuan Kedua – Tauhid Mufadhdhal – Mengurai Tanda Kebesaran Allah
  3. 3.1-3 Pertemuan Kedua – Tauhid Mufadhdhal – Mengurai Tanda Kebesaran Allah
  4. 4.1-4 Pertemuan Kedua – Tauhid Mufadhdhal – Mengurai Tanda Kebesaran Allah
  5. 5.1-5 Pertemuan Kedua – Tauhid Mufadhdhal – Mengurai Tanda Kebesaran Allah
  6. 6.Anda Sedang Membaca: 1-6 Pertemuan Kedua – Tauhid Mufadhdhal – Mengurai Tanda Kebesaran Allah

KETIGA PULUH SATU

Kecerdikan Burung Abu Numrah Menggunakan Duri

Burung kecil yang disebut Abu Numrah pada musim tertentu membuat sarang di atas pohon. Ketika ia melihat seekor ular besar mendatangi sarangnya dengan mulut terbuka hendak menelannya, maka dalam keadaan bingung ia mencari akal sehingga menemukan duri, lalu diambilnya duri itu dan dimasukkan ke dalam mulut ular. Maka ular melingkar dan menggelepar-gelepar hingga mati.

Tidakkah engkau perhatikan, kalau aku tidak mengabarkan hal itu kepadamu, maka engkau atau orang lain tidak akan ingat bahwa duri memiliki manfaat, atau burung yang kecil atau yang besar memiliki kecerdikan. Amatilah hal ini dan banyak hal lainnya yang mengandung manfaat yang tidak engkau ketahui melalui orang yang menyampaikan atau kabar yang engkau dengar.

 

KETIGA PULUH DUA

Lebah, Madu dan Sarangnya

Perhatikanlah lebah dan kumpulannya dalam membuat madu, tersedianya rumah yang berbentuk persegi enam dan yang engkau lihat dalam hal itu berupa kecerdasan. Jika engkau mengamati pekerjaannya, engkau akan melihat ketakjuban. Jika engkau lihat yang dikerjakannya, engkau temukan keagungan dan kemuliaan perannya bagi manusia. Jika engkau kembali pada pembuatnya yang tidak mengetahui dirinya (191), apalagi terhadap yang lainnya, maka di dalam hal ini terdapat bukti yang amat jelas bahwa kebaikan dan keteraturan dalam penciptaan ini bukanlah pada lebah itu sendiri, melainkan pada yang menciptakannya dan menundukkannya bagi manusia.

 

KETIGA PULUH TIGA

Belalang dan Kerendahannya

Perhatikanlah belalang, apa yang melemahkan dan yang menguatkannya. Jika engkau perhatikan penciptaanya, engkau melihatnya sebagai sesuatu yang paling lemah. Padahal jika kawanannya menyerang suatu negeri, maka tidak ada seorang pun yang dapat melindungi dirinya dari serangannya. Ketahuilah, bahwa raja dari raja-raja di bumi, kalau mengumpulkan bala tentaranya untuk melindungi negerinya dari serangan belalang, maka mereka tidak akan mampu melakukan itu. Bukankah ini termasuk bukti kekuasaan Pencipta yang membangkitkan makhluk yang paling lemah penciptaannya menjadi makhluk yang paling kuat sehingga tidak ada orang yang dapat mencegahnya.

 

KETIGA PULUH EMPAT

Banyaknya Belalang

Perhatikanlah belalang itu, bagaimana disebarkan ke permukaan bumi seperti aliran sungai. Kawanan belalang itu menutupi lembah, bukit, padang sahara dan padang rumput, sehingga karena banyaknya menghalangi cahaya matahari. Kalau saja hal ini dilakukan dengan tangan, maka kapan dapat mengumpulkan dalam jumlahnya yang banyak ini? Dan dalam berapa tahun hal itu dapat diselesaikan? Maka ini menunjukkan pada kemampuan yang tidak ada sesuatu pun yang dapat melakukannya.

 

KETIGA PULUH LIMA

Ikan

Amatilah penciptaan ikan dan bentuk yang ditakdirkan padanya. Ikan diciptakan tanpa kaki karena tidak perlu berjalan dan tempat tinggalnya di dalam air. Ikan pun tidak memiliki paru-paru karena tidak dapat bernapas dan tenggelam di dalam air. Sebagai ganti kaki, diciptakan baginya sirip yang keras pada kedua sisinya, sebagaimana ujung dayung diletakkan di kedua sisi perahu. Tubuhnya ditutupi dengan sisik yang kuat yang terjalin seperti baju besi untuk menjaganya dari bahaya. Ikan juga diberi kelebihan pada indera penciuman karena penglihatannya lemah dan air menutupinya. Ikan dapat mencium makanan dari jarak yang jauh, lalu mencari dan mengikutinya. Jika tidak, maka bagaimana ikan itu dapat mengetahui tempat makanannya? Ketahuilah bahwa di dalam mulutnya terdapat saluran ke lubang telinganya (insang). Ikan menyedot air dengan mulutnya dan menyalurkannya ke kedua telinganya sehingga mengisap oksigen darinya, sebagaimana hewan lainnya yang mengisapnya dari udara.

 

KETIGA PULUH ENAM

Banyaknya Anak Ikan dan Sebabnya

Kini pikirkanlah mengenai banyaknya anak ikan dan pengkhususannya dengan hal itu. Engkau lihat di dalam perut seekor ikan terdapat telur yang banyaknya tidak terhingga. Sebabnya adalah ikan disediakan untuk makanan hewan lain, karena kebanyakan hewan memakan ikan hingga binatang buas yang hidup di pohon-pohon yang menyelam ke air untuk memburunya. Jika mendapati ikan, maka binatang pemangsa ikan menerkamnya. Binatang buas memangsa ikan, burung memangsa ikan, manusia memakan ikan, dan ikan pun memangsa ikan. Di dalam hal itu terdapat keteraturan sehingga ikan diciptakan dalam jumlah yang banyak.

 

KETIGA PULUH TUJUH

Keluasan Perencanaan Pencipta dan Keterbatasan Pengetahuan Makhluk

Jika engkau ingin tahu keluasan perencanaan Pencipta dan keterbatasan pengetahuan makhluk, perhatikanlah apa yang ada di laut berupa berbagai jenis ikan, binatang-binatang air dan kerang-kerang yang jumlahnya tidak terhingga. Selain itu tidak diketahui pula manfaatnya kecuali sedikit saja yang diperoleh manusia seperti celupan merah yang tidak diketahui manusia campurannya. Anjing laut berkeliling di tepi pantai sehingga mendapatkan siput, lalu memakannya sehingga darahnya melumuri moncongnya. Maka manusia melihat keindahannya, lalu mengambilnya sebagai celupan. (202) Dan hal-hal lainnya yang ditemukan manusia dari generasi demi generasi dan zaman demi zaman. (213)

(Al-Mufadhdhal berkata: ) Tibalah waktu tengah hari. Maka tuanku a.s. berdiri untuk menunaikan salat. Beliau berkata kepadaku: “Datanglah besok pagi-pagi sekali in syā’ Allāh.” Maka aku pun kembali. Berlimpahlah kebahagiaanku dengan apa yang telah beliau ajarkan kepadaku dan senang dengan apa yang berikan kepadaku.. Tak henti-hentinya aku memuji Allah atas apa yang diberikan kepadaku. Maka pada malam harinya aku tidur dengan gembira dan sukacita.

Catatan:


  1. 19). Yakni, ia tidak memiliki akal yang digunakan untuk memikirkan sesuatu yang lain selain memikirkan perkara yang khusus itu saja. Maka tampaklah bahwa pengkhususan pada perkara ini merupakan ilham dari Pengatur Yang Maha Bijaksana atau tabiat yang diberikan padanya dalam hubungannya dengan maslahat yang khusus, sementara binatang ini tidak menyadari maslahat tersebut. Barang kali ini menegaskan apa yang dikatakan bahwa binatang-binatang kecil tidak dikenali secara mendalam. (Dari Ta‘līqāt-ul-Biḥār). 
  2.  20). Tampak dari ungkapan Imam a.s. kesamaan anak bukit dan siput. Kemungkinan yang dimaksud adalah bahwa celupan siput memahamkan kepada manusia untuk membuat warna merah untuk celupan karena di dalam keduanya terdapat kesamaan. 
  3. 21). Yang menakjubkan bukanlah penciptaan semut, cacing dan berbagai jenis ikan yang tidak dikenal, yang bermacam bentuk dan bermacam-macam hikmahnya. Yang menakjubkan bukanlah yang menunjukkan pada hikmah dalam masing-masing ciptaan setelah menciptakannya. Semata-mata keheranan adalah terhadap orang yang mengingkari Pencipta langit, bumi dan yang ada di antara keduanya beserta keteguhan dan keteraturan penciptaan serta keindahan susunannya. Kalau orang yang ingkar itu memandang dirinya dengan penciptaan yang unik dan bentuk yang sempurna, niscaya itu merupakan bukti paling besar atas keberadaan-Nya dan keesaan-Nya. (Al-Imām ash-Shādiq, karya Muzhaffar, juz 1, hlm. 177). 

Bagikan:

Tinggalkan Pesan

avatar
Lewat ke baris perkakas