1-16 Allah s.w.t. Ada & Tidak Ada Sesuatu Pun Selain Dia – Al-Hikam – Ulasan Syaikh Ahmad Zarruq

AL-ḤIKAM
IBN ‘ATHĀ’ILLĀH
(Diterjemahkan dari: Ḥikamu Ibni ‘Athā’illāh: Syarḥ-ul-‘Ārif bi Allāh Syaikh Zarrūq)

Ulasan al-‘Arif Billah
Syekh Ahmad Zarruq

Penerjemah: Fauzi Bahreisy dan Dedi Riyadi
Penerbit: Qalam (PT Serambi Semesta Distribusi).

Catatan:

  1. 36). Imām al-Bukhārī meriwayatkan dalam Bad’-ul-Khalq bahwa Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Allah ada dan tidak ada sesuatu pun selain Dia. ‘Arasy-Nya ada di atas air. Dia menuliskan dalam adz-Dzikr segala sesuatu. Dia menciptakan langit dan bumi.” Dan Imām Ibn Ḥajar mengatakan dalam al-Fatḥ, sebagai penjelas dan ta‘līq untuk hadits mulia dalam riwayat berikut ini pada bab tauhid: “Dan tidak ada sesuatu pun sebelum Dia.” Dan pada riwayat selain Bukhārī: “Dan tidak ada sesuatu pun bersama-Nya” dan kisah itu merupakan satu kesatuan. Maka, besar kemungkinan periwayatan hadits ini adalah periwayatan makna. Mungkin perawi mengambilnya dari sabda Nabi s.a.w. dalam doanya pada shalat malam sebagaimana terdahulu dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās: “Engkau adalah yang Maha Pertama hingga tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu”, tetapi periwayatan sebelumnya lebih jelas. Di dalamnya ada dalil bahwa sesungguhnya tidak ada sesuatu pun selain Dia, tidak air, tidak pula ‘Arasy, tidak pula selain keduanya, karena semua itu adalah selain Allah. Dan ucapan beliau “‘Arasy-Nya di atas air” mengandung arti bahwa Dia menciptakan air lebih dulu kemudian menciptakan ‘Arasy di atas air. Dalam kisah riwayat Nāfi‘ ibn Zaid al-Ḥumairī disebutkan dengan lafal: “‘Arasy-Nya di atas air, kemudia Dia menciptakan qalam, lalu berfirman: tulislah (segala yang kemudian ada) lalu Dia menciptakan langit dan bumi dan segala sesuatu di dalamnya, lalu menjelaskan urutan penciptaan makhluk setelah air dan ‘Arasy.”
  2. 37). “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kalian, hanya saja kalian tidak melihat.” (Q.S. al-Wāqi‘ah [56]: 85). Dan Allah juga berfirman: “Dan Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan dirinya. Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Q.S. Qāf [50]: 16).
  3. 38). Semua itu tidak dimaksudkan lebih banyak dari pengertian bahwa apa pun yang tidak memiliki wujud pada dzatnya maka ia tiada. Dalam keadaan itu ia mengada dengan pengadaan Allah kepadanya. Ia terus ada karena Allah menahan keberadaannya. “Sesungguhnya Allah memegang langit dan bumi hingga keduanya tidak bergeser”. Jika tidak ditahan oleh Allah, ia kembali pada asalnya, yaitu tiada.
  4. 39). Q.S. asy-Syūrā [42]: 11.
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keluarga Besar Majlis Dzikir Hatisenang Mengucapkan
Selamat Hari Raya 'Id-ul-Fithri 1440 H
close-link
Lewat ke baris perkakas