1-11 77 Cabang Iman (1-15) – Terjemah Tauhid Sabilul Abid KH. Sholeh Darat

TERJEMAH TAUHID

سَبِيْلُ الْعَبِيْدِ عَلَى جَوْهَرَةِ التَّوْحِيْدِ
Oleh: Kiyai Haji Sholeh Darat
Mahaguru Para Ulama Besar Nusantara
(1820-1903 M.)

Penerjemah: Miftahul Ulum, Agustin Mufrohah
Penerbit: Sahifa Publishing

Rangkaian Pos: 77 Cabang Iman | Terjemah Tauhid Sabilul Abid KH. Sholeh Darat
  1. 1.Anda Sedang Membaca: 1-11 77 Cabang Iman (1-15) – Terjemah Tauhid Sabilul Abid KH. Sholeh Darat
  2. 2.1-11 77 Cabang Iman (16-20) – Terjemah Tauhid Sabilul Abid KH. Sholeh Darat
  3. 3.1-11 77 Cabang Iman (21-35) – Terjemah Tauhid Sabilul Abid KH. Sholeh Darat
  4. 4.1-11 77 Cabang Iman (36-50) – Terjemah Tauhid Sabilul Abid KH. Sholeh Darat
  5. 5.1-11 77 Cabang Iman (51-66) – Terjemah Tauhid Sabilul Abid KH. Sholeh Darat
  6. 6.1-11 77 Cabang Iman (67-77) – Terjemah Tauhid Sabilul Abid KH. Sholeh Darat

77 Cabang Iman. (441)

Karena iman berarti tashdīq-ul-qalbi (membenarkan dengan hati) dan Idz‘ān (إِذْعَانٌ) (mengakui dan menerima syariat Islam), maka iman memiliki 77 cabang, maksudnya yang di-tashdīq ada 77 perkara. Iman itu seperti kayu yang memiliki 77 ranting, sebagaimana sabda Rasūlullāh s.a.w.:

اَلْإِيْمَانُ بِضْعٌ وَ سَبْعُوْنَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ، وَ أَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَ الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيْمَانِ.

Iman memiliki 77 cabang, yang paling utama adalah ucapan “lā ilāha illallāh”, yang paling rendah adalah menghilangkan duri di jalan, sifat malu termasuk salah satu cabang dari iman.

Adapun 77 cabang Iman adalah sebagai berikut:

1. Beriman bahwa Allah Maha Esa, tidak punya sekutu, yang diungkapkan dengan ucapan “lā ilāha illallāh”

2. Beriman terhadap adanya malaikat.

Artinya: meyakini bahwa malaikat adalah makhluk Allah yang mulia, tidak berkelamin laki-laki atau perempuan, tidak mempunyai syahwat dan nafsu, tidak makan dan minum, dapat berubah bentuk dengan rupa yang indah, serta tercipta dari cahaya.

3. Beriman kepada al-Qur’ān dan seluruh kitab Allah.

Maksudnya membenarkan kandungan kitab-kitab Allah dan meyakini bahwa kitab-kitab Allah adalah kalām Allah yang diwahyukan kepada para Rasūl yang mengandung beberapa hukum, nasihat, perintah, dan larangan, ada yang berupa bahasa Ibrani, Suryani, dan ‘Arab, sesuai dengan bahasa kaumnya.

4. Beriman bahwa seluruh Nabi dan Rasūl benar dalam nasihat dan sabdanya, baik dalam urusan dunia maupun akhirat (dalam seluruh masalah agama).

5. Beriman terhadap adanya Hari Kiamat, semua alam semesta akan rusak, baik langit, bumi maupun surga dan neraka.

6. Beriman bahwasanya Allah akan membangkitkan dan menghidupkan kembali semua makhluk di manapun ia berada.

7. Beriman terhadap Qadar.

Maksudnya meyakini bahwa semua perbuatan dan kondisi seorang hamba, seperti rezeki, ajal, beruntung, celaka, semuanya berdasarkan ketetapan Allah sejak zaman azali.

8. Beriman bahwa semua makhluk yang telah mati akan dibangkitkan kembali dan digiring menuju padang mahsyar, semua berdiri di atas tanah berwarna putih. Saat itu keadaan manusia berbeda-beda, ada yang menunggangi hewan, jalan kaki, tengkurap, ada juga yang berenang dalam keringatnya sendiri, ada yang keringatnya sampai lutut, ada yang sampai leher, semuanya khawatir dengan kepastian apakah akan dimasukkan ke surga atau ke neraka.

9. Beriman bahwa surga adalah tempat yang disediakan sebagai tempat kembali bagi orang-orang mu’min, yakni orang yang mati dengan membawa iman. Walaupun awalnya kufur, karena matinya dengan membawa iman, maka dia tidak kekal di neraka, setelah disiksa di neraka, dia akan dimasukkan ke surga. Saat disiksa di neraka, seorang mu’min mati rasa, sehingga tidak merasakan pedihnya siksaan, seperti halnya orang yang sedang tidur, setelah selesai masa siksaan yang ditentukan, dia dibangunkan dan dimasukkan ke surga.

Adapun neraka adalah tempat kembali bagi orang-orang kafir, yakni orang yang mati dalam keadaan kufur walaupun pernah beriman. Batasan iman dan kufur adalah saat mati, itulah yang akan menentukan kekalnya seseorang di surga atau neraka.

10. Cinta kepada Allah. Tanda cinta kepada Allah adalah mencintai al-Qur’ān, tanda cinta kepada Allah dan al-Qur’ān adalah cinta kepada Rasūlullāh s.a.w. Tanda cinta kepada Rasūlullāh s.a.w. adalah cinta kepada hadits dan perilaku Rasūlullāh s.a.w. Tanda cinta kepada sunnah Rasūlullāh s.a.w. adalah cinta akhirat, tanda mencintai akhirat adalah benci dunia, tanda benci dunia adalah hanya mengambil harta dunia secukupnya saja sebagai bekal untuk akhirat.

Ḥātim bin ‘Ulwān berkata: “Barang siapa yang mengaku memiliki tiga hal, tapi tidak melakukan tiga hal, maka dia pembohong: Orang yang mengaku mencintai Allah tapi tidak menjauhi larangan-Nya maka dia pembohong, orang yang mengaku mencintai Nabi tapi tidak mencintai orang-orang fakir maka dia pembohong, orang yang mengaku ingin masuk surga tapi tidak mau menafkahkan hartanya dalam melakukan ketaatan kepada Allah maka dia pembohong.”

11. Takut pada siksa Allah dengan menjauhi semua larangan-Nya.

12. Mengharap rahmat Allah dengan cara menjalankan semua perintah-Nya. Jika hanya mengharap rahmat saja tanpa mau melakukan amal kebaikan, maka termasuk golongan orang yang tertipu.

13. Tawakkal, maksudnya berserah diri kepada Allah.

Tawakkal ada tiga tingkatan:

  1. Kepasrahanmu kepada Allah seperti kepasrahan seseorang kepada orang yang lebih mulia dan lebih pandai darinya. Engkau merasa mantap ketika pasrah kepada orang tersebut.
  2. Kepasrahanmu kepada Allah seperti kepasrahan dan kepercayaan seorang anak kepada orang tuanya. Seorang anak tidak punya pikiran lain selain pasrah dan patuh kepada orang tuanya, karena dia beranggapan orang tuanyalah yang bisa mengangkat derajatnya.
  3. Kepasrahanmu kepada Allah seperti mayit di hadapan orang yang memandikan, merasa tak bisa apa-apa, menerima, ridha dan bahagia terhadap apapun yang dilakukan oleh orang yang memandikannya.

Tawakkal ketiga adalah tingkatan yang paling tinggi, sedangkan yang kedua adalah tingkatan yang paling rendah. Jangan sampai engkau tidak termasuk pada tingkatan tawakkal kesatu atau kedua, karena tawakkal itu wajib hukumnya bagi seorang mu’min.

14. Mencintai dan menyayangi Nabi Muḥammad s.a.w.

Hal ini sesuai sabda Nabi:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ نَفْسِهِ وَ مَالِهِ وَ وَلَدِهِ وَ وَالِدِهِ وَ النَّاسِ أَجْمَعِيْنَ.

Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian semua sampai aku lebih dia kasihi (kecintaan dan rasa sayangnya padaku) melebihi kecintaannya pada dirinya sendiri, hartanya, anaknya, orang tuannya, dan semua manusia.

Maksud dari hadits ini adalah bahwa engkau rela berkorban tenaga dan harta demi membela dan melakukan apa yang disukai dan diperintahkan oleh Nabi Muḥammad s.a.w. Orang yang ingin menunaikan haji dan umrah, kemudian ragu-ragu untuk berangkat dengan alasan khawatir terlalu lelah, sakit, mahalnya biaya, banyak pembegal di jalan, atau karena terhalang lautan api. Akhirnya dia tidak jadi berangkat karena takut akan mati, hartanya berkurang (untuk biaya), berpisah dengan anak, istri, dan orang tua, maka orang tersebut tidak memiliki iman, maksudnya imannya belum sempurna.

Cinta kepada Rasūlullāh s.a.w. pada hakikatnya adalah bentuk cinta kepada Allah s.w.t., begitu juga cinta kepada para ulama akhirat, muttaqīn (orang-orang yang bertakwa), auliyā’ (para kekasih Allah). Kesimpulannya, tidak boleh mencintai selain Allah kecuali karena cinta kepada Allah.

15. Mengagungkan derajat Rasūlullāh s.a.w.

Maksudnya selalu memakai tatakrama saat mendengar nama Beliau disebut atau ketika mendengar hadits Beliau dibacakan dengan berakta: “Gusti Rasūlullāh s.a.w.” atau “Kanjeng Gusti Rasūlullāh s.a.w.” Jangan pernah berkata “Wahai Muḥammad” atau “Wahai Aḥmad”, kata-kata seperti itu diharamkan.

Wajib membaca shalawat ketika mendengar nama Rasūlullāh s.a.w. atau saat menulis nama beliau, jangan bersuara lantang ketika ziarah makam, menyebut nama atau kelahiran Beliau. Karenanya bagi orang awam tidak disunnahkan berdiri ketika pembacaan:

طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنَامِنْ ثَنِيَّاتِ الْوَدَاعِ.

Orang awam belum begitu mengerti adab terhadap Nabi, jika mereka berdiri dikhawatirkan akan terjadi bid‘ah munakkarah. Sedangkan bagi orang yang telah mengerti derajat Nabi, yakni para ‘arifin, disunnahkan untuk berdiri. Mayoritas orang awam belum begitu mengerti adab dan cara menghormati Nabi, sering kali saat berdiri mereka malah terlihat panik dengan melakukan hal-hal buruk yang diingkari oleh syariat Islam. Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.

Catatan:


  1. 44). Lihat: Qami‘-uth-Thughyāni ‘Alā Manzhūmati Syu‘b-il-Īmān, karya Syaikh Muḥammad Nawawī bin ‘Umar al-Jāwī. 
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas