Hati Senang

1-1-7 Teks-teks Yang Mendukung Kebenaran Keyakinan Terhadap Al-Bada’ – Memilih Takdir Allah

HU.

Diterjemahkan dari buku aslinya:

AL-BADĀ’U FĪ DHAU’-IL-KITĀBI WAS-SUNNAH.
(Memilih Takdir Allah menurut al-Qur’ān dan Sunnah).

Oleh: Syaikh Ja‘far Subhani

Penerjemah: Bahruddin Fannani dan Agus Effendi
Penerbit: PUSTAKA HIDAYAH

Rangkaian Pos: 001 Definisi al-Bada' - Memilih Takdir Allah
  1. 1.001-0 Definisi al-Bada’ – Memilih Takdir Allah
  2. 2.001-1-1 Penafsiran Kata al-Bada’ – Memilih Takdir Allah
  3. 3.001-1-2 Kutipan Pendapat Para Ulama Ahl-ul-Bayt – Memilih Takdir Allah
  4. 4.001-1-3 Al-Qur’an & as-Sunnah Sering Menggunakan Kiasan – Memilih Takdir Allah
  5. 5.001-1-4 Kemungkinan Terjadinya Naskh – Memilih Takdir Allah (Bagian 1)
  6. 6.001-1-4 Kemungkinan Terjadinya Naskh – Memilih Takdir Allah (Bagian 2)
  7. 7.001-1-5 Qadar Bukan Hakim Atas Kehendak Allah (Bagian 1) – Memilih Takdir Allah
  8. 8.001-1-5 Qadar Bukan Hakim Atas Kehendak Allah (Bagian 2) – Memilih Takdir Allah
  9. 9.1-1-6 Ayat-ayat al-Qur’an & Pengaruh Perbuatan Manusia Terhadap Takdir – Memilih Takdir Allah (1/3)
  10. 10.1-1-6 Hadits-hadits Ahl-ul-Bait & Pengaruh Perbuatan Manusia – Memilih Takdir Allah (2/3)
  11. 11.1-1-6 Dua Persoalan Sekitar Pengaruh Doa – Memilih Takdir Allah (3/3)
  12. 12.Anda Sedang Membaca: 1-1-7 Teks-teks Yang Mendukung Kebenaran Keyakinan Terhadap Al-Bada’ – Memilih Takdir Allah
  13. 13.1-2-1 Hakikat al-Bada’ Menurut Pandangan al-Qur’an & as-Sunnah – Memilih Takdir Allah
  14. 14.1-2-2 Nash-nash Ulama Imamiyyah Tentang al-Bada’ (1/2) – Memilih Takdir Allah
  15. 15.1-2-2 Nash-nash Ulama Imamiyyah Tentang al-Bada’ (2/2) – Memilih Takdir Allah
  16. 16.1-2-3 Kesimpulan – Memilih Takdir Allah

7. Teks-Teks yang Mendukung Kebenaran Keyakinan terhadap Al-Badā’.

Segi-segi konstruktif dapat tumbuh dari adanya keyakinan kepada al-Badā’, yang intinya adalah percaya terhadap adanya perubahan pada garis perjalanan hidup karena amal saleh dan perbuatan buruk. Yang paling konkret dari segi-segi konstruktif itu adalah membangkitkan harapan di hati kaum Mu’min, menumbuhkan niat baik yang terkandung di dalam jiwa mereka, menyambung tali hubungan antara hamba dengan Allah s.w.t. Mereka akan berdoa, dan akan meminta dikabulkan doanya, dicukupi segala keperluannya, dikaruniai kemudahan untuk taat, dan dijauhkan dari maksiat. Sesungguhnya pengingkaran terhadap al-Badā’ dan hanya mempercayai bahwa yang terjadi sekarang ini sudah dituliskan oleh “pena” takdir, dapat mengakibatkan keputus-asaan dalam diri orang yang mempercayai terhadap dikabulkannya doa. Ia akan berkata dalam hatinya sebagai berikut: “Kalau benar-benar ditakdirkan kebutuhan saya akan dicukupi, maka saya tidak perlu lagi berdoa dan bertawassul. Begitu juga kalau yang ditakdirkan adalah sebaliknya. Doa dan segala permohonan akan sia-sia belaka.”

Bila seorang hamba sudah putus asa dalam menanti terkabulnya doa yang dipanjatkannya, maka ia akan segera meninggalkan berdoa kepada Penciptanya, dan segera meninggalkan perbuatan-perbuatan baik, sedekah, dan amalan-amalan yang dapat menambah dan memanjangkan umur sebagai yang disarankan oleh para Imām.

Keyakinan terhadap al-Badā’ menyerupai akidah yang menerima adanya taubat, syafaat, dan penghapusan dosa-dosa kecil dengan menjauhi dosa-dosa besar. Semua itu meninggalkan harapan, menyalakan cahaya di hati kaum Muslim tanpa kecuali. Yang sering berbuat maksiat atau yang tidak taat, tidak akan putus harapan dari rahmat Allah, dan tidak lagi beranggapan bahwa keadaan mereka sudah digariskan takdir akan menjadi golongan yang sengsara, ahli neraka, yang tidak perlu berusaha sungguh-sungguh. Memang, perlu ditanamkan pada mereka bahwa “pena” takdir Allah belum mengering untuk menghapus atau menetapkan. Dia masih menghapus, menetapkan apa yang Dia kehendaki, selama hamba itu berbuat baik dan menghias diri dengan akhlāq-ul-karīmah, atau melakukan perbuatan buruk.

Kehendak Allah s.w.t. bukanlah khayalan belaka yang tidak berdasar sama sekali pada kebijakan. Bila seorang hamba berbuat dan mengerjakan semua kewajiban, dan memegang teguh kesucian, tentu tidak akan termasuk mereka yang sengsara, melainkan masuk golongan orang yang bahagia. Begitu pula sebaliknya.

Demikian itulah segala yang ditakdirkan bagi manusia. Hidup, mati, sehat, dan sakit, kaya dan miskin, bahagia atau sengsara. Semuanya dapat berubah dengan doa, sedekah, silaturahmi, hormat dan berbakti kepada kedua orangtua. Maka kesimpulannya: Al-Badā’ akan membangkitkan harapan di hati manusia.

Bagikan ('Amal Jāriyah):
Langganan buletin Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru di hatisenang.com

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas