1-1-1 Hikmah Keilahian Dalam Firman Tentang Adam – Fushush-ul-Hikam Mutiara Hikmah 27 Nabi

FUSHŪSH-UL-ḤIKAM
MUTIARA HIKMAH 27 NABI
Penulis: Ibn ‘Arabī

(Diterjemahkan dari judul asli: The Bezels of Wisdom)

Alih Bahasa: Ahmad Sahidah dan Nurjannah Arianti
Penerbit: PENERBIT DIADIT MEDIA

Rangkaian Pos: Hikmah Keilahian Dalam Firman Tentang Adam
  1. 1.1-0 Catatan Pengantar – Hikmah Keilahian Dalam Firman Tentang Adam – Fushush-ul-Hikam Mutiara Hikmah 27 Nabi
  2. 2.Anda Sedang Membaca: 1-1-1 Hikmah Keilahian Dalam Firman Tentang Adam – Fushush-ul-Hikam Mutiara Hikmah 27 Nabi
  3. 3.1-1-2 Hikmah Keilahian Dalam Firman Tentang Adam – Fushush-ul-Hikam Mutiara Hikmah 27 Nabi

HIKMAH KEILAHIAN DALAM FIRMAN TENTANG ĀDAM

Ketika Realitas ingin melihat esensi Nama-namaNya yang Indah (al-Asmā’-ul-Ḥusnā) atau, dengan kata lain, ingin melihat Esensi-Nya dalam sebuah objek inklusif yang meliputi seluruh Perintah-Nya, yang didasarkan pada eksistensi, Ia akan memperlihatkan rahasia Diri-Nya kepada-Nya. Penglihatan terhadap sesuatu, dirinya oleh dirinya sendiri, tidaklah sama dengan melihat dirinya pada yang lain, sebagaimana dalam sebuah cermin. Sebab, ia muncul untuk dirinya sendiri dalam sebuah bentuk yang ditanamkan oleh lokasi penglihatan yang hanya muncul dengan adanya eksistensi lokasi dan penyingkapan-diri (tajallī) lokasinya terhadapnya.

Realitas ini memberikan eksistensi pada seluruh Kosmos, pertama kali sebagai sesuatu yang khas tanpa ruh apa pun di dalamnya, sehingga ia seperti cermin yang digosok. Dalam hakikat penentuan ilahi, Dia tidak menetapkan sebuah lokasi kecuali untuk menerima ruh ilahi, yang juga dikatakan dalam al-Qur’ān dengan, “Ditiupkan kepadanya”. (11) Yang terakhir ini tidak lebih daripada terwujudnya kecenderungan bentuk khas bāthin untuk menerima pancaran emanasi/penyingkapan rahasia-Diri (al-faydh-ut-tajallī) yang tidak habis-habisnya, yang selalu, dan, akan demikian. Di sana, hanya menerima, dan penerimaan ini hanya berasal dari limpahan-Nya Yang Tersuci (Faydh-ul-Aqdas), dari Realitas, karena semua kekuatan untuk bertindak, atau semua inisiatif, berasal dari-Nya, di awal dan di akhir. Semua perintah berasal dari-Nya, (22) bahkan sewaktu ia mulai dengan-Nya.

Jadi, dengan wataknya, perintah ilahi membutuhkan ciri reflektif dari cermin Kosmos. Ādam adalah prinsip refleksi untuk cermin dan rūḥ dari bentuk itu, sementara para malaikat hanyalah kemampuan tertentu dari bentuk itu yang merupakan bentuk Kosmos, yang dalam terminologi kaum awam disebut “Manusia Agung (al-Insān-ul-Kabīr). Dalam kaitan dengannya, malaikat diumpamakan dengan kemampuan psikis dan fisik dalam formasi manusia. Masing-masing dari kemampuan kosmik tertutup dengan dirinya sendiri (wujud yang dibatasi oleh individualitas relatifnya), sehingga ia tidak bisa mengetahui segala sesuatu yang melampauinya. Masing-masing dari kemampuan kosmik ini juga mengklaim bahwa ia mempunyai kualifikasi untuk setiap posisi yang tinggi, dan berada di tempat bersama Allah dengan keutamaan partisipasinya dalam sintesis ilāhī (al-jam‘iyyat-ul-ilāhiyyah), yang berasal dari Hadhirat Ilāhī dan Realitas dari segenap Realitas dan, akhirnya, berkenaan dengan formasi yang mengasumsikan karakteristik-karakteristik ini, dan menyerap semua reseptivitas Kosmos, lebih tinggi dan lebih rendah.

Pengetahuan ini tidak bisa dicapai dengan intelek, dengan sarana proses pemikiran rasional apa pun. Sebab, jenis persepsi ini diperoleh hanya dengan penyingkapan (kasyf) ilahi yang darinya diperoleh asal bentuk-bentuk Kosmos yang menerima arwah. Formasi yang disebutkan di atas disebut Manusia dan Khalīfah Allah. Mengenai yang pertama, ia berasal dari universalitas pembentukannya dan fakta bahwa ia meliputi semua realitas. Bagi Realitas, ia adalah sebagai murid, melalui tindakan penyaksian. Jadi, ia disebut insan, yang berarti manusia dan murid, karena dengannya Realitas memperhatikan ciptaan-Nya dan menganugerahkan kasih – dari eksistensi – terhadapnya. Ia adalah manusia, fanā’ dalam bentuknya, abadi dalam esensinya; ia adalah abadi, kekal, sekaligus firman yang membedakan dan menyatukan. Adalah dengan eksistensinya, sehingga Kosmos hidup dan ia, dalam hubungan dengan Kosmos, adalah sebagai tanda (khātim) bagi cincin, wujud tanda yang di tempat itu dipahat dengan tanda sebagaimana Raja menandai harta-bendanya. Dengan demikian, dia disebut Khalīfah, karena dengannya Allah memelihara ciptaan-Nya, sebagaimana tanda itu memelihara harta benda raja. Sepanjang tanda raja ada di atasnya, tidak satu pun orang berani membukanya, kecuali dengan izinnya, tanda itu menjadi pengawas dalam tanggungjawab kerajaannya. Meskipun demikian, Kosmos dipelihara sepanjang kerajaannya. Kosmos dipelihara sepanjang Manusia Sempurna masih ada di dalamnya. Apakah anda tidak melihat bahwa ketika dia akan berhenti untuk eksis di dalamnya, dan ketika tanda – dalam perbendaharaan itu – dari dunia itu pecah, tidak satu pun dari apa yang dipertahankan Realitas akan dipikulnya, dan semua dari tanda itu akan menghilang. Masing-masing bagian, oleh karena itu, menjadi bersatu kembali dengan setiap bagian lain, setelah keseluruhan ditransfer ke Tempat Terakhir, di mana Manusia Sempurna akan menjadi tanda untuk selamanya.

Semua Nama yang membentuk Citra Tuhan memanifestasi dalam formasi manusia sehingga informasi ini menempati tingkat di mana ia meliputi dan menggabungkan semua eksistensi. Karena alasan inilah, Allah menegaskan argumen konklusifnya terhadap para malaikat (karena protesnya terhadap perintah-Nya untuk bersujud kepada Ādam). Jadi, perhatikan! Sebab, Allah memperingatkan anda dengan contoh lain, dan pikirkan secara hati-hati, sejak kapan seseorang tertuduh disalahkan. Karena malaikat tidak memahami makna pembentukan Wakīl Allah, demikian juga mereka tidak memahami penghambaan esensial yang dituntut oleh Hadhirat Realitas. Sebab, tidak satu pun yang mengetahui tentang Realitas di mana dirinya sendiri implisit di dalam Esensi, dari Realitas.

Para malaikat tidak memperoleh kelengkapan Ādam, dan tidak memahami Asmā’ Ilahi karena asing bagi mereka, dengan mana mereka mengagungkan dan menyucikan Realitas. Mereka juga tidak menyadari bahwa Tuhan mempunyai Asmā’ yang mana mereka tidak mengetahui apa-apa dari Asmā’ itu, dan dengan mana mereka tidak bisa mengagungkan-Nya, juga tidak bisa menyucikan-Nya dengan penyucian penuh terhadap Ādam. Kondisi dan keterbatasan mereka seperti ini, kata mereka, berkaitan dengan pembentukannya: “Akankah Engkau akan menciptakan seseorang yang akan berbuat jahat di dalamnya?” (33). Artinya, pemberontakannya, yang dengan tepat mereka menunjukkan sesuatu, karena apa yang mereka katakan tentang Ādam sama-sama menunjukkan secara tidak langsung akan sikap mereka sendiri terhadap Realitas. Tetapi, karena fakta bahwa perkembangan mereka sendiri menentukan keterbatasan pengetahuannya ini, mereka tidak akan mengatakan apa yang mereka katakan mengenai Ādam; tetapi mereka tidak menyadari hal ini.

Jika mereka memang mengetahui diri-diri esensial mereka sendiri, mereka akan mengetahui keterbatasan mereka, dan jika memang demikian, mereka telah terserap oleh pengungkapan mereka yang salah. Di samping itu, mereka tidak akan tertahan dalam keberatan mereka dengan meminta perhatian pada pengagungan kepada Allah, sebagai iman juga halnya penyucian terbatas mereka.

Ādam mengabadikan Asmā’ Ilāhī sedangkan malaikat tidak. Tidak juga mereka mengagungkan Tuhan (Rabb) mereka dengan Asmā’ ini. Atau, dengan Asmā’ ini, mereka tidak memuliakan transendensi-Nya, sebagaimana yang dilakukan oleh Ādam.

Allah menguraikan seluruh persoalan ini pada kita, sehingga kita bisa memikirkannya dan belajar darinya tentang sikap yang tepat terhadap-Nya, dan agar kita tidak memamerkan sedikit wawasan atau pemahaman terbatas individu yang mungkin kita sadari. Bahkan, bagaimana kita bisa mengklaim suatu hal berkenaan dengan suatu realitas yang tidak kita sendiri ditertawakan? Perintah ilahi yang berkenaan dengan malaikat ini adalah salah satu jalan di mana Realitas mendidik hamba-Nya yang beradab, wakil-wakilNya.

Marilah kita kembali kepada Hikmah ini. Ketahuilah bahwa universal-universal (al-umūr-ul-kulliyyah), meskipun mereka bukan eksistensi individual yang tidak tersentuh dalam dirinya sendiri, namun dirasakan dan diketahui dalam pikiran; ini pasti. Mereka selalu tidak mengejawantah berkenaan dengan eksistensi individu, ketika menentukan pengaruh-pengaruhnya terhadap semua eksistensi semacam ini; memang eksistensi individual tidak lebih daripada perwujudan lahiriah kita terhadapnya, yaitu universal-universal. Di dalam dirinya sendiri, mereka selalu bisa dipahami. Mereka mengejawantah sebagai wujud-wujud individual, dan mereka tidak mengejawantah sebagai sesuatu yang dipahami secara murni. Setiap eksistensi individu tergantung pada universal-universal, yang tidak pernah dipisahkan dari intelek (‘aql), demikian juga mereka tidak eksis secara individu dengan cara semacam ini, sehingga mereka tidak lagi bisa dipahami. Apakah wujud individual ditakdirkan secara temporer atau tidak, hubungannya di dalam kedua kasus ini, adalah satu dan sama. Namun, wujud universal dan individual mempunyai prinsip penentuan yang sama sesuai dengan tuntutan realitas-realitas esensial dari wujud individual, misalnya, dalam hubungan antara pengetahuan dan yang mengetahui, serta kehidupan dan yang hidup. Kehidupan adalah sebuah realitas yang dipahami, sebagaimana juga pengetahuan, masing-masing bisa dibedakan dari yang lain.

Jadi, berkaitan dengan Realitas, kita bisa mengatakan bahwa Dia mempunyai kehidupan dan pengetahuan, dan juga bahwa Dia hidup dan mengetahui. Ini juga kita katakan terhadap manusia dan para malaikat. Realitas pengetahuan selalu tunggal, sebagaimana juga dengan realitas kehidupan, dan hubungan masing-masing dengan yang mengetahui dan yang hidup tetaplah selalu sama.

Berkaitan dengan pengetahuan Realitas, kami mengatakan bahwa ia bersifat abadi, sementara pengetahuan manusia, kami katakan kontingen (muḥdits). Kemudian, pertimbangkan bagaimana kelengkapan pada determinan membawa sesuatu dalam realitas yang dapat dimengerti yang bersifat kontingen dan pertimbangkan pula kesalingtergantungan universal-universal dan eksistensi individual. Karena, sekalipun pengetahuan menetapkan seseorang yang mempergunakannya sebagai wujud yang mengetahui, demikian juga wujud yang digambarkan, menentukan pengetahuan sebagai kontingen dalam hal orang yang mengetahui kontingen, dan abadi dalam hal Wujūd Yang Abadi, keduanya menentukan dan ditentukan.

Selanjutnya, meskipun universal-universal dapat dimengerti, mereka tidak memiliki eksistensi riil, hanya ada sejauh ketika mereka menentukan wujud-wujud yang ada, sebagaimana mereka sendiri ditentukan dalam setiap hubungan dengan eksistensi apa saja. Karena mengejawantah dalam eksistensi individual, mereka tidak mengakui partikularisasi atau pembagian, dan ini tidak mungkin. Dengan sendirinya, mereka hadir dalam masing-masing hal yang mereka kualifikasikan, sebagaimana humanitas hadir dalam setiap wujud manusia, selagi tidak dipartikularisasikan atau dibagi sesuai dengan jumlah wujud individual, di mana mereka termanifestaskan, yang tetap secara murni dapat dimengerti.

Oleh karena itu, jika ditegaskan bahwa ada sebuah interelasi antara yang mempunyai eksistensi individual dan yang tidak mempunyai, yang terakhir sebagai hubungan-hubungan noneksisten, keterhubungan antara satu wujud individual, dan yang lain adalah lebih bisa dipahami, karena paling tidak, mereka sama-sama mempunyai eksistensi individual, sementara pada contoh yang pertama tidak ada unsur yang menyatukan.

Ditegaskan bahwa yang mula-mula (yang mempunyai awal) tergantung sepenuhnya pada yang menghasilkannya, karena kemungkinannya. Eksistensinya secara keseluruhan berasal dari sesuatu yang lain dari dirinya sendiri, hubungan, dalam kasus ini sebagai salah satu ketergantungan. Oleh karena itu, nsicaya bahwa yang merupakan dukungan eksistensi awal seharusnya secara esensial, dan dengan sendirinya, menjadi dirinya, memenuhi dirinya sendiri, dan tidak tergantung pada yang lain. Inilah yang memberikan eksistensi dari Wujūd esensialnya sendiri pada eksistensi independen, dengan cara ini kejadian berkaitan dengannya.

Selanjutnya, karena yang pertama, lantaran esensinya, membutuhkan yang terakhir (dependen), maka yang terakhir, dalam pengertian tertentu mempunyai wujud yang pasti. Juga, karena ketergantungannya dari mana ia mengejawantah implisit di dalam esensinya sendiri, maka ia yang mula-mula menyesuaikan dengan semua Asmā’ dan sifat-sifat asal-usul, kecuali Wujud Yang Wajib (Wājib-ul-Wujūd), yang tidak dimiliki oleh eksistensi awal, karena dengan wujud pasti itulah ia sepenuhnya berasal dari yang lain dari dirinya.

Catatan:

  1. 1). al-Qur’ān, XXI: 91.
  2. 2). Bdk. Ibid, II: 210.
  3. 3). Ibid. II: 30.
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *