09 Sifat-sifat Fisik Rasulullah S.A.W. – Jawaban Tuntas Beragam Masalah Aqidah Islam

JAWABAN TUNTAS
BERAGAM MASALAH AKIDAH ISLAM
(Judul Asli: AL-AJWIBAH AL-GHĀLIYAH
FĪ ‘AQĪDAH AL-FIRQAH AN-NĀJIYAH

Karya: Habib Zein Ibrahim Bin Sumaith

Terjemah: Muhammad Ahmad Vad‘aq
Penerbit: Mutiara Kafie

SIFAT-SIFAT FISIK RASŪLULLĀH S.A.W.

Bagaimana sifat-sifat fisik Rasūlullāh s.a.w.?


Ulama mengatakan, termasuk kesempurnaan keimanan kepada Rasūlullāh s.a.w. adalah keyakinan kita bahwa Allah s.w.t. menciptakan jasad beliau yang mulia pada bentuk yang tak ada yang semisalnya, sebelum atau sesudahnya. Allah s.w.t. menciptakan beliau dengan sebagus-bagus bentuk yang menghimpun segala ragam keelokan yang tak mungkin bisa terlukiskan.

كَمُلَتْ مَحَاسِنُهُ فَلَوْ أَهْدَى السَّنَاوَ عَلَى تَفَنُّنِ وَاصِفِيْهِ بِوَصْفِهِ
لِلْبَدْرِ عِنْدَ تَمَامِهِ لَمْ يُخْسَفِيَفْنَى الزَّمَانُ وَ فِيْهِ مَا لَمْ يُوْصَفِ.

Sungguh sempurna keelokannya, sekiranya ia hadiahkan bersit cahaya
wajahnya ke bulan purnama, niscaya bulan itu tiada pernah gerhana
Sepandai apapun orang yang melukiskan sifat-sifatnya
Zaman pun habis namun keindahannya belum terlukisan semuanya.

Rasūlullāh s.a.w. adalah orang yang paling tampan dan paling menawan dari jauh, juga kian elok dan manis manakala dilihat dari dekat.

Al-Barrā’ bin ‘Āzib r.a. berkata: “Aku tidak pernah melihat orang yang mengenakan sorban hitam pada baju merah lebih bagus dari Rasūlullāh s.a.w.” (11)

Abū Hurairah r.a. berkata: “Aku tak pernah melihat sesuatu yang lebih elok dari Rasūlullāh s.a.w. Seolah matahari berjalan di wajahnya. Dan aku tak pernah melihat seseorang lebih cepat jalannya dari Rasūlullāh s.a.w. Bumi, seakan dilipat untuknya, melelahkan diri kami, sementara beliau tak terlihat apa-apa.” (22)

Anas bin Mālik r.a. berkata: “Aku tak pernah menyentuh segala jenis sutera yang lebih lembut dari telapak tangan Rasūlullāh s.a.w. Dan aku sama sekali tak pernah mencium aroma yang lebih harum dari aroma (tubuh) Rasūlullāh s.a.w.” (33).

Adalah Amīr-ul-Mu’minīn ‘Alī bin Abī Thālib r.a. jika menggambarkan sifat Rasūlullāh s.a.w., ia berkata: “Beliau tak terlalu tinggi dan tak terlalu pendek. Perawakan sedang. Rambut tak terlalu keriting dan tak terlalu lurus; rambutnya ikal. Badan tak terlalu gemuk. Wajah tak terlalu bulat; agak mengerucut (dengan segala kesempurnaannya). Kulit putih kemerah-merahan. Kedua mata sangat hitam, bulu mata lebat. Ada jajaran bulu di antara dada dan pusar. Kedua telapak tangan dan kaki keras dan lentur. Pundaknya bagus. Jika menoleh, menoleh dengan seluruh tubuh. Jika berjalan, agak condong ke depan seakan sedang turun dari tempat yang tinggi. Di antara kedua belikat terdapat cap kenabian (44) dan beliau penutup nabi-nabi.

Beliau orang yang paling lapang dadanya, paling baik hatinya, paling jujur bicaranya, paling lembut sikapnya, paling mulia pergaulannya. Siapa yang melihatnya tiba-tiba tanpa mengenalnya, akan merasakan haibah (kewibawaan)-nya. Siapa yang bergaul dan mengenalnya, akan mencintainya. Orang yang menceritakan sifatnya akan berkata: “Aku tak pernah melihat sebelum maupun sesudahnya orang yang sepertinya”.” (55).

Dari Hind bin Abī Ḥālah r.a. ia berkata: “Adalah Rasūlullāh s.a.w. itu orang yang besar lagi dibesarkan. Wajahnya bersinar laksana bulan purnama. Kepalanya besar, rambutnya ikal, warna kulitnya cerah, dahinya luas, alisnya lebat, hidungnya mancung, jenggotnya tebal, mulutnya lebar, giginya rapat, perawakannya sedang, perut dan dadanya sejajar, jarak kedua pundaknya lebar, persendian-persendiannya besar, telapak tangannya lebar, jari-jari tangannya sedang, kedua kakinya mulus. Pandangannya menunduk. Pandangannya ke tanah lebih lama dari pandangannya ke langit. Sebagian besar pandangannya adalah melirik. Selalu mendahulukan sahabat-sahabatnya di depan dan selalu lebih dahulu mengucap salam kepada orang yang ditemuinya.” (66).

Catatan:

  1. 1). Dikeluarkan oleh Muslim (2337) dan hadits senada oleh al-Bukhari (3551).
  2. 2). Dikeluarkan oleh at-Tirmidzī (3548), dan Aḥmad (2/350) dan redaksi ini adalah redaksinya.
  3. 3). Dikeluarkan oleh Aḥmad (3/228), dan hadits senada oleh al-Bukhārī (3368).
  4. 4). Yaitu setumpuk daging yang menonjol keluar seperti telur merpati atau seperti benjolan burung puyuh.
  5. 5). HR. at-Tirmidzī (3638), al-Baihaqī dalam ad-Dalā’il (1/269), dan lainnya.
  6. 6). Dikeluarkan dengan redaksi yang panjang oleh ath-Thabrānī dalam al-Kabīr (22/414) dan al-Baihaqī dalam Syu‘ab-ul-Īmān (1430). Al-Haitsamī berkata dalam al-Majma‘ (8/278): “Ath-Thabrānī meriwayatkannya dalam al-Kabīr, dan dalam sanadnya terdapat orang yang tidak disebutkan namanya.”

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.