09 Ber’amal Agar Termasyhur – Mutu Manikam dari Kitab al-Hikam

Mutu Manikan dari Kitab al-Hikam

MUTU MANIKAM
Dari
KITAB AL-ḤIKAM

(Judul Asli: Al-Ḥikam)
Karya: Syaikh Aḥmad bin Muḥammad ‘Athā’illāh
Pensyarah: Syaikh Muḥammad bin Ibrāhim Ibnu ‘Ibād (atau ‘Abbād).
 
Penyadur: Djamaluddin Ahmad al-Buny
Penerbit: Mutiara Ilmu Surabaya

BAB 9

Penjelasan Tentang

BER-‘AMAL AGAR TERMASYHUR

 

11. اِدْفِنْ وُجُوْدَكَ فِيْ أَرْضِ الْخُمُوْلِ فَمَا نَبَتَ مِمَّا لَمْ يُدْفَنْ لَا يَتِمَّ نَتَائِجُهُ

Tanamlah wujūd dirinya pada tanah yang dalam, karena tidak akan tumbuh suatu tanaman pun, apabila ia tidak ditanam.”

Syaikh Aḥmad ‘Athā’illāh mengingatkan: “Tidak ada ‘amal perbuatan yang lebih berbahaya dari keinginan ber-‘amal agar termasyhur. Karena perbuatan itu walaupun demi untuk kebaikan namamu, akan tetapi bertolak sebagai ‘amal yang ikhlas. Keinginan agar terkenal sebagai ahli ibadah, apalagi diikuti dengan kehendak lain yang bukan ibadah, akan membawa si hamba menjadi angkuh dan lupa diri. Karena di saat tertentu musuh manusia yang bernama iblīs akan mudah merasuk ke dalam hati anak Ādam yang kelak dapat menghancurkan diri dan imannya. Memilih kemasyhuran melalui ‘amal ibadah sangat bertentangan dengan tujuan ibadah itu sendiri.

Ber‘amal ibadah hanya untuk mencari kemasyhuran, ibarat menanam benih di tanah yang dalam, tidak akan menumbuhkan hasil yang baik, karena akan mudah goyah dan roboh. Ibrāhīm bin Adham mengingatkan pula bahwasanya perbuatan ingin kemasyhuran melalui ibadah, adalah terlalu mencintai dunia dan kedudukan. Abū Ayyūb al-Baktiyānī mengingatkan, bahwasanya Allah tidak membenarkan seorang berlaku demikian, kecuali ia merahasiakan dan tidak menyiarkan ‘amal ibadahnya.

Seseorang telah mengatakan bahwa seorang Shūfī yang bernama Basyar Ibnu Ḥārits mewasiatkan kepadaku: “Janganlah keinginanmu untuk dikenal akan menghilangkan nilai agamamu, dan karenanya tidak akan menerima kemanisan di akhirat.

Sesungguhnya keinginan agar terkenal dengan cara ibadah kepada Allah adalah perbuatan yang kerdil dan kotor, karena orang seperti ini jelas-jelas tidak mengenal dirinya sebagai hamba Allah. Sebab, seorang hamba yang mengenal dirinya, maka seharusnya ia tawādhu‘, tidak memamerkan kelebihan ibadahnya. Sebab dengan tawādhu‘ itu akan mampu membersihkan dirinya, dan mengangkat ke maqām yang tinggi, serta mendapatkan kecintaan yang sebenar-benarnya.

Keinginan untuk dikenal sebagai ahli ibadah telah membuat cacatnya ibadah, dan rusaknya ‘amal. Nabi ‘Īsā a.s. bertanya kepada sahabat-sahabatnya: “Di mana biji itu tumbuh?” Sahabat-sahabatnya menjawab: “Di bumi.” Nabi ‘Īsā pun menjelaskan pula bahwasanya hikmah tidak akan tumbuh melainkan di kedalaman hati, seperti kedalaman bumi. Biji yang akan tumbuh menjadi batang dan buah lahir dari tempat yang orang lain tidak tahu keberadaannya, tersembunyi di balik bumi, akan tetapi ia memberi manfaat kepada manusia dan alam sekitarnya tanpa mengatakan apa-apa tentang pertumbuhannya itu. Nabi Muḥammad s.a.w. mengingatkan bahwasanya ibadah salat dan lainnya yang paling mulia dan indah ialah melakukannya dengan sempurna dan orang lain tidak mengetahuinya. Ibadah yang dirahasiakan adanya.

Banyak kisah-kisah sahabat dan para waliyullāh yang menceritakan kebesaran jiwa dan keagungan martabat ibadah mereka yang tidak suka ‘amal ibadahnya dipamerkan, atau dirinya dikenal orang sebagai ahli ibadah. Berusaha menghindarkan diri dari kemasyhuran duniawi yang rendah. Ia lebih mengkhususkan dirinya dalam ibadah yang tersembunyi serta meninggalkan keramaian duniawi yang bisa merusak ‘amal ibadah dan merendahkan martabatnya di hadapan Allah s.w.t.

Pengalaman dan penghayatan rohani yang suci menghendaki seorang hamba dalam ibadah lebih mengutamakan mencari ridha Allah dari ridha manusia. Keabadian yang sesungguhnya dan kenikmatan ibadah yang sebenarnya berada dalam keheningan, jauh dari hiruk-pikuk yang akan membuat ibadah menjadi rusak. Cara yang paling baik untuk menghilangkan rasa riyā’ karena ingin kemasyhuran diri dari seorang hamba, ialah dengan menanamkan rasa tawādhu‘ dan rasa malu di dalam hatinya berhadapan dengan Allah s.w.t. Pamer ‘amal tidak hanya merusak keimanan, akan tetapi akan mencemari hati manusia dengan bercak-bercak hitam, yang kelak akan menutupi seluruh permukaan hatinya. Akibat lainnya, ialah lahirnya rasa angkuh yang merendahkan jiwa. Nabi s.a.w. bersabda: “Barang siapa yang berendah diri, maka Allah s.w.t. akan mengangkatnya kepada martabat kemuliaan. Barang siapa berlaku angkuh, maka Allah s.w.t. akan merendahkan martabatnya. Sesungguhnya Allah s.w.t. suka kepada orang taqwā lagi suka menyamarkan dirinya dari ketenaran dunia. Orang-orang itu kalau tak tampak dan pernah dicari, kalau mereka hadir tidak dikenal. Hati mereka bagaikan lampu yang selalu menunjukkan arah.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *